
Cepat-cepat Devano menarik lengan Intan agar tidak jadi menuju ruang tamu kontrakan. Obrolan antara Sandhi dan Fani yang baru saja mereka dengar itu tidak berhak dicampuri. Itu urusan pribadi Fani dan Sandhi. Sementara Devano dan Intan, mereka hanya orang lain yang tidak sengaja mendengar.
"Jangan ikut campur. Sebaiknya kita diam saja. Oke?" pinta Devano.
"Em, Dev. Sepertinya Sandhi terjebak dalam hubungan yang rumit. Fani terang-terangan mengaku kalau menyukai Benny." Mimik wajah Intan sulit diartikan.
"Apa kamu kepikiran?" Devano menyelidik.
"Sedikit, sih."
Devano terdiam sebentar. Dia menatap Intan dalam-dalam. Sejurus kemudian, barulah pertanyaan penuh selidik itu keluar.
"Sekarang coba jujur padaku, Tan. Apa hatimu masih menyimpan rasa untuk Sandhi?"
Dengan tegas Intan menggeleng. Dalam hatinya kini memang tidak ada lagi perasaan untuk Sandhi, apalagi semenjak Devano datang melamar. Intan sungguh telah menetapkan hati.
"Sekarang ini yang bersinar hanya kamu, Dev. Kamu, calon suamiku. Apa kamu masih ragu?"
Perlahan tapi pasti, sorot mata Devano seolah terlukis warna-warni pelangi. Senyumnya pun mengembang, dan itu semua tersuguh untuk Intan. Sesungguhnya, Devano hanya terpancing keadaan. Gegara ada Sandhi pula di sana. Memang, kisah di masa lalu sedikit banyak mempengaruhi keadaan di masa sekarang. Beruntungnya, Intan selalu berhasil membuat Devano terjebak dalam perasaan cinta, yang kemudian akan mengukuhkan keyakinannya. Devano yakin bahwa Intan adalah jodoh terbaik yang ditakdirkan untuknya.
"Aku percaya padamu. Dan aku sungguh ingin segera menikah denganmu, Tan. Dengan begitu, aku bisa leluasa menjagamu, terutama menjaga perasaanmu."
"Huweeeeek!" Yang ini suara Benny, dia berdiri di ambang pintu kamar mandi, dan sudah dari tadi.
Devano dan Intan spontan menoleh. Terkejut, kemudian dibuat bingung oleh sikap Benny. Ternyata oh ternyata, Benny mendengar kalimat Devano yang terakhir.
"Huweeeek-wek-wek. Haha." Ekspresi Benny benar-benar tidak disangka-sangka. "Kalian terlalu manis. Buruan nikah sana! Biar bisa bikin anak!" imbuhnya.
Seketika itu bola mata Intan melebar, kemudian spontan menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ucapan Benny benar-benar tidak pantas didengar.
"Tan, jangan dengarkan Benny. Sekarang kamu temui Fani dan Sandhi dulu. Setelah itu aku antar ke tempat Mira. Oke?" Devano ramah menyarankan.
"I-iya, Dev." Intan melihat ke arah Benny sebentar, setelahnya cepat-cepat mengayunkan langkah menuju ruang tamu kontrakan.
Sementara Devano, dia langsung menghampiri Benny, menariknya keluar dari kamar mandi.
"Oi, jangan deket-deket, Dev. Masih aroma berak, nih. Sana jauh-jauh." Benny blak-blakan. Sama sekali tidak sungkan.
"Beeeen, kau ini benar-benar ...."
"Ya-ya. Aku tau. Kau mau bilang kalau kata-kataku tidak pantas diucapkan, kan?" tebak Benny. "Santuy-lah, Dev. Kau tidak bisa mengharapkan semua temanmu baik-baik saja. Terkadang kau butuh orang sepertiku untuk membuat hidupmu jadi lebih berwarna."
"Warna hitam!" sahut Devano dengan kesal.
__ADS_1
"Eh-eh, jangan salah, Dev. Gini-gini banyak yang naksir. Cuma Dhea saja yang tidak berhasil kupikat." Benny tersenyum kecut saat menyebut nama Dhea.
Mata Devano terpejam. Keningnya dipijat perlahan. Rasanya pusing, meski tidak ada yang sedang dipikir. Rasa-rasanya Devano sudah tidak sanggup lagi menghadapi Benny yang sering berkata tidak pantas secara terang-terangan. Sudah banyak pula nasihat yang terlontar, tapi semua terasa percuma karena hanya didengarkan sebentar saja.
"Aku pergi dulu." Devano memilih pergi.
"Oke. Jangan lama-lama, Dev! Nanti sore ikut aku cek karyawan!"
"Ya"
Saat Devano menghampiri, Intan begitu lahap menikmati mie ayam ceker setan. Padahal pedas sekali, tapi Intan tampak biasa saja menyikapi.
"Dev, yang kumakan ini mie ayam bagianmu. Nggak papa, kan?" tanya Intan.
"Habiskan saja. Kalau masih kurang biar aku belikan."
"Tidak. Ini sudah cukup."
Sandhi melihat itu. Perhatian Devano pada Intan benar-benar natural. Tidak dilebih-lebihkan, dan ... jujur saja, Sandhi mulai melihat ada kecocokan antara Devano dan Intan. Diam-diam Sandhi mengakui dalam hati, bahwa Intan dan Devano memang serasi.
Fani selesai makan lebih dulu dibanding Sandhi dan Intan. Namun, yang Fani obrolkan justru Benny, Benny, dan Benny. Tidak tanggung-tanggung, Fani bahkan bertanya langsung pada Devano tentang makanan kesukaan Benny, hobby Benny, bahkan sampai tayangan kesukaan Benny pun ditanyakan oleh Fani.
"Film kesukaan Benny?" ulang Devano sambil was-was sendiri. Tidak mungkin juga Devano membeberkan kebiasaan buruk Benny pada Fani. "Soal itu, lebih baik kamu tanyakan sendiri saja pada Benny." imbuh Devano.
"Kau tidak boleh terlalu dekat dengan orang asing, Fan." Tiba-tiba saja Sandhi berkata demikian. Jujur saja, dia merasa posisinya terancam. Akan sangat fatal akibatnya jika dia tidak bisa memenangkan misi 31 hari itu.
"Benny bukan orang asing. Dia itu manager. Bukan lelaki mesum sepertimu! Wek!" Fani menjulurkan lidahnya ke arah Sandhi, padahal ada Intan dan Devano yang sedang memperhatikan mereka.
"Ya-ya-ya. Teruskan saja kalau kau bisa!" Dengan santainya Sandhi berkata demikian.
"Pasti bisa. Cinta sejati pasti akan bersatu. Dan jodohku pasti bukan lelaki mesum sepertimu. Iya kan, Tan?" Fani meminta dukungan Intan.
Intan yang terkejut, dia tidak mengiyakan tapi juga tidak memberi bantahan. Yang Intan lakukan hanya tersenyum canggung, kemudian melihat ke arah Devano.
Devano, dia yang mengerti maksud senyum canggung Intan pun seketika paham dengan apa yang Intan pikirkan. Pasti karena Fani berulang kali mengucap kata 'lelaki mesum'. Dan seketika itu Devano pun ikut-ikutan tersenyum canggung.
Lantaran tidak memiliki jawaban apa-apa, Devano bergegas membuat peralihan dengan pamit ke belakang. Devano langsung menemui Benny yang ternyata sedang rebahan di atas kasur kamarnya.
"Ben, kau mau diajak jalan-jalan sama Fani."
"Ogah, Dev. Aku lagi sakit perut, nih. Bisa-bisa kata-kataku tidak terkendali di hadapan Fani."
Devano mengernyitkan kening. Dia tidak paham. Apa hubungannya sakit perut dengan kata-kata yang tidak bisa dikendalikan?
__ADS_1
"Sepertinya Fani ingin mengenalmu lebih dekat." Devano memilih untuk mengungkap.
"Paling cuma prank. Bukankah laki-laki yang namanya Sandhi itu cowoknya Fani, Dev?"
"Bukan."
Usai mendengar itu, Benny langsung terduduk di tepian kasur. Mendadak juga mengubah keputusan dan bersedia diajak Fani jalan-jalan. Tentu saja Devano curiga dengan perubahan Benny yang tiba-tiba. Apalagi Benny tampak lebih bergairah dibanding sebelumnya.
"Ben, kau jangan macam-macam sama Fani, ya!" Devano memberi peringatan.
"Jangan ikut campur! Itu urusanku, Dev. Urus saja persiapan pernikahanmu dengan Intan."
"Benny!" seru Devano kesal karena peringatannya seperti diabaikan.
Benny terdiam. Yang semula menghadap cermin kamar, kini dia menatap Devano dengan penuh keseriusan.
"Santai saja, Dev. Aku bisa bersikap profesional pada pekerjaanku. Dan aku tahu Fani itu client kita. Jadi, kau jangan cemas dengan itu."
Sejujurnya Devano tidak bisa percaya penuh. Apalagi Benny pernah memiliki riwayat aksi jahil di masa lalu. Devano tidak lupa, bahwa Benny pernah membencinya. Devano juga tidak lupa dengan ulah-ulah yang pernah Benny lakukan padanya. Memang, akhir-akhir ini Devano melihat sisi lain seorang Benny, yang ternyata bisa peduli dan serius juga pada pekerjaan.
Devano kalah. Fani dan Benny jadi keluar bersama. Mereka menggunakan mobil milik Pak Bos Besar yang memang difasilitaskan untuk Benny. Sementara Sandhi, dia lebih memilih undur diri. Mengalah sejenak, untuk kemudian melompat jauh melanjutkan aksi. Untuk Devano, dia dan Intan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kos-kosan Mira.
"Dev, apa Fani dan Benny akan baik-baik saja?" Intan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Jangan terlalu dipikirkan, ya. Meskipun Benny suka asal bicara, tapi dia memiliki sisi baik yang belum banyak dilihat oleh orang di sekitarnya." Devano ramah menanggapi Intan.
Setelahnya, tidak ada lagi pembahasan tentang Fani dan Benny. Devano dan Intan beralih topik ke persiapan pernikahan mereka. Tapi hanya sebentar, karena mobil sudah sampai di area kos-kosan Mira.
"Kalau butuh apa-apa tinggal hubungi aku saja. Besok saat pulang, akan kuantar lagi ke terminal."
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Dev. Sampai jumpa besok. Da!"
Devano pamit. Begitu mobilnya sudah tidak terlihat lagi oleh pandangan mata, Intan bergegas mengecek ponselnya. Sedari tadi ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk berulang. Intan tidak berani membaca pesan itu saat bersama Devano, karena si pengirim pesan adalah Sandhi. Intan hanya tidak ingin Devano berpikiran macam-macam. Saat sudah sendirian seperti ini, barulah Intan berani membaca pesan dari Sandhi.
*Kamu menginap di kos-kosan Mira, kan?
Kalau boleh, aku ingin bicara empat mata denganmu.
Ini bukan tentang kita kok, tapi tentang Mira. Juga, ada yang ingin aku sampaikan tentang Fani dan kakaknya.
Bagaiman*a? Aku berharap sekali kamu bersedia, Tan. Aku janji tidak akan sampai larut malam.
Begitulah pesan Sandhi. Intan menimbang sebentar, dan ... akhirnya mengiyakan ajakan Sandhi. Mereka akan bertemu malam ini, tanpa sepengetahuan Mira, apalagi Devano.
__ADS_1
Bersambung ....