PANTAS

PANTAS
Bab 29 - Bertengkar


__ADS_3

“Kenapa diam saja, San? Apa kau masih belum bisa merelakan Intan?”


“Iya,” jawab Sandhi dengan sejujurnya.


Devano sudah menduganya sedari awal. Tidak mungkin Sandhi hanya berniat berkenalan tanpa ada yang ingin dia perjuangkan. Setidaknya, Sandhi pastilah memiliki banyak untaian kata yang akan disampaikan demi menuntaskan rasa kecewanya atas pilihan Intan. Sandhi, dia telah menjadi sosok yang tidak terpilih. Meski rasa kecewanya tidak diungkap lewat kata, tapi rasa sakitnya begitu nyata.


Atmosfir di sekitaran danau mendadak berubah. Suasana menjadi tegang, lebih serius karena Devano dan Sandhi saling beradu tatapan mata tajam. Sama sekali tidak ada senyuman. Yang ada hanyalah keseriusan.


“Katakan!” Devano maju satu langkah, mendekat ke arah Sandhi. “Katakan saja apa yang mau kau katakan.”


Merasa mendapat kesempatan, Sandhi pun mengungkap semua yang dia rasakan. Sama sekali tidak sungkan, dan tidak peduli lagi andai Intan tahu apa yang dia sampaikan.


“Bertahun-tahun aku menyimpan perasaan untuk Intan. Sejak kami sama-sama kuliah S1. Tapi, saat itu aku merasa belum pantas untuknya. Aku putuskan untuk lanjut S2, dan akan langsung melamar begitu lulus kuliah.”


“Lalu? Apa niatmu sudah tersampaikan?”


Sandhi menggeleng. “Aku lebih dulu dijodohkan, dan dengan mudahnya aku mengiyakan. Selanjutnya, justru aku batalkan secara sepihak. Kuputuskan juga untuk kembali mengejar cinta Intan. Sayangnya, ada kau di sana, menghalangi jalanku.”


“Hei, Sandhi. Jangan menyalahkan orang lain untuk satu kesalahan yang kau perbuat sendiri. Aku tidak pernah menghalangi jalanmu. Kau sendiri yang keliru memilih langkah maju!”


Sandhi langsung membuang pandang. Dia tertampar ucapan Devano. Memang, langkahnya telah salah sedari awal. Harusnya Sandhi bisa lebih tegas dalam menentukan pilihan. Namun, dasar hati Sandhi sedang tidak baik-baik saja. Jadilah setan sebagai pihak ketiga dengan mudahnya akan dijadikan kambing hitam atas diri yang merasa tidak ingin dikalahkan oleh kenyataan yang ada.


Usai jeda berdetik-detik lamanya, Sandhi kembali membuka suara. Masih ada yang ingin dia tanyakan.


“Oke. Aku memang salah langkah. Tapi aku tetap pantas mendapatkan hati seseorang yang kucinta. Harusnya Intan memilihku, bukan kau, Dev!”


“Aku paham. Tapi kau tidak pantas memaksa Intan untuk mengubah pilihan.”


“Jadi menurutmu kau lebih pantas untuk Intan?”


Dimulailah, Sandhi menggunakan kata pantas dan mengaitkannya dengan perjuangan cinta. Sementara Devano, dia sama sekali tidak mau kalah.


Gejolak cinta terkadang memang membutakan. Lisan yang seharusnya terkontrol, dengan mudahnya meluncurkan kata yang tidak pantas untuk diutarakan. Itulah yang saat ini terjadi pada diri Sandhi. Dengan mudahnya dia terbawa emosi hati.


“Pantas itu pembuktian. Aku telah membuktikan pada Intan bahwa aku tidak hanya mengumpulkan pendapat tentang kepantasan. Aku memilih terus maju, hingga akhirnya tersampaikan juga perasaan itu.” Devano meminjam kalimat Yoga yang pernah disampaikan padanya saat di Café Bintang.


“Hanya itu saja usahamu, ha? Mudah sekali Intan menerimamu?” Sandhi masih tidak terima.


“Kau masih meragukanku?” Devano ikut-ikutan terpancing emosi.

__ADS_1


“Iya.”


“Oke. Aku tantang kau menggambar mawar seperti permintaan Gion tadi. Apa kau bisa? Tidak, kan?”


“Kalau begitu, aku tantang kau mengajar. Kau pasti tidak bisa, kan? Sudah jelas, akulah yang lebih pantas untuk Intan.”


“Bukan kau, tapi aku. Jelas-jelas Intan telah memilihku.”


“Ber-henti!” seru Reynal yang baru saja datang.


Peran Reynal sebagai sahabat dimulai. Dia tidak ingin momen awal perkenalan Devano dan Sandhi justru berubah menjadi permusuhan.


“Sandhi. Ingat niat awalmu menemui Devano, hanya untuk berkenalan. Bukan bermusuhan. Dan kau, Dev. Kau sudah berjanji padaku tidak akan bersikap berlebihan.”


Seketika itu juga Devano dan Sandhi terdiam. Perkataan Reynal benar, memang itulah yang diniatkan di awal. Sayangnya yang terjadi tidaklah demikian.


“Rey, bilang pada temanmu ini. Tegaskan padanya bahwa Intan telah memilihku, bukan dia!” Devano mengucapkannya sambil tetap melayangkan tatapan tajam ke arah Sandhi.


“Reynal. Bilang padanya, kalau sampai Intan tidak bahagia, akulah yang akan maju dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."


“Ck. Berani-beraninya kau berkata seperti itu. Rey, sampaikan padanya ….”


Ancaman Reynal berhasil mengubah mimik wajah Devano dan Sandhi. Apapun yang mereka lakukan di danau berair jernih, Intan tidak boleh sampai mengetahui.


“Kalian sudah tenang?” tanya Reynal sambil tetap mengangkat ponselnya, dengan nomor ponsel Intan yang sudah terpampang di layar.


Baik Devano ataupun Sandhi tidak ada yang menjawab Reynal. Mereka menunjukkan sikap diam. Mulai tenang, tapi masih saling melempar lirikan.


Melihat sikap Devano dan Sandhi yang demikian, Reynal berniat kembali mengancam. Namun, mendadak saja ada sesuatu di luar dugaan. Ada pesan masuk di ponsel Reynal. Pesan itu dari Jefri. Dia mengabarkan bahwa Intan akan segera menyusul ke danau berair jernih.


"Gawat! Intan benar-benar akan datang ke sini.”


***


Intan, dia menahan rasa kesal sekaligus kekhawatiran. Motornya sudah siap dilajukan menuju danau berair jernih. Intan akan menemui Devano dan Sandhi, mengomeli mereka, dan memutuskan untuk menyelesaikan segala urusan di sana.


Awalnya Intan tidak tahu-menahu. Tetiba saja Jefri datang menemuinya, kemudian memberi tahu semuanya. Jefri sendiri juga awalnya tidak tahu, sama seperti Intan. Jefri baru tahu saat datang menjembut Devano ke rumahnya. Yang Jefri temui justru Yoga. Dari sanalah Jefri mendapat kabar tentang Devano, Reynal, dan Sandhi yang tengah berada di danau berair jernih. Jefri dengan segala overthinking-nya, dia tidak mau ada hal buruk yang terjadi di sana. Jadilah, Jefri menyuruh Intan untuk segera menyusul dan menjadi penengah.


“Jef, kau mau ikut?” Intan menawari. Kebetulan Jefri belum pulang setelah memberi kabar pada Intan.

__ADS_1


“Nggak, deh. Hari ini aku ada jadwal shift. Harusnya sih Devano juga ada jadwal, tapi sepertinya dia sudah menukar jadwal shiftnya dengan rekan lain.”


“Baiklah. Aku berangkat sendiri. Beri tahu Reynal kalau aku dalam perjalanan.”


“Siap, Tan. Hati-hati di jalan, ya.”


Intan mengangguk, kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tidak cukup dengan laju kecepatannya, Intan pun menambah kecepatan saat meninggalkan area jalanan besar. Untung saja Intan masih hafal jalan yang pernah dia lalui. Untung juga saat itu jalanan yang dilalui tidak terlalu sepi, sehingga Intan tidak khawatir jika harus menempuh perjalanan seorang diri.


Di sisi kanan-kiri area sawah yang Intan lalui, tampak beberapa petani yang tengah memanen padi. Terlihat sangat sibuk dan fokus. Layaknya Intan yang tengah fokus mengemudikan motornya untuk segera sampai di danau berair jernih.


Beberapa menit telah berlalu, Intan hanya tinggal membelokkan motornya ke arah kanan begitu area persawahan habis di ujung jalan. Namun, laju motor Intan harus terhenti sebelum jalanan-jalanan itu Intan lalui.


“Ternyata kalian menungguku di sana,” ucap Intan saat melihat Devano, Sandhi dan Reynal.


Ya. Devano, Sandhi, dan Reynal memutuskan untuk menunggu Intan di jalan masuk sebelum ke arah danau berair jernih. Itu inisiatif Devano, karena dia tidak ingin Intan melalui jalanan bergeronjal dengan emosi yang berantakan.


Motor Intan berhenti tidak jauh dari tumpukan padi yang sudah dipanen. Ada beberapa petani juga di sana. Intan tidak bisa melajukan motornya lebih jauh lagi karena ada kendaraan dan barang-barang milik para petani yang saat itu siap diangkut di pick up yang terparkir di sana.


Sementara itu, sepuluh meter dari tempat parkir motor Intan, tampak Devano, Sandhi dan Reynal. Dari kejauhan senyum mereka bertiga tampak mengembang. Itu juga bagian dari perencanaan, inisiatif Devano, agar Intan tidak mengomel apalagi sampai berpikiran macam-macam.


“Hai, Tan!” seru Devano sambil melambaikan tangan dan bersiap menyambut kedatangan Intan.


Langkah Intan mulai terayun, tapi mendadak terhenti karena ada mobil yang tiba-tiba lewat di sampingnya. Mobil itu pun juga mendadak balik arah, hingga membuat Intan harus menunggu sebentar agar tidak tersenggol badan mobil. Akan tetapi, sesuatu terjadi. Begitu mobil itu selesai putar arah, pintu mobil pun terbuka. Dan .... Mengejutkan. Tiba-tiba saja mulut Intan dibekap, kemudian dipaksa masuk ke dalam mobil.


“Hmmmm!” Intan berusaha membela diri.


Devano, Sandhi, dan Reyanl spontan berlarian mendekat. Petani yang melihat tidak berani, sehingga lebih memilih memudahkan langkah tiga lelaki yang berniat menyelematkan Intan. Sayang sekali, Intan sudah berada di dalam mobil. Devano yang melihat pintu mobil yang belum ditutup pun segera mengambil langkah gagah. Tangannya menerobos masuk, lantas menjotos asal wajah si pria yang membekap mulut Intan.


“Deeev!” seru Intan.


Lengan Intan diraih Devano, tapi terlepas lagi karena pria tadi mendorong tubuh Devano hingga terjatuh. Dan .... Pintu mobil tertutup. Masih dalam keadaan terjatuh, Devano harus menyaksikan mobil yang membawa Intan melaju kencang meninggalkan area persawahan.


“Deeev, toloooong!”


“Intaaaaan!”


Intan diculik? Benarkah? Kenapa tiba-tiba? Apa yang sebenarnya terjadi? Nantikan lanjutan kisah romantis yang bikin baper ini. Like+Fav. Salam Luv. 💜


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2