
Usaha yang sudah dilakukan untuk sang adik, Yoga tidak ingin jadi sia-sia. Sebagai kakak, Yoga tidak ingin sang adik berubah pikiran dan kembali goyah pendirian. Kedatangan Dhea yang dikira akan berpengaruh besar pada niatan Devano, sebisa mungkin akan Yoga cegah. Yoga lebih setuju Devano bersama Intan saja daripada bersama Dhea.
Ucapan Yoga sukses membuat Dhea dan Devano menoleh ke arahnya. Seketika itu Dhea sedikit gugup karena kakak Devano tiba-tiba menyela. Devano lebih terkejut lagi karena tidak ingat jika ada agenda akan diajak pergi kakaknya.
Tersadar maksud tersirat Yoga, Devano lekas menarik lengan sang kakak dan menjauh dari Dhea. Devano memilih berbicara empat mata agar bisa leluasa melayangkan protesnya.
“Apa maksud Bang Yoga?”
“Sudah jelas. Mencegahmu pergi dengan Dhea. Abang tidak ingin kamu berubah pikiran lagi, Dev. Ingat, In-tan. Dialah yang harus kamu fokuskan.”
“Oke. Aku paham maksud Bang Yoga. Tapi setidaknya biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan Dhea.” Jeda sejenak, sorot mata Devano tampak meyakinkan sang kakak. “Percaya padaku, Bang.”
Yoga menimbang sebentar. Bergantian pandangan matanya tertuju pada Dhea, lalu kepada sang adik yang dikasihinya. Usai helaan nafas yang setengah dipaksakan, akhirnya Yoga mengiyakan.
“Baiklah. Abang percaya padamu.” Yoga menepuk pelan pundak Devano sebentar, melihat ke arah Dhea, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Langkah Devano terarah menuju Dhea yang terlihat harap-harap cemas menunggunya.
“Dhea, mau bicara di mana?”
“Kamu nggak jadi pergi sama abangmu?”
“Iya.”
Spontan saja Dhea mengelus dadanya, lega sekali mendengarnya.
“Kita ke Moderna Café and Resto. Aku sudah memesan tempat.”
Devano mengangguk singkat, lantas menuju motornya. Dhea yang melihat itu pun bergegas juga menuju motornya. Moderna Café and Resto menjadi tujuan mereka. Di sana, Dhea sudah menyiapkan kejutan kecil yang tidak akan Devano duga. Kejutan apa itu?
***
Dengan masih mengunyah nasi pecelnya, Intan menebak-nebak siapakah pengirim lukisan wajahnya. Akan tetapi, hingga dua porsi nasi pecel tidak lagi tersisa, Intan belum berhasil menebak sang pengirim lukisan wajahnya.
“agoyngab96.id.” Kembali Intan mengeja pengirim lukisan.
“Kepo banget sama pengirimnya ya, Kak?”
Suara Mira membuyarkan pikiran Intan. Setelahnya, tetiba saja ada pemikiran tengil yang muncul hingga Mira menjadi objek tuduhannya.
“Kamu nggak sedang ngejahilin kakak lagi kan, Mir?”
“Wah. Parah, nih. Tega bener Kak Intan nuduh Mira.”
“Ya mungkin saja. Hobi kamu, tuh!”
__ADS_1
“Kakakku yang baik dan dicintai Kak Sandhi. Mira ini ….”
“Jangan sebut-sebut nama Sandhi lagi!”
“Ups. Oke. Maaf.”
Aura Intan tetiba saja berubah, dan hal ini menjadi perhatian Mira. Demi menghargai suasana hati sang kakak, Mira pun memutuskan untuk lebih berhati-hati dan tidak menyebut nama Sandhi, setidaknya untuk sementara ini.
“Bener, deh. Bukan Mira yang kirim lukisan wajah kakak. Coba saja tanya Bora-Sora-Nora.”
Secepat kilat Mira menunjuk tiga kucing kesayangan Intan yang sedang asik bertingkah menggemaskan. Awalnya Mira mengira bisa membuat sang kakak tertawa saat melihat tingkah lucu kucing peliharaannya. Ternyata, Intan justru masih bertahan dengan sikap sebelumnya.
“Senyum dong, Kak. Mira jadi takut, nih.”
“Apa’an sih, Mir?”
“Jangan-jangan Kak Intan kalau ngajar murid-muridnya galak, ya? Suka ngomelin mereka, ya? Hayo ngaku!”
“Miraaaa! Kamu ngomong apa, sih?” Intan gemas dengan raut wajah yang ditunjukkan Mira. “Kakak sedang mengembalikan mood. Biar besok fresh.”
“Oh iya. Besok sekolahnya sudah masuk. Yah. Kak Intan bakalan sibuk lagi, deh. Nggak asik!”
Bibir Mira mengerucut sebal, karena waktunya bersama sang kakak akan berkurang. Tidak disangka, sikap Mira yang spontan jujur apa adanya itulah yang kini membuat Intan tersenyum lebar. Naluri seorang kakak pada adiknya telah mengambil peran. Memang, hubungan persaudaraan itu penuh keajaiban. Bahkan untuk hal-hal kecil yang dilakukan pun bisa mengundang kebahagiaan.
“Keluar, yuk! Kakak masih ingin nyemil, nih.”
“Dengan senang hati asalkan Kak Intan nggak murung lagi. Ganti baju dulu, gih.” Mira menarik lengan Intan pelan agar segera berganti pakaian. “Jangan pakai hoodie lagi, Kak!” seru Mira saat Intan hampir sampai di kamarnya.
Usai memastikan Intan benar-benar masuk ke kamar, Mira bergegas menanggapi pesan masuk dari Sandhi, si dosen tampan yang tadi pagi berkunjung ke rumahnya untuk mencari sang kakak. Mira sempat bertukar nomor ponsel dengan Sandhi. Mira lakukan karena dia berharap bisa membantu hubungan sang kakak dengan Sandhi.
Sejauh ini yang Mira tahu Intan masih memiliki perasaan kepada Sandhi. Mira tidak tahu bahwa perasaan kakaknya itu telah terganti dengan sosok Devano. Karena melihat peluang yang ada, Mira pun berinisiatif membantu Sandhi untuk bisa lebih dekat dengan kakaknya, apalagi tadi pagi Sandhi memperkenalkan diri sebagai calon kakak ipar Mira.
“Halo, Kak Sandhi.” Mira menerima telepon dari Sandhi dengan setengah berbisik, khawatir terdengar Intan karena kamar mereka bersebelahan.
"Bagaimana keadaan kakakmu?” tanya Sandhi yang saat itu sedang menepikan mobilnya.
“Mood Kak Intan perlu diisi ulang.”
“Masih nangis nggak?”
“Nggak lagi, Kak. Tapi …”
Mira menjeda telponnya karena mendengar suara Intan memanggil namanya. Ternyata Intan hanya bertanya akan pergi berapa lama karena mendadak saja ibu Yunia mengirim pesan, anak perempuan yang les privat pada Intan itu ingin memajukan jadwal lesnya khusus hari ini saja.
“Sebentar saja, Kak. Habis nyemil langsung pulang, deh!” seru Mira dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Berhasil. Intan tidak lagi bertanya. Kembali Mira melanjutkan teleponnya dengan Sandhi.
“Kalian mau keluar?”
“Iya. Oya, buket bunga dari Kak Sandhi …”
“Intan tidak mau menerimanya, ya?”
“He’em. Betul. Maaf, ya Kak.”
Sandhi memaklumi. Seberapa cantiknya buket bunga yang dia berikan, tidak akan berarti saat kondisi hati Intan sedang berantakan. Apalagi, salah satu penyebabnya adalah dirinya yang dianggap Intan tidak tegas dan plin-plan.
“Lain kali beri buket mawar putih aja buat Kak Intan,” saran Mira dengan masih memelankan nada suaranya.
“Baiklah. Boleh minta tolong satu lagi?”
“Boleh-boleh. Apa?”
“Tolong cari info tentang lelaki yang disukai Intan.”
“Sudah jelas Kak Sandhi-lah. Kak Intan sukanya sama Kak Sandhi doang. Percaya deh sama Mira.”
“Sorry, Mir. Sepertinya kamu belum tahu kalau Intan memiliki seseorang yang dia suka.”
Diam sejenak, Mira melambungkan ingatan ke hari-hari sebelumnya. Ingatan tentang Intan yang beberapa hari lalu senyum-senyum sendirian, Intan yang puitis dan mencurahkan isi hatinya lewat tulisan, juga tentang Intan yang selalu bilang suatu hari nanti akan mengajak Mira mengunjungi danau berair jernih untuk bertemu anak-anak di sana.
“Masa, sih?”
“Kalau begitu kamu coba cari tahu, ya?”
“Oke, Kak. Aku juga kepo sama cowok yang ditaksir Kak Intan.”
Berhasil, Sandhi telah berhasil meminta bantuan Mira setelah sebelumnya juga meminta bantuan dari orang lainnya. Ya, selain Mira, ada seorang lagi yang Sandhi mintai bantuan. Seorang yang dia kenal saat sama-sama menjadi relawan. Seorang psikolog baik hati yang kini akrab dengan Sandhi.
Sambungan telepon dengan Sandhi disudahi karena Intan sudah siap untuk pergi. Mira yang mendengar suara kakaknya itu pun lekas berganti pakaian dan cepat-cepat menyusul ke halaman depan rumah.
“Ada rekomendasi tempat?” tanya Intan begitu Mira selesai bersiap.
“Moderna Café and Resto. Ada menu makanan baru di sana.”
“Baiklah. Yuk!”
Tempat tujuan yang dipilih ternyata sama dengan pilihan Dhea. Yang pasti ada Devano juga di sana. Akankah Intan semakin salah paham begitu melihat Devano dan Dhea bersama? Tentang psikolog baik hati yang diminta Sandhi untuk membantunya, siapakah dia? Nantikan lanjutan ceritanya!
Bersambung ….
__ADS_1