PANTAS

PANTAS
Bab 33 - Meminta Restu Ibu


__ADS_3

Motor Devano telah terparkir rapi di garasi mini rumahnya. Dia baru saja pulang dari rumah Intan. Hatinya begitu riang, hingga membuat senyumnya terus-terusan mengembang.


Pertama kali yang Devano tuju adalah kamarnya. Pakaian bersih dia ambil, kemudian bergegas menuju kamar mandi yang letaknya di sebelah dapur. Lagi-lagi Devano melangkah riang, sambil sesekali menyenandungkan lagu yang dia hafal.


“Masak apa, Bu?” Devano menghampiri sang ibu, tidak langsung menuju kamar mandi.


“Oseng kacang sama tempe goreng.”


“Bang Yoga mau datang, ya?”


Sang ibu mengangguk. Devano langsung tahu dari masakan ibunya, karena oseng kacang dan tempe goreng adalah kesukaan Yoga dan istrinya. Hampir setiap kali Yoga datang berkunjung, sang ibu pasti memasak makanan kesukaan mereka.


Tentang Yoga, dia tidak lagi tinggal bersama orangtuanya setelah menikah. Yoga dan istrinya tinggal di perumahan yang tidak jauh dari rumah yang ditempati Devano dan kedua orangtuanya. Sengaja Yoga memilih lokasi yang dekat agar bisa sering-sering mengunjungi ayah ibunya.


“Tuh-tuh. Abangmu sudah datang. Cepat mandi sana!” Punggung Devano didorong pelan hingga sampai di depan pintu kamar mandi.


“Tapi, Bu. Aku mau cerita sesuatu.”


“Mandi dulu, baru cerita.”


“Bagaimana kalau cerita dulu?"


“Kamu bau asem!"


“Tapi ganteng. Iya, kan?”


Sang ibu hanya geleng-geleng kepala mendapati tingkah putra bungsunya. Setelahnya, dia kembali mendorong Devano hingga benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu, Yoga, dia tidak mengizinkan Maya membantu di dapur. Sebelum ini Maya mengeluh kelelahan. Dengan kondisi Maya yang sedang hamil besar, Yoga tidak ingin mengambil resiko demi tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan.


“Ayo makan dulu!” ajak sang ibu.


“Maafkan Maya, Bu. Maya tidak bisa bantu ibu masak.”


“Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan. Kamu harus sehat. Waktunya sudah dekat, bukan?”


Yang dimaksud sang ibu adalah prediksi waktu melahirkan. Maya mengangguk. Perkiraannya adalah tiga minggu dari sekarang.


“Devano mana, Bu?” Yoga, dia datang sambil membawakan sepiring makanan untuk Maya.


“Lagi mandi. Nggak tau kenapa, tuh anak dari tadi senyum-senyum sendiri.”


Pikiran Yoga seketika itu tertuju pada Intan. Jika sikap Devano seperti yang diceritakan, semua itu pasti tidak terlepas dari pengaruh kehadiran Intan.


“Dev juga bilang mau cerita sesuatu,” imbuh sang ibu.

__ADS_1


Giliran Yoga yang kini senyum-senyum sendiri. Dia bisa menebak cerita yang akan disampaikan Devano pada ibunya. Maya yang saat itu sedang disuapi sampai bertanya-tanya karena sikap Yoga yang terlihat tidak biasa.


“Kenapa senyum seperti itu, Mas?” tanya Maya, memilih mencegah Yoga menyuapinya untuk sementara.


Yoga hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Dia tidak ingin bercerita duluan. Membiarkan Devano bercerita sendiri tentang Intan pastilah lebih menyenangkan. Yoga ingin melihat reaksi Devano. Satu kesempatan juga bagi Yoga untuk menggoda adiknya. Dan, niat Yoga langsung dilaksanakan ketika mendapati Devano yang baru keluar dari kamar mandi.


“Ehem. Sepertinya ada yang mau minta restu ibu, nih. Ciee,” celetuk Yoga, tiba-tiba.


“Oh-oh-oh. Jangan curi start, Bang.” Devano berjalan mendekat.


“Kalian berdua ini ngomongin apa, sih?” tanya sang ibu. Ekspresinya tidak jauh berbeda dengan Maya, sama-sama tidak paham dengan pembicaraan Devano dan Yoga.


Devano tidak langsung menanggapi. Justru langkahnya diayunkan menuju kamar untuk mengambil ponsel. Galeri foto menjadi incaran Devano. Dia mencari foto Intan yang sempat dia ambil saat berada di danau berair jernih. Sambil tetap tersenyum, Devano menunjukkan foto Intan pada ibunya.


“Cantik. Siapa ini, Dev?”


“Calon menantu ibu,” ungkap Devano. Begitulah cara dia meminta restu.


Mimik wajah sang ibu seketika berubah. Terkejut sekaligus senang dengan pengakuan Devano. Ponsel yang semula masih dalam genggaman Devano langsung diambil alih. Foto Intan diperhatikan sambil menampilkan senyuman. Begitu lama foto itu dipandangi, sampai membuat Maya penasaran dengan sosok Intan.


“Apa Maya boleh lihat, Bu?” Maya, istri Yoga itu penasaran.


Sang ibu dengan senang hati memberikan ponsel Devano pada Maya. Sama seperti pendapat sebelumnya, Maya juga memuji Intan dari segi penampilan dan raut wajahnya.


“Cantik banget. Siapa namanya, Dev?” tanya Maya pada Devano, tapi yang menyahuti justru Yoga.


Maya menoleh sebentar ke arah Yoga, lantas kembali mengajukan pertanyaan pada Devano. Maya bertanya pekerjaan Intan. Tapi, lagi-lagi yang memberi jawaban justru Yoga.


“Intan seorang guru. Tapi juga penulis novel. Punya banyak penggemar dan salah satunya adalah ….” Yoga tidak melanjutkan kalimatnya. Hampir saja dia keceplosan karena terlalu semangat membahas Intan yang sejatinya pernah dikagumi Yoga di masa lalu. “Devano. Salah satunya adalah Devano,” imbuh Yoga.


Devano menepuk pundak Yoga dengan sedikit keras. Satu teguran agar Yoga tidak lagi mencuri start untuk menjelaskan.


"Sudah, ya Bang!"


“Lanjutkan, Dev! Ibu sudah senyum-senyum, tuh!” Yoga mengalihkan agar Devano melanjutkan cerita tentang Intan.


Sikap Devano berubah sedikit lebih serius kali ini. Dia duduk di hadapan sang ibu, menggenggam kedua tangannya, kemudian dengan tulus mengutarakan niat baiknya.


“Bu, Devano berniat baik terhadap Intan. Apa ibu merestui?”


“Sampaikan niat baikmu. Ibu merestuimu, Nak.”


Seketika itu Devano mencium punggung tangan ibunya. Dada Devano bergetar diliputi perasaan syukur yang mendalam. Ada haru di sana, terlihat dari mimik sang ibu, juga Maya yang hatinya memang mudah tersentuh.


“Tinggal restu dari ayah,” ucap Devano, tapi langsung disahuti Yoga.

__ADS_1


“Sudah direstui.” Yoga menepuk bahu Devano. “Sebelum ke sini, abang mampir dulu ke pasar. Sudah abang ceritakan semuanya. Coba telpon ayah kalau tidak percaya,” imbuhnya.


Rupanya Yoga lagi-lagi telah mencuri start penjelasan. Devano tidak marah, justru dia merasa beruntung karena niat baiknya dipermudah dan didukung penuh oleh Yoga. Saat itu juga Devano menelpon sang ayah, selain memastikan, Devano juga ingin mendengar langsung dari sang ayah bahwa beliau juga merestui niat baiknya.


“Ayah, terima kasih atas restunya.” Devano mengakhiri telepon sambil tersenyum lebar. “Yuhuuuuuu!” seru Devano kemudian.


Usai bersorak, Devano pamit menuju kamarnya. Dia segera berbagi kabar baik itu kepada Intan melalui pesan singkat. Sengaja Devano tidak mengabari via telepon agar bisa menebak-nebak reaksi Intan.


Devano : Ayah ibuku sudah memberi restu.


Intan : Syukurlah. Semoga niat baik kita terus mendapat kemudahan.


Devano : 💜


Intan : 💜💜


Devano : 💜💜💜


Intan : 💜💜💜💜


Dan … emoticon bentuk hati terus menjadi pilihan balasan. Baru berhenti saat ibu Devano menyuruh untuk segera makan.


***


Sementara itu di percetakan. Wajah Jefri tampak suram karena terus-terusan mendengar curhatan Pak Bos Besar tentang cabang percetakan yang mulai menunjukkan kemunduran karena memiliki saingan. Percetakan yang dimaksud berada di luar kota. Baru satu tahun ini cabang itu beroperasi, tapi perkembangannya sungguh tidak disangka-sangka.


Berulang kali Jefri melirik jam digital di layar ponselnya. Masih lama sekali sebelum jam kerja berakhir. Padahal, Jefri ingin segera menuju tempat Reynal untuk memenuhi undangan Devano. Jefri bukan ingin menghindar, tapi dia sudah sangat penasaran dengan cerita Devano tentang Intan. Walau bagaimanapun, Jefrilah yang memberi tahu Intan agar menyusul Devano dan Sandhi ke danau berair jernih.


“Apa kamu punya saran untukku, Jef?”


“Jalan satu-satunya dengan mengubah sistim manajemen. Juga, perlu seorang yang cakap untuk memimpin di sana.” Jefri memberi saran dengan asal, tapi dia tidak sadar bahwa sarannya itu menjadi masukan yang diperhitungkan.


“Ide bagus. Apa kamu punya rekomendasi?”


"Maksud Bos?”


“Siapa karyawan di sini yang pantas memimpin cabang?”


Jefri benar-benar tidak mengantongi nama. Baginya, posisi tiap-tiap karyawan di tempatnya bekerja itu sudah sangat pas. Jika salah satu harus pindah, Jefri tidak tahu dampak yang akan terjadi di tempat kerjanya.


“Maaf, Bos. Saya tidak memiliki rekomendasi.”


“Baiklah. Biar kupikirkan sendiri. Kembalilah bekerja.”


Jefri undur diri. Dia legaaaa sekali, karena akhirnya bisa keluar dari ruangan Pak Bos Besar. Akan tetapi, tanpa Jefri ketahui, Benny yang saat itu kebetulan lewat di depan ruangan Pak Bos Besar, dia langsung ditanya pendapat dan diminta menyebutkan satu nama karyawan. Dengan sengaja, Benny menyebut nama Devano Albagri.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2