
Menjelang akhir pekan, rutinitas bukan semakin berkurang justru semakin bertambah seiring padatnya kegiatan. Khususnya bagi Mira. Beberapa hari ini semangatnya menurun hingga membuat pengerjaan tugas-tugas tertunda, menumpuk, dan harus segera diselesaikan sebelum deadline yang diminta.
Begitu teringat pada sang kakak yang akan segera datang, Mira jadi tergopoh-gopoh menyelesaikan. Mira tidak ingin kakaknya itu ngomel-ngomel saat tahu tugas-tugas kuliahnya tidak terselesaikan.
"Lanjut besok lagi deh, Mir. Gue capek! Sudah sore juga, nih!" keluh Salsa, teman kuliah Mira.
"Kamu duluan aja, deh. Aku mau lanjut!" Mira menjawab tanpa menoleh. Jemari tangannya sibuk menari di atas keyboard laptop.
"Yakin nggak mau pulang? Deadline tugasnya masih 24 jam lagi, loh."
"Justru karena tinggal 24 jam. Bisa-bisa aku kena omel Kak Intan," celetuk Mira.
Salsa yang tahu tentang nama kakak kandung Mira itu pun spontan melebarkan mata.
"Kakakmu yang guru itu, Mir?"
"Ya iyalah. Memangnya kakak yang mana lagi?" Mira berhenti sebentar. Dia menoleh pada Salsa yang justru masih bertahan di tempat duduknya. "Katanya mau pulang? Kok nggak jadi?"
Salsa cengar-cengir, kemudian beralih tempat duduk tepat di sebelah Mira.
"Mir, gue baru tahu loh kalau kakakmu juga penulis novel yang cukup terkenal. Titip salam, ya? Bilangin kalau gue itu sahabat yang baik. Mudah-mudahan aja kakakmu itu jadi terinspirasi sama gue, terus gue dijadiin tokoh ceritanya," terang Salsa sambil memainkan kedua alisnya.
"Nggak janji, ya. Soalnya aku pelupa." Dengan santainya Mira menjawab demikian, kemudian lanjut memusatkan perhatian ke arah laptop.
"Repot deh kalau begitu. Dahlah, gue pulang dulu." Salsa merapikan laptopnya. "Janji jangan malam-malam, ya Mir. Udah mulai sepi, nih."
"Iya, okay. Sana pulang, cepetan!"
Salsa pun pulang usai berpamitan ala bestie yang perhatian. Sekarang, tersisa Mira seorang diri. Dia tetap fokus mengerjakan tugas. Benar-benar fokus sampai tidak menyadari kedatangan seseorang.
"Belum pulang, Mir?"
"Belum," jawab Mira singkat padat jelas. Tapi, dia langsung menoleh ketika sadar dengan suara yang dia dengar.
Spontan saja bola mata Mira melebar. Langsung gerak cepat tengok kanan kiri, khawatir ada orang iseng yang memata-matai.
"Pak Sandhi ngapain di sini?" Mira setengah berbisik.
"Baru saja ketemu dosen di gedung sana, tuh!" Nada bicara Sandhi dibuat santai, tidak bingung apalagi panik seperti Mira.
"Terus ngapain di sini? Cepetan pulang, Pak!"
"Tidak mau."
Sandhi tersenyum ramah, kemudian mengambil alih laptop Mira. Tugas yang sedang Mira kerjakan diintip sebentar, mengangguk-angguk saat paham, lantas mengembalikan laptop Mira pada posisi awal.
__ADS_1
"Mau sendirian di sini sampai jam berapa? Jangan sampai malam, apalagi kamu sendirian. Pulang sana, gih. Lanjut lagi besok."
Hanya dengan kalimat seperti itu saja, jantung Mira sudah berdebar-debar penuh irama. Spontan juga Mira menelan ludah, kemudian memalingkan pandangannya ke sembarang arah demi agar tidak terlihat gugup di depan Sandhi.
"Mir, Mira? Are you okay?" tanya Sandhi saat mendapati Mira fokus melihat ke arah lainnya.
Seketika itu Mira kembali menoleh. Dengan degup jantung yang masih kencang, Mira pun menyampaikan yang sebenarnya, khususnya tentang sang kakak yang akan datang mengunjunginya.
"Kalau Kak Intan besok datang, pasti Mira diomelin karena tugasnya numpuk-numpuk," aku Mira.
Saat itu juga Sandhi menunjukkan reaksi. Nama Intan menjadi pemicunya. Jujur saja, Intan masih memiliki pengaruh sangat besar dalam hidupnya, meski saat ini Sandhi dalam masa menerima tantangan 31 hari.
"Intan mau berkunjung ke sini? Kapan?" tanya Sandhi, spontan tanpa pikir panjang.
"Besok siang. Pulang dari mengajar langsung berangkat. Sepertinya akan menginap juga," ungkap Mira terang-terangan.
"Menginap di mana? Di kos-kosanmu?" tanya Sandhi lagi.
Untuk pertanyaan yang satu ini, Mira setengah berpikir. Tiba-tiba saja ide jahilnya keluar. Mira memantik api, demi bisa melihat ekspresi Sandhi.
"Kurang tau juga menginap di mana. Mungkin ... di kontrakannya Kak Dev."
"Ha? Apa? Devano? Memangnya dia ada di sini? Kok bisa? Terus kenapa harus menginap sama dia? Bukankan mereka belum menikah?"
Pertanyaan Sandhi benar-benar sudah menyerupai rel kereta api. Begitu panjang, sampai-sampai Mira menahan tawanya agar tidak sampai terpingkal.
"Mir, jangan bercanda. Aku serius bertanya padamu. Coba jelaskan segera!"
Mimik wajah Sandhi memang tampak serius. Mira yang menangkap perubahan itu pun langsung ikutan serius. Tidak lagi-lagi dia melanjutkan keisengannya. Setelahnya, Mira minta maaf dan mengakui bahwa yang baru saja dia katakan itu hanya sekedar bercanda. Akan tetapi, Sandhi terlanjur menggarisbawahi tentang Intan yang akan datang mengunjungi Mira, juga tentang Devano yang ternyata ada di kota yang sama dengannya. Dengan didahului desakan ringan, akhirnya Mira pun memberi penjelasan.
"Kak Dev hanya sebulan di sini. Kalau Kak Intan mau menginap, ya pastinya di kos-kosan Mira, bukan di kontrakan Kak Dev." Mira menegaskan sekali lagi usai memberi penjelasan panjang lebar tentang Devano dan Intan yang saat ini harus LDRan selama satu bulan.
Untuk sejenak, Sandhi terdiam. Pikirannya sempat terusik, tapi kemudian teredam. Sandhi langsung sadar posisi, bahwa dirinya tidak berhak ikut campur atas urusan Intan. Setelah sadar, mimik wajah Sandhi kembali tenang. Bahkan, senyumnya kembali menghiasi wajahnya yang tampan.
Sret!
Sehelai daun tiba-tiba jatuh tepat di pundak Mira. Kini, gantian Sandhi yang sengaja memantik api. Sebenarnya niatan Sandhi hanya ingin memastikan perasaan yang akhir-akhir ini membebani pikiran.
"Permisi sebentar," ucap Sandhi. Tangannya terulur maju perlahan, mengambil daun di pundak Mira, kemudian membuangnya. Tidak berhenti di sana. Tatapan Sandhi pun sengaja dilayangkan kepada Mira dari jarak dekat sebelum dia kembali ke posisi semula. Ya, sikap itu sengaja Sandhi tunjukkan demi memastikan perasaannya.
"Ternyata biasa saja." Batin Sandhi.
Seketika itu juga Sandhi sadar, kejadian saat di mobil waktu itu, ketika dirinya memeluk Mira, itu terjadi tidak lain karena Sandhi terbayang sosok Intan. Ya, alasannya adalah karena Intan, bukan karena Mira. Setelah kejadian itu Sandhi memang kepikiran, sering memikirkan Mira pula, bahkan sampai tidak fokus pada tantangan 31 harinya. Namun, hari ini Sandhi tersadar juga, bahwa semua yang dia rasakan beberapa hari ini, tidak lain hanyalah perasaan tidak enak hati atas sikapnya yang tidak pantas pada Mira. Tidak seharusnya Sandhi memeluk Mira waktu itu, apalagi dengan alasan terbayang sosok Intan.
"Sekali lagi, jangan pulang terlalu malam, ya Mir. Aku duluan. Hati-hati." Sandhi pamit.
__ADS_1
Dan, kepergian Sandhi meninggalkan kesan luar biasa pada diri Mira. Degup jantung Mira berdebar luar biasa. Apa yang Mira rasakan benar-benar jauh berbeda dari apa yang Sandhi rasakan. Sandhi biasa-biasa saja, sementara Mira menyikapinya dengan rasa.
"Tolong! Tolong Mira, Kak. Apa yang harus Mira lakukan?" Batin Mira, dia berharap bisa bercerita sekaligus meminta bantuan pada kakaknya.
***
Keesokan harinya, Intan, dia langsung menempuh perjalanan ke luar kota sepulang dari mengajar. Intan menuruti saran Devano untuk tidak berkendara motor. Beruntungnya, bus ke tempat tujuan langsung didapatkan, begitu pula dengan kondisi yang tidak terlalu padat penumpang.
Kurang lebih dua jam Intan di dalam bus. Ketika sudah dekat dengan tempat pemberhentian, barulah dia menghubungi Devano via telepon.
"Hai, sudah sampai mana?" tanya Devano.
"Mau sampai terminal. Kurang lebih lima belas menit lagi."
"Oke, siap. Tunggu aku di halte depan terminal, ya. Ingat, jangan mudah percaya dengan orang asing."
Intan mengiyakan. Hatinya tentu senang dengan sikap Devano yang semakin lama semakin menunjukkan perhatian.
Lima belas menit berselang, bus yang dinaiki Intan pun sampai di terminal. Lagi-lagi Intan beruntung karena halte di seberang terminal tidak dipadati orang-orang. Bahkan, di sana sama sekali tidak ada orang, sehingga Intan bisa leluasa memilih tempat duduk yang mana saja. Intan langsung memberi kabar pada Devano, tapi kali ini via pesan singkat. Namun, Devano justru membalasnya via telepon.
"Tan, maaf ya. Mobilnya mogok tengah jalan," ungkap Devano.
"Eh? Kalau begitu biar aku temui kamu di situ ya. Aku bisa pesan ojek roda empat. Tengah jalan sebelah mana itu, Dev?"
"Tidak-tidak. Sepertinya ini masih bisa diperbaiki. Aku lihat mesin depan dulu. Kamu tidak keberatan menungguku sebentar, kan?"
"Iya. Tidak apa-apa. Aku tunggu kamu, ya."
Setelah sepakat, Intan pun menunggu Devano. Namun, hingga sepuluh menit berlalu, Devano masih juga tidak ada kabar lanjutan. Intan juga tidak ingin terus mengirim pesan, khawatir Devano jadi kepikiran.
Demi mengisi waktu tunggu, Intan mengirim pesan pada Mira. Dia mengabarkan bahwa sudah tiba dan masih menunggu Devano yang akan menjemputnya. Dalam balasan pesannya, Mira memberi tahu Intan agar tidak terburu-buru datang ke kos-kosannya. Lebih dari itu, Mira justru menyuruh Intan untuk jalan-jalan bersama Devano lebih dulu.
"Ini anak kenapa, sih? Malah nyuruh aku jalan-jalan sama Devano dulu." Intan terheran.
Aksi berbalas pesan terus berlanjut. Dari sanalah Intan mendapat penjelasan bahwa sekarang ini Mira masih berada di kampus. Ada mata kuliah yang mendadak ganti jadwal dan telah disepakati oleh mahasiswa di kelas itu.
"Ouh, ternyata ada pergantian jadwal. Yasudah kalau begitu."
Intan sedikit lega usai mendapat penjelasan dari Mira. Namun, rasa lega itu tidak seberapa dibanding perasaan tidak sabar yang saat ini mulai dirasakan olehnya. Devano benar-benar lama. Terhitung sudah tiga puluh menit berlalu sejak terakhir kali Devano menghubunginya.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil melaju pelan dan berhenti tepat di depan Intan. Kaca mobil juga turun perlahan. Dan, terlihatlah siapa gerangan yang berada di balik kemudi sambil mengembangkan senyuman.
Siapa dia? Mungkinkah itu Devano, atau justru yang lainnya? Kepoin lanjutan kisah ini, ya. Salam Purple Luv 💜
Bersambung ....
__ADS_1
NB: Yuk, join ke grup author! Klik foto profil author, kemudian klik Ayo Chat!