
Di kampus, Mira keluar dengan wajah lesu. Sama sekali tidak ada senyum yang tertoreh. Wajah ceria, keisengan pada teman-temannya, itu semua tidak terlihat hari ini. Mira bahkan terancam gagal di mata kuliah Sandhi. Penyebabnya hanya satu, tugas-tugas Mira mendadak hilang secara misterius beberapa menit sebelum kuliah dimulai. Tidak hanya itu, Mira juga mendapat pesan ancaman lagi untuk segera menjauhi Sandhi.
"Mir, nanti malam mau ikut nongki nggak?" tanya salah satu teman Mira.
"Nggak, deh. Hari ini aku kecapekan. Lain kali saja aku gabungnya."
"Oke, deh. Aku duluan, ya."
Mira hanya mengangguk saja. Benar-benar tidak bersemangat seperti biasanya. Kini, Mira harus mengatasi rasa kecewanya. Apalagi tadi Sandhi sempat menegur di hadapan teman sekelas Mira. Huh, bad day. Begitulah pikir Mira.
Langkah Mira terus diayun dalam ketidakpastian arah. Sebenarnya sudah tidak ada lagi jadwal kuliah setelah ini. Bisa saja Mira langsung pulang ke kos-kosan atau bisa juga bersiap ikut nongki bersama teman-teman. Tapi, yang namanya rasa ogah-ogahan saat ini benar-benar menyerang. Mira, lebih dulu dia harus mengatasi rasa kecewanya, juga rasa sebal karena ancaman yang diterima.
"Seenak jidat aja nyuruh-nyuruh ngejauhin Kak Sandhi. Memang situ siapanya, sih. Prasaan Kak Sandhi juga belum punya calon istri." Tiba-tiba saja Mira berucap demikian. Posisinya sekarang berada di salah satu gazebo, duduk sendirian.
Sepuluh menit sudah Mira duduk termenung, melamun, sendirian di gazebo tanpa melakukan apa-apa. Pikirannya saat ini kemana-mana. Teringat ancaman, teringat pula dengan tugas kuliah yang mendadak hilang.
"Iseng bener tuh orang yang ambil. Aku sumpahin biar dia ...."
"Mira!"
Gerutuan Mira terjeda karena mendengar satu suara yang memanggil namanya. Dan, itu suara Sandhi. Ya, tiba-tiba saja datang menghampiri Mira bersama seorang wanita yang sama sekali tidak dikenal olehnya. Wanita yang saat ini berjalan di belakang Sandhi itu tampak menunduk.
"Dia ... siapa, Pak?" tanya Mira.
"Dialah yang selama ini mengirim pesan ancaman padamu," terang Sandhi.
"Mahasiswa di sini?" tanya Mira usai meredam rasa terkejutnya.
"Bukan mahasiswa. Hanya salah satu pekerja di tempat Nisa. Dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia hanya disuruh agar tidak ada seorang pun yang dekat denganku. Fani juga pernah diteror sekali, tapi dia cuek saja dengan yang semacam ini."
"Kak Fani pernah diteror juga? Eh, tunggu sebentar. Nisa itu siapa, Pak?"
Berceritalah Sandhi dengan tanpa panjang lebar. Tentang Nisa yang batal dijodohkan dengannya, juga tentang sikap Nisa yang pernah Sandhi jumpa. Awalnya Sandhi juga tidak menyangka, tapi hari ini semua terbukti sudah. Tugas kuliah Mira yang mendadak hilang, rupanya Sandhi tidak tinggal diam. Meski saat di kelas dia menegur Mira, tapi setelahnya dia bergerak cepat mencari tahu siapa dalangnya. Dan, keberuntungan sepertinya memang sedang berpihak padanya. Si pelaku yang sama, rupanya masih mengintai Mira bahkan setelah kelas selesai beberapa menit lalu. Dari sanalah Sandhi langsung curiga dan membidik si pelaku untuk mengakui semuanya.
"Uuuuuh. Kok kamu tega banget sih sama aku, Dek!" Mira tetap memberi sapaan Dek, karena si pelaku tampak lebih muda darinya.
"Maafkan saya, Kak. Saya hanya disuruh. Em, setelah ini saya janji akan langsung keluar dari tempat saya bekerja. Saya ingin kerja yang biasa-biasa saja. Maaf. Maaf. Maafkan saya, Kak."
Si pelaku yang tampak masih muda itu seketika hendak bersimpuh di kaki Mira. Tentu saja Mira mencegahnya. Dia tidak ingin membuat rendah orang lain meski orang itu jelas-jelas telah bersalah.
"Sudah-sudah. Aku maafkan kamu. Tapi, tugas kuliahku masih ada nggak?" Dasar Mira, dalam keadaan seperti ini yang ada di pikirannya justru tugas kuliah.
"Sst. Mira, kita bahas tugasmu nanti saja, ya." Sandhi ingin Mira fokus.
"Nggak bisa dong, Pak. Tugas itu ngerjainnya satu minggu full. Penuh perjuangan sampai sedikit tidur." Mira masih tidak terima.
Si pelaku hanya terdiam. Dia tidak berani menjawab karena melihat perubahan ekspresi di wajah Mira. Begitu kentara ada emosi yang tergambar di sana.
Melihat itu, Sandhi segera ambil sikap. Si pelaku teror diminta untuk segera meninggalkan lokasi tapi dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi, khususnya bagian penepatan janji yang telah dikatakan tadi.
"Yah-yah. Kok disuruh pergi sih, Pak. Tugas Mira bagaimana, dong?" Mira masih tidak terima.
Sandhi tidak menjawab. Dia justru tersenyum lebar sambil bersedekap tangan memperhatikan mimik wajah Mira.
__ADS_1
"Pak Sandhi kok malah senyum-senyum, sih? Mira jadi takut, nih!" Mira refleks mundur dua langkah ke belakang.
Sandhi masih saja tersenyum, bahkan semakin lebar dari sebelumnya.
"Ayo ikut aku!" pinta Sandhi sambil menunjuk arah parkiran, kode agar Mira ikut mobilnya.
"Mau kemana lagi, Pak? Minta temenin makan? Nyuruh Mira antri beli camilan? Atau mau tanya-tanya persiapan pernikahan Kak Dev sama Kak Intan?"
Semua yang disampaikan Mira itu adalah kegiatan yang pernah dilakukan Sandhi bersama Mira. Ya, ajakan Sandhi kali ini bukanlah pertama kalinya. Sejak terlepas dari tantangan 31 hari, hati Sandhi terasa jauh lebih lega. Dan, saat itu juga Sandhi justru lebih dekat dengan Mira. Padahal baik Sandhi ataupun Mira telah mendapat saran dari Intan untuk saling jaga jarak demi kebaikan. Namun, yang terjadi pada mereka berdua justru berkebalikan.
"Paaaak! Kok tambah senyum, sih? Mau kemana?" tanya Mira lagi.
"Ke mobil dulu. Baru aku beri tahu."
Kali ini Mira tidak takut-takut lagi, karena dalang di balik teror sebutan pelakor sudah berhasil dipergoki Sandhi. Jadilah, Mira mau-mau saja saat diminta ikut mobil Sandhi.
"Sudah. Sekarang ayo katakan, Pak!" desak Mira.
"Pak?" Sandhi keberatan jika dia dipanggil dengan sebutan Pak oleh Mira.
"Kita mau kemana Kak Sandhi yang baik hati?" Mira tersenyum ramah kali ini.
"Nah. Gitu dong. Jangan panggil Pak kalau sedang berdua saja, ya."
Deg!
Gara-gara Sandhi mengucap kata 'berdua saja', hati Mira bereaksi seketika. Sikap dan penuturan Sandhi membuat Mira salah tingkah. Tapi, demi meredam itu semua, Mira lekas menebak-nebak lokasi yang akan dituju bersama Sandhi.
"Kamu lapar, ya?"
"Nggak, kok. Cuma nebak aja."
"Lihat saja, ya. Kamu pasti suka."
Mira menangkapnya. Sikap Sandhi barusan, benar-benar tampak lebih manis dibanding biasanya. Namun, Mira tidak mau berprasangka apa-apa. Kini, yang Mira lakukan hanya duduk manis di samping Sandhi. Benar-benar duduk manis, hingga kemudian ganti terkejut saat mobil Sandhi sudah berhenti.
"Loh, bukankah ini rumah Kak Sandhi?"
"Iya, benar sekali."
"Kok ke sini sih, Kak? Mau ngapain?"
"Ada yang mau ketemu kamu, Mir."
"Siapa?"
"Mamaku."
"Ha?"
Benar-benar tidak terduga. Diam-diam, ternyata Sandhi telah banyak bercerita tentang Mira pada mamanya, dimulai sejak tantangan 31 hari yang resmi batal, Sandhi ternyata memulai aksi lanjutan. Tentunya semua bukan dilandaskan pada keisengan. Sandhi, sebenarnya dia sudah mulai merasakan ketertarikan.
Tentang status Mira yang merupakan adik kandung Intan, Sandhi juga sudah memberi tahu sang mama. Dan, mama Sandhi tetap menerima keputusan Sandhi dengan lapang. Sungguh, mama Sandhi telah banyak berubah. Telah tersadarkan oleh keadaan yang ada.
__ADS_1
"Kak Sandhi serius?"
"Apa ini semua tampak seperti sebuah canda?"
"Em, nggak sih, Kak."
"Lalu?"
"Eh? Lalu apa, Kak?"
"Lalu .... Apakah kamu bersedia jadi istriku?"
Dooor! Saat itu juga Mira seolah ingin pingsan. Ajakan Sandhi sulit diterima akal, padahal itu kenyataan. Mira syok, tapi juga senang. Ingin teriak, tapi justru tertahan.
"Kok-kok-kok mendadak gini sih, Kak?"
"Terus maunya dilamar kapan? Sekarang atau ntar-ntar?"
"Eit, ya sekarang dong, Kak. Hehe, Mira mau. Mau banget. Tapi ...."
"Tapi, Kak Intan apa setuju ya?"
Sandhi tersenyum mendengarnya. Pertanyaan Mira ini sudah dia duga. Tentang hal ini, tentu saja Sandhi telah memikirkannya. Sandhi berniat akan memperjuangkan cintanya. Tidak akan menunggu nanti-nanti seperti sebelumnya. Tidak akan menunggu kata pantas itu tersematkan pada dirinya ataupun Mira. Sandhi, dia akan membuktikan keseriusannya, dan kata pantas itu pasti akan tersemat seiring dengan pembuktian cintanya pada Mira.
"Di hari pernikahan Intan dan Devano, aku akan datang. Bukan sebagai tamu undangan, tapi sebagai orang penting yang akan mendapatkan restu kakak ipar."
Mira tersenyum kemudian mengangguk. Dia menerima ajakan Sandhi, karena memang perasaan cintalah yang Mira rasakan selama ini.
PANTAS
Cinta Reynal untuk sang istri. Cinta Fani untuk Benny. Cinta Jefri untuk Dhea. Cinta Sandhi untuk Mira. Dan ... cerita cinta dari mereka itulah yang juga mengiringi perjalanan cinta Intania Zhesky dan Devano Albagri, sang pemeran utama dalam kisah manis ini. Semua berbahagia, saling memantaskan diri untuk bisa menjalani hidup bersama, dan mereka semua telah bertemu dengan jodohnya.
Malam ini adalah malam pertama bagi Intan dan Devano usai resmi menjadi sepasang suami istri. Tatapan mata Intan dan Devano saling beradu. Begitu lama, hingga akhirnya bersatu dalam balutan penuh cinta. Deru hujan dan hawa dingin yang harusnya terasa menusuk tulang sampai tidak lagi dirasakan. Malam ini adalah malam penyatuan, dan yang terasa hanyalah keindahan.
"Ternyata kamulah orangnya. Jawaban atas doa-doa yang selalu aku panjatkan," ucap Intan.
Devano lebih dulu menghadiahi kecupan untuk Intan, kemudian menanggapi dengan penuh kasih sayang.
"Aku bersyukur karena itu kamu. Hanya kamu. Cukup kamu. I love you, istriku."
"Love you too, suamiku."
TAMAT
💜💜💜 Banyak Luv buat Kak Arthi Yuniar, Kak BooCiL, Kak Dian Safitri, Kak Dewi ILmiyah, Kak Juheni Eni, Kak Wil, dan Kak Nuri Wahida Indah yang sudah memberi dukungan untuk author dan novel PANTAS. Terima kasih untuk vote, like, hadiah, dan komentar yang telah diberikan.
NB : Silakan join ke grup author jika ingin bertanya-tanya atau sekedar ingin menyapa ya. Klik profil author yuk!
Sampai jumpa di cerita author berikutnya
PANTAS
💜💜💜
__ADS_1