
Lana berjalan masuk dengan langkah cepat. Cuaca di luar kafe terlihat cukup dingin, Lana menggenggam mantelnya erat-erat di tubuhnya saat dia membuka pintu kafe. Ketika dia masuk, dia melihat Kevin duduk di meja yang sudah dia pesan.
Lana tersenyum kecil saat melihat Kevin. Dia berjalan mendekatinya dan menyapa dengan hangat. "Hai, Kevin. Maaf aku agak terlambat," kata Lana .
Kevin menjawab dengan senyum. "Tidak apa-apa, Lana. Aku baru saja tiba beberapa menit yang lalu."
Lana duduk di kursi di seberang Kevin. Dia melihat menu yang diletakkan di atas meja dan mengambilnya. "Apa yang kamu pesan?" tanyanya dengan penuh minat.
Kevin menyeringai sambil melipat tangannya di atas meja. "Aku memesan kopi favoritmu, dan mungkin kamu juga ingin mencoba roti panggang spesial kafe ini," ujarnya sambil menunjuk pada salah satu menu yang terdapat di dalam daftar.
Lana mengangguk dan dengan cepat menutup menu. "Bunuh saja aku dengan kebaikanmu itu. Kedengarannya enak sekali," ucapnya sambil tertawa kecil.
Lana mengangkat tangan untuk memanggil pelayan kafe. Pelayan itu dengan cepat mendekat dan menanyakan pesanan mereka. Lana memberikan pesanan mereka dengan jelas, meminta dua kopi favoritnya dan roti panggang spesial yang direkomendasikan oleh Kevin.
Saat pelayan pergi untuk mempersiapkan pesanan mereka, Lana menatap Kevin dengan senyuman. "Terima kasih sudah memesan sesuai selera ku, Kevin. Ini benar-benar di luar dugaanku."
Kevin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Apa artinya kencan jika tidak saling memanjakan satu sama lain, bukan?" katanya sambil menggenggam tangan Lana dengan lembut di atas meja.
Lana terdiam mendengar nya,dia tidak berpikir jika Kevin salah dalam mengartikan kan kata kata semalam bukan.
Kafe tempat Lana dan Kevin bertemu adalah sebuah ruangan yang hangat dan nyaman. Desainnya modern dengan sentuhan elemen vintage yang memberikan suasana yang unik dan menarik.
Dinding-dindingnya dilapisi dengan wallpaper bergambar daun-daun hijau yang memberikan kesan segar dan alami. Di salah satu dinding terdapat rak-rak kayu yang dipenuhi dengan buku-buku dan aksesori dekoratif yang menambah nuansa hangat.
Meja-meja di kafe ini terbuat dari kayu dengan warna cokelat yang memberikan sentuhan alami. Setiap meja dilengkapi dengan kursi yang nyaman, diberi lapisan kain berwarna netral untuk menambah kenyamanan saat duduk.
Pencahayaan di kafe ini cukup lembut dan menghadirkan suasana yang intim. Lampu gantung dengan desain unik dan lampu-lampu meja menambahkan sentuhan romantis di sekitar meja-meja.
Di sudut ruangan terdapat bar dengan rak-rak kayu yang menampilkan berbagai macam minuman kopi dan teh yang menggugah selera. Aroma kopi yang harum tercium di udara, membuat suasana semakin menggoda.
Selain itu, di kafe ini terdapat jendela besar yang memberikan pemandangan yang indah ke luar. Langit-langit kafe yang tinggi dengan perancah kayu menambahkan sentuhan ruang terbuka dan memberikan kesan yang lebih luas.
Musik yang sedang diputar di latar belakang menghadirkan suasana yang santai dan menenangkan.
Tapi suasana di sekitar Lana dan Kevin terasa canggung dan tegang. Mereka saling menatap, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan.
Kevin meraih secangkir kopi di depannya, mengambil nafas dalam-dalam, dan dengan nada lembut ia mengatakan, "Lana, aku pikir kita perlu membicarakan hubungan kita."
__ADS_1
Lana mengangguk, sedikit gugup, menatap Kevin dengan wajah serius. "Iya, Kevin. Aku juga merasa perlu membahasnya."
Kevin menjaga ketenangan dan mencoba memberikan pengertian pada situasi ini. "Kita berdua tahu bahwa hubungan kita tidak berjalan dengan baik akhir-akhir ini. Aku ingin mencoba memahami perasaanmu, dan jika memang kau merasa lebih baik jika kita berpisah, maka mungkin itu adalah keputusan terbaik."
Dalam hati, Kevin mulai membenci Lana dan merencanakan cara untuk membalas rasa sakit ini.
Seorang Kevin sang Playboy diputusin oleh Lana, hei belum ada sejarah kata diputusin dalam kamus Kevin.
Hanya dia yang berhak memutuskan hubungan ini bukan Lana. Apa yang dilakukan oleh Lana ini benar-benar sudah melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Pikirannya dipenuhi oleh keinginan untuk melampiaskan kemarahannya, mencari cara untuk melukai hati Lana sebagaimana dia merasa dilukai.
Namun, di luar tampak tenang, Kevin mencoba menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Dia tidak ingin menunjukkan betapa terlukanya dirinya. Dengan wajah yang dipaksakan untuk tetap tenang, Kevin mencoba untuk tidak menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin putus.
"Dengan segala hormat, jika itu keputusanmu," kata Kevin dengan suara yang bergetar sedikit. "Aku akan mencoba menerimanya."
Lana melihat ketidakberdayaan dalam wajah Kevin. Ia merasakan adanya perubahan dalam suasana hati Kevin, meskipun tidak sepenuhnya memahami apa yang ada di balik ekspresi wajahnya.
"Demi kebaikan kita berdua, Kevin," kata Lana dengan suara lembut. "Aku berharap kita bisa saling menghargai dan menjalani hidup kita masing-masing dengan bahagia."
"Ya, tentu saja," jawab Kevin dengan suara bergetar, mencoba mengendalikan rasa sakitnya. "Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang kau cari, Lana."
Dalam keheningan yang mencekam, keduanya melanjutkan minum kopi mereka, namun dengan hati yang terbebani
Kedua mereka terlihat canggung, dan keheningan pun menyelimuti meja tersebut. Kevin sedang berusaha memikirkan cara untuk membuat Lana tetap berpikir bahwa dia masih sangat menyayanginya, meskipun dalam hatinya perasaan itu sudah pudar.
" Bagaimana caranya aku membuat Lana tetap berpikir bahwa aku masih sangat mencintainya?"Pikir Kevin .
Sementara Kevin masih dalam pikirannya, Lana tiba-tiba mengalihkan perhatiannya.
"Maaf ya, Kevin. Aku harus ke toilet sebentar. Aku kembali secepatnya"Kata Lana.
"Tentu saja, Lana. Tidak apa-apa. Aku akan menunggu di sini. Jangan terlalu lama, ya?"
Lana berdiri dari kursinya dan melangkah pergi menuju pintu toilet. Kevin melihatnya pergi dengan campuran perasaan antara kelegaan dan kebingungan.
" Bagaimana aku bisa membuatnya tetap berpikir bahwa aku masih mencintainya dengan sangat, padahal sebenarnya hatiku sudah tidak seperti dulu?
__ADS_1
Kevin memperhatikan gelas kopi di depannya yang hampir kosong. Ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia memutuskan untuk memainkan peran yang dia rasa akan membuat Lana tetap beranggapan bahwa dia masih sangat mencintainya.
"Aku harus membuatnya percaya bahwa aku masih sangat menyayanginya"
Kevin merogoh saku jaketnya , sebungus bubuk putih tanpa bau dan tanpa rasa di tuang kan pada kopi milik lana.
Jangan tanya apa benda itu,ini tidak lain adalah afrodisiac tipe rendah.Kevin bukan pria baik seperti yang dikatakan Lana.Buktinya benda ini memang selalu ada di kantong jeketnya setiap saat.
Selain itu Kevin juga mengeluarkan ponselnya. Dia mencari foto-foto mereka berdua yang pernah diambil saat mereka masih bahagia bersama. Dia memilih foto yang menunjukkan kebahagiaan mereka dengan senyum lebar di wajah.
" Aku akan menunjukkan foto ini padanya nanti. Semoga ini bisa membuatnya tetap percaya bahwa aku masih sangat mencintainya"pikir Kevin.
Ketika Lana kembali ke meja mereka, Kevin sudah tersenyum lagi.
"Lana, aku punya sesuatu untukmu. Lihat ini. "
Dia menunjukkan foto mereka berdua yang tersenyum bahagia di ponselnya.
Lana melihat foto tersebut dengan ekspresi campuran antara kebahagiaan dan kebingungan.
" Kenapa kamu menunjukkan foto ini, Kevin?"kata Lana bingung.
Tadi udah sepakat mau pisah dengan cara baik-baik kan,lalu ini apa.
"Aku ingin kamu tahu betapa berharganya kamu bagiku, Lana. Aku sangat menyayangimu dan tidak ingin kehilanganmu"
" Kevin, tapi...
" Lana, kita bisa melewati segala halangan dan masalah yang ada. Aku masih mencintaimu dengan sepenuh hati"
Lana terdiam sejenak, melihat ke dalam mata Kevin yang penuh dengan harapan. Dia merasa bingung, tetapi juga terenyuh dengan tindakan Kevin.
"Kevin, aku tidak yakin apa yang harus kukatakan. Aku menghargai perasaanmu, tetapi...
Sebelum Lana sempat menyelesaikan kalimatnya, Kevin sibuk mengalihkan pembicaraan mereka ke topik lain. Dia berusaha menjaga kesan bahwa dia masih sangat mencintai Lana, meskipun di dalam hatinya perasaan itu sudah tidak ada.
Dalam keheningan yang terjadi setelahnya, Lana merasakan kebingungan dan keraguan yang semakin menguat. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya kepada Kevin.
__ADS_1