PANTAS

PANTAS
Bab 55 - Menetapkan Hati


__ADS_3

Hari-hari terus berganti dengan rutinitas baru yang harus dilakoni. Perihal Mira yang dicurigai menyimpan sesuatu yang dirahasiakan, Intan tidak bercerita pada ayah ibunya. Intan memilih memendamnya sendiri, dan akan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Intan lakukan atas dasar rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Apalagi, Mira adalah saudara kandung satu-satunya bagi Intan. Sudah sewajarnya Intan menunjukkan kepedulian. Pada orangtuanya, Intan hanya minta izin akan mengunjungi Mira di akhir pekan sambil mengantar barang penting yang sempat ketinggalan.


“Bu Intan, kata adikku kucing itu bisa terbang. Kan tidak bisa, ya Bu. Karena kucing tidak punya sayap. Kalau burung, baru bisa terbang.” Curhat salah satu murid Intan ketika menunggu jemputan pulang.


“Anak pintar. Benar. Terus kamu bilang apa sama adik?” Intan menanggapi dengan ramah.


“Aku marah-marah sama adikku. Soalnya dia sok tahu, Bu.”


“Eh-eh. Kok dimarahi, sih?”


“Habisnya aku sebel, Bu.”


Intan tersenyum ramah, lantas kembali bertanya.


“Memangnya adik kamu kelas berapa?”


“Masih umur empat.”


Seketika itu Intan memaklumi. Tidak hanya sebatas maklum, tapi Intan juga memberi nasihat kecil agar muridnya itu bersikap sabar menghadapi sang adik.


“Kalau adik salah, harus diingatkan. Diberi tahu yang benar. Bukan dimarah-marahi, ya. Yang penting, kamu harus selalu sayang sama adik. Oke?”


“Oke, Bu Intan. Besok aku boleh cerita-cerita lagi, ya.”


“Iya, boleh. Dengan senang hati.”


Tepat setelah itu, sopir yang menjemput si anak datang. Intan memastikan muridnya itu dijemput oleh orang yang benar-benar dikenal, agar tidak terjadi apa-apa di belakang. Beres dengan itu semua, Intan kembali ke kelasnya. Merapikan meja, kemudian bersiap pulang ke rumah.


“Tan, dengar-dengar kamu mau nikah, ya?” Salah satu rekan kerja Intan bertanya.


Sebagai jawaban, Intan mengangguk singkat disertai senyuman. “Doakan lancar sampai hari H, ya?” imbuh Intan kemudian, tidak berniat menutupi kenyataan.


“Wah, bener dong yang Yoga bilang. Tadi aku ketemu dia waktu ambil pesanan barang. Selamat kalau begitu. Aku tunggu undangannya, ya.”


Yoga yang dimaksud rekan kerja Intan tidak lain adalah Bang Yoga, kakak kandung Devano. Intan tidak kaget dengan pengakuan rekan kerjanya itu, karena rekan kerja Intan yang satu ini memiliki banyak kenalan di mana-mana, karena selain menjadi guru, juga punya bisnis kuliner yang cukup terkenal di kota itu.


Ngomong-ngomong soal Yoga, Intan jadi teringat janji temu yang dia buat tadi pagi. Intan berjanji akan menemui Yoga sepulang dari sekolah. Tentang hal ini, Devano juga tahu. Devano memang meminta tolong pada kakaknya itu untuk membantu persiapan pernikahannya.


“Bang Yoga pasti sudah menungguku,” ucap Intan seraya bergegas menuju parkiran sekolah.


Benar saja. Saat Intan sampai di tempat yang sudah disepakati, tampak Yoga sudah menunggu bersama sang istri. Tempat pertemuan kali ini adalah di toko milik salah satu kenalan istri Yoga. Maya, istri Yoga itu meminta Intan memilih souvenir pernikahan yang disukai dari beberapa pilihan.


“Maaf, aku terlambat.” Intan jadi tidak enak hati, meski dia hanya terlambat sepuluh menit saja dari waktu yang telah disepakati.


“Santai saja, Tan. Ayo, Mbak antar lihat pilihannya.” Maya berjalan perlahan sambil memegangi perutnya yang besar.


“Sayang, hati-hati. Perhatikan jalanmu.” Yoga memegangi tangan sang istri.


Romantis, begitulah batin Intan saat melihat Yoga dan Maya. Angan Intan bahkan melambung tinggi setelahnya, berharap pula Devano juga akan perhatian seperi itu saat nanti mereka sudah menikah.


“Coba kamu lihat-lihat dulu. Kalau dua barang ini pilihan Devano,” terang Yoga.


“Bagus-bagus. Em, kalau boleh minta saran, menurut Mbak Maya lebih baik yang mana?" tanya Intan. Meskipun dia bisa leluasa memilih, tapi dia tetap menghargai Maya dan Yoga yang sudah berniat baik membantu persiapan pernikahannya.


"Menurut Mbak sih yang ini," Maya menunjuk wadah cantik yang simple tapi bermanfaat.


"Aku juga setuju yang itu. Bagus." Yoga menimpali.


Intan mengamati sebentar. Untuk souvenir, Intan memang lebih setuju yang sederhana, bermanfaat, dan pastinya pantas diberikan untuk tamu undangan. Dan, pilihan Maya sesuai dengan apa yang diniatkan. Jadilah, Intan setuju dengan souvenir pilihan Maya itu.


"Aku suka. Kalau begitu deal yang ini saja. Sebentar aku foto dulu. Nanti Devano akan kuberi tahu."


"Sip. Souvenir beres. Bagaimana dengan pengurusan dokumen pernikahannya, Tan?" tanya Yoga.


"Masih dalam proses. Tapi akan segera selesai. Oya, Bang. Kalau tempat pesan undangan yang bagus di mana, ya?" tanya Intan yang seolah lupa dengan profesi calon suaminya.


Mendengar pertanyaan spontan dari Intan, Yoga dan Maya kompak tertawa ringan.


"Biar Devano sendiri yang membuat," ungkap Yoga.


"Calon suamimu itu desainer handal. Pasti tidak sulit membuat desain undangan pernikahan." Maya menyahuti sambil mengambil posisi di sebelah Intan.

__ADS_1


"Berarti, pengantinnya yang bikin sendiri?" Intan memastikan.


"Ya tidak apa-apa. Devano pasti tidak keberatan."


Intan mengangguk-angguk saja karena ucapan Yoga dan Maya ada benarnya. Namun, Intan tetap akan membicarakan ini dengan Devano. Khawatir Devano tidak bersedia atau justru menginginkan untuk menggunakan jasa lainnya.


"Baiklah. Kurang apa lagi, ya?" Intan mengingat-ingat.


"Sementara ini dulu. Kurangnya dipikir lagi sambil jalan. Sekarang lebih baik kamu pulang, kemudian istirahat." Yoga perhatian.


Sekilas, Maya menangkap perhatian Yoga itu, khususnya sorot mata suaminya yang sedikit tidak biasa. Namun, Maya tidak mau berprasangka apa-apa.


"Tan, akhir pekan ini mampir ke rumah, Yuk!" Tiba-tiba saja Maya menawari Intan.


"Maaf, Mbak. Akhir pekan ini aku mau mengunjungi Mira. Em, lain kali aku pasti mampir ke rumah Mbak."


"Oke deh kalau begitu. Lain kali saja. Sekarang kamu pulang terus istirahat, gih." Maya mengulang kata yang sempat diucapkan Yoga tadi. Sengaja Maya mengulangi, agar terkesan mengimbangi.


Intan pamit pulang dengan kelegaan. Tak jauh beda dengan Yoga yang diam-diam juga lega. Yoga lega, karena dirinya bisa bersikap biasa-biasa saja di depan Intan.


"Aku telah menetapkan hatiku untuk Maya. Fokus dengan itu, Ga. Kamu bisa." Batin Yoga.


***


Hari yang begitu melelahkan bagi Devano, tapi hasil yang didapat begitu sepadan dengan apa yang telah diusahakan. Mulai ada kemajuan di kantor cabang, meski pergerakannya pelan. Selain urusan kantor cabang, Devano juga mulai memahami satu hal. Benny, rekan kerjanya itu tidak lagi terlihat seperti Benny yang sebelum ini dia kenal. Benny terlihat jauh lebih profesional.


"Silakan istirahat dulu, Dev. Sudah kupesankan nasi lalapan. Ada di mejamu," terang Benny yang tampak sibuk dengan kertas-kertas di tangannya.


"Bagaimana denganmu? Nggak istirahat juga?"


"Aku menyusul setelah ini."


Devano menurut saja. Lagipula, perutnya sudah keroncongan karena jam makan siang yang sudah terlewatkan. Salah Devano sendiri, dia memilih menunda waktu makan hanya demi mengimbangi semangat Benny.


Pas sekali. Intan menelpon Devano. Segera saja Devano menuju mejanya, kemudian menerima telpon dari Intan.


"Hai, Tan."


"Hai. Apa aku mengganggumu?"


"Kamu sedang apa, Dev?"


"Sedang makan siang. Nasi lalapan ayam plus sambal plus sayuran segar. Kamu mau?"


"Kenapa baru makan siang? Ini jam setengah empat, loh."


Devano melirik ke arah jam dinding di ruangan. Dan, benar saja yang dikatakan Intan. Saat ini bukan siang lagi, melainkan sore hari.


"Em, hehe. Tadi itu aku semangat sekali sampai lupa waktu. Jadi ... aku janji deh, selanjutnya tidak akan telat makan siang lagi." Devano mendahului sebelum Intan menasihati.


"Bagus. Aku senang mendengar janji seperti itu. Mirip janji yang sering diucapkan murid-muridku. Tapi, jangan sekedar janji, ya. Harus ditepati. Kalau sering telat makan nanti sakit."


Di luar dugaan Devano. Ternyata Intan tetap menasihati.


"Em, Tan. Kalau kamu perhatian seperti ini, mendadak saja ... aku jadi ingin disuapi." Devano memulai aksi.


"Nggak boleh manja. Sudah besar harus makan sendiri." Intan menahan tawanya, karena sebenarnya dia pun mulai tergoda. "Oya, sampai lupa. Aku telpon cuma mau bilang. Souvenir-nya beres. Terus, untuk undangannya ...." Intan cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan sebelum Devano lanjut menggombal.


"Untuk undangan, sudah aku pesankan pada Jefri. Kamu yang tenang ya. Semua akan berjalan lancar sampai hari pernikahan kita."


Intan senang mendengarnya. Di balik kesibukannya, rupanya Devano sudah melakukan banyak hal untuk persiapan pernikahan.


"Oya satu lagi. Akhir pekan ini aku mau mengunjungi Mira. Boleh aku ...."


"Boleh sekali. Kamu boleh mengunjungiku." Devano langsung memperbolehkan, padahal Intan belum bilang.


Tawa ringan Intan langsung pecah. Intan suka dengan pemikiran dan sikap gesit Devano.


"Tapi jangan naik motor ya? Naik bus saja. Nanti aku jemput di terminal."


"Lebih mudah naik motor, Dev. Kalau mau ke mana-mana jadi mudah juga."

__ADS_1


"No-no-no. Aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Begitu sampai di terminal, langsung telpon aku. Ada mobil yang bisa kugunakan di sini," terang Devano.


Intan berpikir sejenak, kemudian mengiyakan saja. Meski terkesan akan merepotkan, tapi Intan tidak sanggup untuk memberi penolakan.


"Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu akhir pekan ini ya. Kamu lanjut makan, gih."


"Oke, siap. Sampai jumpa, ya."


Baru saja Devano ingin berkata i love you, tapi Intan terburu menutup telponnya lebih dulu. Tapi, Devano tidak masalah dengan itu, karena setelah menikah nanti, pasti lebih banyak lagi love love yang bisa dia berikan untuk Intan. Dan, love love itu bukan hanya sekedar ungkapan kata i love you ataupun i love you too.


Sementara Devano menyantap makanannya, Benny, dia yang saat itu membantu karyawan-karyawan lainnya tiba-tiba kedatangan seorang pelanggan yang akan memesan dalam jumlah besar. Pelanggan tersebut memesan note berlogo perusahaan, juga tas-tas yang juga akan diberi cetakan logo dan beberapa tulisan. Pesanannya hampir mendekati angka 1500.


"Untuk pekan depan. Tepatnya Selasa pagi pukul setengah delapan. Bisa atau tidak?" tanya si pelanggan pada karyawan yang saat itu melayani. Sementara Benny, dia sedari tadi mengamati.


"Pekan depan ... em ... oke. Bisa, Kak."


Si pelanggan tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh si karyawan. Langsung saja dia bertanya keberadaan manager untuk memastikan kesanggupan.


Benny, dia yang saat itu memperhatikan langsung mendekati. Benny juga mempersilakan si pelanggan menuju ruangannya untuk berbincang lebih.


"Silakan duduk di sini, Kak. Ouh, maaf. Sebentar?" Benny lupa kalau Devano ada di ruangan kerjanya, sedang makan.


"Devano Albagri, kan? Hai, apa kabar?" sapa si pelanggan tadi.


Devano sedikit terkejut, tapi langsung bersikap biasa saat tahu siapa yang menyapanya.


"Fani. Hai. Silakan masuk. Maaf, sebentar. Biar kurapikan mejaku ya. Em, kamu duduk di dekat mejanya Benny saja. Silakan-silakan."


Si pelanggan yang memesan dalam jumlah besar, tidak lain adalah Fani. Pekerjaan Fani saat ini adalah sekretaris. Hari ini dia bertanggung jawab langsung untuk menyiapkan even perusahaan yang akan dilaksanakan pekan depan. Jadilah, Fani sendiri yang memesan keperluan sambil memastikan. Tidak disangka juga, tempat Fani memesan adalah milik Pak Bos Besar yang saat ini dalam masa pengembangan oleh Devano dan Benny.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Benny.


"Ya. Dia penggemar novelnya Intan. Namanya Fani," terang Devano.


"Ouh. Begitu rupanya." Benny manggut-manggut.


Saat itu ada yang aneh. Bukan Benny ataupun Devano yang aneh, melainkan Fani. Sikap Fani terlihat tidak biasa, khususnya saat Benny mengajaknya berbicara. Memang, ada sikap penuh wibawa yang Fani tunjukkan. Yang aneh adalah, sorot mata Fani saat menatap Benny.


"Kalian mengobrol saja dulu. Aku tinggal ke belakang sebentar." Devano pamit melanjutkan makan, untuk kemudian cuci tangan.


Kini, tinggal Fani dan Benny. Mereka mengobrol serius tentang pemesanan dalam jumlah besar. Dan, Benny pun menyanggupi dan akan bertanggung jawab langsung atas pesanan Fani.


"Kalau begitu, boleh saya minta nomor telpon Anda?"


"Boleh. Ini silakan." Benny menyodorkan kartu namanya. "Panggil saja saya Benny."


"Kalau begitu panggil saja saya Fani." Fani ikut-ikutan.


Kesepakatan telah dibuat. Saat itu juga Fani membayar DP-nya. Saat semua sudah selesai, Devano muncul lagi mendekati Fani dan Benny. Sayangnya, Fani sudah berniat pulang.


"Sudah selesai, Fan?" tanya Devano.


"Sudah." Fani mendekati Devano. "Salam buat Intan, ya. Maaf juga atas kelakuan kakakku. Tapi kakakku sekarang sudah jinak, kok."


"Oh, ya? Baguslah kalau begitu. Kamu masih tinggal sama Sandhi?"


"Aku tinggal di kontrakannya. Kalau tinggal serumah sama Sandhi, bisa bertengkar terus aku sama dia," ungkap Fani dengan nada sebal.


Devano tertawa renyah. Bukan karena melihat ekspresi wajah sebal Fani, melainkan karena membayangkan betapa menyebalkannya Sandhi, si mantan rivalnya itu.


"Oh ya, Dev. Boleh aku jujur?" Tiba-tiba Fani memelankan suaranya.


"Apa itu?"


"Temanmu yang namanya Benny itu, dia cool banget. Sepertinya, aku naksir dia. Sudah ada yang punya atau masih single?" tanya Fani tanpa sungkan.


Tentu saja Devano terkejut mendengarnya.


"Kamu yakin, Fan? Sandhi lebih cool dibanding Benny, lho."


"Kamu mana tahu seleraku, Dev. Ayo cepat kasih tau, Benny masih single atau nggak?"

__ADS_1


Devano mendahuluinya dengan tawa ringan, kemudian memberi tahu Fani bahwa status Benny masih single. Dan, seketika itu Fani berekspetasi lebih, bahkan berjanji dalam hati akan sering-sering menghubungi Benny. Fanni, dia telah menetapkan hati.


Bersambung ....


__ADS_2