PANTAS

PANTAS
Bab 12 - Tentang Perasaan


__ADS_3

Rintik hujan kembali membasahi bumi kala malam tiba. Tidak begitu deras, hanya gerimis manja. Hawa yang masuk ke jendela kamar terasa dingin tapi cukup membuat nyaman. Apalagi pikiran Intan tidak terlalu dipenuhi beban-beban. Yang terasa saat ini hanyalah perasaan senang, nyaman, dan jantung yang sesekali berdebar-debar. Siapakah gerangan yang membuat Intan berdebar-debar? Bahkan, senyum Intan tidak dapat dipalsukan, terus mengembang sembari jemari tangannya menari di atas laptop kesayangan.


“Devano.” Intan menggumamkan nama Devano.


Devanolah yang saat ini ada di pikiran Intan. Debaran jantung yang sedari sore Intan rasakan adalah bukti terisinya ruang hati, dan nama yang berhasil mengisinya adalah Devano. Cinta memang tidak terduga kapan hadirnya. Terhitung dalam beberapa hari saja, Intan sudah luluh terhadap pesona Devano. Padahal sebelum ini ada rentang dalam waktu tahunan yang membuat Intan dan Devano tidak bisa saling bertemu pandang. Selama rentang itu pula perjalanan cinta Intan dipenuhi lika-liku yang berujung kekecewaan.


“Ini tentang rasa, yang hadirnya teramat tidak biasa. Manis, kata itulah yang pantas mewakilinya. Manis yang terasa bukanlah gula, bukan pula madu ataupun gulali. Manis yang terasa berasal dari hati, akibat hadirnya seorang lelaki yang hadirnya mampu mewarnai hari-hari.” Intan membaca hasil ketikannya di layar laptop dengan wajah berhias senyuman penuh arti.


Intan tidak sedang melanjutkan bab romantis dalam novel, melainkan sedang berusaha jujur atas apa yang dia rasakan saat ini.


“Oh, Dev. Salahkah bila aku menyimpan rasa ini?” Intan mengusap wajahnya perlahan.


Tetiba saja perasaan khawatir datang. Mendadak perasaan itu Intan rasakan kala teringat satu hal. Tentang Devano, Intan sama sekali minim info, baik tentang kesehariannya ataupun tentang statusnya.


“Bagaimana kalau ternyata Devano sudah punya kekasih?” tanya Intan pada dirinya sendiri. “Ah. Sepertinya tidak punya, deh. Buktinya Devano selalu menggodaku,” imbuh Intan sambil meyakinkan diri.


Pikiran Intan jadi berkeliaran memunculkan beragam pertanyaan. Namun, keraguan dirinya lekas sirna saat Intan teringat sikap manis Devano padanya. Intan yakin sikap Devano bukanlah canda. Akan sangat tidak menyenangkan juga andai semua itu hanya canda, sementara Intan menyambutnya dengan cinta.


“Sejauh ini Devano membuatku nyaman, meski kadang juga membuatku sebal.”


Lagi-lagi senyum Intan mengembang sebelum akhirnya buyar karena satu lemparan bola kertas yang mendarat tepat di bagian kepala belakang. Tanpa menoleh ke belakang pun Intan sudah tahu siapa pelakunya.


“Miraaa!”


“Cieeee. Kak Intan senyum-senyum sendiri. Lagi nulis bab novel bagian apa, tuh? Bab yang aneh-aneh, ya? Aku aduin ibu, nih. Ib- … Hemmmmm!”


Intan gesit membungkam mulut Mira, kemudian menutup pintu kamarnya. Setelah melihat Mira menyerah, barulah Intan melepas tangannya.


“Kak Intan tega bener sama adik sendiri.” Mira cemberut, ngambek.


“Kamu cari gara-gara duluan.” Intan gemas, sampai refleks mencubit pelan hidung mancung Mira.


“Salah sendiri pintu kamarnya nggak ditutup. Jadi bisa ngintip, deh.” Mira mengubah mimik wajah, kemudian mendekati Intan. “Apa ada sesuatu sampai Kak Intan senyum-senyum seperti itu?” imbuh Mira sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Intan langsung bersedekap tangan, memelototi Mira dengan gemas, lantas menggeleng pelan. Itu artinya, Intan tidak akan mengatakan apapun demi mengatasi kekepoan sang adik yang sering jahil padanya.


“Ayolah, Kak. Cerita!”


“Tidak!”

__ADS_1


Awalnya Mira cemberut dan menunduk pasrah, seolah menyerah dengan sikap kakaknya. Sejurus kemudian, Mira justru berlari menuju laptop milik Intan dan membaca tulisan yang terlihat di layar.


“Ini tentang rasa, yang hadirnya …. Hahaha.”


Mira berlari ke sisi kamar lainnya sambil membawa laptop milik Intan, lalu kembali membaca tulisan di layar. Kali ini Mira membacanya dalam hati, tidak keras seperti tadi. Gerakan bola mata Mira begitu cepat, sehingga mampu memahami satu paragraf yang terlihat di layar.


“Nih, aku kembalikan!” Mira memutuskan untuk tidak membaca secara keseluruhan.


“Tidak sopan!” tegur Intan mengambil alih laptopnya lagi.


Untuk sejenak Intan dan Mira saling diam. Intan masih terlihat sebal, sedangkan Mira terdiam karena mulai bisa merasakan apa yang sedang dirasakan kakaknya.


Mira memilih untuk tidak jahil lagi. Dia duduk di tepian kasur sambil memperhatikan Intan yang tampak sibuk menghapus file hasil ketikan.


“Maaf, ya Kak.”


“Lain kali jangan seperti itu, Mir. Itu namanya tidak sopan.”


Begitulah Intan. Dia tidak pernah marah berlebihan meski sikap sang adik kelewatan. Selalu tersedia stok maaf untuk Mira, tapi nasihat untuknya tidak pernah terlewat juga.


“Kak Intan sedang jatuh cinta, ya?” Mira benar-benar tidak bisa menyembunyikan isi pikirannya.


“Jangan bohong, Kak. Sekali-kali terbukalah padaku. Mira ini adik kandung Kak Intan, bukan orang asing.” Mira melebarkan senyumnya.


Kata-kata Mira menohok hati Intan. Selama ini Intan memang kurang terbuka masalah hati pada adiknya. Mira sendirilah yang selalu berusaha mencari-cari informasi agar bisa dijadikan bahan untuk menjahili Intan. Itulah yang selama ini Intan tangkap dari Mira, sebuah kejahilan. Namun, kali ini yang Intan rasakan sangat berbeda. Intan merasa bahwa Mira hanya ingin dekat dengannya, sebagai adik yang berguna dan bisa menjadi tempat berbagi apa yang dirasa.


“Kak Intan nggak percaya sama Mira, ya?”


Intan menutup laptopnya. Langkah kakinya terayun mendekati Mira. Sembari menurunkan egonya, Intan duduk di sebelah Mira yang tampak serius, tidak lagi terlihat ada canda yang tergambar di wajahnya.


“Maaf, Mir. Kakak sedang tidak ingin bercerita.”


“Tuh, kan! Bilang aja kalau kakak itu nggak percaya sama Mira. Takut Mira ember, terus ngadu ke ibu, kan?”


Sebenarnya kalimat Mira masih panjang, tapi langsung dibungkam oleh lirikan Intan yang tidak tajam tapi artinya begitu dalam. Padahal, Intan melayangkan lirikan sambil memasang senyum maksimal.


“Iya. Kakak sedang jatuh cinta.” Akhirnya, Intan memilih jujur pada Mira.


“Serius, Kak?” Mira antusias.

__ADS_1


Intan mengangguk tanpa memudarkan senyuman.


“Akhirnyaaaa. Kak Intan jatuh cinta lagi. Kukira hati Kak Intan sudah mati.” Mira tampak lega.


“Huss. Sembarangan kalau ngomong.”


“Siapa dia? Apa Mira tahu?”


“Rahasia.”


Untuk nama, Intan masih tidak ingin mengungkapnya. Bukan karena malu, tapi Intan hanya belum siap saja. Apalagi, Intan juga belum tahu perasaannya akan bersambut atau justru hanya bertepuk sebelah tangan saja.


“Ya sudah kalau nggak mau nyebutin. Nanti Mira juga bakalan tahu. Mira punya banyak ca- …. Aaaaau! Sakit, Kak.” Mira protes karena Intan menyentil keningnya.


“Nggak perlu kepo berlebihan.”


Demi menghindari pertanyaan lanjutan dari Mira, Intan menarik pelan tangan Mira dan membawanya keluar kamar. Bukan Mira namanya jika dia langsung menyerah. Sebelum pintu kamar tertutup sempurna, Mira berjanji akan mencari tahu siapa lelaki yang dicintai kakaknya.


Kini Intan sendirian di kamarnya. Senyumnya lagi-lagi mengembang. Jantung Intan berdebar merdu. Jedag-jedug, menjadi candu, meski rasa khawatir juga datang sekali waktu.


***


Rutinitas berlanjut. Hari berganti, terlewati dengan menyisakan banyak cerita baru. Intan masih memberi les privat di rumah Yunia. Sepulang dari sana selalu ada cerita tentang dirinya dan Devano. Bahkan, Devano selalu mengantar Intan sampai di tepian jalan besar. Selalu ada obrolan dan candaan seru selama beberapa hari itu. Sungguh, perasaan Intan semakin lama semakin tumbuh.


Malam ini adalah Sabtu malam Minggu. Malam yang menurut Intan sama saja dengan malam-malam lainnya.


“Undangan.”


Intan teringat undangan tempo hari. Undangan misterius yang meminta Intan untuk hadir di Café Bintang pukul sembilan pagi.


“Meja 69 area outdoor. Semoga undangan itu bukan dari orang iseng,” doa Intan.


Ponsel Intan bergetar lama, tanda ada seseorang yang membuat panggilan suara. Saat melihat layar, Intan hanya mendapati nomor tidak dikenal. Namun, Intan tidak mengangkat telepon itu. Intan menunggu sampai si pemilik nomor mengirim pesan singkat, sehingga Intan bisa memastikan telepon yang baru saja masuk itu bukan dari orang yang berniat memberikan teror padanya.


Semenit berlalu, ponsel Intan kembali bergetar. Kali ini getaran singkat sebagai penanda sebuah pesan, dan pengirimnya adalah si nomor yang tidak dikenal yang baru saja teleponnya Intan abaikan. Dan … ternyata si pengirim pesan adalah orang yang tidak asing bagi Intan.


‘Perjodohanku batal. Aku akan kembali memperjuangkanmu, Tan. Sandhi’


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2