
Tepat tengah malam dan Intan masih saja terjaga, belum bisa terlelap meski dalam buaian bantal dan kasur yang nyaman. Tepat di samping Intan, ada Mira yang sudah sedari satu jam lalu terlelap dengan mudahnya. Dengkuran halus juga terdengar, menandakan bahwa Mira begitu dalam memasuki alam mimpinya.
Berbaring miring ke kanan, ke kiri, bahkan dalam posisi melihat ke langit-langit pun sudah terlalui. Intan tetap saja terjaga. Rasa-rasanya tidak ada rasa lelah ataupun kantuk yang singgah.
Selanjutnya, Intan tidak lagi berbaring. Dia berdiam diri di tepian kasur, tampak berpikir sebentar, kemudian langkahnya diayun menuju ponsel yang terletak di atas lemari kayu kecil dekat tempat tidur. Intan tahu, kurang sopan jika menghubungi seseorang malam-malam. Tapi, hasrat untuk menghubunginya begitu dalam. Intan sungguh tidak bisa menahan diri lagi. Kali ini dia harus menghubungi.
Yang dihubungi Intan bukanlah Fani seperti sebelum ini. Tentang janji temu dengan Fani, Intan sudah mendapat kepastian. Besok pagi pukul setengah delapan. Sedangkan untuk saat ini, yang ingin Intan hubungi adalah sang calon suami, Devano Albagri.
Online, begitulah status yang tampak. Intan tersenyum melihatnya. Ya, hanya tersenyum tanpa memulai ketikan pesan yang semula direncanakan olehnya. Dan, seolah adalah ikatan batin yang kuat, justru Devano-lah yang detik berikutnya justru menelpon. Intan sampai terkejut karena begitu tiba-tiba dan benar-benar tidak terduga.
"Hai, Dev." Sapa Intan.
"Hai."
Nada suara Devano terdengar begitu lembut di telinga Intan. Membuat nyaman sekaligus deg-degan. Seolah sebelum ini sama sekali tidak ada kejadian yang membuat hubungan mereka sempat merenggang.
"Kamu belum tidur?" tanya Devano.
"Entah kenapa malam ini aku sulit sekali terlelap."
"Apa ada sesuatu yang mengusik pikiranmu?" Devano ingin tahu, juga ... dia memang ingin berlama-lama mengobrol dengan Intan.
"Em, iya. Sebenarnya ada yang sedang aku pikirkan."
"Oh ya? Siapa?"
Devano sudah PD sekali, menebak-nebak bahwa namanya-lah yang akan disebut oleh Intan. Tapi, ternyata dugaannya salah.
"Fani. Aku kepikiran Fani," ungkap Intan.
"Bukan kepikiran aku, nih?" Devano masih berusaha agar namanya disebut sebagai salah satu penyebab terusiknya pikiran Intan.
Terdengar tawa pelan, dan itu tawa Intan. Mendengar tawa itu, rasa-rasanya hati Devano jadi tersentuh. Ada perasaan syukur karena hubungannya dengan Intan sudah membaik lagi, tidak seperti saat di rumah makan bersama Sandhi tadi. Buktinya Intan sudah bisa tertawa, dan tawa itu disebabkan oleh ke-PD-an Devano.
"Iya-iya. Tadi aku sempat kepikiran kamu, Dev. Tapi sebentar. Sisanya aku benar-benar kepikiran Fani."
Meski hubungan Intan dan Fani hanya sebatas saling kenal karena novel karya Intan, tapi beberapa waktu yang telah dilalui justru membuat hubungan di antara mereka jadi tercipta kepedulian. Apalagi saat pertama kali Fani muncul, penuh drama yang harus diselesaikan, dan semua itu disaksikan oleh Intan. Saat tahu kisah cinta Fani saat ini, rasanya kepedulian Intan semakin dalam.
"Maaf jika aku harus mengatakan ini, Tan. Menurutku, kamu terlalu peduli pada Fani ataupun Sandhi. Em, bukan dengan mereka saja, sih. Tapi pada orang lain juga. Rasa pedulimu sungguh besar. Selalu ingin menolong, selalu ingin membuat orang lain senang."
__ADS_1
Jeda sebentar, kemudian Devano melanjutkan.
"Saranku, sebaiknya kamu lebih membatasi rasa pedulimu. Karena tidak semua hal bisa kamu jangkau, meski kamu sangat ingin membantu. Ada kalanya, kamu harus bersikap biasa saja, tidak terlalu mencampuri urusan mereka. Biarkan mereka berdua merasakan perjuangan dalam hal cinta tanpa campur tangan kita."
Devano sangat sadar dengan apa yang dia ungkapkan pada Intan. Kalimat-kalimat yang dia sampaikan juga berdasar kepedulian. Kalau tidak peduli pada Intan, tidak akan repot-repot Devano menyampaikan. Dengan Intan lepas tangan dari urusan Fani dan Sandhi, pikiran Intan juga tidak akan terbebani. Juga, Devano sangat ingin Intan hanya membahas tentang hubungan di antara mereka saja, khususnya persiapan pernikahan mereka. Memang, terdengar egois sekali, tapi itulah yang Devano inginkan dari Intan untuk saat ini.
"Aku ingin kita berdua lebih punya banyak waktu untuk membahas persiapan pernikahan kita. Hanya tentang kita. Tanpa membahas yang lainnya." Lost control, Devano mengungkapkan semua isi hatinya pada Intan, masih via telepon dan di tengah keheningan malam.
Bagi Intan, rasanya sungguh sesuatu sekali. Tengah malam, dan yang diobrolkan adalah tentang perasaan. Jujur saja, usai mendengar semua yang Devano sampaikan, dada Intan berdebar-debar. Saat itu juga dia tersadar, dirinya memang terlalu mencampuri urusan orang. Intan memang sangat ingin membantu, tapi sekarang dia sadar untuk tidak ikut campur terlalu jauh.
"Iya, Dev. Aku mengerti. Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi, aku sudah terlanjur janjian mau ketemu Fani."
"Kapan itu?"
"Setengah delapan besok pagi."
"Baiklah. Ketemu saja, tapi hanya sebatas bertemu. Tidak untuk ikut campur masalah mereka. Oya, besok aku antarkan. Kebetulan besok aku masuk kerja di shift malam. Okey?"
Intan setuju. Besok, dia akan tetap bertemu Fani, makan bersamanya, basa-basi dan saling bercerita, tapi tidak untuk ikut campur urusan perasaannya.
"Sekarang, kamu tidur ya?"
"Love you, Tan. Good night."
Intan meletakkan ponselnya lagi, kemudian balik badan hendak kembali merebahkan badan. Namun, Intan justru disambut dengan seruan pelan dari Mira yang rupanya terjaga dan sempat mendengarkan sebagian obrolan yang disampaikan Intan.
"Cieeeee. Sepertinya ada yang sudah berbaikan, nih." Suara Mira serak-serak basah. Maklum, dia baru saja terjaga dari tidurnya.
"Apa suara kakak tadi terlalu keras?" Intan khawatir mengganggu tidur Mira. Karena tadi Mira sungguh-sungguh terlelap sampai terdengar dengkuran halus.
"Keras juga nggak papa, kok. Mira justru senang karena Kak Intan sudah baikan sama Kak Dev." Mira duduk di kasur, mengembangkan senyum, kemudian bersorak riang. "Horee. Kak Intan sama Kak Dev nggak batal nikah." Suara Mira masih terdengar serak-serak basah, khas suara orang yang baru saja bangun tidur.
"Kamu apa'an sih, Mir. Tidur lagi sana." Intan membantu Mira membetulkan selimutnya.
"Kakak juga buruan tidur, gih. Mira nggak mau kakak sakit karena kurang tidur."
"Sebentar lagi. Kakak mau ke kamar mandi sebentar."
"Ya udah. Mira tidur lagi ya. Hoaaam."
__ADS_1
Intan hanya geleng-geleng kepala melihat sikap adiknya. Selanjutnya Intan menuju kamar mandi. Guyuran air saat malam memang terasa berbeda. Intan sempat menggigil sebentar. Dan, tiba-tiba saja bersin berulang.
Agak-agaknya omongan Mira barusan langsung jadi kenyataan. Tidak ada angin tidak ada hujan, mendadak saja Intan sedikit pusing setelah bersin. Tampaknya akan terkena flu ringan, begitulah pikir Intan saat itu.
Rupanya tidak berhenti di situ. Saat bangun di pagi hari, kepala Intan terasa sedikit berat. Juga sempat bersin lagi beberapa kali, sampai mengeluarkan ingus khas seseorang yang terkena flu. Meski demikian, Intan sama sekali tidak mengeluh. Di hadapan Mira, Intan bahkan mengatakan baik-baik saja.
"Kak Intan sepertinya mau flu, tuh. Mira belikan obat dulu ke apotek ya?"
"Nggak perlu, Mir. Kakak baik-baik saja."
"Serius, Kak?"
"Iya. Kamu jangan mencemaskan kakak. Sana urus lagi kuliahmu. Katanya ada kegiatan observasi dadakan?"
Ya, baru pagi ini Mira mengatakan bahwa teman kelompoknya mendadak saja mengajak observasi di lapangan, mumpung hari Minggu juga katanya. Mira sempat akan menawar karena ada Intan yang jauh-jauh datang mengunjunginya. Tapi, Intan mencegah Mira melakukannya. Intan menyuruh sang adik untuk tetap pergi bersama teman kelompok kuliahnya. Sedangkan Intan, dia akan segera kembali ke kotanya setelah menemui Fani pagi ini.
Tentu saja Mira tidak mengiyakan begitu saja. Tapi, Intan sukses membuat sang adik iya-iya saja pada akhirnya. Alasannya sederhana, demi kuliah Mira. Dan, setelah itu keduanya sepakat dan tidak ada lagi tawar menawar.
Sampai ketika Mira sudah berangkat menemui teman-temannya, Intan masih saja sering bersin dan mulai batuk-batuk ringan. Kini, Intan ada di tepi jalan dekat area kos-kosan Mira, menunggu Devano yang masih dalam perjalanan untuk menjemputnya.
"Untung saja Mira sudah berangkat. Kalau tau kondisiku memburuk, dia pasti batal pergi." Batin Intan, masih bersyukur dengan keadaan.
Lima belas menit menunggu, akhirnya Devano tiba. Mobil ditepikan, kemudian Devano membukakan pintu untuk Intan dari dalam. Akan tetapi, begitu melihat wajah Intan yang pucat, Devano cepat-cepat mematikan mesin mobil. Hendak turun dan menghampiri Intan, tapi urung karena Intan sudah berniat masuk ke dalam mobil.
"Tan, kamu baik-baik saja?" tanya Devano.
Intan hanya tersenyum menanggapi Devano. Sejujurnya kepala Intan terasa sangat berat. Intan sendiri sampai tidak sadar wajahnya jadi pucat.
Devano tidak tinggal diam. Langsung saja Devano menempelkan punggung tangan kanan untuk mengecek kondisi Intan. Dan, ternyata panas. Intan demam.
"Kamu sakit, Tan."
Intan menggeleng dengan gelengan lemah, kemudian ... tidak kuat menahan kepala yang terasa semakin berat saja. Intan yang seperti mau pingsan, langsung didekap oleh Devano.
"Tahan sebentar, ya. Aku akan mengobatimu."
Dalam keadaan panik, Devano tidak membawa Intan ke klinik. Dia justru membawa Intan ke kontrakan untuk diobati sendiri dengan cara tradisional. Ya, saat ini Devano mengemudi sambil mendekap tubuh Intan.
Bersambung ....
__ADS_1