PANTAS

PANTAS
Bab 72 - Diantar Pulang


__ADS_3

Kondisi Intan semakin membaik. Wajahnya tidak sepucat kemarin. Suara serak yang kemarin mengkhawatirkan pun sekarang sudah membaik. Memang, tanda khas sakit flu itu masih kentara, apalagi di bagian hidung yang sesekali mengeluarkan ingus yang tidak bisa dicegah. Namun, Intan tetap bersyukur karena dia cepat membaik salah satunya karena perhatian dari orang-orang yang mencintainya, khususnya Devano.


Pagi ini pukul setengah tujuh, usai sarapan dan berpamitan dengan Mira, Intan diantar Devano menggunakan mobil milik Pak Bos Besar. Kota tempat tinggal Intan menjadi tujuan. Dan, sudah hampir satu jam berlalu mereka berdua menempuh perjalanan. Sengaja Devano tidak mengebut, selain karena kondisi Intan, itu terjadi karena dia sudah diperingatkan oleh Intan agar tidak kebut-kebutan.


"Kenapa, Tan? Mau berhenti dulu?" tanya Devano saat melihat Intan seperti menahan sesuatu.


"Hanya sedikit mual, Dev."


Devano bersyukur karena tidak mengizinkan Intan pulang naik bus. Bisa-bisa calon istrinya itu sudah mabuk perjalanan sedari tadi. Karena ada mobil milik Pak Bos Besar, Devano bisa leluasa menepikan mobilnya kapanpun tergantung kondisi Intan. Seperti saat ini, Devano menepikan mobilnya di dekat warung tepi jalan. Tanpa menawari lebih dulu, Devano langsung membelikan Intan segelas teh hangat.


"Au!" Intan terkejut saat Devano menempelkan gelas plastik berisi teh hangat ke pipi kanannya. Sedari tadi mata Intan memang dibuat terpejam demi menahan rasa mual.


"Minumlah dulu. Pelan-pelan."


"Terima kasih, Dev."


Momen saat Intan meminum teh hangat diperhatikan betul oleh Devano. Padahal penampilan Intan saat itu tampak lesu, tidak sesegar biasanya. Tapi rasa cinta Devano pada Intan tetap saja membara. Hingga sampai Intan selesai dengan teh hangatnya, Devano masih saja tidak bisa melepas pandangannya.


"Dev, jangan ngelihatin aku gitu, dong." Intan tersenyum.


"Memangnya kenapa?" Devano mengimbangi senyum Intan.


"Aku kan lagi nggak cantik. Kucel, nggak seger."


"Tapi aku tetep cinta. Gimana dong?" Dengan ringannya Devano berkata demikian. Dan, sukses membuat Intan tertawa lebar.


"Yaudah, yuk nikah!" ucap Intan kemudian.


Devano spontan mengusap puncak kepala Intan berulang, tapi tidak berlebihan. Ada perasaan cinta yang juga tersirat dalam sikap Devano yang penuh kasih sayang.


"Kita akan segera menikah. Sekarang, apa kamu sudah lebih baik?"


"Iya, sudah."


"Baiklah. Kemarikan gelasnya." Devano mengambil alih dan mengamankan gelas teh hangat yang sudah diseruput isinya oleh Intan. "Pejamkan matamu, dan bersandarlah dengan nyaman."


Intan mengangguk. Dia menuruti apa yang Devano sampaikan. Sungguh, sisa perjalanan terasa menyenangkan meski tanpa obrolan. Semua itu gegara sikap Devano pada Intan. Memang tidak salah jika Intan menyematkan predikat definisi rasa nyaman pada Devano. Calon suaminya benar-benar mampu memberi rasa nyaman, bahkan saat sedang sakit sekalipun.


Satu setengah jam berlalu, mobil yang dikemudikan Devano sudah mulai memasuki perbatasan kota. Kurang lebih setengah jam lagi waktu tempuh perjalanannya. Di samping Devano, Intan terlelap sejak menghabiskan teh hangat. Sejak saat itu pula Devano membiarkan Intan beristirahat, sama sekali tidak mengusiknya.


Mobil dihentikan begitu memasuki halaman rumah Intan. Awalnya rumah terlihat sepi hingga ibu Intan kemudian membuka pintu depan rumah. Memang, di jam-jam segini yang ada di rumah hanya sang ibu, sedangkan ayahnya bekerja. Reaksi awal sang ibu tentu saja terkejut. Mobil siapa itu? Dan, saat mendapati Devano turun, barulah dia berseru.


"Calon mantukuuuu."


Ibu Intan tampak girang. Namun, segera berubah jadi khawatir saat melihat Intan keluar dari mobil dalam kondisi tidak sebaik waktu berangkat.


"Loh-loh? Kamu beneran sakit, Nduk?"

__ADS_1


"Sedikit tidak enak badan, Bu. Jadinya Devano yang ngantar pulang pakai mobilnya Pak Bos," terang Intan.


"Yasudah ayo masuk dulu. Ibu buatkan yang hangat-hangat dulu ya. Nak Dev ayo masuk juga. Tolong temani Intan sebentar ya."


"Baik, Bu."


Devano menemani Intan duduk di ruang tamu. Em, tidak ... Intanlah yang menemani Devano duduk di ruang tamu, karena saat ini mereka sudah sampai di rumah Intan. Devano sebenarnya sudah meminta Intan untuk ke kamarnya dulu, barangkali mau mengambil jaket lain atau sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh, tapi Intan tidak mau dan justru mengaku sudah baik-baik saja.


"Hangat-hangat apa yang dimaksud ibumu?" tanya Devano setengah berbisik pada Intan, dia kepo.


"Biasanya sih mie kuah. Kamu temani aku makan ya. Ibu pasti menyuruhku menghabiskan semuanya. Kalau ada kamu kan aku jadi aman."


"Boleh. Tapi setelah ini janji langsung istirahat, ya."


Demi membuat Devano tidak khawatir, Intan segera mengiyakan. Lagipula selama sakit Devanolah yang terus memperhatikan bahkan memenuhi segala kebutuhan Intan, termasuk obat dan makanan. Untuk saat ini, sikap patuhlah yang bisa Intan tunjukkan.


"Dev, aku boleh minta pendapatmu?"


"Boleh. Tentang apa itu?"


"Em, ini tentang Mira. Bagaimana kalau seandainya dia justru berjodoh dengan Sandhi?"


Devano tidak langsung menjawab. Dia justru menatap Intan sejenak, kemudian memastikan dugaan yang sempat terbersit dalam pikiran.


"Kamu kepikiran Mira atau Sandhi?" tanya Devano.


Lagi-lagi Devano tidak langsung menjawab. Pikirannya berputar, menimbang. Andai Sandhi dan Mira berjodoh, itu artinya dunia tampak sempit sekali. Gagal menjalin hubungan dengan Intan, tapi justru yang berhasil didapatkan adalah adik Intan. Namun, Devano juga paham tentang misteri jodoh. Benar-benar tidak ada yang tahu seseorang akan berjodoh dengan siapa dan kapan bertemunya. Contohnya saja Devano, dia dan Intan adalah teman sekelas di masa lalu, sempat berpisah lama, kemudian sekarang justru akan segera melangsungkan pernikahan.


"Menurutku sih tidak apa-apa. Kalau mereka memang berjodoh, kita bisa apa. Mau mencegah juga tidak bisa."


"Berarti kamu siap menjadi kakak ipar Sandhi?" tanya Intan lagi, kali ini disertai senyum mengembang.


"Tunggu-tunggu. Apa kamu berniat menjodohkan Sandhi dengan Mira?"


"Nggak, kok. Aku cuma membuat kemungkinan saja, Dev. Sekalian tanya pendapatmu, sih. Em, jawab gih!"


"Ya nggak papa. Lagipula aku kan sudah berhasil mendapatkanmu. Kalau Sandhi menikah dengan Mira, tidak mungkin juga dia akan merebutmu dariku." Kali ini Devano PD menjawab.


Intan tertawa ringan. Suka sekali melihat sikap tengil Devano saat tingkat ke-PD-an nya melambung hingga ke awan.


"Baiklah. Sepertinya aku tidak akan khawatir lagi. Biarlah takdir yang menjawabnya," ucap Intan kemudian.


Sang ibu tiba-tiba muncul sambil membawa nampan. Isinya adalah dua mangkuk mie kuah. Tebakan Intan benar. Tapi, karena sudah ada dua mangkuk di sana, jadinya dia tidak bisa menyuruh Devano menghabiskan bagiannya.


"Kalian lagi ngobrolin apa, nih? Pernikahan ya?" Tebak sang ibu.


"Intan sudah tidak sabar menikah dengan Dev, Bu." Devano iseng menyahuti demikian.

__ADS_1


"Deeeev!"


Tawa ringan terdengar dari Devano. Sementara sang ibu, beliau lekas mengambil minum dan menghidangkannya juga untuk Devano.


"Ya nggak papa, Tan. Menikah itu memang harus disegerakan. Itu lebih baik. Biar ibu juga bisa menimang cucu."


"Em, ibu ingin cucu berapa dari Intan sama Dev?" Lagi-lagi Devano iseng bertanya.


"Deeeev! Kok tanya itu sih?" Intan protes. Dia sedikit malu dengan perbincangan itu.


"Tan, Nak Dev nggak salah tanya gitu. Jangan dimarahi, dong." Sang ibu langsung beralih fokus ke Devano dan melanjutkan perbincangan yang tadi. "Terserah saja. Yang banyak juga tidak apa-apa Nak Dev."


Mendapat jawaban seperti itu, Devano langsung melihat ke arah Intan sambil melebarkan senyuman. Yang dilihat, dia juga senyum-senyum tertahan. Sang ibu sampai ikut senang melihat Intan dan calon mantu kesayangan.


Acara makan mie berkuah disertai obrolan seputar pernikahan pun selesai. Secara tidak langsung, banyak senyum membuat kondisi Intan jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Pikir Intan, Devano pastilah sengaja membuat obrolan yang bisa memancing senyuman. Karena saat Intan tersenyum, di wajah Devano tersirat satu kebahagiaan.


"Dev, hati-hati di jalan, ya. Dan ... terima kasih karena sudah membuatku banyak tersenyum hari ini. Kamu baik-baik ya di sana. Sampai jumpa lagi."


Devano tersenyum. Rasanya ingin langsung memeluk, tapi terbatas status belum resmi menjadi suami Intan. Jadilah, Devano hanya mampu mengangguk sambil memberi tatapan teduh untuk Intan. Setelahnya, mobil Devano melaju meninggalkan halaman rumah Intan.


Kini, tersisa Intan dan sang ibu. Pertama-tama, ibu Intan memastikan kondisi putrinya. Benar-benar hanya flu, tapi saat demam Intan memang akan langsung drop seperti yang sudah dia kenal. Ibu Intan bisa membayangkan bagaimana bingungnya Devano saat tahu Intan yang dalam kondisi demam.


"Nak Dev pasti panik sekali lihat kamu begini," ucap sang ibu sambil menemani Intan menuju kamarnya.


"Devano perhatian sekali, Bu."


"Ya iya dong perhatian. Kamu kan calon istrinya."


"Hehe, iya juga sih."


"Ibu buatkan jamu, nanti kamu minum ya. Biar besok bisa masuk kerja." Sang ibu tahu betul kalau Intan pasti akan memaksa masuk ke sekolah meski kondisinya belum sembuh benar.


Intan mengangguk setuju. Dan hari ini akan dia gunakan untuk memulihkan tubuh.


"Oya, Tan. Sebenarnya malam minggu kemarin ada yang datang." Tiba-tiba saja ibu Intan balik badan, urung keluar dari kamar Intan.


"Siapa, Bu?"


"Laki-laki. Dia datang untuk melamar Mira."


"Eh? Melamar Mira?"


Intan tentu saja terkejut. Dia sampai urung merebahkan badan, kemudian memilih duduk di tepian ranjang.


Ada yang datang melamar Mira? Siapa Dia? Nantikan lanjutan ceritanya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2