
Lana duduk di belakang Kevin di atas sepeda motor, dengan tubuhnya gemetar dan air mata mengalir di wajahnya. Wajahnya yang biasanya ceria dan bersemangat, kini dipenuhi kesedihan yang mendalam. Angin malam bertiup lembut, menciptakan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Malam itu penuh dengan keheningan yang memperkuat suasana sedih Lana. Cahaya lampu jalan yang redup menciptakan bayangan-bayangan gelap di sekitar mereka, seolah mencerminkan kegelapan dalam hati Lana. Suasana yang tadinya penuh kebersamaan dan kebahagiaan, kini berubah menjadi hampa dan penuh kehampaan.
Meskipun Lana menangis tanpa suara, namun getaran kecil di tubuhnya mengungkapkan betapa terpukulnya hatinya. Keheningan di antara mereka semakin menekan, menciptakan ketegangan yang tak terucapkan. Kevin, di depannya, mengekang emosinya dan hanya memandang ke depan dengan wajah yang acuh tak acuh.
Dalam suasana malam yang kelam, Lana terus berpegangan pada Kevin, mencoba menenangkan dirinya meski kesedihan yang menghantamnya begitu dalam. Meski tangisnya tidak terdengar, tetapi kehampaan dan rasa sakitnya begitu nyata. Di balik kaca mata yang berkabut oleh air mata, ia mencoba mempertanyakan keputusannya untuk percaya pada Kevin, tetapi rasa percaya itu kini hancur berkeping-keping.
Malam itu menjadi saksi bisu dari kesedihan Lana, seolah mengerti bahwa hatinya telah hancur. Suara mesin sepeda motor semakin terdengar, menambah kerinduan dan kekosongan dalam jiwa Lana. Hanya langit malam yang gelap, berkilauan dengan bintang-bintang, yang mengetahui betapa rapuhnya hati Lana dalam kegelapan malam itu.
Kevin menghentikan sepeda motornya di depan lampu merah, kebetulan sekali ada sebuah supermarket di pinggir jalan.. Lana yang masih menangis mencoba menenangkan diri dan melihat sekeliling dengan mata yang masih berkabut oleh air mata. Dia menepuk pundak Kevin, menandakan bahwa dia ingin membeli sesuatu di sana.
"Bisa kita berhenti sebentar di sini? Aku perlu membeli sesuatu." kata Lana.
Kevin dengan dingin menatap Lana, namun kemudian mengangguk dengan acuh tak acuh.
"Baik, cepatlah. Jangan terlalu lama." kata Kevin dengan nada kasar.
Lana yang masih tersenyum sedikit mencoba bangkit dari sepeda motor, tetapi kakinya terasa lemas. Dia menahan air mata dan pergi ke dalam supermarket, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan tugas sederhana itu.
Lana langsung menuju ke salah satu rak di supermarket, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya masih berair dan wajahnya terlihat lelah. Dia fokus pada tujuannya, mencari barang yang ingin dibelinya.
Setelah menemukan produk yang diinginkannya, Lana segera mengambilnya dengan cepat. Dia melangkah menuju kasir dengan langkah tergesa-gesa, menaruh barang di atas meja kasir, dan segera membayar tanpa banyak berbicara.
__ADS_1
Kasir yang melihat keadaan Lana mencoba memberikan senyuman pengertian, tetapi Lana tidak menoleh ke belakang. Setelah selesai membayar, Lana segera meninggalkan kasir dan supermarket dengan cepat, meninggalkan belakangnya tanpa menoleh sedikit pun.
Lana keluar dari supermarket dengan tas belanja di tangannya. Dia melihat Kevin sudah menunggu di atas sepeda motor, tetapi sebelum Lana naik, Kevin mengeluarkan suara marah.
"Kenapa kamu begitu lamban? Ayo cepat naik!" ucap Kevin dengan nada kesal.
Lana merasa kaget dan tersentak oleh kemarahan Kevin. Dia mengangkat pandangannya dan menatap Kevin dengan ekspresi terkejut. Rasa sedih yang sebelumnya ada di wajahnya semakin bertambah.
Dengan cepat, Lana menaiki sepeda motor Kevin, tetapi tatapan mata mereka saling bertemu sejenak. Ketegangan terasa di udara, dan suasana di atas motor menjadi tegang.
Kevin mengepalkan tangan di setang sepeda motor, mencoba mengendalikan rasa marahnya. Lana hanya menundukkan kepala, berusaha menahan tangis dan menutupi perasaan yang mulai hancur.
Mereka melaju di jalan dengan suasana yang kaku. Hati Lana terasa berat, namun dia memilih untuk tetap diam.
Pada saat itu rasa percaya diri Lana yang selama ini dijunjung tinggi tiba-tiba jatuh. Sekarang Lana merasa dirinya sudah begitu kotor.
Lana merasa lega ketika akhirnya sampai di rumah setelah perjalanan yang penuh dengan keguncangan emosi. Dia merapikan rambutnya yang berantakan dan menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menenangkan diri. Hatinya masih terasa berat, tetapi dia tahu bahwa dia harus menghadapinya.
Lana menurunkan dirinya dari sepeda motor Kevin dengan hati-hati.
"Ingat Lana dengan janji mu, kau tidak bisa menolak keinginan ku jika tidak ingin aku tinggal kan"Kata Kevin dengan sombong.
Lana diam saja tapi ketika Kevin akan pergi Lana masih mengucapkan terima kasih dengan suara yang lemah, meskipun Kevin tampak tidak peduli dan tidak memberikan respon apapun
__ADS_1
Dengan pedih Lana melihat sepeda motor itu melaju menjauh dengan cepat, meninggalkannya sendirian di halaman rumahnya.
Merasa sendiri dan terluka, Lana menatap sepeda motor yang menjauh dengan pandangan yang penuh kekecewaan. Dia merasakan kekosongan dalam hatinya, merindukan kebahagiaan yang dulu mereka bagikan. Tetapi kali ini, semuanya telah berubah.
Lana berjalan menuju pintu depan rumah dengan langkah gemetar. Dia mencoba menenangkan diri dan menghilangkan kekecewaan yang melanda. Sesampainya di depan pintu, dia mengambil napas dalam-dalam dan membuka pintu rumahnya.
Rumah terasa sepi tanpa kedua orang tuanya di dalamnya. Lana merasakan kekosongan yang lebih dalam.
Segera bunyi sepatunya yang terhentak di lantai mengisi udara dengan ketegangan. Dia tergesa-gesa menuju kamarnya, merasakan denyutan kecemasan yang tak terkendali dalam dadanya. Setibanya di kamarnya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi yang sunyi, Lana merasakan dadanya terasa sesak dan matahari dalam dirinya semakin memuncak. Dia memandang cermin dengan tatapan yang hancur, melihat refleksi dirinya yang lemah dan rapuh. Air mata mulai mengalir di pipinya saat rasa bersalah memenuhi hatinya.
"Maafkan Lana ,Mama ,Papa," bisiknya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. " Lana ...lana..sudah mengecewakan kalian. Lana kotor... Lana tidak pantas menjadi anak kalian."
Tangisnya semakin keras, dan terdengar ******* pilu yang menggema di dalam kamar mandi yang sunyi. Lana merasakan beban emosional yang membebani dirinya, dan dengan setiap tetes air mata yang jatuh ke lantai, rasanya sebagai pengingat atas kesalahan-kesalahannya.
"Mama huhuhu.. Mama....papa..maafin Lana Huhuhu..
"Lana sudah kotor ma..hiks...hiks ..
Dia meraih sabun dan menggosok kan nya pada seluruh tubuh, Lana sedang mencoba meredakan rasa sakit yang terbakar dalam dirinya. Namun, dalam keputusasaan yang melanda, tak ada sabun yang bisa membersihkan hati yang kacau ini.
"Tidak... papa... Mama huhuhu...
__ADS_1
Lana terduduk di lantai dingin, memeluk kakinya dengan erat. Dia terus menangis, mencurahkan semua keputusasaannya kepada kegelapan yang memeluknya. Suaranya penuh dengan penderitaan yang tak terucapkan, seolah-olah menggambarkan kesedihan yang tak terbatas.
Dalam momen keputusasaan itu, dia merasa terpisah dari cinta dan pengertian orang tuanya. Dia merasa tidak layak dan merasa harus meminta maaf atas semua kesalahan yang dia anggap sebagai kegagalannya. Tangisnya terus mengalir, memenuhi kamar mandi dengan kehampaan dan penyesalan yang dalam.