PANTAS

PANTAS
Bab 39 - Menghibur Diri


__ADS_3

Mobil Sandhi sampai di depan pagar kontrakan Fani. Mesin mobil sudah mati, tapi Sandhi masih saja berdiam diri di balik kemudi. Pikiran Sandhi benar-benar tidak jernih. Bayangan Intan masih saja membayang meski beberapa waktu lalu dia telah memutuskan untuk merelakan.


Tidak mudah, tidak seinstan kalimat yang telah terucap sebelumnya. Melepas orang terkasih memang tidak bisa dalam sehari dua hari. Apalagi, yang dilepas justru langsung dilamar dan akan segera mengikat janji suci.


Jam digital di ponsel Sandhi menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Benar-benar sudah malam, dan rasanya tidak pantas digunakan untuk bertamu di kontrakan seorang perempuan. Namun, Sandhi dalam kondisi pikiran yang tidak jernih. Dia tidak peduli lagi, langsung keluar dari mobil, kemudian melangkah mendekati pagar besi.


Sandhi tidak perlu berteriak memanggil nama Fani, karena saat itu juga pintu kontrakan terbuka. Sedari tadi Fani menyadari kedatangan mobil Sandhi, tapi dia tidak buru-buru keluar untuk menemui.


“Ada apa denganmu?” Fani menyelidik raut wajah Sandhi yang tampak berbeda. Jelas sekali tergambar keterpurukan di sana.


Pertanyaan Fani tidak langsung dijawab. Sandhi berusaha tersenyum, kemudian mengajak Fani keluar.


“Ganti bajumu, lalu ikut denganku.”


Kalimat Sandhi terdengar seperti perintah. Fani paham betul saat itu sudah malam, tapi Fani memilih untuk mengiyakan. Ajakan Sandhi dipenuhi. Cepat-cepat Fani mengganti bajunya dengan baju yang sebelumnya juga dibelikan oleh Sandhi. Setelan hoodie putih dan celana jeans menjadi pilihan. Rambut panjang Fani sengaja digerai tanpa lebih dulu disisir. Fani juga tidak menggunakan make up. Memang, sejauh ini yang terpenuhi hanyalah pakaian ganti dan kebutuhan makan sehari-hari. Untuk kebutuhan lainnya, Fani menahan diri untuk tidak membeli karena kondisi keuangan yang tidak memadai.


“Sisir dulu rambutmu,” pinta Sandhi saat Fani hendak memasang sabuk pengaman.


“Aku tidak punya.”


Sandhi menarik nafas dalam. Dia langsung sadar dengan kondisi Fani. Usai kabur tanpa membawa apapun, Fani benar-benar harus menjalani kehidupan yang berbeda. Termasuk tidak memiliki barang-barang yang mungkin sangat berguna.


“Baiklah. Pakai sabuk pengamannya.”


“Memangnya kita mau kemana?”


“Kemana saja. Aku butuh hiburan.”


Penjelasan Sandhi tidak diterima mentah-mentah. Fani langsung membelalakkan mata, bahkan kedua tangannya pun refleks menutupi area dada.


“Jangan macam-macam padaku, ya! Aku bukan wanita seperti itu!”


Sandhi langsung menoleh. “Pikiranmu benar-benar kotor.”


“Ha? Apa kau bilang? Kaulah yang kotor!”


Ucapan Fani diabaikan. Sandhi mulai melajukan mobilnya, perlahan, kemudian dengan kecepatan yang lumayan kencang.


“Sandhi! No! Turunkan aku!”


Sandhi tidak peduli. Dia justru semakin menambah kecepatan mobilnya.


“Aaaaaaaa!” Fani masih saja berteriak.

__ADS_1


Teriakan Fani berhenti dengan sendirinya. Bukan karena penjelasan Sandhi, tapi karena Fani sudah lelah kerena protes dan teriakannya tidak ditanggapi. Barulah saat itu Sandhi memelankan laju mobilnya. Ya, tadi dia memang sengaja memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Selain tahu dengan kondisi jalanan yang sepi, dia juga dengan sengaja menggoda Fani, menakuti-nakuti agar pikiran kotornya terganti.


“Puas kau!” Fani ngambek.


“Belum.” Dasar Sandhi, dia sengaja memancing reaksi Fani.


Setelahnya benar-benar tidak ada obrolan di antara mereka. Sandhi terus melajukan mobilnya, sementara Fani terus diam tanpa bersuara dan hanya memandang ke arah luar kaca. Hingga kemudian, sampailah mobil Sandhi di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


“Turunlah!”


“Tidak mau!” Fani masih ngambek.


Sandhi tidak mau kalah. Dia mengeluarkan dompet dan menunjukkan beberapa lembar uang ratusan pada Fani.


“Disogok pun aku tidak mau. Aku punya harga diri, Sandhi. Kau tidak bisa seenaknya menyuruhku jadi wanita penghibur.”


Tidak ingin terlalu banyak berdebat, Sandhi meletakkan uang itu di pangkuan Fani.


“Uang itu dari Ezza. Smartphone ini juga.”


Yang dimaksud Sandhi adalah bos di tempat Fani bekerja. Memang, hari ini adalah hari pertama Fani bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan swasta milik rekan Sandhi, namanya Ezza. Kinerja Fani memang bagus, tapi terkendala barang-barang yang seharusnya tersedia. Pakaian yang digunakan Fani tadi juga sangat sederhana, hasil dari pemberian Sandhi pula.


“Bos Ezza yang ngasih?” Mimik wajah Fani berubah.


“Jadi kamu mengajakku keluar agar aku bisa belanja dengan semua uang ini?”


Lagi-lagi Sandhi mengangguk.


“Kenapa tidak bilang dari tadi, sih. Dasar Pak Dosen penuh misteri. Eh, maksudku .... Pak Dosen baik hati.” Fani cepat-cepat meralat kata-katanya.


Sandhi tampak biasa-biasa saja, kemudian mempersilakan Fani untuk berbelanja sepuasnya. Sementara Sandhi, dia hanya akan berputar-putar saja di pusat perbelanjaan yang ramai orang itu demi menghibur diri.


Tiba-tiba saja, Sandhi teringat Intan lagi. Momen saat Fani turun dari mobilnya, dia benar-benar mirip Intan. Apalagi saat itu Fani menggunakan hoodie putih dan jeans, benar-benar setelan yang sering digunakan Intan. Salah Sandhi juga kenapa kemarin justru membelikan Fani setelan itu.


“Sandhi, sadarlah. Kau sudah merelakan Intan untuk Devano.” Batin Sandhi, tidak hanya sekedar menghibur diri, tapi juga menyadarkan hati.


***


Sementara Intan, dia saat ini sedang berada di kamarnya. Wajah bahagia dan senyum merekah mendominasi auranya. Devano, Devano, dan semuanya tentang Devano. Ruang hati Intan terus menggemakan nama Devano Albagri, sang pujaan hati.


Di tengah perasaan bahagia itu, Mira, sang adik tercinta kembali menghubungi. Kali ini tidak berniat mendesak Intan untuk menceritakan Devano, melainkan ada hal penting yang ingin Mira sampaikan.


“Kak Sandhi sepertinya sudah tahu kalau Kak Dev datang melamar,” ungkap Mira.

__ADS_1


“Kok bisa tahu? Acaranya kan baru saja. Kakak juga belum memberi tahu siapa-siapa.”


Mira di seberang sana terdengar cengengesan. Saat itu juga Mira mengaku telah membuat storie wa berisi kabar tentang lamaran Intan.


“Kamu ceroboh banget sih, Mir.”


“Ya maaf, Kak. Em, sebenarnya Kak Sandhi berhak tahu nggak sih?”


Intan terdiam. Pikirannya berputar. Tentang berhak tahu atau tidak, Intan pikir itu bukanlah masalah besar. Intan sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Sandhi. Pertemuan terakhir di area persawahan dekat danau berair jernih sudah menegaskan semua. Sandhi telah merelakan, sementara Devano akan meneruskan niatan.


“Tidak apa-apa. Biar saja Sandhi tahu,” ucap Intan pada akhirnya.


“Berarti nggak masalah, ya. Soalnya ada mata kuliah Mira yang diajar sama Kak Sandhi, Kak.”


“Loh, kok bisa?”


“Ya bisa aja. Doakan Kak Sandhi nggak marah sama Mira, ya?” Mira curhat.


“Tunggu-tunggu, kenapa Sandhi harus marah padamu?”


“Soalnya … Em, dulu itu Mira janji akan bantu Kak Sandhi bersatu dengan Kak Intan. Tapi, Kak Intan lebih milih Kak Dev. Yaudah, deh. Mira merubah dukungan.”


Sungguh, Intan benar-benar baru tahu kenyataan itu.


“Begini saja. Anggap semuanya sudah berlalu. Kakak akan menikah dengan Devano, sedangkan Sandhi sudah menjadi masa lalu. Kamu fokus saja pada kuliahmu, Mir. Kakak yakin sekali Sandhi tidak akan macam-macam denganmu. Dia baik, kok.”


“Serius, Kak?”


“Ngapain juga kakak bohong, Mir.”


“Yasudah. Kalau gitu Mira tutup dulu telponnya ya. Selamat memimpikan Kak Dev. Bye-bye!”


Tut-tut-tut


Intan tidak lagi memiliki kesempatan untuk membalas perkataan Mira. Telepon sudah ditutup. Sekarang, Intanlah yang kepikiran Sandhi. Namun, hanya sesaat saja. Pikiran itu dengan cepat terganti karena nama Devano lebih mendominasi.


***


Sementara itu, di tempat lain. Seorang lelaki bertubuh atletis tengah berbincang dengan dua anak buahnya. Dia tengah membahas keberadaan sang adik beserta orang-orang yang berhubungan dekat dengannya.


“Intania Zhesky. Atur pertemuanku dengannya,” ucap si lelaki tadi. “Kalau tidak bisa, culik saja dia!”


“Siap, Bos!”

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2