
Usai memberi tahu segala hal tentang Devano pada ibunya, Langkah Intan terayun menuju kamar Mira. Bukan untuk meluapkan amarah karena cerita karangan sebelumnya. Intan hanya ingin meredam kekhawatiran dengan berbagi cerita pada adik perempuannya.
“Buka pintunya, Mir.”
“Nggak mau!”
Nada suara Intan sudah terdengar ramah, tapi Mira tetap saja tidak mau membuka pintu kamarnya. Sengaja Mira bersikap demikian karena tidak ingin mendapat omelan berlebihan dari Intan.
“Kakak nggak marah, Mir. Buka pintunya sebentar saja.”
“Beneran nggak marah?”
“Iya. Buka pintunya sebentar, ya. Ada yang mau kakak sampaikan, nih.”
Beberapa detik lamanya tidak ada respon balasan dari Mira. Namun, setelahnya pintu kamar terbuka. Mulanya terbuka hanya sedikit saja. Begitu Intan melebarkan senyuman dan menampilkan wajah ramah, barulah Mira membuka penuh pintu kamarnya.
“Kak Intan nggak marah?”
Intan menggeleng tegas, kemudian nyelonong masuk ke dalam kamar Mira.
“Eh-eh, nggak! Kak Intan nggak boleh masuk! Pasti Mira mau dibantai.” Mira memasang sikap awas.
“Duh, Mira! Bercandanya nanti dulu, deh. Ada yang lebih penting.” Mimik wajah Intan terlihat serius.
Mira mendekat. Wajahnya ikutan tegang, tidak jauh berbeda dengan mimik wajah yang Intan tunjukkan.
“Apa ada yang gawat?” tanya Mira.
“Ibu minta Devano datang besok malam.”
Bola mata Mira seketika melebar, tapi mimik wajahnya terlihat sangat riang. Tangan Mira sampai spontan bertepuk tangan.
“Bagus, dong. Kak Intan biar cepet nikah sama Kak Dev. Kalau gitu Mira nggak jadi balik ke kos-kosan sekarang, deh!”
“Nggak boleh. Pendidikan itu penting, Mir. Jangan terbiasa bolos kuliah!”
“Sehari doang, Kak. Mungkin besok cuma dapat pengantar saja dari dosennya.”
Intan tidak setuju dengan alasan yang dibuat Mira. Dia tetap ingin Mira kembali ke kos-kosan sore ini juga agar besok pagi bisa hadir di perkuliahan.
“Mira mau lihat Kak Intan dilamar Kak Dev.”
Intan menarik pelan tangan Mira, kemudian mendorongnya menuju pakaian yang tergantung di belakang pintu kamar.
“Cepat ganti pakaianmu. Lalu kakak antar ke terminal.”
“Tapi, Kak Dev ….”
“Doakan saja semua berjalan lancar, ya.” Intan terus meyakinkan adiknya.
“Iya, deh. Tapi jangan lupa telpon Mira. Ceritakan semuanya via telepon dan harus detil.”
Intan mengangguk sambil tersenyum ramah. Akhirnya adik perempuannya berhasil dia bujuk agar tidak bolos kuliah. Dan, empat puluh lima menit kemudian, Intan dan Mira sudah sampai di terminal. Beberapa pesan sempat Intan sampaikan pada Mira sebelum naik ke bus.
__ADS_1
Sekembalinya dari terminal, fokus Intan kembali tertuju pada Devano. Sempat Intan mondar-mandir lebih dulu di depan cermin kamarnya demi menyiapkan kata-kata yang pas untuk menyampaikan pesan sang ibu. Hingga kemudian, Intan memutuskan untuk mengabari Devano via pesan. Intan benar-benar menata kalimatnya sedemikian rupa agar Devano tidak terlalu terkejut mendengarnya. Akan tetapi, yang namanya besok malam itu sudah sangat dekat sekali jarak waktunya. Begitu pesan terbaca, Devano langsung menelpon Intan saat itu juga.
“Halo, Dev.”
“Hai, Tan.” Nada bicara Devano sama sekali tidak menampakkan kekhawatiran, padahal dalam hatinya kebingungan.
“Em … bagaimana?” Intan mengimbangi nada bicara Devano yang tenang.
“Aku akan datang. Tunggu aku, ya.”
Seketika Intan mengembangkan senyumnya. Senyum yang menyiratkan rasa syukur sekaligus kebahagiaan. Terasa pula getar-getar merdu di dada Intan.
“Terima kasih,” ucap Intan kemudian. Tetiba saja dia kehilangan banyak stok kata-kata untuk membuat obrolan.
“Terima kasih untuk apa?” Devano sengaja, agar dia dapat berlama-lama mengobrol dengan Intan.
“Untuk … kesediaanmu.”
“Hanya itu saja?” Devano Albagri, dia benar-benar memanfaatkan waktu teleponnya untuk mengobrol lebih lama dengan sang pujaan hati.
“Untuk semua hal manis yang kamu berikan padaku.” Akhirnya, Intan bisa berkata lebih panjang juga.
Senyum Devano mengembang. Hatinya tersentuh dengan penuturan Intan.
“Hal manis yang mana, Tan?”
“Em, yang mana ya?” Mendadak saja Intan kembali kehilangan perbendaharaan kata-katanya. Penulis novel romantis sekelas Intan, rupanya bisa dibuat kebingungan menyusun kata juga saat sedang kasmaran.
“Harus disebutkan?” tanya Intan kemudian.
Betapa hati Intan saat itu berdebar-debar. Semakin lama debaran jantungnya semakin menjadi. Intan sampai tidak tahu lagi kosa kata apa yang harus dia gunakan untuk menanggapi.
Oh Intan. Saat menulis novel romantis kamu lancar jaya, kenapa saat Devano yang romantis kamu justru kehilangan banyak kata-kata? Batin Intan. Dia kebingungan.
“Halo, Intan? Kamu masih mendengarku?”
“Iya. Aku dengar, Dev. Aku …”
“Apa kamu gugup?” Bidik Devano.
“Hehe. Sedikit, sih.”
Intan memilih jujur, karena memang itulah yang dia rasakan. Gugup, dan jantungnya berdebar-debar. Sementara Devano, karena kejujuran Intan tadi, dia jadi senyum-senyum sendiri.
“Biar aku bantu, ya.” Devano memulai kata romantisnya. “Yang manis itu ... kamu,” imbuh Devano.
Romantis berdua via telepon, itulah yang terjadi antara Intan dan Devano. Senyum-senyum sendiri, itu sudah biasa. Yang tidak biasa adalah irama jantung yang semakin lama semakin membuat candu, begitu merdu. Saat ini, baik Intan maupun Devano sama-sama memegangi dada kirinya, merasakan degup jantung, kembali senyum-senyum, dan tak luput pula dari salah tingkah. Intan, kakinya tanpa sengaja menendang sudut meja di kamarnya. Sementara Devano, tangannya tanpa sengaja menjatuhkan mouse yang ada di meja kantornya. Ya, Devano sedang berada di meja kerjanya, menatap layar komputer, dan di sebelahnya ada Jefri yang sedari tadi menyaksikan tingkah konyol Devano saat menelpon Intan. Sudah bisa dipastikan setelah ini Jefri pasti memiliki bahan untuk menjahili Devano.
“Dev, sudah dulu ya romantisnya.” Tiba-tiba saja Intan berkata demikian usai berhasil meredam debaran candu yang sebelumnya sulit dikendalikan.
“Hm? Apa kamu tidak suka?” Devano terheran.
“Suka, sih. Tapi, dilanjutkan nanti, ya. Saat kita sudah menikah.”
__ADS_1
Kode keras. Kepekaan Devano meningkat beratus-ratus kali lipat. Perkataan Intan barusan bisa ditangkap dengan jelas, dan membuat hati Devano kian panas. Semangatnya menggebu untuk melanjutkan niat baiknya itu. Duduk berdua bersama Intan di pelaminan, itulah yang saat ini ingin Devano wujudkan.
“Sambil menunggu momen bahagia kita, jaga hatimu untukku, ya?” Ucapan Devano terdengar tulus.
“Kamu juga. Jangan mudah tergoda oleh pesona wanita lain di luar sana. Besok malam, ayah ibuku menunggumu di rumah.”
“Aku akan datang. Pasti akan datang. Sekarang … aku tutup dulu teleponnya, ya?”
Intan mengangguk meski anggukannya tidak bisa terlihat oleh Devano karena obrolan mereka hanya via telepon. “Iya,” ucap Intan kemudian.
“Kamu jangan rindu. Biar aku saja yang merindukan senyum manismu. Daa, Intan.”
Intan tidak lagi dapat membalas ucapan manis Devano karena sambungan telepon telah diakhiri. Akan tetapi, kalimat terakhir yang Devano ucapkan benar-benar telah menyentuh hati Intan.
“Sampai jumpa besok malam, Dev.”
***
Sementara itu di kota lain, tidak hanya Devano dan Intan yang memiliki momen romantis berdua. Fani dan Sandhi juga terjebak momen romantis tanpa mereka sengaja. Semua karena ulah sebutir nasi di sudut bibir Sandhi, hingga membuat Fani begitu berani mendekati meja Sandhi untuk membersihkan sebutir nasi tadi. Akan tetapi, kaki Fani terbelit kakinya sendiri sehingga harus jatuh dan menimpa tubuh Sandhi. Tatapan mata mereka pun saling terpaut dan benar-benar tidak bisa dihindari.
“Fani,” panggil Sandhi begitu tersadar dari jeratan tatapan mata.
“Iya?”
“Kamu berat.”
Saat itulah Fani segera bangun dan menjauh dari Sandhi. Setelahnya, yang terasa hanyalah kekikukan di antara mereka. Tidak ada obrolan, apalagi berani untuk saling memandang.
Sejenak mengulang momen sebelum adegan sebutir nasi, ada Fani dan Sandhi yang baru saja pulang dari mesin ATM untuk pelunasan hutang. Dana sepuluh juta telah sukses dibayarkan. Sandhi pun sempat mengenalkan Fani pada salah satu rekannya untuk keperluan melamar kerja, dan berhasil juga. Mulai besok Fani akan bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan swasta milik teman dekat Sandhi.
Begitu mengantar Fani kembali ke kontrakan, Sandhi dicegah untuk buru-buru pulang. Memang, Fani telah menyiapkan beberapa masakan khusus untuk berterima kasih atas kebaikan hati Sandhi. Masakan itu pun sudah dimasak sedari pagi tadi. Dana untuk belanja, semuanya juga dari Sandhi. Sandhi memberikan uang dalam jumlah cukup untuk keperluan harian sampai Fani mendapat gaji dari pekerjaan barunya. Benar-benar sudah mirip suami yang memberi nafkah untuk sang istri. Begitulah yang telah terjadi antara Sandhi dan Fani.
Saat ini, Sandhi dan Fani masih duduk di meja makan. Piring Sandhi sudah bersih. Dia telah selesai, dan hendak minum air putih. Tapi, begitu menuangkan air ke dalam gelasnya, tekonya terlepas dari genggaman dan airnya pun tumpah membasahi kemeja dan celana panjang yang Sandhi gunakan. Sungguh kecerobohan yang membuat malu. Sandhi malu karena pakaiannya basah karena ulah tangannya yang tidak bisa diajak kerjasama.
“Aku ambilkan tisu dulu, ya.” Fani berdiri, berlarian kecil menuju dapur, tapi kemudian langkahnya terhenti. “Aduh, aku lupa kalau nggak punya tisu.”
“Tidak perlu. Aku pulang saja. Terima kasih untuk makanannya.”
“Tapi-tapi-tapi ….” Fani menghadang langkah Sandhi.
“Ada apa lagi, Fan? Kamu ingin aku mandi di sini juga? Iya?”
Di luar dugaan, Fani justru mengangguk sambil mengembangkan senyuman.
“Oh astaga.” Sandhi memijit pelan keningnya. “Lalu, setelah mandi mau apa?”
“Ya ganti baju, dong. Aku bantu.” Dengan ringan Fani berkata demikian.
“Cukup! Pikiranmu harus sering-sering dibersihkan. Ter-la-lu ko-tor. Permisi. Aku mau pulang!”
Sandhi buru-buru melangkah keluar dari kontrakan. Sementara Fani, dia merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya barusan.
“Bukan pikiranku yang kotor. Bajumu tuh yang kotor. Kalau sudah mandi, ganti baju, kan lebih nyaman. Daripada pakai pakaian basah." Fani menggerutu sambil melihat Sandhi menuju mobil. “Ups. Aku lupa. Di sini kan tidak ada baju pria.” Akhirnya, Fani tersadar juga.
__ADS_1
Bersambung ….