
Dalam perjalanan menuju suatu tempat yang Farel rencanakan, Benny berada dalam mobil yang sama dengan Farel tanpa sang asisten. Farel sengaja meminta asisten pribadinya itu untuk menemui Sandhi secara pribadi. Farel mempercayakan beberapa pesan pada sang asisten, dan tentunya semua itu Farel lakukan demi kebahagiaan Fani.
Selama di dalam mobil, Benny tidak banyak bicara. Aura di dalam mobil sungguh menegangkan, terasa dingin menusuk tulang. Bukan karena AC mobil yang dihidupkan, melainkan karena hati dan pikiran Benny penuh kekhawatiran.
Berulang kali bola mata Benny mencuri pandang ke arah Farel yang menurutnya sangat ... wow. Badan kekar Farel begitu mencuri perhatian, apalagi diimbangi dengan paras tampan memesona tapi juga sekaligus memancarkan kesan penuh wibawa. Seketika itu Benny teringat cerita Fani yang mengatakan hobi Farel. Mengingat itu semua membuat Benny auto menelan ludah sampai-sampai mengelus dada.
Kurang lebih sekitar 30 menit waktu yang dibutuhkan hingga sampai di tempat tujuan. Tidak disangka-sangka, rupanya Farel membawa Benny ke restoran mewah. Padahal Benny sudah menebak-nebak tempat tujuan menyeramkan beserta tantangan tidak masuk akal yang mungkin akan diberikan. Kini tebakan Benny terbukti meleset, dan dia pun tidak berniat membuat tebakan-tebakan lain setelahnya. Yang dilakukan Benny hanya mengekor langkah Farel hingga sampailah mereka di bagian meja VIP.
Farel yang menentukan semua pesanan. Tidak banyak, hanya dua porsi steak daging spesial beserta minumannya. Untung saja Benny tidak punya masalah dengan alergi makanan, sehingga dia tidak panik ataupun menolak saat makanannya terhidang. Sampai saat selesai makan pun, sama sekali belum ada obrolan yang dibuat. Sungguh suasana makan yang benar-benar tenang.
"Benny Liam Syahroni, apa kau menikmati makananmu?" tanya Farel usai menyelesaikan makanannya.
Benny sedikit terkejut karena Farel menyebut nama lengkapnya tanpa celah apalagi salah, padahal jelas-jelas dia baru bertemu Farel hari ini saja. Benny belum tahu kuasa uang Farel, sehingga Farel begitu mudah mendapat informasi melalui sekretaris kepercayaannya, sekretaris yang saat ini sedang ditugaskan menemui Sandhi.
"Iya. Terima kasih atas makanannya." Benny berusaha mengimbangi sikap Farel yang tenang, meski hatinya gusar.
Jeda sebentar. Farel tampak meneguk minumannya dengan elegan. Tidak mau kalah, Benny pun mengikuti Farel, juga meneguk minumannya dengan elegan.
"Benny Liam Syahroni, boleh aku tahu apa saja kegiatan sehari-harimu?" tanya Farel, yang sebenarnya baru saja mengantongi informasi-informasi lengkap tentang Benny termasuk rutinitasnya.
Ditanya demikian, Benny pun menceritakan detil rutinitas hariannya dengan lancar dan dengan sedikit senyuman. Rutinitas saat di kontrakan pun dia ceritakan, tapi hanya bagian yang baik-baik saja. Untuk kebiasaan buruk, tentu saja dia simpan dengan aman.
"Apa kau suka berbohong?" tanya Farel.
"Saya berbohong di saat-saat tertentu saja, jika terdesak dan demi kebaikan."
Ya. Benny memang seperti itu orangnya. Dia tidak pernah menutupi apa pun, bahkan sering berkata apa adanya, mengungkap semua isi pikirannya, tidak peduli juga jika kalimatnya itu kurang sopan untuk didengar pendengarnya.
"Apa kau punya musuh?" Farel terus bertanya.
Tentang pertanyaan yang satu ini, Benny tampak terdiam. Dia tidak tahu apa sikap buruk di masa lalunya terhitung sebagai tindakan permusuhan. Yakni sikap sengit pada Devano saat masih sama-sama bekerja di kota asal. Saat itu Benny kurang suka pada Devano dan Jefri, tapi rasa tidak suka itu sudah hilang seiring fakta Dhea yang menghilang.
"Em, jujur saja, sih. Dulu saya pernah membenci seseorang karena saya kalah bersaing dalam hal cinta. Tapi, sekarang orang yang saya benci itu justru menjadi partner terbaik dalam pekerjaan yang saat ini saya tekuni. Bahkan kami satu kontrakan. Sejak saat itu saya sadar, di dunia ini tidak ada hal yang mustahil, apalagi niatnya untuk memperbaiki hubungan agar jadi lebih baik. Sekarang saya dan Devano sudah jadi teman baik."
__ADS_1
Jawaban yang terdengar bijak, apalagi Benny mengungkap itu semua dengan penuh kejujuran. Tidak menutup-nutupi, apalagi melebih-lebihkan kondisi di masa lalu ataupun saat ini.
Ternyata oh ternyata, diam-diam Farel menggarisbawahi kalimat Benny. "Di dunia ini tidak ada hal yang mustahil, apalagi niatnya untuk memperbaiki hubungan agar jadi lebih baik." Sejujurnya, saat ini Farel teringat hubungannya dengan sang adik, Fani. Fani yang dulunya begitu akrab dengan Farel, kini seolah ada sekat yang membuat mereka tidak lagi dekat. Farel ingin memperbaiki itu, tapi tidak bisa.
"Apa kau menyukai uang yang banyak?" tanya Farel lagi.
"Tentu saja sukalah. Siapa pun kalau ditanya seperti itu jawabannya pasti sama dengan saya. Hanya saja, terkadang ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau meski kita dalam keadaan beruang banyak sekalipun."
"Apa itu?"
"Kebahagiaan," ucap Benny, sok bijak. Diam-diam dia telah menangkap ketertarikan Farel atas ucapannya. Benny yang cerdik langsung memahami arah pembicaraan, dan mengambil kesempatan dengan menyelipkan kebijaksanaan.
Dan, lagi-lagi kata-kata Benny dibenarkan oleh Farel. Setiap ucapan Benny terus direkam, dipikirkan, bahkan digarisbawahi dengan penuh keseriusan. Farel membenarkan, karena meskipun dia punya banyak uang, dia kurang bahagia karena hubungannya dengan sang adik renggang sudah beberapa saat lamanya. Pernah Farel hendak membantu keuangan Fani dengan syarat, itu pun Farel lakukan karena ingin melihat Fani bahagia, ternyata oh ternyata Fani justru menolak bantuannya mentah-mentah, selanjutnya justru kabur ke luar kota.
Farel mengangguk-angguk usai menyelesaikan pemikiran. Selanjutnya, lagi-lagi Farel bertanya tanpa sungkan.
"Benny Liam Syahroni, apa saat ini kau dalam suatu hubungan?"
Farel mengangguk sebagai jawaban.
"Em, bisa dikatakan seperti itu, sih. Baru tadi pagi Fani mengajakku menikah."
"Lalu apa kau bersedia?"
"Ya bersedia dong. Fani yang ngajak nikah, masa iya aku tolak."
Deg!
Benny terkaget dengan kalimatnya sendiri. Langsung menyesal karena menjawab spontan tanpa pemikiran ataupun kalimat penuh kebijaksanaan seperti yang sebelum ini dia ucapkan.
"Ehem, maaf. Maksudnya, saya bersedia karena saya juga mencintai Fani."
"Apa kau tau kalau adikku Fani punya hutang?"
__ADS_1
"Ohya? Ya .... kalau begitu nanti saya bantu untuk melunasinya. Saya kan punya pekerjaan, jadi bisa membantu Fani melunasi hutang."
"Hutangnya banyak. Sampai sepuluh juta," sahut Farel.
"Kalau begitu biar dicicil saja. Karena gaji bulanan saya tidak sampai segitu banyak." Di akhir kalimatnya Benny nyengir kuda.
Farel melihatnya. Terkadang Benny memang blak-blakan, tapi apa yang dia katakan adalah benar. Khususnya bagian yang baru saja Benny ucapkan. Farel bisa menangkap adanya keseriusan meski kalimatnya diakhiri dengan cengiran.
Detik berikutnya, Farel mengambil ponsel dan menelpon sekretarisnya. Satu kali kode, sang sekretaris langsung melaksanakan perintah.
"Benny Liam Syahroni, selamat berbahagia dengan adikku Fani. Pertemuan selanjutnya, mari kita bahas rencana pernikahan kalian." Usai berkata demikian, Farel berdiri, menuju kursi Benny, kemudian memeluknya dengan penuh kehangatan.
Sungguh, rasa-rasanya Benny seperti sedang bermimpi. Awalnya Benny mengira bahwa dirinya akan diajak duel, disuruh menyelesaikan tantangan, atau bahkan akan diminta menjauhi Fani. Ternyata, yang didapatkan Benny adalah satu keberuntungan.
"Aku akan menikah? Ah, senangnya!" Batin Benny.
Sementara itu, di lain tempat, sekretaris Farel tampak menyodorkan sekoper penuh dengan uang kepada Sandhi. Sekretaris Farel mengatakan bahwa uang-uang itu untuk membayar kontrakan sekaligus untuk melunasi hutang-hutang Fani.
"Bersama dengan ini, tantangan 31 hari resmi dibatalkan. Nona Fani akan segera berbahagia dengan Tuan Benny," terang sang sekretaris.
Saat itu juga Sandhi langsung memejamkan matanya untuk sejenak. Ada rasa syukur sekaligus kelegaan di hatinya.
"Bagaimana dengan Intan? Apakah kalian masih akan mengganggunya?" Tiba-tiba saja Sandhi teringat Intan.
"Dia bebas. Kamu bebas. Karena Tuan Farel sudah menemukan lelaki pemberani yang pantas bersanding dengan Nona Fani."
Sandhi spontan tersenyum saat kata pantas diungkapkan sang sekretaris. Detik itu juga Sandhi merasa benar-benar lega, tapi juga iba pada dirinya. Masalahnya, sampai detik ini pun dia belum bertemu dengan tambatan hatinya.
"Jika wanita itu bukan Intan, bukan juga Fani, lalu siapa yang akan menjadi jodohku nanti?" Batin Sandhi.
Bersambung ....
NB: Mohon maaf sempat tidak up. Semoga masih berkenan menanti lanjutan ceritanya. Salam Luv 💜
__ADS_1