PANTAS

PANTAS
Bab 38 - Datang Melamarmu


__ADS_3

Sore hari, Intan sibuk bersih-bersih ruang tamu, teras depan, bahkan ruang makan di rumahnya. Disapu, dipel, juga diberi pengharum ruangan aroma lavender. Intan ingin Devano merasa nyaman saat bertemu kedua orangtuanya.


Berganti menuju dapur. Intan melihat sang ibu menggoreng ikan lele, tahu, dan tempe. Terlihat pula bumbu sambal yang siap diulek dalam cobek. Intan-lah yang merekomendasikan sang ibu agar memasak masakan itu untuk disuguhkan pada Devano. Usulan dari sang ayah juga agar Devano ikut makan malam bersama, sehingga tidak hanya mengobrol ataupun mengutarakan niat baiknya.


“Nak Dev suka pedas nggak?”


“Suka-suka aja, Bu. Tapi jangan terlalu pedas, ya. Secukupnya saja.”


“Cabe sebelas kebanyakan, nggak?” Sang ibu menunjukkan cabe rawit segar yang tampak kemerahan.


“Terlalu banyak, Bu.”


Intan mengambil alih bagian persambalan. Dia sendiri yang mengira-ngira seberapa banyak cabai yang harus digunakan. Tidak terlalu manis, dan tidak terlalu pedas juga. Pas. Bisa dikatakan, Intan membuatnya dengan perasaaan meskipun yang dibuat hanyalah secobek sambal.


“Sudah selesai belum, Tan?”


“Sudah, Bu. Piring-piring juga sudah ditata.”


“Yasudah. Mandi sana! Nanti jangan pakai kaos, ya. Pakai baju yang pantas. Terus itu wajah dipoles dikit, biar nggak blur di kamera.”


“Blur? Ibu bisa aja bercandanya.”


“Hihi. Biar kamu nggak tegang. Masa mau dilamar Nak Dev mukanya pedes gitu. Kayak sambel.”


Intan segera melebarkan senyumnya. Tidak lagi menunjukkan wajah tegang seperti yang dikatakan sang ibu padanya. Ya, perkataan sang ibu benar. Sedari tadi Intan memang kepikiran hingga berujung pada mimik wajah tegang.


Selanjutnya, Intan didesak sang ibu untuk bergegas mandi. Namun, langkahnya terhenti, bahkan wajah Intan mendadak tegang lagi karena melihat penampilan sang ayah yang tidak biasa-biasanya.


“Sejak kapan ayah punya kumis setebal itu?” Intan terheran.


“Iya, Yah. Itu pasti kumis palsu, kan?” Sang istri menimpali, bahkan sampai berusaha melepas kumis palsu yang sudah terpasang dengan rapi.


“Jangan dilepas! Biar kelihatan lebih seram di depan calon mantu.”


Intan tepuk jidat. Ada-ada saja ulah sang ayah. Sementara sang ibu, dia langsung melepas kumis palsu itu tanpa izin lebih dulu.


“Jangan nakut-nakutin calon mantu!” tegas sang ibu. “Tan, kamu cepat mandi sana! Biar ibu yang mengurus penampilan ayahmu.”


Intan mengangguk, kemudian menyemangati ayahnya. Kalau sudah seperti ini, ayah Intan akan sangat menurut pada istrinya. Bukan karena takut pada istri, melainkan enggan mendapat omelan berlebih.


“Untung saja Mira tidak ada di sini. Kalau ada, dia pasti akan mendukung rencana ayah.” Batin Intan.


***


Devano tengah bersiap di kamarnya. Kemeja warna maroon yang dipadu dengan celana jeans hitam, juga jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menambah kesan keren dan pastinya … terlihat lebih tampan.


“Intania Zhesky. Malam ini kamu akan kedatangan pangeran tampan bernama Devano Albagri.” Devano mengecek penampilannya di depan cermin sambil senyum-senyum sendiri.


Selesai memastikan penampilannya, Devano menuju arah pintu kamar. Begitu pintu kamar dibuka, terkejutlah dia. Ternyata di depan pintu kamar telah berdiri Yoga dan istrinya, juga ayah dan ibu Devano.


“Kalian ngapain, sih?” Devano terheran.


“Dukungan penuh untukmu!” Yogalah yang bersuara, sementara yang lain kompak mengepalkan tangan kanan mereka sebagai tanda semangat.


Devano menghela nafas dalam, kemudian mengembangkan senyuman.


“Terima kasih. Doakan lancar, ya.”


“Selalu, Nak. Semoga orangtua Intan bersedia punya menantu sepertimu,” ungkap sang ibu. “Menunduk sebentar. Rambutmu sedikit berantakan.”


Devano menurut. Dia menunduk sebentar agar sang ibu bisa merapikan rambutnya yang katanya sedikit berantakan.


“Dev, bawa ini!”


Giliran ayah Devano yang bersuara. Dia memberikan bungkusan kresek berukuran sedang berisi krupuk melinjo siap goreng. Ayah Devano memang memiliki sebuah toko di pasar yang cukup besar dan sudah memiliki banyak pelanggan.

__ADS_1


“Buat sogokan,” ucap sang ayah yang langsung ditegur saat itu juga.


“Dev, jangan dengarkan ayahmu!”


“Hanya bercanda. Yoga dulu juga ayah gitukan, kan? Biar nggak tegang. Dev, rileks dikit, dong!”


Yoga seketika itu tertawa mengingat momen ketika akan melamar Maya. Saat itu Yoga juga dibawakan bungkusan kresek berukuran sedang berisi krupuk melinjo siap goreng untuk sogokan. Tentu semua itu hanya candaan agar Yoga tidak tegang. Ternyata, hal yang sama juga dilakukan pada Devano.


“Dev, berangkatlah! Good luck!” Yoga kembali menyemangati adiknya.


Dan, berangkatlah Devano menuju rumah Intan. Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk bisa sampai di sana, karena rumah Intan memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Motor Devano diparkir rapi di halaman depan. Tidak lupa pula Devano merapikan tatanan rambut usai helm dilepas.


Yang menyambut Devano adalah ayah dan ibu Intan langsung. Sementara Intan, dia tidak diperbolehkan keluar sampai orangtuanya mengizinkan.


“Silakan duduk dulu, Nak Dev. Sama ayahnya Intan dulu, ya. Ibu ke belakang sebentar.”


Devano menurut. Dia duduk di sofa, berseberangan dengan tempat duduk ayahnya Intan. Sebelum itu, Devano sempat berjabat tangan bahkan mencium tangan ayahnya Intan.


Intan terpergok mengintip di balik gorden. Sang ibu yang memergokinya. Intan tidak bisa berdiam diri di kamarnya saja sementara rasa penasarannya sudah kian membuncah.


“Nggak perlu mengintip. Nanti kamu juga dipanggil keluar sama ayahmu.”


“Dev nggak diapa-apakan sama ayah, kan?” Intan khawatir karena teringat kumis palsu yang sempat akan digunakan sang ayah untuk menampilkan wajah garang.


“Sama sekali tidak. Sudah, kamu tenang saja.”


“Boleh ngintip lagi di situ, ya?”


“Ya sudah sana. Ibu ke dapur dulu ambil minum.”


Intan girang dan langsung mengambil posisi di tempat persembunyian. Dari tempatnya berdiri saat ini, Intan masih bisa mendengar obrolan meski samar. Intan juga bisa melihat ekspresi wajah Devano, beserta aura tampannya yang memancar meski hanya melihat dari kejauhan.


Di ruang tamu, Devano tampak mulai memperkenalkan dirinya. Ayah Intan pun tampak ramah, tidak garang seperti rencana sebelumnya. Bahkan, obrolan mereka semakin seru saja saat membahas pertandingan sepak bola.


“Pekan depan ini ada tim favorit. Kamu temani nonton bola, ya? Mau?”


“Ya di sini, dong. Kamu nginep sini. Kita nonton bola bareng.”


Obrolan telah keluar jauh dari topik awal gegara ayah Intan yang mendadak saja membahas jadwal pertandingan sepak bola. Intan yang sedari tadi mengintip di balik gorden sudah sangat gemas. Rasa-rasanya ingin segera muncul dan meluruskan lagi topik pembicaraan. Untung saja ada ibunya Intan yang baru saja selesai membuat minuman.


“Kok jadi ngomongin bola, sih? Nak Dev itu datang ke sini mau melamar Intan. Malah mau diajakin nonton bola.”


Devano hanya senyum-senyum mendengar teguran itu. Selanjutnya, bola mata Devano tidak sengaja menangkap sosok Intan di tempat persembunyiannya. Intan juga sadar bahwa Devano saat ini sedang memergokinya.


“Ngapain?” Devano berusaha memberi isyarat pada Intan lewat gerak bibir dan tatapan mata.


“Lanjutkan. Semangat!” Intan mengacungkan ibu jarinya, kemudian tersenyum menyemangati Devano.


“Ayo, Nak Dev. Diminum dulu tehnya.”


Devano menurut. Dia meminum teh yang tersuguh, tapi …


“Ah, panas!” Benar, tehnya masih panas.


“Hahaha. Hati-hati, Dev! Jangan buru-buru. Intan lagi ngumpet tuh di situ!” Ayahnya Intan menunjuk ke arah gorden tempat persembunyian Intan.


Intan yang sadar bahwa dirinya telah ketahuan, seketika itu juga langsung balik badan dan menuju ke dalam kamarnya. Intan malu, tapi rasa penasarannya sungguh membuat gejolak dalam kalbu. Jadilah, Intan di dalam kamarnya hanya sebentar. Begitu ayah ibunya kembali fokus pada obrolan, Intan keluar kamar dan kembali menuju ke tempat persembunyian.


“Niat saya ke sini adalah untuk melamar Intan.”


Akhirnya, Devano mengutarakan niat baiknya.


“Untuk jadi istrimu?” Pertanyaan ayahnya Intan benar-benar di luar dugaan.


Devano mengangguk ramah. “Iya. Untuk menjadi istri saya.”

__ADS_1


“Menurutmu, istri itu apa?”


Sebuah pertanyaan yang sebelumnya sama sekali tidak Devano sangka-sangka. Intan di tempat persembunyian bahkan sampai gelisah. Dia pun tidak menyangka pertanyaan ayahnya akan seperti itu.


Mental Devano benar-benar teruji. Pikirannya berputar cepat, dan lagi-lagi bola mata Devano menangkap sosok Intan yang bersembunyi di balik gorden. Di sana, senyum Intan tampak berbeda. Senyum yang disuguhkan terlihat tulus, teduh, dan menenangkan. Intan benar-benar percaya pada Devano, termasuk dengan kekuatan cinta mereka.


“Istri itu tidak hanya sekedar mendampingi suami. Tapi, bersama-sama kami akan menjadi partner hidup, saling menerima lebih dan kurang, berjuang bersama, menua bersama, juga bahagia bersama.”


Kata-kata itu Devano ucapkan sambil melihat ke arah Intan. Ayah dan ibu Intan sampai ikut-ikutan melihat ke arah yang sama. Sementara Intan, kali ini dia tidak buru-buru masuk ke kamarnya. Dia justru tetap mempertahankan senyumnya sambil melihat ke arah Devano.


“Mereka cocok." Ayah Intan berbisik.


“Jangan tanya yang aneh-aneh lagi. Langsung putuskan saja. Ibu sudah sangat setuju, nih.” Sang istri balas berbisik.


Ayah Intan mengangguk-angguk.


“Tan, ke sini sebentar!” seru sang ayah.


Intan berjalan keluar sambil tetap mempertahankan senyuman. Dia duduk di samping ibunya. Pandangannya sengaja ditundukkan, tidak lagi seperti saat di tempat persembunyian.


“Intan, mumpung dalam momen seperti ini, silakan ajukan pertanyaan untuk Devano. Kalau tidak mau bertanya … biar ayah saja yang banyak bertanya.”


Seketika itu Intan menoleh pada ayahnya, lantas memberi kode mata agar dirinya saja yang bertanya. Ya meskipun Intan sendiri sebenarnya tidak memiliki pertanyaan apa-apa, karena memang tidak menyangka bahwa dirinya akan diminta untuk bertanya. Namun, satu pertanyaan spontan terpikirkan saat itu, yakni pertanyaan seputar lanjutan karir masa depan.


“Em … Dev. Saat sudah menikah nanti, apa aku masih boleh mengajar?”


Devano mendahuluinya dengan senyuman. “Tentu saja boleh. Tapi, andai waktumu harus kamu relakan sepenuhnya untukku dan anak-anak kita, apa kamu bersedia?”


Sungguh, Intan tidak pernah berpikiran ke arah sana. Melepas profesinya sebagai seorang guru tentu tidaklah mudah. Namun, Intan juga sadar betul tentang kewajiban seorang istri pada suaminya.


“Aku …” Intan menjeda kata. Dia lebih dulu melihat ke arah kedua orangtuanya, kemudian kembali melihat Devano. “Kalau begitu aku bisa mengajar anak-anak kita. Mendidik mereka menjadi anak yang berbakti dan bisa dibanggakan. Aku bersedia selama itu demi kebaikan keluarga kecil kita," ucap Intan kemudian.


Ada kelegaan hati di antara keduanya, baik Intan maupun Devano. Rupanya ada manfaatnya juga ayah Intan memberi waktu bagi Intan dan Devano untuk saling mengajukan pertanyaan. Tentunya semua itu demi kebaikan ke depan.


“Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami, Nak.” Sang ibu merangkul Intan dengan penuh kasih.


“Ayo-ayo! Apa ada yang ingin ditanyakan lagi? Mumpung ada kesempatan, nih. Siapa sekarang yang mau bertanya?”


Ayah Intan tampak bersemangat. Dia bergantian melihat ke arah Intan dan Devano, menunggu jika ada pertanyaan dari mereka.


“Baiklah jika tidak ada pertanyaan lagi. Kalau begitu … Nak, Devano Albagri. Benar begitu ya namamu?” Ayah Intan memastikan.


“Iya. Benar.” Devano mengangguk sopan.


“Nak Dev, minta orangtuamu datang ke sini agar niat baik ini cepat terlaksana. Kami ingin melihat kalian segera menikah."


Mimik wajah Devano berubah penuh syukur. Hal serupa juga tampak pada wajah Intan. Pangeran yang datang ke rumahnya malam ini benar-benar membuka jalan Intan untuk menuju ke jenjang pernikahan.


***


“Aku pulang dulu, ya?” Devano pamit. Intan mengantar di halaman depan.


“Hati-hati di jalan. Dan, salam untuk orangtuamu.”


“I love you,” ucap Devano setengah berbisik.


“Love you too, Dev.” Intan ikut-ikutan berbisik.


Devano pulang dengan membawa kabar baik yang akan segera dilanjutkan. Sementara Intan, dia langsung menghubungi Mira dan menceritakan semua sesuai janjinya. Tidak disangka-sangka, Mira justru membagi kabar itu lewat storie wa meski dengan nama yang tidak diungkapkan. Mira lupa bahwa dia masih menyimpan nomor Sandhi, begitu pula dengan Sandhi yang juga masih menyimpan nomor Mira. Jadilah, storie Mira terbaca oleh Sandhi.


“Devano sudah melamar Intan.” Sandhi masih memandangi layar ponselnya.


Seketika itu pikiran Sandhi terasa penat. Demi menghibur diri, Sandhi memilih keluar rumah menuju salah satu café terkenal di kotanya. Akan tetapi, laju mobil Sandhi tiba-tiba saja berubah. Mobilnya tidak lagi melaju ke café, melainkan menuju kontrakan Fani. Ya, Sandhi akan menuju ke kontrakan Fani malam ini.


Apa yang akan terjadi di sana? Nantikan lanjutan ceritanya!

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2