
Sore hari, Sandhi datang mengunjungi kontrakan Fani. Dia membawa beberapa bungkus makanan titipan mamanya. Awalnya Sandhi menolak untuk berangkat, tapi sang mama terus mendesak. Alasannya sederhana, karena sang mama begitu bahagia, juga sekaligus akan lebih memperhatikan kebutuhan Fani selama masih tinggal di kontrakannya.
Sebenarnya, bukan hanya Sandhi yang didatangi oleh sekretaris Farel, tapi mama Farel juga. Semua itu gegara Sandhi yang hanya mau menerima uang sepuluh juta saja, yakni bagian dari hutang Fani saja. Untuk biaya kontrakan, Sandhi menolak untuk menerimanya.
Tidak ingin berdebat dengan Sandhi, sekretaris Farel memilih untuk menemui mama Sandhi yang sejatinya adalah pemilik kontrakan yang asli. Sekretaris Farel begitu sopan, bahkan lihai membuat pujian-pujian yang membuat hati mama Sandhi senang. Juga, sekretaris Farel datang membawa sekoper penuh uang, digunakan untuk membayar kontrakan selama beberapa tahun ke depan.
Sama seperti Sandhi, sang mama juga hanya mau menerima total biaya kontrakan sesuai lama tahun mengontrak yang disebut sang sekretaris. Yang membuat mama Sandhi kini berubah jadi lebih memperhatikan Fani yakni karena mama Sandhi dihadiahi voucher belanja di salah satu store terkenal di kota tersebut, dan store yang dimaksud adalah incaran mama Sandhi. Informasi yang didapat sekretaris Farel benar-benar jitu, sampai store incaran mama Sandhi pun dia tahu.
Mama Sandhi tidak berencana menarik kata-katanya pada Sandhi, tentang jodoh pilihan yang sebelumnya menjadi pembahasan. Mama Sandhi hanya ingin memberi perhatian lebih karena kebaikan Farel dan sekretarisnya yang sudah berbaik hati memberi voucher belanja.
Sekretaris Farel juga memberi tahu pada mama Sandhi bahwa Fani akan segera melangsungkan pernikahan dengan seseorang yang bernama Benny. Menyampaikan pula bahwa besar kemungkinan Fani dan Benny akan tinggal di kontrakan mama Sandhi. Dan, semua ini tidak terlepas dari prediksi Farel. Dia sudah mengira bahwa Fani tidak akan begitu saja menerima bantuan dana sampai kepercayaannya kembali. Jadilah, biaya kontrakan seketika itu dilunasi hingga beberapa tahun ke depan.
"Boleh aku masuk?" tanya Sandhi begitu sampai di depan gerbang kontrakan. Saat itu Fani sedang duduk-duduk di teras depan, sedang telponan dengan Benny.
"Silakan masuk, Sandhi." Fani terlihat begitu riang.
Sandhi menyerahkan bungkusan makanan titipan dari mamanya pada Fani. "Dari mamaku. Terimalah."
"Sampaikan terima kasihku pada beliau ya. Ayo masuk. Duduklah dulu. Sebentar, aku buatkan minuman."
Fani tidak biasanya baik seperti ini. Biasanya dia sebal melihat Sandhi yang sangat sering datang ke kontrakan demi menyelesaikan tantangan 31. Karena kini Fani sudah tahu ending-nya, jadilah dia kembali bersikap normal di hadapan Sandhi. Tidak menunjukkan wajah sebal seperti sebelumnya, bahkan sampai repot membuatkan minuman segala.
"Sandhi, terima kasih atas kebaikanmu selama ini," ucap Fani usai membawakan minuman.
"Sama-sama."
"Aku ...." Fani menjeda kata. Dia tersenyum. "Aku akan segera menikah," ucapnya kemudian.
"Dengan Benny?" tanya Sandhi yang sebenarnya sudah tahu.
"Iya. Tapi, aku akan tetap tinggal di kota ini, kok. Di kontrakan ini. Ya, mungkin sampai kami bisa beli rumah sendiri."
"Silakan saja. Dan, selamat untukmu, semoga selalu berbahagia." Sandhi mengimbangi mode riang yang sedari tadi dipancarkan Fani.
"Terima kasih. Kamu juga, semoga segera bisa bertemu dengan jodohmu, ya. Wanita itu pasti akan sangat beruntung mendapat cinta dari lelaki baik sepertimu."
Atas doa Fani itu, Sandhi menanggapi hanya dengan satu senyuman ringan, tapi dalam hatinya meng-aamiin-kan. Sejujurnya Sandhi pun ingin segera bertemu dengan jodohnya. Ya, meski sampai sekarang belum tahu siapa wanita yang akan ditakdirkan hidup menua bersamanya.
***
Senja sudah mewarnai langit. Devano baru saja tiba setelah tadi menemui Benny dan bercerita banyak tentang kejadian tidak terduga yang ujung-ujungnya membawa keberuntungan sendiri. Devano ikut senang, karena Benny akan segera menikah dengan Fani, apalagi telah mendapat restu tanpa syarat dari Farel. Sungguh sesuatu sekali.
Kontrakan terlihat sepi saat Devano melangkah masuk. Begitu salam, barulah terdengar sahutan. Tapi, yang menyahuti hanya Mira. Devano jadi bertanya-tanya tentang Intan dan kondisi terbarunya.
"Kak Intan masih tidur, dari tadi. Mira jadi nggak tega buat bangunin," terang Mira.
"Tolong kamu bangunin pelan-pelan, ya. Sekalian sebentar lagi kita makan malam. Ini sudah aku bawakan." Devano menunjukkan beberapa bungkus makanan.
"Oke, siap. Mira bangunkan dulu, Kak."
Devano menuju dapur. Dia langsung menghidupkan kompor dan memasak air. Tanpa perlu menawari dulu, secangkir teh siap terhidang untuk Intan. Dan, benar saja, ternyata teh buatannya benar-benar dibutuhkan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Devano pada Intan sambil duduk di tepian ranjang. Ada Mira juga di sana.
"Sudah lebih baik, kok." Senyum Intan mengembang di akhir kalimatnya.
Devano tidak percaya sepenuhnya dengan pengakuan Intan, karena tampak jelas wajah Intan masih pucat. Suaranya pun serak, dan sesekali mengusap bagian hidung dengan tisu yang tersedia.
"Minumlah dulu tehnya. Kemudian makan lagi, ya. Kamu bisa makan di sini saja ditemani Mira."
Intan menggeleng. Dia tidak mau makan di kamar. Inginnya makan di meja makan saja bersama-sama dengan Devano dan Mira. Juga, Intan lebih dulu berniat ke kamar mandi untuk menyegarkan wajah.
"Biar Mira yang nemenin Kak Intan. Kak Dev istirahat dulu saja sebentar, ganti baju atau mandi dulu sana. Setelah itu baru makan bareng-bareng. Gimana?" Mira menangkap kekhawatiran Devano.
__ADS_1
"Baiklah.Tolong ya, Mir. Aku tinggal dulu."
"Oke, siap."
Intan sengaja izin lebih dulu ke kamar mandi, menyegarkan diri, khususnya bagian wajah agar tidak terlalu lesu. Pikir Intan, dirinya akan terlihat lebih segar sehingga Devano tidak lagi khawatir berlebihan. Akan tetapi, air yang terlampau dingin justru membuatnya menggigil kedinginan.
"Kak Intan?" Mira kaget begitu melihat Intan justru menggigil kedinginan.
"Sst. Jangan keras-keras, Mir. Nanti Devano dengar."
Mira segera meminta kakaknya itu untuk kembali ke kamar. Langsung memberinya selimut tebal.
"Kak Dev bener nih. Sebaiknya Kak Intan makan di sini saja, minum obat terus istirahat lagi."
"Kakak tidak apa-apa, Mir. Tadi airnya terlalu dingin."
"Tuh kan, jadi nyalahin airnya. Bandeeeel."
Mira spontan mencubit pipi Intan karena gemas. Tapi, dia justru kaget sendiri saat mendapati pipi kakaknya yang terasa hangat.
"Yah yah, Kak Intan demam lagi, nih."
"Kakak tidak apa-apa, Mir. Cuma hangat sedikit. Bentar lagi juga membaik."
"Mira heran, deh. Apa setiap kakak di dunia ini seperti Kak Intan? Selalu saja bilang baik-baik saja, tidak apa-apa, dan itu semua hanya untuk membuat Mira tidak khawatir. Uuumm." Tiba-tiba saja Mira memeluk Intan.
"Mira tuh sayang sama kakak. Jangan bilang nggak papa melulu, dong. Sekali-kali jujur gitu, Kak. Biar Mira gercep bantuin kakak. Mira kan juga ingin jadi adik berguna."
Hati Intan tersentuh dengan sikap dadakan Mira. Sejujurnya Intan memang tidak ingin membuat siapapun khawatir dengan kondisinya. Bagi Intan, merepotkan orang lain itu sungguh tidak nyaman. Namun, apa yang baru saja Mira katakan ternyata cukup membuatnya sadar. Ada kalanya seseorang memang harus merepotkan, bukan untuk mencari perhatian melainkan karena seseorang memang tidak bisa melakukan segala hal secara sendirian, pasti di satu waktu juga butuh bantuan.
"Maafkan kakak, ya Mir."
"Tuh, sekarang malah minta maaf. Padahal Kak Intan nggak salah apa-apa." Mira masih saja memeluk kakaknya.
Mira langsung mengambilkan apa yang Intan minta, kemudian membantu menyelimutinya.
"Apa lagi, Kak?" tanya Mira dengan semangat.
"Sekarang, tolong ambilkan obat itu."
"Mau diminum sekarang? Tapi makan dulu ya, Kak."
"Baiklah. Kalau begitu tolong suapi kakak, ya."
Lagi-lagi Mira bersemangat. Dia bergegas menemui Devano, menyampaikan kondisi Intan, kemudian izin makan bersama kakaknya di kamar. Tentu saja Devano mengizinkan, apalagi semua demi kebaikan Intan. Kini, Mira menyuapi kakaknya. Setelah memastikan kakaknya itu minum obat, baru Mira tidak lagi bertanya apa yang dibutuhkan.
Mira menemani Intan sampai terlelap. Baru setelahnya dia mengecek pesan-pesan dan sedikit menyibukkan diri dengan tugas perkuliahan. Begitu selesai, kantuk menyerang. Memang, sedari pagi Mira belum sempat beristirahat. Jadilah, kini dia terlelap di samping Intan.
Pukul sembilan tiga puluh malam, Intan terjaga. Badannya terasa jauh lebih segar dibanding sebelumnya. Dan, saat itu Intan mendapati Mira yang tertidur dengan begitu pulasnya. Intan tidak ingin mengganggu adiknya. Perlahan, Intan turun kemudian menuju dapur kontrakan. Intan haus.
Ternyata, di dapur ada Devano.
"Sudah lebih baik?" Devano mempersilakan Intan duduk di kursi.
"Iya, sudah. Em, Dev. Bisa minta tolong ambilkan segelas air?"
"Tunggu sebentar, ya. Biar aku ambilkan."
Sikap Devano sungguh membuat Intan begitu nyaman. Rasanya senang bisa mendapat begitu banyak perhatian dari Devano. Pikir Intan, ini adalah hikmah dari dirinya yang sakit dadakan.
"Ada yang lain?" tanya Devano setelah melihat Intan meneguk air.
Intan mengangguk. "Iya, ada. Tolong temani aku mengobrol sebentar ya, Dev."
__ADS_1
Jarang-jarang Intan meminta demikian. Dan, tentu saja Devano langsung mengiyakan.
"Apa kamu ingin mendengar cerita kecil?" Devano memulai obrolan.
"Boleh. Apa itu dongeng sebelum tidur?" Intan menduga bahwa Devano setelah ini pasti akan menyuruhnya kembali untuk tidur.
"Ini ... cerita romantis tentang Fani dan Benny."
Intan tertarik mendengarnya. Dan, dimulailah cerita Devano. Cerita itu berdasarkan pengakuan dari Benny. Dari Benny jugalah Devano jadi tahu bagaimana perjuangan Fani.
"Jadi, mereka akan segera menikah?" Intan terkejut, tapi tersirat rasa bahagia di wajahnya.
"Iya. Kakaknya Fani juga sudah merestui hubungan mereka. Jadi ...." Devano mencondongkan wajah tapi sorotnya masih tampak ramah. "Jangan kepikiran Fani lagi, ya. Dia sudah memiliki seseorang yang akan menjaganya di sini."
Intan setuju dengan itu. Namun, mendadak saja dia teringat Sandhi. Jika Fani dan Benny akan menikah, itu artinya Sandhi gagal menyelesaikan tantangan 31 hari itu. Padahal baru saja Intan tahu, itu pun dari pengakuan Sandhi saat di rumah makan, ya sebelum akhirnya jadi bubar saat ada Devano.
"Sandhi akan berjodoh dengan orang yang tepat. Bukan kamu ataupun Fani," imbuh Devano seolah bisa menerawang ke dalam pikiran Intan.
Intan tidak menanggapi dengan kata, melainkan dengan senyuman. Bagi Intan, omongan Devano benar. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Setelah ini Sandhi pasti akan berjodoh dengan orang yang tepat, begitulah pikir Intan.
"Sudah dulu ya ngobrolnya." Devano semakin menunjukkan nada ramah. "Sekarang, kamu harus kembali istirahat di kamar."
"Tuh kan benar. Pasti ujung-ujungnya disuruh cepat tidur lagi."
"Biar segera sehat lagi, Tan. Besok, aku yang akan mengantarmu pulang."
"Eh, tidak perlu, Dev. Aku naik bus saja. Badanku sudah lebih enak, kok."
Devano menggeleng, kemudian mengayunkan langkah menuju kursi yang ditempati Intan.
"Tuan putri jangan menolak lagi, ya. Tidak baik loh."
"Tapi, nanti kamu diomeli bosmu gimana?"
"Bosku yang sekarang adalah Benny. Dan, dia mengancam akan memecatku kalau aku tidak becus menjagamu. Dia juga yang mendesakku agar mengantarmu pulang," terang Devano.
Ya, memang itulah tadi yang Benny katakan. Sengaja Benny melakukan itu semua karena tengah berada dalam suasana hati gembira. Pikir Bennny, jika dia memudahkan urusan Devano, maka urusannya juga akan menjadi mudah. Terkait pekerjaan, dengan mudah Benny akan mengatur ulang. Jika diperlukan, Devano juga sangat bisa dia minta kerja lembur. Yang terpenting saat ini, Benny ingin mempermudah urusan Devano dan Intan.
"Bisakah aku menolakmu, Dev?" Tiba-tiba saja Intan berkata demikian.
"Tidak bisa, karena aku akan tetap memaksa sampai kamu bersedia." Devano mengucapkan kalimat itu dengan ramah.
"Em, baiklah. Aku mau diantar. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Aku mau ngobrol lebih lama lagi malam ini denganmu. Boleh?"
Devano menggeleng tegas. Jika tidak sedang dalam keadaan sakit, maka dia akan mengizinkan Intan. Namun, kondisi Intan saat ini sama sekali tidak memungkinkan.
"Istirahatlah lagi. Kalau masih tidak mau ... aku akan menggendongmu sekarang juga. Mau?"
"Tidak"
"satu ... dua ...."
"Oke-oke. Aku kembali ke kamar." Intan tertawa ringan.
"Gitu dong. Tuan putri harus segera sehat ya." Devano mempersilakan Intan berdiri. "Nice dream, Tan." Devano sempat berkata demikian sebelum Intan sampai di pintu kamar
Sebagai balasan, Intan hanya tersenyum kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Saat hendak kembali beristirahat, saat itulah Intan tidak sengaja mendengar Mira mengigau menyebut nama seseorang. Dan, nama yang disebut adalah nama .... Sandhi.
"Mungkinkah Mira akan berjodoh dengan Sandhi?" Batin Intan. Tiba-tiba saja Intan berpikir demikian.
__ADS_1
Bersambung ....