
Lana duduk sendirian di sudut acara kampus, wajahnya masih terlihat sedih dari kenangan yang baru saja dia alami. Dia berusaha tersenyum meskipun hatinya hancur. Tiba-tiba, beberapa mahasiswa berjalan mendekatinya. Mereka datang dengan senyuman lebar dan nampak tertarik pada kecantikan Lana.
"Hai, maaf mengganggu. Nama saya Rizky. Kamu sepertinya baru di sini ya?"
Lana mengangguk lemah tapi tersenyum dengan cantik."Iya, aku baru pindah ke sini. Nama saya Lana"
" Halo, Lana. Nama saya Fandi. Kamu terlihat cantik sekali, dari mana asalmu?" kata pria dengan nama Fandi ini,dia tampak seperti orang yang percaya diri .
Lana tertawa kecil dengan senyum kecil."Terima kasih, aku berasal dari kota lain. Kamu semua juga mahasiswa di sini?"
"Ya, kami juga mahasiswa di sini. Tapi, kami lebih tertarik dengan kecantikanmu, Lana. Hehe"
" Terima kasih atas pujianmu, tapi aku sedang tidak dalam mood yang baik sekarang" kata Lana jujur.
Melihat cara pembicaraannya pria di depannya jelas memiliki sifat yang agak mirip dengan Kevin. Lana sudah mau aku dengan sosok Kevin dan tidak mungkin menambah masalah baru dengan Kevin yang lain.
" Mungkin kami bisa membuat mood-mu lebih baik, Lana. Bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama di acara ini?"
Maaf, aku harus menolak. Aku benar-benar butuh waktu sendiri sekarang"Tolak Lana dengan jujur.
"Ayolah, jangan begitu dingin. Kita bisa menyenangkanmu, Lana"
__ADS_1
Tapi Lana tidak ingin menanggapi pria seperti mereka namun begitu dia masih menampilkan senyum yang sopan."Terima kasih, tapi aku ingin sendiri sekarang. Mungkin lain kali"
Jawaban seperti ini memang tidak diharapkan oleh mahasiswi di depannya ini tapi mereka masih bisa menerimanya.
"Baiklah, kalau begitu. Tapi kalau butuh teman, jangan sungkan untuk menghubungi kami ya, Lana"
"Terima kasih, akan kuhubungi kalian jika memang butuh teman. Sekarang, maafkan aku, aku butuh waktu sendiri" kata Lana.
Para mahasiswa itu akhirnya mengerti dan meninggalkan Lana sendirian di sudut acara kampus. Lana kembali memandang ke sekitar, melihat Mia dan Raihan yang masih terlihat mesra berjalan berdua. Hatinya semakin sedih, tapi dia berusaha kuat dan menghibur dirinya sendiri. Lama kelamaan, senyuman kecil pun terukir di wajahnya.
Setelah para mahasiswa pergi, Lana merasa seolah-olah beban besar telah diangkat dari pundaknya. Dia merasa lega bahwa dia bisa memulai hidup baru di kota ini, jauh dari Kevin dan kenangan-kenangan buruk. Dalam benaknya, muncul harapan dan semangat baru untuk meraih cita-citanya.
Lana berjalan pelan di sekitar acara kampus, merasakan angin malam yang sejuk mengusap pipinya. Dia melihat banyak mahasiswa lain yang begitu bersemangat, mengejar impian dan cita-cita mereka. Mata Lana menyapu ke arah panggung, melihat seorang penari yang menari dengan indah dan penuh ekspresi. Lalu, ada seorang pria yang berbicara di depan umum dengan penuh percaya diri tentang perannya dalam sebuah proyek kemanusiaan. Semuanya begitu menginspirasi Lana.
Dengan langkah tegap dan mantap, Lana menuju ke papan pengumuman acara kampus yang terpampang besar di dinding. Dia mencari informasi tentang berbagai klub dan organisasi di kampus yang sesuai dengan minat dan passion-nya. Tanpa ragu, ia mencatat nomor kontak beberapa klub yang menarik perhatiannya.
Lana bertekad untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar, berkembang, dan mengejar impian-impian barunya. Dia ingin menjadi seseorang yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih berarti bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dan di kota ini, dia merasa bahwa semua itu mungkin bisa terwujud.
Dengan langkah penuh keyakinan, Lana berjalan menjauh dari area acara kampus. Dia memandang langit malam yang indah, dan senyumnya semakin melebar. Inilah awal dari perjalanan barunya, dan dia siap untuk menghadapinya dengan penuh semangat dan harapan.
Lana yang sedang berjalan dengan semangat, tiba-tiba merasakan getaran di saku roknya. Dia mengeluarkan ponselnya, sebuah smartphone yang masih tergolong baru. Warna casingnya adalah biru muda yang ceria, menggambarkan semangat dan harapan baru yang ada dalam diri Lana.
__ADS_1
Namun, senyum Lana perlahan memudar ketika melihat nama "Kevin" terpampang di layar ponsel. Hati Lana berdegup lebih cepat, merasa cemas dan sedikit tertekan. Meskipun begitu, dia mengambil nafas dalam-dalam dan dengan hati-hati menekan tombol untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Kevin," kata Lana dengan suara yang mencoba untuk tetap tenang, meskipun rasa gugupnya terasa jelas.
Kevin di seberang sana, terdengar ceria dan penuh rindu. "Hai, sayang. Aku kangen kamu. Kapan kamu bisa kembali?" tanya Kevin dengan suara lembut.
Setelah Lana pindah universitas,dia juga pindah kota.Jadi Kevin dan Lana jarang bisa bertemu.Sementra itu entah apa yang terjadi tapi rencana pertunangan di tangguh kan oleh pihak Kevin.
Terkadang Lana pikir ini hanyalah gaya Kevin untuk mengulur waktu.
Ketika mendengar suara Kevin, seketika Lana merasakan kebingungan dan campur aduk dalam dirinya. Ada bagian kecil dari hatinya yang masih mencintai Kevin, namun dia juga sadar bahwa hubungan mereka berdua tidak sehat. Lana menatap ke kejauhan, mencoba menemukan kata-kata yang tepat.
"Kevin, aku pikir kita sudah berbicara tentang ini sebelumnya. Aku butuh waktu untuk diri sendiri, untuk menamatkan kuliah ku Kevin Aku harap kamu bisa mengerti," jawab Lana dengan hati-hati.
Namun, panggilan telepon terputus tiba-tiba, meninggalkan Lana dalam keheningan. Wajahnya berubah menjadi lesu, seolah-olah dunianya tiba-tiba runtuh. Lana menatap ponselnya yang sekarang menjadi mati, seperti simbol dari keputusasaan yang melanda dirinya.
Lana merasa dilema dan bingung. Di satu sisi, dia ingin mengambil langkah maju untuk mencapai harapan dan impian barunya. Namun, di sisi lain, Kevin masih memiliki tempat di hatinya dan kehadiran telepon tersebut mengingatkannya pada masa lalu yang rumit.
Dia duduk di bangku taman yang terdekat, merasakan beban emosional yang begitu berat di dadanya. Air mata mulai mengalir di pipinya yang lembut. Lana merasa terjebak di antara masa lalu dan masa depannya, merasa seakan tidak ada jalan yang bisa dia pilih tanpa ada konsekuensi yang menyakitkan.
Dalam keheningan taman yang malam itu, Lana merenung dan mencari kekuatan dalam dirinya. Dia tahu bahwa keputusan sulit harus diambil, dan dia harus memilih apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Dalam hatinya, dia berharap bisa menemukan kekuatan untuk menghadapi masa depan yang belum terlihat dengan jelas, meskipun keberangkatan Kevin dan panggilan telepon tadi telah membuat hatinya terguncang.