PANTAS

PANTAS
Bab 11 - Undangan


__ADS_3

Hujan mereda kala senja menyapa. Langit mendung yang tadinya kelabu telah menampakkan goresan warna jingga. Terlihat anggun, indah, sekaligus menawan di saat bersamaan. Dengan kopi dan kondisi hati yang menghangat, sudah jelas mampu meninggalkan kesan tidak biasa bagi sang penikmat suasana senja.


Satu per satu pengunjung warung kopi mulai undur diri meski rintik-rintik hujan masih turun ke bumi. Tidak seberapa deras dibanding sebelum ini, tapi cukup aman dan tidak akan sampai basah kuyup saat diri berpijak di jalanan setapak.


“Sepertinya aku mau pulang juga, Dev.” Intan merapikan posisi cangkir kopinya.


“Masih gerimis, Tan.”


“Tidak masalah. Hanya gerimis.”


“Baiklah. Hati-hati di jalan.”


Devano tidak berniat mencegah Intan. Dibiarkannya saja Intan bersiap-siap pulang sebelum malam benar-benar datang. Akan tetapi, tidak disangka-sangka langkah Intan justru terhenti saat sudah terayun tiga langkah. Intan balik badan demi bisa mendapat satu jawaban dari Devano.


“Dev, aku kepo, nih. Boleh tanya?”


“Silakan saja. Jangan sungkan.”


“Sejak kapan kamu pindah rumah?”


Devano terdiam sebentar, kemudian tersenyum lebar. Dia tidak menyangka bahwa Intan akan bertanya demikian.


“Apa kamu mulai penasaran denganku, Tan?”


“Sepertinya iya, tapi hanya di bagian tempat tinggalmu saja.”


“Serius hanya tentang tempat tinggalku saja?”


“Oke, kalau kamu tidak mau menjawabnya. Aku pulang. Daa.”


“Tunggu!”


Lengan tangan kanan Intan dipegangi Devano. Untuk sejenak, keadaan tersebut bertahan hingga keduanya saling diam dan Devano pun langsung melepas lengan Intan.


“Kamu sih kebiasaan ngambek, Tan.” Devano gagal bersikap tenang karena sempat terjebak jerat tatapan mata Intan.


Sikap Intan lebih tidak terduga. Tidak ada pembelaan apalagi pura-pura ngambek seperti yang sebelum ini dilakukan. Yang Intan lakukan justru tersenyum manis, melambaikan tangan kanannya pada Devano, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Sikap Intan yang seperti inilah yang membuat Devano tidak dapat menahan gejolak hati.


“Intan. Apakah aku benar-benar pantas untukmu? Jika iya, izinkan aku datang menemui orangtuamu.” Batin Devano.


***

__ADS_1


Bora-Sora-Nora menyambut di halaman begitu Intan datang. Kucing peliharaan Intan itu mengeong pelan sebagai tanda minta dimanja pemiliknya. Lucu dan menggemaskan, menjadi salah satu obat lelah bagi Intan.


“Kalian sudah makan belum?” Intan mengusap puncak kepala Bora-Sora-Nora bergantian.


“Meow-meow.”


“Belum makan, ya. Kalau begitu biar Kak Intan ambilkan, ya.”


“Ibuuuuuu. Kak Intan ngobrol sama kucing lagiiiiii!” seru Mira dari ambang pintu depan rumah.


Intan begitu gemas dengan sikap sang adik yang masih berstatus mahasiswa semester 2 itu. Selalu mencari cara untuk memulai debat kata dengan Intan. Untungnya, Intan tidak pernah sampai bersikap berlebihan. Gemas dan saling adu kata memang iya, tapi tidak sampai disimpan dalam hati apalagi sampai berujung tidak saling sapa.


“Mir. Cepat balik kos-kosan sana! Kakak sebel lihat kamu liburan di sini lama-lama,” celetuk Intan.


“Ibuuuuuu. Kak Intan ngusir Mira, Buuuu.”


Sang ibu seketika itu keluar rumah demi menengahi perdebatan tidak penting yang dilakukan dua putrinya.


“Maluuu. Kalian ini bikin malu. Bertengkaaaar terus. Ayo, semuanya masuk!”


Jika sang ibu sudah berkata demikian dengan ekpresi tidak terbantahkan, baik Intan maupun Mira tidak ada yang sanggup melawan. Mira duduk santai di depan televisi yang masih menyala, sedangkan Intan hendak menuju kamarnya.


Intan urung menuju pintu kamar. Langkahnya terayun menuju nakas dekat televisi untuk mengambil paket yang dimaksud Mira.


“Dari siapa, Kak?” tanya Mira tanpa bangkit dari posisi duduknya.


“Dari penggemar. Mau unboxing bareng kakak?”


“Boleh. Sini, Kak.”


Intan membuka paketnya ditemani Mira. Benar, paket tersebut adalah kiriman dari salah satu penggemar novel Intan. Yang seperti ini bukan pertama kalinya Intan dapatkan. Sebelum-sebelumnya Intan juga mendapatkan beberapa paket kiriman dari penggemar yang isinya macam-macam. Pernah sekali Intan mendapat aksesoris gelang batu, boneka, bahkan parfum aroma Moringa.


Untuk paket kali ini, Intan mendapatkan hoodie couple warna ungu dari penggemar novelnya. Terbungkus rapi dan ada kartu ucapan di dalamnya.


“Semoga author segera dipersatukan dengan jodohnya. Salam Luv dari reader setia.” Begitulah pesan dalam kartu ucapan yang ternyata mengundang gelak tawa Mira.


“Hahaha. Jadi penggemar novelnya kakak tahu semua?”


“Tahu apa, Mir?”


“Ya tahu kalau Kak Intan jombloooo. Hahaha.”

__ADS_1


“Mir. Omongannya dijaga, Nduk!” tegur sang ibu yang saat itu mendengar celetukan Mira.


Giliran Intan yang kini cekikian karena Mira mendapat teguran, tapi tidak sampai lama. Selanjutnya Intan merapikan paketnya, lantas hendak menuju kamarnya. Akan tetapi, lagi-lagi langkahnya terhenti karena melihat dua lembar undangan di sisi lain televisi.


“Ada yang mau menikah, ya?”


Sang ibulah yang menyahuti. Dua lembar undangan di dekat televisi itu dari tetangga rumah yang putrinya akan melangsungkan acara pernikahan. Saat itu pulalah sang ibu memanfaatkan waktunya untuk menasihati Intan.


“Perjodohanmu kan sudah batal. Jadi, buruan kamu cari kenalan lainnya, Tan.”


“Mana ada yang mau kenalan sama Kak Intan, Bu. Penampilan Kak Intan suka asal, tuh. Masa iya pilih baju hoodie melulu kalau lagi keluar rumah. Nggak anggun sama sekali,” sahut Mira, yang langsung mendapat cubitan pelan di lengan oleh sang ibu.


Tatapan Intan langsung dilayangkan pada sang adik. Intan kurang setuju dengan pendapat Mira tentang penampilan yang menjadi pilihan Intan. Bagi Intan, nomor satu adalah rasa nyaman. Terserah orang lain mau berkata apa, yang terpenting Intan masih melakukan apa yang menurutnya masih dalam batas wajar.


“Tan, jangan novel terus yang kamu fokuskan. Jodoh harus kamu pikirkan juga.” Sang ibu menasihati.


“Iya, Bu. Tapi, aku nggak bisa berhenti nulis novel. Siapa tahu ketemu jodoh karena salah satu novelku ini. Nggak ada yang tahu juga, kan. Hihi.” Intan beralasan demi mencairkan suasana yang tampak mulai tegang.


“Terserah kamu saja. Yang penting, ingat usiamu yang semakin bertambah. Oh iya satu lagi. Tadi ada yang menyelipkan undangan lain di bawah pintu. Ibu letakkan di atas kasurmu.”


“Dari siapa, Bu?”


“Tidak ada nama pengirimnya. Belum ibu buka juga karena itu milikmu. Cek sendiri sana!”


Bergegas Intan menuju kamarnya demi bisa melihat undangan yang dimaksud sang ibu. Selembar kertas warna merah muda tergeletak di atas kasur. Ada tulisan “undangan untuk Intan” di bagian depan pembungkusnya. Selebihnya, tidak ada tulisan apa-apa lagi.


Segeralah Intan melihat bagian dalam undangan tersebut. Ada satu pesan tertulis di dalam sana. Pesan sederhana yang penuh kejelasan makna.


“Datanglah ke Café Bintang hari Minggu pukul sembilan. Meja nomor 69 area outdoor. Aku tunggu di sana.”


Tidak ada nama pengirimnya. Berulang kali Intan membolak-balik bagian pembungkus beserta lembaran undangan, tapi sama sekali tidak ada kata-kata lain di sana. Pengirim undangan sepertinya sengaja merahasiakan identitasnya.


“Orang iseng apa bukan, ya?”


Intan menimbang, akan hadir memenuhi undangan tersebut atau tidak. Ada rasa penasaran sekaligus rasa khawatir andai undangan tersebut adalah keisengan.


“Baiklah. Tidak ada salahnya aku datang ke sana.”


Intan memutuskan untuk hadir memenuhi undangan misterius itu. Lalu, apa yang akan dia temui di sana? Hal menyenangkan atau justru sebaliknya? Sementara itu, apakah Devano tetap bisa bertahan di balik pertanyaan ‘apa aku pantas untuk Intan?’ saat perasaannya sudah semakin besar? Nantikan lanjutan ceritanya! 💜


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2