
Pagi ini Intan bangun lebih pagi dari biasanya. Segera merapikan kamarnya, kemudian lanjut membersihkan ruangan lain di rumahnya. Sudah menjadi rutinitas Intan setiap harinya. Namun, kali ini ada yang berbeda. Karena Intan bangun lebih pagi, dia bisa membantu sang ibu memasak menu santap pagi.
"Aku bagian menyiapkan bumbu sayurnya ya?" Intan mengambil alih bagian perbumbuhan.
"Memangnya kamu sudah bersih-bersih rumah, Tan?"
"Sudah, dong. Tadi bangun lebih awal."
"Wah, tumben sekali ini. Pantas saja bisa bantuin masak."
Intan senyum-senyum, kemudian berkata jujur. "Persiapan jadi istri, Bu. Nanti pasti lebih sering bangun pagi terus masak buat suami."
Sang ibu menyambut baik niat Intan. Tanpa pikir panjang lagi, Intan langsung disodori bumbu-bumbu dan bahan-bahan masakan. Sesekali sang ibu memberi arahan, dan tak lupa nasihat-nasihat bijak yang berguna bagi Intan saat nanti sudah menjadi istri Devano.
"Coba cicipi, Bu" Sayur bening buatan Intan jadi, tinggal dicicipi.
"Waduh, ini sih terlalu asin, Nduk. Kamu kebelet nikah beneran ya? Tenang saja, sudah dilamar gitu sama Nak Dev. Tinggal nunggu hari H. Sabbar."
Intan cengar-cengir saja, kemudian bergegas menambah gula dan bumbu penyedap lain ke dalam sayur bening buatannya.
"Sepertinya yang ini sudah. Coba cicipi lagi, Bu."
Sang ibu mendekat, mencicipi lagi, dan ... "Ini baru pas."
Tentu saja Intan girang. Kegiatan pagi semacam ini akan menjadi rutinitasnya. Termasuk juga, Intan akan mulai belajar memasak makanan kesukaan Devano.
"Oya, Tan. Pulang dari sekolah nanti, ibu titip ini ke rumah calon besan, ya. Kamu tahu rumahnya, kan?"
Intan mengangguk sambil mengambil bungkusan berisi beberapa bungkus keripik pisang.
"Pagi ini saja aku antar, Bu. Sekalian berangkat ke sekolah."
"Pengen ketemu Nak Dev dulu, ya?" tebak sang ibu.
"Nggak, Bu. Devano sudah berangkat pagi-pagi tadi."
"Kok kamu bisa tahu?" Sang ibu sengaja bercanda, menggoda Intan.
"Ya kan Devano ngabarin, kirim pesan."
"Ouh. Kirain karena kamu calon istrinya."
Usai sarapan, Intan menuju rumah Devano. Intan tampak rapi dengan seragam khas guru, karena setelah mengantar keripik pisang titipan sang ibu, Intan akan langsung menuju ke sekolah untuk mengajar.
Intan yang sudah mengenal keluarga Devano, dia bisa menebak bahwa saat ini di rumah itu hanya ada ibunya sana. Sementara ayah Devano sudah berangkat ke pasar sejak pagi buta menjajakan dagangan. Namun, ternyata dugaan Intan salah. Yang Intan temui di rumah itu justru Yoga.
"Hai, Tan."
"Hai, Bang." Intan ikut-ikutan Devano, memanggil Yoga dengan sebutan Bang. "Apa ibu ada di rumah?" tanya Intan kemudian.
"Baru saja ibu berangkat ke tempat ayah. Hari ini ayah ingin sarapan masakannya ibu. Kamu cari Devano apa cari ibu?" Yoga membuat tanya demi bisa mengakrabkan diri dengan Intan.
"Devano sudah berangkat ke luar kota tadi pagi, em ... bener nggak, Bang?" Intan memastikan, khawatir ada perubahan.
"Iyap. Devano sudah berangkat pagi-pagi sekali. Kalau mau nungguin ibu pulang lama, lho. Atau mau titip pesan saja? Nanti aku sampaikan sekalian pulang."
"Mau menyampaikan ini saja. Titipan dari ibu."
Intan menyerahkan bungkusan keripik. Lekas diterima Yoga, tapi ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Tangan Yoga tidak sengaja menyentuh tangan Intan. Terlihat biasa, tapi yang menjadikannya tidak biasa justru saat Intan dan Yoga sama-sama saling menatap dari jarak dekat.
"Ma-maaf," ucap Yoga dengan lirih dan setengah terbata.
Demi mengatasi itu, Intan tersenyum ramah. Setelahnya langsung pamit, kemudian bergegas melajukan motornya menuju ke sekolah.
Ya. Intan biasa-biasa saja. Sama sekali tidak terpengaruh adegan sentuhan tangan dan tatapan mata yang tidak sengaja dia alami dengan Yoga. Yang tidak biasa justru Yoga, karena di masa lalu dia sempat mengagumi sosok Intan. Sangat wajar jika tadi Yoga sedikit terpengaruh dengan adegan tidak sengaja yang terjadi antara dirinya dengan Intan.
"Sadar, Ga. Intan itu calon istri adikmu. Perasaanmu sudah lama hilang, dan tidak lebih dari sekedar rasa kagum pada karya Intan." Batin Yoga.
Sementara Intan, tiba-tiba saja dia teringat sesuatu di masa lalu, saat dirinya kuliah S1. "Apa Bang Yoga itu pernah kuliah di kampus yang sama denganku, ya?" Pikir Intan. "Ah, biar sudah. Nanti-nanti saja tanya sama Devano." Dan, Intan pun memilih untuk tidak melanjutkan dugaan.
__ADS_1
***
Bukan hanya Intan yang memulai rutinitas baru. Devano juga begitu. Dia baru saja tiba di rumah kontrakan yang telah disewakan oleh Pak Bos Besar. Kini rutinitas barunya adalah membantu Benny mengelola kantor cabang selama satu bulan ke depan.
"Pak Bos Besar nyewa satu kontrakan aja, nih?" tanya Devano pada Benny.
"Apa kau tidak mau satu kontrakan denganku, Dev?" Benny serius bertanya.
"Nggak masalah sebenarnya, sih. Dahlah, lupakan saja. Aku pilih kamar yang ini ya?"
"Terserah kau saja," ucap Benny, cuek.
Tiba-tiba saja Devano teringat sesuatu. Posisinya saat ini jauh dari Intan, sementara yang Devano tahu, Benny bersahabat baik dengan Dhea. Untuk jaga-jaga, Devano pun memperingatkan Benny agar tidak mencari gara-gara dengannya.
"Dhea tidak akan berani menampakkan batang hidungnya lagi. Apalagi di hadapanku," ungkap Benny dengan sejujurnya. Dia sadar, usai kejadian ungkapan perasaan waktu itu, Dhea telah menghindar.
"Kalian bertengkar, ya?" Devano kepo.
"Bisa dikatakan seperti itu. Jadi, Dev. Kau fokus saja membantuku. Kalau kau rindu Intan, panggil saja dia ke sini. Aku tidak keberatan jika harus menyingkir sebentar dari kontrakan ini. Biar kalian berdua bisa bermesraan."
Dengan entengnya Benny berkata demikian. Devano yang mendengar itu sampai berdesis kesal. Memangnya Intan wanita panggilan? Begitulah pikir Devano. Setelahnya, Devano memilih masuk ke dalam kamar dan menata barang bawaan.
Di kota yang sama, di tempat yang berbeda. Ada pula yang memulai rutinitas barunya meski dengan hati setengah terpaksa, demi menjawab tantangan 31 hari. Dialah Sandhi, yang pagi ini sudah berada di depan kontrakan Fani.
"Sandhi? Ada perlu apa?" tanya Fani sambil membuka pagar kontrakan.
Sandhi tidak menjawab, melainkan terdiam memperhatikan penampilan Fani yang masih saja tampil sexy. Tanpa basa-basi lebih dulu, Sandhi menarik lengan Fani menuju ruang tamu kontrakan.
"Ganti bajumu dengan yang lebih pantas. Aku beri waktu ..." Sandhi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Lima menit dari sekarang."
Fani melongo. Nada perintah Sandhi terdengar seperti sedang memberi penugasan pada mahasiswanya dengan batasan waktu yang sama sekali tidak wajar. Waktu ganti baju hanya lima menit? Oh My God, its so crazy. Datang-datang langsung main perintah saja. Begitulah pikir Fani.
"Aku tidak mau. Pakaianku sudah pantas." Fani menolak.
"Pahamu terlihat jelas, Fan. Mau kerja atau mau menggoda Ezza, ha?" Sandhi blak-blakan.
Mendadak saja wajah Fani bersemu merah. Setengah malu karena perkataan Sandhi yang sama sekali tidak ada filternya. Dan, tiba-tiba saja Fani melangkah maju, lantas menutupi mata Sandhi dengan kedua tangannya.
Tangan Sandhi mencengkram tangan Fani yang menutupi matanya. Dengan gerakan halus, Sandhi menarik Fani hingga tubuh Fani begitu dekat dengannya.
"Apa kau ingin aku menggodamu?" Sandhi berani menatap Fani dari jarak sedekat itu.
Deg-deg deg-deg!
Yang deg-degan bukanlah Sandhi, melainkan Fani. Sikap Sandhi benar-benar tidak terduga. Untung saja Fani segera bisa mengendalikan diri, kemudian mendorong tubuh Sandhi.
"Sorry. Seleraku bukan kamu!" tegas Fani.
Setelahnya Fani melangkah cepat menuju kamarnya. Dia memilih untuk mengalah saja, meskipun sebenarnya tidak ingin mengalah. Fani sungguh tidak ingin berdebat lebih banyak dengan Sandhi. Sejujurnya Fani masih sadar diri, juga sadar posisi. Fani masih berhutang banyak pada Sandhi. Kalau bukan karena Sandhi, Fani tidak akan bisa merasakan kebebasan seperti ini.
Sementara itu, Sandhi tampak frustasi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa seolah tantangan 31 hari itu mustahil dimenangkan. Baru hari pertama pendekatan, yang terjadi justru keributan.
"Sandhi, harusnya perkataanmu lebih halus lagi," ucap Sandhi dengan lirih. Sempat pula Sandhi merutuki diri, kenapa dia tidak bisa ramah seperti saat menghadapi Intan. Saat dengan Fani, yang sering muncul adalah nada emosi.
Lima menit telah berlalu. Waktu terus berjalan hingga sepuluh menit pun berlalu. Sandhi sabar menunggu Fani di sofa ruang tamu.
"Sudah selesai. Coba cek dulu!" Langkah Fani berhenti tepat di hadapan Sandhi. Senyumnya mengembang, seolah sebelum ini sama sekali tidak terjadi pertengkaran.
Penampilan Fani benar-benar berubah. Sebelum ini menggunakan dress sexy. Kini, tubuhnya terbalut celana kain hitam panjang dan kemeja khas kantoran tapi dalam versi sederhana.
"Ini baru pakaian yang pantas. Ayo berangkat!"
"Eh, tunggu! Berangkat ke mana?" Fani memegangi lengan Sandhi, mencegahnya melangkah.
"Ke kantor Ezza. Mulai sekarang, aku akan mengantarmu. Menjemputmu juga. Dan, kalau perlu makan siang bersamamu."
Fani refleks melepas tangan Sandhi, kemudian menjauh. Dia terkejut dengan niatan Sandhi yang seperti itu.
"Aku menolak!" tegas Fani.
__ADS_1
"Baiklah. Antar jemput saja, tanpa makan siang." Sandhi menawar.
"Tidak mau. Pasti hariku akan sangat menyebalkan jika harus terus bertemu denganmu!"
Sandhi berpikir sejenak. Sikapnya kali ini memang terkesan terburu-buru. Apalagi pagi tadi ada adegan seperti itu. Pastilah Fani akan sangat tidak nyaman dengan itu.
"Baiklah. Terserah kau saja. Aku berangkat dulu. Da!"
Sungguh tidak jelas. Begitulah pikir Fani. Setelah mendesak untuk ganti baju, meminta untuk sering bertemu, sekarang Sandhi dengan mudahnya pergi begitu saja tanpa ba-bi-bu. Sandhi benar-benar meninggalkan Fani. Mobilnya bahkan sudah melaju jauh.
"Dasar aneh!" seru Fani, dia kesal.
Di dalam mobil, Sandhi tampak santai-santai saja usai memutuskan meninggalkan Fani di kontrakan. Namun, Sandhi bertekad mencari cara lain agar dirinya bisa jatuh cinta pada Fani.
"Ini akan jadi rutinitas baruku. Tidak masalah jika Fani terus menolak. Lama-lama, dia pasti akan terjerat pesonaku." Sandhi tersenyum penuh percaya diri. Dia yakin sekali tantangan 31 hari akan terpenuhi.
***
Menjelang jam kepulangan mengajar, Intan mendapat telpon dari Mira. Untung saja saat itu murid-muridnya sudah pulang semua, sehingga dirinya bisa leluasa menerima telpon dari sang adik tercinta.
"Halo, Mir. Ada apa?"
"Kak, lagu kesukaan Kak Intan apa ya?"
Intan tampak berpikir sejenak. Pertanyaan yang sungguh tiba-tiba. Tapi, untuk apa juga Mira tiba-tiba menelpon dan bertanya lagu kesukaannya? Begitulah pikir Intan. Namun, Intan memilih untuk menjawabnya saja tanpa banyak komentar.
"Lagunya Ne-Yo yang judulnya Miss Independent. Kalau lokal, sukanya musik keroncong sama musik pop Indonesia. Kalau level oppa-oppa tampan, kakak suka instrumen piano yang dimainkan Suga BTS. Flower dance. Coba deh dengerin. Dijamin pasti kamu juga suka."
Intan sengaja memberi jawaban lebih agar Mira tidak bertanya-tanya lagi. Karakter Mira sudah sangat Intan hafal. Pertanyaan sang adik pasti akan susul menyusul sampai semua info didapatkan.
"Oke. Pertanyaan selanjutnya. Apa musik kesukaan Kak Dev?"
"Hm? Musik kesukaan Devano?" Intan terheran kali ini. Kenapa juga pertanyaan sang adik jadi lebih mirip pendataan. "Mir, apa ini bagian dari tugas kuliahmu?" tanya Intan tiba-tiba.
"Nggak juga, sih. Mira lagi gabut aja, Kak. Ini nungguin teman kelompok nggak datang-datang. Hehe."
"Miraaaa! Kamu itu benar-ben ... nar." Intan tidak melanjutkan omelannya pada sang adik. Intan langsung sadar posisi. Tempatnya berada kali ini bukan di rumah, melainkan di sekolah.
"Eh, Kak. Yang ini Mira serius, nih. Ada dokumen Mira yang ketinggalan di kamar Mira. Itu persyaratan buat ngajuin beasiswa. Jadi ... besok Mira mau ..."
"Untuk kapan?" sela Intan.
"Masih minggu depan, sih. Tapi, Mira ingin ...."
"Nggak perlu pulang. Biar kakak yang antar akhir pekan ini."
Intan tidak memberi celah bagi Mira untuk mencari alasan agar bisa pulang ke rumah. Intan sangat yakin, telah terjadi sesuatu dengan sang adik hingga terus-terusan mencari alasan untuk pulang.
"Kak Intan nggak repot, nih?"
"Nggak sama sekali."
"Coba diingat-ingat lagi, Kak. Mungkin aja akhir pekan ini ada jadwal ngantar murid lomba mata pelajaran."
"Tidak ada sama sekali. Pokoknya kakak akan datang ke kos-kosanmu akhir pekan ini."
Mira akhirnya mengiyakan saja. Gagal sudah rencananya untuk pulang, juga gegara dirinya yang tidak bakat berbohong pada Intan.
"Oke, deh. Sampai ketemu akhir pekan ini, Kak. Hati-hati di jalan. Jangan lupa kasih tau Kak Dev, biar dia nggak kepikiran."
"Iya, tenang saja. Jaga dirimu baik-baik di sana. Ingat, fokus kuliah."
Usai mengiyakan pesan sang kakak, Mira mengakhiri teleponnya. Intan, dia jadi kepikiran dengan kondisi Mira. Intan yakin sekali telah terjadi sesuatu dengan adiknya itu.
"Mungkin, aku bisa mampir sebentar ke tempat Devano." Ide Intan, mumpung ada kesempatan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tentang kekaguman Yoga pada Intan, tentang Benny yang satu kontrakan dengan Devano selama satu bulan, juga tentang Sandhi dan Fani yang justru lebih sering bertengkar? Juga, apakah kunjungan Intan ke tempat Mira akan baik-baik saja? Akankah dia bertemu Sandhi? Nantikan lanjutan kisah ini!
Bersambung ....
__ADS_1
NB: Yang mau join ke grup author, yuk dipersilakan ☺
Terima kasih atas Vote, Hadiah, Like, dan Komentar yang diberikan. Semoga suka dengan ceritanya. Salam Purple Luv 💜