
Plak!
Tamparan sang ibu masih terekam jelas dalam benak Sandhi. Sakitnya tidak seberapa dibandingkan gejolak hati yang saat itu terasa. Keputusan Sandhi untuk membatalkan perjodohan, harusnya bisa dibicarakan dengan baik-baik tanpa perlu adanya tamparan tangan. Sayang sekali, sang ibu terburu murka hingga mendaratlah amarahnya pada pipi kiri Sandhi.
Sandhi tetap menjalankan kesibukannya. Pagi ini suasana kampus tidak terlalu ramai. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang sedang dalam masa bimbingan skripsi, juga mahasiswa yang sedang mengurus kegiatan organisasi. Sandhi, dia tampak berada di ruangannya sambil memeriksa hasil laporan mahasiswa KKN bimbingannya. Butuh waktu beberapa menit hingga semua rampung, dan Sandhi pun bersiap menghadiri rapat terbatas bersama beberapa dosen lainnya.
“Sandhi, semua nilai sudah kamu input?” tanya salah satu dosen senior.
“Sudah semua, Pak.”
“Kerja bagus. Sekalian saya mau memberi tahu kalau rapatnya ditunda nanti siang secara virtual. Sering-sering cek ponsel, ya. Akan ada beberapa informasi baru terkait perkuliahan di semester depan.”
“Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya.”
Sandhi tampak begitu sopan, dan memang terkenal dengan sikapnya yang sopan tapi tidak kaku dalam ucapan. Sandhi juga cukup terkenal di kalangan mahasiswa meski belum genap setahun bergabung menjadi dosen di sana. Badan tinggi tegap, murah senyum, good looking secara penampilan, itulah yang dikenal mahasiswa dan para dosen atas diri Sandhi. Dengan segala kecemerlangan yang tampak pada diri Sandhi, ada permasalahan hati yang kini masih disimpan rapi. Untung saja Sandhi mampu bersikap profesional, sehingga bisa memilah antara urusan cinta dan pekerjaan.
Akan tetapi, pagi ini berbeda dari pagi-pagi biasanya. Sandhi harus terusik lantaran dering telepon. Nama Nisa tampil menghiasi layar ponselnya. Nisa, wanita yang akan dijodohkan dengan Sandhi itu terus berusaha menelepon sampai panggilannya diterima. Terhitung sudah tiga kali mencoba sebelum akhirnya Sandhi mengalah dan menerima panggilan teleponnya.
“Akhirnya diangkat juga.” Nisa terdengar lega di seberang sana.
“Ada apa?” Sandhi langsung bertanya maksud dan tujuan Nisa.
“Aku mau bicara. Penting.”
“Aku sedang sibuk.”
“Aku sudah ada di parkiran. Mau aku yang ke ruanganmu atau kamu temui aku sekarang?”
Tut-tut-tut
Seketika itu panggilan telepon berakhir. Sandhi tidak banyak pikir lagi, langsung menuju ke parkiran untuk bertemu Nisa. Sesampainya di parkiran, Sandhi sama sekali tidak menampilkan senyumnya. Tidak pula basa-basi lebih dulu, melainkan langsung bertanya maksud kedatangan Nisa.
“Ada apa?”
“Aku sudah mendengarnya dari mamamu.”
Tanpa dijelaskan lebih dulu pun Sandhi tahu apa maksud perkataan Nisa. Ditambah lagi, sebelum berangkat ke kampus pagi tadi sang ibu sudah pamit akan bertemu Nisa.
“Siapa wanita itu, San?” Ucapan Nisa terdengar tenang, tapi penuh penekanan.
Untuk beberapa detik lamanya, Sandhi tidak memberi tanggapan apa-apa. Pertanyaan Nisa pun tidak dijawabnya.
__ADS_1
“Apakah dia lebih modis, lebih cantik, dan lebih anggun daripada aku?” Nisa masih bersikap tenang sembari terus menekan Sandhi dengan pertanyaan.
Penampilan Nisa memang modis. Gaya berpakaiannya selalu mengikuti tren masa kini. Berpendidikan tinggi, karirnya pun bagus. Dia adalah pebisnis muda yang telah berhasil mengembangkan bisnis properti sejak dua tahun lalu. Bisnis yang dijalankan itu adalah salah satu dari beberapa bisnis milik keluarga besar Nisa.
“Kenapa tidak dijawab, San?”
“Dia wanita yang sederhana. Sangat sederhana, dan aku menyukainya.”
Mimik wajah Nisa mulai berubah usai Sandhi memberikan jawaban. Kata sederhana yang diucapkan, semakin membuat Nisa penasaran dengan nama si perempuan.
“Siapa dia?”
“Kamu tidak mengenalnya.”
“I-N-T-A-N. Intan. Benar begitu namanya?” Nisa mengeja nama Intan dengan tenang.
Deg!
Kali ini ekspresi Sandhi yang berubah. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Nisa bisa mengetahuinya.
“Dari mana kamu tahu, ha? Apa mamaku yang bilang?”
“Oh. Jadi benar namanya Intan. Dasar Intan si pelakor.”
“Kamu membela si pelakor itu, San?”
“Intan bukan pelakor!”
Nisa melebarkan senyuman usai Sandhi memberi pembelaan pada Intan. Sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan pada Sandhi pun akhirnya keluar. Nisa tampak sinis sambil bersedekap tangan.
“Sandhi, silakan kamu pilih! Aku … atau Intan?”
“Intan.”
Di luar dugaan Nisa, Sandhi justru memilih Intan tanpa lebih dulu menimbang apalagi memberi alasan. Dari sini, jelas-jelas Nisa kalah saingan. Apakah Nisa akan mengemis cinta dan memohon-mohon pada Sandhi? Tidak. Nisa tidak akan melakukannya, karena dia lebih memilih menjunjung harga diri, sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Pilihan yang salah. Kamu akan menyesal karena tidak memilihku, San.”
“Tidak akan.”
“Oke. Dari sini, perjodohan kita resmi dibatalkan. Aku tidak mau lagi meneruskan. Permisi.”
__ADS_1
“Silakan. Hati-hati di jalan.”
Tangan Nisa mengepal sebagai isyarat rasa sebal yang tidak bisa terungkap lewat perkataan. Setelahnya, dengan penuh keanggunan langkah, Nisa menuju mobil dan meninggalkan Sandhi di area parkiran.
Selepas kepergian Nisa, Sandhi justru mengembangkan senyumnya. Hati Sandhi pun tampak lega. Sangat-sangat lega. Tidak seperti semalam saat dirinya secara sepihak membatalkan perjodohannya dengan Nisa.
“Intan, tunggu aku! Setelah urusan di sini benar-benar terselesaikan, aku akan kembali memperjuangkanmu.” Batin Sandhi, begitu mantap dengan rencananya untuk memperjuangkan Intan kembali.
***
“Uwooow. Hahaha. Bora-Sora-Nora! Mainlah di sana!”
Intan tengah asik dengan ponselnya, sambil ditemani tiga kucing kesayangan. Di sisa hari liburan sekolah, Intan menggunakannya untuk membalas satu per satu pesan dari para penggemar novelnya. Aktivitas ini rutin Intan lakukan demi menghargai dukungan-dukungan mereka. Tanpa pembaca sekalian, novel Intan tidak akan berarti apa-apa.
Perhatian Intan teralihkan saat menerima beberapa kiriman foto dari Devano. Potret anak-anak saat belajar di danau berair jernih sukses membuat Intan senyum-senyum sendirian.
“Mama Intan,” ucap Intan saat teringat Gion.
Intan semakin melebarkan senyuman saat terkenang alasan Gion memberinya sebutan mama Intan. Hingga, tidak butuh waktu lama sampai wajah Devano menyeruak memenuhi pikiran Intan. Tiba-tiba saja ingatan Intan tertuju pada Devano. Begitu jelas, hingga benar-benar membekas.
“Devano. Kamu baik. Aku beruntung bisa memiliki teman sepertimu. Kamu … bukanlah tukang bersih-bersih. Kamu seorang desainer berhati putih.”
Tanpa Intan sadari, kehadiran Devano telah mengikis ingatan tentang Sandhi. Apalagi, setelah seharian kemarin bersama Devano berpetualang di area danau berair jernih, Intan tidak terlalu terbeban lagi. Yang Intan rasakan justru kebahagiaan. Benar-benar bahagia sampai kerap kali membuat Intan senyum-senyum sendiri.
“Aku tidak berjodoh dengan Sandhi. Its okay. Aku tidak masalah. Aku ikhlash.” Intan mengembangkan senyumnya.
“Di luar sana, pasti ada lelaki yang mau menerimaku dengan apa adanya. Tidak hanya mau menerima kelebihanku, tapi juga kekuranganku. Tapi … siapakah gerangan pangeran berkuda putih yang akan datang melamarku?”
Intan bermonolog, sambil sesekali berkata puitis. Saat menyadari ada kata-kata indah yang terucap tanpa sengaja, Intan akan mencatat dan nantinya akan diselipkan dalam bab-bab novel yang sedang digarapnya.
“Hem. Kenapa aku tiba-tiba teringat Devano lagi, sih?” Intan bertanya-tanya karena bayangan Devano tiba-tiba muncul kembali dalam benaknya. “Oh, mungkin karena aku belum membalas kiriman fotonya.”
Dengan segera Intan mengetikkan kata terima kasih sebagai balasan atas kiriman Devano pagi ini. Namun, masih ada yang aneh. Meski sudah Intan lakukan, bayangan wajah Devano tetap saja mengusik pikiran dan hati.
“Mungkin karena Devano terlalu sering menggodaku sejak aku tercebur kolam ikan.” Intan mengerucutkan bibirnya.
“Tapi, benarkah? Atau mungkin ini memang sebuah rasa?” imbuh Intan pada akhirnya.
“Apa mungkin aku telah ….”
Intan tidak melanjutkan kata-katanya. Intan sadar, bayangan Devano yang mengusik pikiran bukanlah sesuatu yang biasa. Intan juga sadar, salah satu ruang di hatinya telah terisi dengan satu nama yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Meski tidak secara resmi diizinkan, tapi nama Devano sudah berhasil masuk dalam ruang hati Intan.
__ADS_1
Sandhi sudah membatalkan perjodohan dan berniat kembali memperjuangkan Intan. Tapi, ada nama Devano yang mulai mengisi ruang hati Intan. Akan jadi seperti apakah nanti? Nantikan lanjutan ceritanya!
Bersambung ….