
Kedua mata Intan terbuka perlahan. Sayup-sayup, dia mendengar obrolan dua lelaki yang duduk di kursi depan. Semakin lama terdengar semakin jelas seiring kesadarannya yang kembali. Dilihatnya bocah lelaki yang duduk di sampingnya. Intan tidak tahu, bocah itu sedang tertidur atau justru pingsan seperti dirinya.
"Putar balik saja!"
"Nggak bisa. Tuh, liat antrian mobil di belakang!"
"Iya juga, sih. Terus gimana caranya lolos dari mereka?"
"Kita berdua turun. Aku yang mengurus petugas yang pegang catatan, dan kau yang mengalihkan perhatian petugas yang satunya lagi."
Intan menangis dalam hati. Ada ketakutan, kekhawatiran berlebih, bahkan kesedihan pun begitu terasa saat ini. Pikiran Intan melambung ke kejadian kemarin siang, saat dia baru pulang dari mengajar. Mulanya Intan menepi demi menerima telepon penting dari salah satu wali siswa di kelasnya. Lantaran terganggu sinyal, Intan menuju area jembatan.
Di sanalah komunikasi berlanjut dengan lancar. Hanya beberapa menit saja. Setelahnya Intan mengakhiri panggilan suara kemudian mematikan ponselnya. Benar-benar dimatikan karena saat itu baterai ponsel Intan tinggal beberapa persen saja.
Saat Intan balik badan dan berniat kembali ke motornya, saat itulah ada bocah lelaki kebingungan arah jalan. Intan sempat bertanya sebentar perihal tempat tujuan si bocah, tapi tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti tepat di sebelahnya. Lebih tak terduga lagi, seorang lelaki berkumis tebal langsung membungkam mulut si bocah dan bergerak cepat memasukkan ke dalam mobil. Kejadian yang begitu cepat membuat Intan tidak sempat berteriak, apalagi saat seorang lainnya memperlihatkan benda tajam yang terselip di balik jaket kulitnya.
Dengan jantung berdebar-debar, Intan masuk juga ke dalam mobil yang membawa si bocah. Sungguh tak terduga, si bocah justru sudah terlelap karena sapu tangan yang pastinya telah dioles sesuatu yang membuatnya tidak sadar. Saat itulah Intan berinisiatif untuk teriak, tapi mulutnya lebih dulu dibungkam dengan sapu tangan lain yang memiliki kandungan sama. Intan, dia bersama si bocah lelaki sama-sama dalam keadaan tidak sadar.
Malam harinya, Intan sempat sadarkan diri. Si bocah pun demikian. Si bocah tersadar, tapi di wajahnya sama sekali tidak tersirat ketakutan. Justru yang tergambar adalah mimik wajah pasrah. Kala itu mobil yang membawa Intan dan si bocah lelaki sedang menepi. Beruntungnya, mulut Intan dan si bocah lelaki tidak disumpal. Kaki mereka pun dibiarkan bebas. Hanya bagian tangan saja yang diikat ke belakang.
"Hei, Nak. Kamu tidak apa-apa?" Intan setengah berbisik sambil mengedarkan pandang ke sekitar.
Si bocah menggeleng pasrah. "Maafkan aku, ya Kak. Kakak cantik jadi ikutan diculik," ungkapnya.
"Ja-jadi benar, mereka itu penculik?" Intan semakin panik.
Anggukan singkat dilakukan si bocah. Dia membenarkan pertanyaan Intan. "Pasti disuruh pamanku. Pamanku jahat!"
"Kalau begitu kita kabur saja dari sini, ya." Intan berusaha menggunakan kedua tangan yang terikat ke belakang untuk membuka pintu mobil. "Emmm! Kenapa pintunya terkunci, sih!" Intan semakin ketakutan. "Tolooooong! Tolong kami! Toloooong!"
"Percuma, Kak. Tidak akan ada yang mendengar. Dari tadi yang terdengar hanya suara jangkrik." Si bocah lelaki benar-benar tampak pasrah dengan keadaannya.
"Kamu kok tenang sekali, sih. Kita dalam bahaya!"
"Tidak apa-apa. Lebih baik aku menghilang saja," jawab si bocah yang semakin membuat Intan tidak habis pikir dengannya.
Di tengah kepanikan, Intan kembali berusaha membuka pintu mobil dan berteriak kencang meminta pertolongan. Tapi, di sekitar sana memang tidak ada tanda-tanda orang berkeliaran. Hingga kemudian, dua lelaki yang tadi membawa Intan dan si bocah pun kembali.
__ADS_1
"Percuma teriak. Tidak akan ada yang mendengar kalian," ujar salah satu lelaki berkumis tebal.
"Lepaskan kami!" seru Intan.
"Ini. Makanlah. Kalian harus tetap hidup sampai ...." Lelaki berkumis tebal tidak melanjutkan kalimatnya. Dia melihat ke arah si bocah lelaki yang tampak pasrah. Ikatan tangan si bocah dilepas. "Makanlah. Suapi wanita cerewet ini sekalian."
Si bocah lelaki menurut saja. Dengan tangan yang sudah bebas, harusnya dia bisa leluasa melakukan sesuatu. Tapi, si bocah lelaki justru tidak banyak tingkah. Dia dengan tenang memakan roti berukuran sedang yang disodorkan lelaki berkumis tebal.
Mobil yang semula terparkir, kini melaju lagi. Si bocah lelaki tampak menikmati jatah rotinya. Sementara Intan, dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Lelaki berkumis tebal menghidupkan musik. Si bocah lelaki langsung menggunakan kesempatan itu untuk duduk lebih dekat ke arah Intan.
"Ayo makan, Kak. Aku suapi."
Intan menggeleng pelan. Air matanya mengalir perlahan. Melihat itu, si bocah lelaki mengusap air mata Intan. Kemudian kembali menyodorkan roti pemberian lelaki berkumis tebal, dan ... Intan menerima suapan roti itu. Intan mengunyah roti sambil menahan ketakutan dalam diri.
"Aku akan membantu kakak kabur," bisik si bocah, begitu lirih, tapi Intan masih bisa menangkap bisikannya.
Sungguh di luar nalar. Intan berada satu mobil dengan si bocah yang menjadi korban penculikan, tapi si bocah justru akan membantu Intan kabur.
Intan menggeleng pelan. Tatapan matanya tidak bisa terlepas dari si bocah lelaki yang wajahnya masih saja tenang, tapi lebih ke arah pasrah dengan keadaan. Air mata Intan mengalir semakin deras saja. Sementara si bocah lelaki, dia tampak berusaha tersenyum, kembali mengusap air mata Intan, lantas menyuapinya roti.
Beberapa jam berlalu, tahu-tahu terik matahari sudah menyinari sekitar. Intan juga mendengar obrolan dua lelaki penculik yang berniat mengelabui petugas keamanan.
Si bocah lelaki yang tadi masih terlelap, kini sudah terjaga. Sama seperti Intan. Yang membedakan adalah bagian ikatan tangan. Kedua tangan Intan masih terikat ke belakang, sementara kedua tangan si bocah lelaki tetap dibiarkan bebas tanpa ikatan. Sepertinya dua lelaki penculik sudah tahu kondisi mental si bocah yang tidak akan kabur meski tanpa ikatan di tangannya.
"Ambilkan tasku di belakang. Surat-surat kendaraan ada di sana!" pinta lelaki yang sedari awal menjadi pengemudi.
Si lelaki berkumis tebal menurut. Dia keluar dari mobil, kemudian membuka pintu mobil di sebelahnya, tempat Intan dan si bocah lelaki duduk. Melihat itu, Intan pura-pura tidur lagi, tapi tidak dengan si bocah lelaki.
"Kau sudah sadar rupanya. Jadilah anak baik. Bantu kami mengawasi wanita ini!" ucap si lelaki berkumis tebal.
Si bocah lelaki hanya mengangguk singkat sambil menunjukkan wajah pasrahnya. Sambil menunggu si lelaki berkumis tebal mengambil tas, si bocah pura-pura menurut saja. Begitu lelaki berkumis tebal turun dan menutup pintu mobil, dengan gesit tangan si bocah lelaki menahan pintu mobil itu. Gerakannya sungguh halus sampai lelaki berkumis tebal tidak sadar. Sementara lelaki yang berada di balik kemudi, dia sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Kak, bangun. Ini kesempatan kakak buat kabur." Si bocah lelaki menarik pelan lengan Intan, lantas membantu melepas ikatan.
"Kita kabur bersama. Sekalian saja mumpung ada petugas keamanan di sana." Intan optimis.
__ADS_1
Sayang sekali, si bocah lelaki tetap kukuh pada pendirian. Dia tidak mau ikut kabur bersama Intan. Si bocah lebih memilih diculik dan menghilang dari pada harus menghadapi kenyataan tanpa kasih sayang.
"Maaf sudah membuat kakak sedih. Terima kasih sudah mau makan roti bersamaku." Si bocah lelaki tersenyum simpul.
Intan menggeleng tegas. Terpaksa dia bertindak sedikit kasar dengan menarik lengan si bocah, lantas menggendongnya. Intan berlarian sambil menggendong si bocah lelaki yang ternyata juga tidak memberontak dengan kelakuan Intan.
Sebenarnya banyak orang di sekitar, karena lokasinya di jalan raya. Tapi, pikiran Intan saat itu tidak bisa diatur sedemikian rupa. Yang Intan pikirkan hanyalah kabur, menjauh dari lelaki gila yang menculik mereka.
Intan sengaja mengambil rute jalan memasuki gang-gang. Berbelok ke sembarang, hingga dirasa cukup aman akhirnya si bocah lelaki diturunkan. Tidak berhenti di sana, Intan kembali menggandeng tangan si bocah lelaki, kemudian lanjut berlari. Dan lagi-lagi, si bocah lelaki sama sekali tidak memberontak. Mimik wajahnya masih terlihat sama, masih tetap pasrah dengan keadaan yang ada.
Dasar jiwa Intan adalah seorang guru. Saat memilih tempat untuk bersembunyi, yang Intan pilih justru sekolah dasar yang saat itu sedang berlangsung pembelajaran di sana. Begitu Intan memasuki halaman sekolah, dia langsung dicegah oleh security.
"Siapa kalian?"
"Kami dikejar orang jahat. Kami butuh tempat untuk bersembunyi," terang Intan dengan cepat.
"Ada apa ini?" Seorang guru menghampiri. Terlihat anggun, cantik, dan tampak disegani.
"Bu Helen. Selamat pagi, Bu. Ini ada orang asing ngaku-ngaku dikejar penjahat."
"Oya? Kalau begitu ayo cepat bersembunyi. Pak Jo jaga-jaga di sini, ya."
Intan merasa tertolong. Langkahnya diayun cepat mengikuti langkah cepat Bu Helen. Tangan Intan juga masih setia menggandeng tangan si bocah lelaki yang sampai saat ini belum diketahui namanya.
***
Farel tersulut dengan ekspresi Fani yang tampak sangat khawatir dengan keadaan Intan. Oleh karenanya, Farel memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Intan.
"Adikku, kamu tenanglah dulu. Intania Zhesky akan berhasil ditemukan dalam waktu kurang dari 24 jam," janji Farel.
"Terima kasih, Kak. Akan kulakukan apa saj-" Ucapan Fani terhenti karena Sandhi menginjak kaki Fani. Injakan itu adalah kode agar Fani tidak berjanji macam-macam yang nantinya justru akan merepotkan.
"Saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda, Tuan Farel." Sandhi menimpali.
"Jangan panggil tuan. Panggil saja Farel, karena sepertinya kau sangat berarti bagi adikku Fani."
"Tentu saja sangat berarti." Fani dengan berani menggandeng tangan Sandhi. Anehnya, Sandhi sama sekali tidak memberontak.
__ADS_1
"Hahahaha. Baguslah. Ohya. Jika dalam waktu kurang dari 24 jam Intania Zhesky berhasil kutemukan, maka saat itu juga akan kujadikan dia sebagai istri keduaku," tegas Farel yang langsung membuat kaget Sandhi dan Fani.
Bersambung ....