
Fani bukanlah satu-satunya yang bingung. Devano, Sandhi, bahkan Reynal sekalipun juga bingung dengan sikap Intan yang tiba-tiba memberi Fani pelukan. Suasana yang sebelum ini menegangkan langsung terganti dengan kondisi penuh tanya yang membingungkan.
“Senang sekali bisa bertemu denganmu,” ungkap Intan sambil melepas pelukannya.
Respon Fani masih tampak seperti orang kebingungan, karena dia benar-benar tidak mengenali Intan. Fani sampai menyondongkan badan demi bisa melihat wajah Intan dari jarak dekat, tapi Fani tetap saja tidak mengenali Intan.
“Kamu siapa, ya?” Fani melontar tanya demi segera mengusir rasa penasarannya.
Intan tidak menjawab. Dia justru menunjuk ke arah t-skirt yang dipakai olehnya. Agar lebih jelas lagi, Intan bergantian menunjuk t-skirt Fani dan t-skirt miliknya sebagai kode tegas bahwa desainnya serupa. Dan, saat itulah Fani mulai tersadar dengan siapa dia berbicara.
“Intania Zhesky. Apa benar itu kamu?” Mimik wajah Fani seketika berubah, menjadi lebih riang dan heboh sendiri.
Intan mengangguk mantap. Tidak butuh waktu lama hingga kemudian gantian Fani yang memberi pelukan dengan suasana hati riang. Bahkan, Fani memeluk Intan dengan sangat erat.
“Aku penggemar novelmu. Bagaimana lanjutan kisah Mario-Anjani? Apakah ada season 3? Aku paling suka bab Lauk Ketiga? No! Anjani jenius banget. Kode keras tuh biar Mario nggak coba-coba selingkuh. Apalagi pelakornya model Lovey. Uuuuh, bikin greget.”
Fani memberondong pertanyaan, membuat Intan bingung harus menjawab bagian mana dulu. Ditambah lagi, Fani bersemangat sekali menyebut part yang paling disukai dari novel karya Intan yang berjudul Takdirku Bersamamu.
Sebenarnya, Intan tidak pernah saling mengenal secara langsung dengan Fani. Intan hanya mengenal Fani sebagai seorang penggemar yang baik hati. Sudah tiga kali ini Fani mengirim hadiah untuk Intan. Hadiah pertama, gelang. Kedua, sekotak penuh coklat. Ketiga, t-skirt desain khusus yang saat ini sama-sama mereka gunakan. Selama ini pun komunikasi Intan dan Fani terbatas hanya via grup chat penggemar novel Intan, itupun tidak sering dilakukan. Sementara Intan, dia tidak pernah menunjukkan profil wajahnya sehingga membuat penggemar novelnya penasaran dengan kehidupan Intan yang sebenarnya.
“Ternyata penggemar novelnya Intan,” celetuk Sandhi yang keberadaannya mulai dilupakan. Bahkan, dia telah mengambil posisi di samping Reynal.
“Terus, masih mau minta pertanggungjawaban dari Fani?” tanya Reynal pada Sandhi.
“Entahlah. Aku bingung, Rey.”
“Dev, bagaimana menurutmu?”
Reynal ingin tahu pendapat Devano. Sayangnya, Devano hanya senyum-senyum sambil memperhatikan Intan. Pandangan mata Devano bahkan tidak teralihkan meski Reynal memancingnya dengan pertanyaan.
“Devano Albagri, apa kau mendengarku?”
“Iya, Rey. Aku mendengarmu. Sorry.” Saat itulah Devano menoleh tanpa memudarkan senyum di wajah. Tapi, hanya sebentar. Setelahnya Devano kembali melihat ke arah Intan sambil tetap mengembangkan senyuman.
“Orang jatuh cinta kelakuannya memang gilla, ya.” Reynal tertawa ringan sambil menepuk-nepuk punggung Devano.
“Hati-hati dengan bicaramu, Rey. Ada pesaingku di sampingmu. Tuh, lihat!”
Devano mengarahkan ekor matanya ke arah Sandhi. Sebenarnya Sandhi mendengar celetukan itu, tapi dia berusaha acuh. Sandhi tidak ingin bertengkar dengan Devano di hadapan Intan.
Sementara itu, Intan dan Fani masih saja membahas dunia pernovelan, tepatnya membahas para tokoh dalam novel karangan Intan. Sandhi dan Reynal sampai bosan menunggu mereka mengobrol, kecuali Devano, hanya dia yang tidak bosan dan tetap mengembangkan senyumnya sambil memperhatikan Intan. Baginya, kebahagiaan Intan adalah kebahagiaannya.
“Cerita novelnya dilanjut nanti, ya. Sekarang aku ingin mendengar ceritamu. Oya, tunggu sebentar. Kenalkan dulu, mereka adalah temanku.” Intan menarik pelan tangan Fani dan mendekat ke arah Devano, Sandhi, dan Reynal.
“Yang senyum-senyum ini, namanya Devano. Yang ini Reynal, dia psikolog muda baik hati.”
“Kok aku nggak dikasih julukan juga, sih?” Devano menyahuti.
“Em, Devano ini seorang desainer dan ….”
“Dan calon suaminya Intan,” sahut Devano yang sukses membuat Intan jadi tersipu malu.
“Kalau yang tinggi tegap ini, namanya Sandhi.” Intan lanjut memperkenalkan.
Sayang sekali, ekspresi yang ditunjukkan Fani tidak seantusias tadi. Fani langsung menunjukkan raut wajah masam, bahkan membuang pandang. Dan, ekspresi itu ditangkap oleh Intan.
“Ada apa, Fan?” Intan bertanya-tanya perihal sikap Fani yang mendadak masam.
“Dia berhutang maaf padaku.” Telunjuk Fani terarah ke wajah Sandhi.
__ADS_1
Seketika Sandhi terkejut dengan penuturan Fani. Sandhi merasa tidak berhutang apapun. Jika harus ada yang berhutang maaf, itu adalah Fani, bukan Sandhi. Fanilah yang telah membuat Intan mengalami hari buruk bersama penculik, begitulah pikir Sandhi.
“Nona Fani yang terhormat, Andalah yang berhutang maaf pada Intan. Bukan saya.” Sandhi mendadak formal.
"Aku sudah minta maaf, kok. Tanyakan saja pada Intan. Sekarang giliranmu. Ayo minta maaf! Pergelangan tanganku masih sakit, nih!” Fani menunjuk pergelangan tangan kanannya yang tadi dicengkeram Sandhi.
Acuh, itulah yang Sandhi pilih. Dia tidak mau minta maaf karena merasa tidak melakukan kesalahan. Untuk cengkeraman pada pergelangan tangan Fani, itu spontan dia lakukan demi bisa menyelamatkan Intan.
“Fani, bolehkah kami tahu alasanmu sampai dikejar-kejar penculik tadi?” Reynal-lah yang bertanya, sekaligus memecah sikap sengit antara Fani dan Sandhi.
“Sebenarnya ….” Fani tampak ragu untuk bercerita.
“Jangan ragu, Fan. Ceritakan saja. Kalau kamu memang dalam bahaya, kami pasti akan membantumu. Iya kan, Dev?” Intan mencari dukungan.
“Betul sekali. Aku dan Intan akan membantumu.” Lagi-lagi Devano mengembangkan senyum manisnya untuk Intan.
Merasa mendapat dukungan, Fani pun mulai membeberkan fakta tentang dirinya, termasuk tentang dua penculik yang salah sasaran.
“Yang kalian kira penculik, sebenarnya mereka berdua adalah karyawan kakakku. Mereka orang-orang baik, kok. Aku kenal mereka, tapi mereka tidak mengenalku karena mereka adalah karyawan baru.”
Kecurigaan Intan terjawab sudah, karena selama di dalam mobil tadi Intan diperlakukan dengan sopan. Sama sekali tidak ada bentakan apalagi todong-todongan senjata tajam.
“Namanya Falen, bukan?” Intan mengulang nama yang tadi disebutkan sebagai Bos Falen.
“Benar sekali, Tan. Dia kakakku. Terkadang sikapnya memang nekat dan terkesan aneh, tapi dia sayang sekali pada adik tidak berguna sepertiku.”
Terdengar melow. Fani sampai menunduk demi mencegah air matanya berlinang. Dia tidak mau terlihat menyedihkan, apalagi di hadapan Intan.
Cerita Fani terus berlajut melalui bujukan Intan. Fani mengaku, sebelum ini dia berprofesi sebagai pemeran figuran. Tapi, karirnya tidak berlanjut karena terlalu banyak saingan yang potensinya di luar bayangan. Fani yang saat itu mencoba mandiri tanpa bantuan Falen, dia mencoba bisnis kosmetik. Tapi, lagi-lagi usaha yang digeluti justru gagal, bahkan bangkrut dan menderita kerugian. Sampai saat ini Fani masih terjebak hutang.
Falen, kakak Fani mendengar kemalangan sang adik. Falen berencana membantu, tapi dengan syarat Fani harus mau menikah dengan sahabat baik Falen yang kaya raya. Pikir Falen, hidup Fani akan lebih sejahtera jika sudah menikah, bahkan hutang-hutangnya pun bisa dilunasi oleh calon suaminya yang kaya raya.
“Aku tidak mau dijodohkan, apalagi karena hutang. Kak Falen benar-benar keterlaluan.” Fani kesal.
“Harusnya sebelum berbisnis kamu ukur dulu dampak baik buruknya, sampai pada masalah biayanya juga. Bukan asal coba-coba peruntungan.”
“Diam kau master abal-abal!” sahut Fani dengan kesal.
Sandhi tidak membalas kata, karena saat itu Intan melirik tajam ke arahnya. Sebenarnya omongan Sandhi ada benarnya, tapi salah waktu untuk dibuat sebagai nasihat. Ditambah dengan kekesalan Sandhi sebelum ini, jadilah kata-kata itu tidak bisa dia cegah. Sandhi hanya sebal karena sempat dituduh berhutang maaf karena cengkeraman pergelangan tangan.
“Apa kakakmu tidak akan memaksamu menikah andai hutang itu lunas?” tanya Reynal, yang lagi-lagi mengalihkan keributan yang dibuat Fani dan Sandhi.
“Ya … bisa dikatakan seperti itu. Tapi, hutangnya lumayan besar. Aku tidak tahu bisa dapat uang sebesar itu darimana, sementara aku sedang tidak bekerja.” Fani benar-benar memilih jujur sejujur-jujurnya.
“Maaf, nih. Kalau boleh tahu, seberapa besar?” Devano sudah terlanjur penasaran.
Fani mengangkat sepuluh jari tangannya tanpa ragu dan menunjukkannya pada Devano. Namun, lagi-lagi yang menyahuti adalah Sandhi.
“Sepuluh ribu?”
“Sepuluh juta! Puas kau master abal-abal?” Wajah Fani benar-benar kesal.
“Fani, tenanglah.” Intan mencoba menengahi, agar Fani tidak terus-terusan kesal pada Sandhi. “Sandhi akan membantumu dengan senang hati. Iya kan, San?”
“Eh?” Sandhi kaget dengan ucapan Intan yang tiba-tiba, tapi dengan cepat Sandhi menangkap kode mata dari Intan untuk segera mengiyakan. “Iya. Aku akan membantumu,” jawab Sandhi, masih dengan sedikit acuh.
Fani senang karena ada yang berniat membantunya. Tapi, jika itu adalah Sandhi, Fani masih kurang percaya. Sandhi telah menyakiti pergelangan tangan kanannya, bahkan sempat menunjukkan wajah garang saat kejadiaan Intan yang menjadi korban salah sasaran.
“Aku percaya pada Sandhi. Dia pasti akan membantumu, Fan. Sandhi itu dermawan.” Devano melebih-lebihkan. “Juga … sekarang dia jomblo, lho,” imbuh Devano yang langsung mendapat sikutan tangan dari Reynal. Intan juga ikut-ikutan menegur ucapan Devano.
__ADS_1
Sebenarnya tabungan Sandhi tidak sebanyak itu. Tapi, dia tidak enak hati menolak permintaan Intan. Lagi-lagi perasaan cinta mengambil peran. Hal yang di luar jangkauan pun sampai dipaksakan. Dikatakan buta, tapi dalamnya perasaanlah yang berbicara, membuat Sandhi sampai tidak bisa berkutik karenanya.
“Cinta oh cinta.” Batin Sandhi sambil mencuri-curi pandang ke arah Intan.
Rupanya, momen sendu saat Sandhi menatap Intan diketahui oleh Fani. Dia langsung bisa menebak perasaan Sandhi pada Intan. Sebuah perasaan yang teramat dalam dan tidak terbalaskan.
“Devano dan Sandhi. Dari segi tampilan, Sandhi lebih cool. Tapi, kenapa Intan lebih memilih Devano, ya?” Fani bertanya-tanya dalam hati.
Pengondisian dilakukan. Reynal tidak ingin berlama-lama di area persawahan. Dia langsung menyarankan untuk segera pulang. Intan dan Devano setuju. Sandhi pun setuju. Tapi, masalahnya ada pada Fani. Dia tidak berani pulang ke kota asalnya sebelum hutang-hutangnya berhasil dilunasi.
“Mau ikut aku?” Sandhi menawari, tapi kali ini bukan untuk menarik perhatian Intan. Rasa kemanusiaanlah yang berperan.
“Maksudnya ikut ke kotamu?” tanya Fani.
Sandhi mengangguk. “Kamu bisa menginap di salah satu kontrakan milik mamaku. Sambil cari kerja juga bisa. Masalah hutang, bisa kau cicil setelah punya gaji dari kerjaan barumu.”
“Intan, bagaimana menurutmu?” Fani justru meminta pendapat Intan, karena Intan-lah satu-satunya yang dia percaya.
“Ini kemudahan untukmu, Fan. Terima saja tawaran Sandhi. Percayalah, Sandhi itu orang baik. Aku sudah lama mengenalnya.”
Niat Intan hanyalah untuk menguatkan hati Fani, tapi ternyata ucapannya itu ditanggapi lebih oleh Sandhi. Sandhi tersenyum tulus pada Intan, tapi langsung dia pudarkan begitu Devano memberinya lirikan.
Urusan Fani sudah teratasi. Sebelum berpisah kota, Intan menyempatkan diri berbicara empat mata dengan Sandhi. Devano yang semula keberatan, akhirnya memilih untuk memberi waktu pada Intan. Ada Reynal pula yang selalu siap menjadi penengah di antara kerumitan yang terjadi di sana.
Intan dan Sandhi sama-sama menghadap ke arah sawah. Pemandangan hijau menyejukkan pandangan mata mereka, tapi tidak dengan gejolak yang terasa di dada, khususnya dalam hati Sandhi.
“Maafkan aku,” ucap Intan mengawali pembicaraan.
"Maafkan aku juga, Tan. Tidak seharusnya aku meremehkan pilihanmu. Devano, dia pantas mendampingimu.” Sandhi teringat aksi nekat Devano saat dua penculik salah sasaran menangkap Intan.
“Tentang kisah kita di masa lalu, lupakan saja.”
“Tidak mau,” sahut Sandhi yang saat itu tampak mengembangkan senyumnya.
Intan seketika menoleh ke arah Sandhi. Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu untuk sekian detik lamanya. Namun, langsung buyar karena dikagetkan Devano yang mendadak saja memposisikan dirinya di tengah-tengah Intan dan Sandhi.
“Sudah cukup, ya. Sandhi, maafkan sikap jahilku sebelum ini. Selamat memperjuangkan hati Fani.”
“Dev, kau ….”
“Eit, sabar dulu, dong. Jangan suka menyela omongan orang. Tidak baik.” Devano merangkul Sandhi demi mengakrabkan diri. “Untuk yang sepuluh juta, aku, Intan, dan Reynal akan patungan membantumu,” imbuh Devano.
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Sandhi balik merangkul Devano, kemudian berbisik padanya. “Ingat! Bahagiakan Intan. Kalau tidak, kau akan menyesal.”
Setelah itu, Sandhi melepas rangkulan. Dia tersenyum pada Intan, melambaikan tangan, kemudian balik badan.
“Fani, ayo!”
"Oke, Master.”
Satu kisah di danau berair jernih telah usai. Sungguh kisah yang tidak terduga, tapi meninggalkan kesan luar biasa.
Kini, Fani ikut Sandhi ke kotanya. Sementara Reynal, dia memilih berboncengan motor dengan Devano, sambil mengawal Intan hingga sampai di rumahnya. Namun, tiba-tiba saja Devano menurunkan Reynal begitu sampai di perbatasan kota.
“Rey, hubungi Jefri. Minta dia ke rumahmu sepulang kerja. Aku mau menemuinya di sana.”
“Mau ribut sama Jefri?”
“Lebih tepatnya, aku mau berterima kasih.” Senyum Devano penuh arti.
__ADS_1
Setelah sepakat, Devano menurunkan Reynal. Devano lanjut menyejajari laju motor Intan hingga sampai di rumah. Tidak hanya itu saja, ternyata Devano berencana mengenalkan dirinya pada Mira, juga ayah ibu Intan saat itu juga.
Bersambung ….