
"Au-au-auuuu! Kak Intan nggak bakat jadi dokter!" protes Mira dengan kencangnya.
Intan sebal karena sedari tadi Mira terus-terusan protes saat luka di kakinya diobati. Padahal Intan hanya menyuruh Mira bersabar sebentar saat luka itu diolesi, tapi Mira justru heboh, berteriak, bahkan loncat-loncat tidak jelas.
"Iyya. Kakak memang bukan dokter!" sahut Intan dengan suara serak yang terdengar lirih, tapi tersimpan ketegasan. "Sini duduk lagi!" perintah Intan.
"Iya-iya. Tapi janji ya Kak, jangan sampai terasa perih!"
Huuuh, Intan rasanya geregetan menghadapi Mira. Tapi dia sudah terbiasa dengan sikap kekanakan yang sering diperlihatkan itu, apalagi dalam keadaan seperti ini. Dan, rasa geregetan itu selalu tidak berlangsung lama karena terkalahkan dengan rasa peduli dan penuh kasih.
"Dev, tolong guntingnya ya." Pinta Intan, dan langsung mendapat apa yang diinginkan.
Sedari tadi Devano menjadi asisten untuk memenuhi segala sesuatu yang Intan butuhkan. Untuk saat ini, dia bertugas mendampingi Intan dalam mengobati luka kecil Mira. Meskipun kecil, tapi tetap butuh perban untuk mengobati lukanya. Jadilah, Devano sempat pergi ke apotek lagi, membeli beberapa keperluan untuk mengobati luka Mira.
Sebenarnya Devano tidak tega melihat Intan mengambil alih pengobatan luka Mira, tapi mau bagaimana lagi. Mira terus merengek dan berkata tidak bisa mengobati lukanya sendirian, dan Mira tidak mengizinkan Devano membantu pengobatan. Mira hanya mau diobati Intan. Istirahat Intan tentu terganggu karena Mira, tapi lagi-lagi Devano tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sudah. Masih sakit nggak?" Intan menekan luka Mira yang sudah terbungkus perban.
"Kak Intaaaaan!" seru Mira dengan lantang.
Sengaja Intan jahil. Tentu kejahilannya itu sudah dikira-kira agar tidak sampai memperparah luka Mira. Namun, efeknya sungguh tidak terduga. Mira justru berteriak lantang, setelahnya bahkan merengek kepada Intan.
"Tega banget sih sama adik sendiri. Bagaimana kalau lukanya semakin parah hayo?"
"Tidak akan, Mir." Jawab Intan dengan santainya sambil membereskan perban dan kawan-kawan.
"Bagaimana kalau Mira sampai pingsan?" Mira masih saja melanjutkan, dan inilah sikap yang terkadang membuat Intan geregetan.
"Mau kakak doakan pingsan beneran? Iya?" Tantang Intan.
Mimik wajah Mira seketika berubah. Dia cengar-cengir, dan kini justru bermanja ria di lengan kanan Intan.
"Ya jangan dong, Kak. Mira maunya sehat terus. Kakak juga, ya. Jangan sakit-sakit gitu ah! Kak Dev nanti khawatir loh!"
Deg!
Usai menyebut nama Devano, Mira jadi lebih sadar posisi. Mira seketika ingat bahwa keberadaannya kali ini adalah di kontrakan Devano.
"Ups. Kak Deeeev. Maafin Mira, Kak. Tadi Kak Dev lihat Mira jahat sama Kak Intan ya? Duh. Mira jangan dipecat jadi adik ipar yaaaa. Mira janji deh, selanjutnya akan berusaha jadi adik yang baik. Suwer!"
Devano tertawa canggung, kemudian melirik ke arah Intan. Wajah Intan memang masih terlihat pucat, tapi Devano menangkap kebahagiaan di sana. Devano menduga, meski Mira terlihat manja dan kekanakan sekali, tapi Intan sama sekali tidak risih.
"Mira, sekarang biarkan kakakmu ini istirahat ya." Devano memberi kode.
"Siap, Kak Dev!" Mira bersiap memegangi lengan Intan. "Yuk, Kak. Pak Dokternya sudah nyuruh istirahat, tuh! Harus nurut biar cepat sembuh."
Intan tidak menolak, karena sejujurnya kepala Intan terasa pusing lagi. Efek karena dia terlalu bersemangat atas kehebohan Mira, apalagi tadi Mira sempat bercerita kejadian lengkap hingga akhirnya terserempet mobil Sandhi. Intan sampai menahan rasa pusing demi agar bisa mendengar cerita Mira sampai akhir.
Mumpung ada Mira di kontrakan, Devano pamit keluar sebentar. Dia akan membeli beberapa keperluan dan akan mampir sebentar ke kantor cabang. Devano akan mengunjungi Benny sebentar.
***
Sejak lima belas menit lalu, mobil Sandhi menepi di seberang jalan tidak jauh dari area rumah makan dekat tempat kerja Benny. Tadinya Sandhi hanya ingin lewat saja, ternyata oh ternyata justru melihat Fani duduk di meja yang sama dengan Benny. Mereka memilih meja di luar rumah makan, yang terlihat jelas dari seberang jalan.
Selama waktu lima belas menit itu, Sandhi menyaksikan pemandangan yang membingungkan. Maksudnya hati Sandhi yang bingung. Harusnya jika Sandhi memang benar-benar menyimpan rasa untuk Fani, pastilah rasa cemburu itu menghampiri. Namun, hati Sandhi tampak biasa-biasa saja. Tidak ada rasa nyelekit sama sekali. Padahal jelas sekali ada keromantisan antara Fani dan Benny di sana. Baik Fani ataupun Benny juga tampak saling cinta. Sempat suap-suapan makanan pula.
Cukup sudah. Sandhi mulai jenuh juga. Semakin lama Sandhi memperhatikan dari jauh pemandangan itu, semakin Sandhi tersadar dengan perasaan yang dia rasakan. Nama Fani yang sebelum ini mendominasi hati dan pikirannya, tidak lebih dari sekedar rasa peduli.
"Sepertinya mama benar. Dan, kalimat Intan juga benar. Ruang hati harus terisi. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan." Sandhi menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. "Baiklah. Sepertinya memang tidak bisa."
Sandhi tahu betul apa konsekuensinya. Tidak bisa menyelesaikan tantangan 31 hari, itu artinya dia harus siap dengan babak baru yang harus dia lalui, khususnya dengan Farel.
__ADS_1
"Akan kutunggu saja apa yang akan Farel lakukan padaku." Batin Sandhi. Keberaniannya bertambah seiring keyakinan dalam hati. Mobilnya pun dilajukan meninggalkan lokasi. Sandhi tidak mengambil kesempatan apalagi membuat momen berharga seperti yang sebelum ini dikatakan Devano. Sandhi, dia benar-benar pergi.
Sementara itu, Fani dan Benny masih saja bertahan di area rumah makan. Makanan mereka baru saja habis, dan kini sedang menikmati makanan penutup yang juga dipesan.
"Benny, kamu suka jenis olahraga apa?" tanya Fani tiba-tiba.
"Olahraga apa nih maksudnya? Apa olahraga ran ... ehem. Oh iya, aku suka renang." Hampir saja filter kata Benny rusak lagi.
"Ohya? Sama dong dengan Kak Farel. Dia juga jago renang. Suka nge-gym juga sih. Angkat besi 100 kg dia jagonya, tuh!"
Benny auto menelan ludah mendengar cerita Fani. Langsung membayangkan juga bagaimana sosok Farel. Benny sempat menyesal juga karena menyebut olahraga renang sebagai jenis olahraga kesukaan. Padahal Benny tidak jago-jago amat. Lebih tepatnya, dia suka kolam renang karena bisa sekalian bermain air dan berendam. Tentang gaya-gaya berenang, Benny lebih suka gaya batu. Yang sekali cemplung langsung tenggelam itu.
"Fani, boleh aku tahu makanan kesukaan kakakmu? Terus ... minumannya juga, cemilan favoritnya, dan film kesukaannya."
Benny antisipasi. Kalau nantinya dia harus bertemu Farel dan tidak bisa mengatasi keadaan, Benny berencana mengajak Farel nonton film di bioskop, lanjut mentraktirnya makan. Ya, kurang lebih begitulah yang Benny pikirkan saat ini.
Di luar dugaan, Fani justru cemberut. Kenapa Benny justru bertanya kegemaran kakaknya? Begitulah pikir Fani. Padahal Fani sangat ingin Benny bertanya lebih banyak tentang dirinya, bukan tentang kakaknya.
"Kok cemberut, Fan?"
"Ya habisnya kamu tanya Kak Farel terus. Coba tanya tentang aku dong."
"Hehe.Ya maaf, Fan. Aku penasaran banget sama kakakmu itu."
"Terus, nggak penasaran sama aku? Aku ini calon istrimu, lho."
"Baiklah. Coba ceritakan lebih banyak tentang dirimu."
Fani sudah menyebut dirinya sebagai calon istri Benny. Padahal baru beberapa menit lalu Benny mengiyakan ajakan untuk menikah itu. Fani benar-benar berani.
Tentang alasan Fani mengajak Benny menikah, sebenarnya itu dadakan sekali. Memang, Fani menyukai Benny bahkan sejak pandangan pertama kala itu. Namun, ajakan untuk menikah yang sedikit Fani paksakan benar-benar dadakan. Ide itu muncul spontan saat Fani datang menjenguk Intan. Benar-benar spontan. Tapi Fani tidak menyesal karena akhirnya Benny mengiyakan.
Untuk alasan Fani, semua tidak terlepas dari fakta yang baru pagi ini dia temui. Pagi sebelum Fani bersiap akan bertemu Intan, Fani kedatangan seseorang. Orang ini bukanlah orang asing, karena orang ini adalah orang suruhan Fani.
Sebenarnya Fani curiga dengan keadaan yang begitu tenang. Sejak terakhir kali dia pergi bersama Sandhi ke kota tempat tinggal Farel, sejak saat itu pula tidak ada lagi orang-orang aneh yang membuntuti atau mematai-matai. Dan, suasana seperti ini sangat tidak masuk akal bagi Fani, kenapa begitu tiba-tiba? Apalagi, tiba-tiba saja sikap Sandhi berubah jadi lebih perhatian, bahkan sering mengajak Fani keluar untuk makan atau untuk hal-hal tidak penting lainnya.
Usaha Fani tidak sia-sia. Tidak percuma juga dia menghabiskan uang bonus dari Bos Ezza untuk menyewa mata-mata. Dan, pagi ini terungkaplah semuanya. Fani sudah tahu tentang fakta yang ditutupi Sandhi. Fani juga tahu tentang kesepakatan Sandhi dengan Farel. Juga, Fani tahu tentang tantangan 31 hari yang menurutnya itu sangat dipaksakan oleh Sandhi.
Fani tidak ingin Sandhi terjebak dalam keterpaksaan, khususnya jika semua itu awalnya juga karena ingin melindungi Intan. Bagi Fani, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Fani juga ingin Sandhi terlepas dari kesepakatan ataupun tantangan. Menurut keterangan mata-mata yang disewanya, Farel sebenarnya hanya butuh seseorang yang bisa melindungi Fani tanpa paksaan, dan yang terpenting harus ada cinta yang berperan. Jadilah, Fani memaksa Benny untuk menikahinya. Selain karena Fani mencintai Benny, juga dengan cara inilah Fani bisa membuat alasan agar Sandhi bisa terlepas dari tantangan.
"Ouh, jadi kamu suka baca novel. Pantas saja kamu kenal Intan." Benny menanggapi salah satu kegemaran yang Fani sampaikan.
"Ya begitulah. Oya, sebenarnya ada satu lagi kegemaranku."
"Apa itu?" Benny masih antusias mendengarkan.
"Aku suka pakaian-pakaian bagus dan sedikit terbuka. Hihi." Jeda sebentar karena Fani melihat ada perubahan ekspresi di wajah Benny. "Begini-begini. Dulunya sih aku memang suka pakai pakaian sexy saat di ibukota. Karena profesiku juga. Tapi saat di luaran aku lebih suka pakai kaos biasa lengan panjang sama jeans. Tapi, sejak jadi sekretarisnya Bos Ezza, entah kenapa aku jadi suka lagi dengan pakaian yang sedikit terbuka. Memang sih, kena omel melulu sama Sandhi. Tapi Bos Ezza biasa-biasa saja tuh."
Fani bercerita panjang lebar. Sementara Benny, dia jadi bingung kenapa obrolan mereka jadi mengarah ke pakaian. Mau tidak mau, Benny harus menanggapi itu.
"Maksudmu seperti pakaianmu saat ini?" Benny memastikan.
Fani mengangguk.
"Bosmu sudah menikah?"
"Sudah."
"Gawat tuh. Bisa-bisa kamu dianggap pelakor sama istrinya." Benny menakut-nakuti Fani.
"Kok bisa? Aku kan sukanya sama kamu doang, Ben."
__ADS_1
"Ya bisa saja, Fan. Kamu pakai pakaian sexy, terus bosmu biasa-biasa saja. Kamu mana tahu dalam pikirannya, apalagi hatinya. Bisa saja bosmu diam-diam tergoda terus berencana menjadikanmu istri kedua. Kamu mau? Kalau mau berarti kamu harus siap tidak mendapatkan cintaku."
Benny lebay, sengaja melebih-lebihkan agar Fani bisa mengubah kebiasaan. Dan, usaha Benny pun mulai terlihat hasilnya. Mimik wajah Fani mulai berubah, dan kalimat yang disampaikan Fani selanjutnya sungguh membuat Benny puas mendengarnya.
"Ih-ih. Ya nggak mau, dong. Bos Ezza memang kaya raya, sih. Tapi kalau dijadikan istri kedua ya ogah. Mending sama kamu aja, Ben. Hidup sederhana juga tidak apa-apa. Yang penting kita saling cinta. Eh tunggu-tunggu, kamu sudah mulai ada perasaan juga kan?"
"Perasaan untukmu?"
"Iya. Untukku."
Benny terdiam. Sebenarnya Benny juga sudah memiliki ketertarikan pada Fani sejak pertama kali bertemu, bahkan sebelum Fani memaksa untuk dinikahi. Meski belum bisa dikatakan cinta, paling tidak dalam hati Benny sudah muncul ketertarikan yang sama dengan Fani.
"Em, bisa dikatakan seperti itu sih. Aku suka kamu, Fan. Kamu lucu."
"Hihihihi. Kamu orang pertama yang bilang aku lucu, padahal yang lain bilang aku ini nyebelin. Uuuuuh. Makin cinta deh sama kamu." Fani sungguh berani, dia bahkan mencubit-cubit gemas pipi Benny.
Kemudian ... tiba-tiba saja ada beberapa orang laki-laki bertubuh kekar dan berparas tampan menghampiri meja Fani dan Benny. Fani langsung tahu mereka itu siapa, sementara Benny yang tidak tahu apa-apa, dia panik dan bersiap melindungi Fani.
"Fani, berlindung di belakang punggungku. Cepat!" perintah Benny.
"Oke." Fani sok-sokan panik juga, padahal dia sudah tahu mereka itu siapa. Saat itu Fani salut dengan sikap gesit Benny yang menyuruh untuk berlindung di belakangnya.
Detik berikutnya, ada seorang lain yang berjalan mendekat. Tubuhnya juga kekar dan parasnya memancarkan pesona penuh pikatan. Orang ini tampak begitu berwibawa, apalagi di sampingnya ada seorang bodyguard yang sekaligus menjadi asistennya.
"Hei-hei. Kau, berhenti di sana. Jangan coba-coba mendekat!" ancam Benny yang saat ini menggenggam garpu.
Farel tersenyum penuh arti. Fokusnya terarah pada Benny. Sempat akan memuji juga karena Benny berani melindungi Fani.
"Apa kabar adikku Fani?" tanya Farel.
"Hai, Kak Farel. Aku sangat baik." Fani melambaikan tangannya sambil tetap bersembunyi di belakang Benny.
"Loh, ini kakakmu, Fan?" tanya Benny yang langsung mendapat anggukan.
Jeda sejenak. Benny mengamati Farel dari atas sampai bawah. Penampilannya begitu penuh pesona, apalagi bagian tubuh kekarnya begitu ... wah. Sampai-sampai Benny menelan ludah.
"Adikku Fani, apa dia lelaki yang membuatmu berpaling dari Sandhi Ardiaz Putra?"
"Dari dulu aku tidak punya rasa apa-apa sama Sandhi, Kak. Sandhi itu temanku, yang sudah banyak memberi bantuan. Semacam pahlawan. Tapi aku nggak punya perasaan. Dan, ini namanya Benny. Aku ingin Kak Farel merestui hubunganku dengan Benny. Kalau bisa secepat mungkin aku bisa menikah dengan Benny. Biar Kak Farel cepat punya keponakan. Enak nanti bisa main bareng anaknya Kak Farel."
Farel tidak langsung menanggapi cerita Fani. Dia lebih dulu mengamati Benny. Bahkan saat itu juga Farel berbisik pada asistennya untuk segera mencari tahu segala hal tentang Benny.
"Baiklah kalau itu maumu. Bolehkah aku pinjam kekasihmu ini?"
"Berapa lama, dan mau dibawa kemana? Harus jelas dulu tujuannya!" Fani mengantisipasi.
"Di suatu tempat, di kota ini. Tidak lama. Hanya setengah hari saja."
"Oke, setuju."
Fani langsung menyetujui, padahal Benny keberatan sama sekali. Jantung Benny bahkan berdebar-debar karena sama sekali tidak memiliki bayangan tentang sosok kakaknya Fani. Untung saja Fani menangkap gelagat Benny itu, sehingga dia membisikkan sesuatu di telinga Benny dari belakang, disusul dengan satu pelukan.
"Percaya padaku. Kamu akan baik-baik saja."
Benny menarik nafas pelan, kemudian mencoba tersenyum pada Fani. "Baiklah. Aku akan pergi bersama kakakmu."
Dan ... tepat di saat itu, Devano datang. Dia sempat kaget juga mendapati suasana di sana. Tapi Devano lekas mendapat kode mata dari Benny. "Dev, Tolong ke kantor sebentar dan minta si wawan menggantikanku selama setengah hari. Aku akan segera kembali!" seru Benny yang langsung mendapat anggukan dari Devano.
Kebingungan Devano segera terjawab saat Fani menghampiri. Fani yang tidak ikut bersama kakaknya pun langsung memberi penjelasan singkat dan seketika itu dimengerti. Bergegas pula Devano melaksanakan pesan Benny.
Apa yang akan dilakukan Farel pada Benny? Nantikan lanjutan ceritanya! Salam Luv 💜
__ADS_1
Bersambung ....