
Lana dan Raihan berusaha untuk terus menjaga sikap profesional mereka satu sama lain setelah insiden canggung kemaren .Mereka berbicara dengan sopan dan mencoba untuk tidak menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya.Terkadang hal ini terlihat jelas bahwa ada ketegangan di antara mereka.
Saat makan bersama, mereka mencoba untuk berbicara dengan orang lain di sekitar. Tetapi candaan mereka terdengar terpaksa dan sedikit kaku. Ketika mereka berdua terlibat dalam percakapan, ada sesekali jeda hening yang terasa canggung.
Di dalam rumah, Lana dan Raihan berusaha untuk tetap berinteraksi dengan santai. Mereka bisa tertawa bersama teman serumah, tetapi jika kadang-kadang pandangan mereka bertemu dan mereka dengan cepat memalingkan wajah mereka dengan rasa canggung.
Teman serumah mereka mulai merasa curiga dengan suasana aneh yang terasa di antara Lana dan Raihan. Mereka melihat cara mereka berinteraksi yang berbeda, terkadang jarak antara mereka terasa terlalu dekat dan terkadang terlalu jauh.
Ada momen ketika mereka terlihat saling menghindari satu sama lain dan momen lain ketika mereka terlihat seolah ingin mengobrol lebih banyak
Di teras rumah Lana dan Dea duduk berseberangan di meja kayu. Dea memandang Lana dengan wajah penuh tanya.
Kebetulan teman teman yang lain belum kembali dan di rumah hanya ada mereka berdua.Saat ini Dea melihat ada kesempatan untuk bertanya pada Lana.
"Lana, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi kau jangan tersinggung ya lana"
Lana yang duduk di sebelah nya tidak bergerak awalnya, tapi dia pikir ini tidak apa-apa.
Dea yang melihat lana setuju segera bertanya."Aku lihat kamu selalu menghindari Rayhan akhir-akhir ini. Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?"
Lana tersentak sebentar ,dia jelas mencoba untuk mengelak dengan berkata"Ah, tidak ada apa-apa, Dea. Aku sibuk dengan skripsi akhir semester ini, jadi memang agak sulit untuk bertemu dengan siapapun."
"Tapi bukankah kita semua nya juga sibuk? Aku lihat Rayhan juga sedang sibuk dengan tugas akhirnya, tapi dia masih sempat menghubungi dan bertemu dengan orang lain. Kamu kan teman baiknya, mestinya dia juga ingin bertemu denganmu."
Lana memutar bola matanya, haruskah dia jujur. "Mungkin saja, Dea. Tapi aku ingin benar-benar fokus pada skripsi ini. Kamu tahu kan seberapa penting skripsi ini bagi karirku nanti."
"Tentu, aku mengerti. Tapi, Lana, jangan lupakan juga untuk menjaga hubunganmu dengan teman-teman. Termasuk dengan Rayhan. Dia adalah salah satu sahabat terbaikmu." bujuk dea.
"Iya, iya, aku tahu. Aku akan mencoba untuk menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Rayhan lagi. Tapi sekarang, aku harus fokus pada skripsi dulu."
"Baiklah, kalau begitu. Tapi jangan terlalu lama menghilang, ya? Aku tahu kalian berdua dekat, jadi jangan biarkan kesibukanmu menghalangi hubungan kalian."
"Tentu, Dea. Aku akan mencoba yang terbaik."
Percakapan itu membuat Lana merasa tidak nyaman. Dia tahu bahwa Dea bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua.
Namun dia berusaha untuk tetap bersikap biasa dan menghindari topik tentang Raihan. Dia tidak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, karena dia tidak ingin menyakiti perasaan Dea atau menyulitkan situasi dengan Mia.
Setelah percakapan itu, Lana merasa sedikit terbebani. Dia tahu dia harus berbicara dengan Raihan dan menyelesaikan masalah ini dengan jujur. Tapi untuk saat ini, dia memutuskan untuk tetap fokus pada skripsinya dan menunda pembicaraan tersebut hingga waktu yang tepat.
Sementara itu Raihan dan teman-temannya,mereka semua sepakat untuk terlambat pulang karena mereka ingin menemani Raihan yang akan melepas gips di rumah sakit.
Dua minggu yang lalu, Raihan mengalami kecelakaan dan lengannya terpaksa dipasangi gips. Kini saatnya gips tersebut dilepas dan Raihan sangat bersemangat untuk melewati prosedur tersebut.
Saat lana dan Dea sedang berbicara, mereka semua sedang berkumpul di depan rumah sakit tempat Raihan dirawat. Raihan tampak senang dan sedikit tegang sekaligus.
Di sini teman-teman menyemangati Raihan dengan canda tawa. Mereka ingin memberikan dukungan moral pada sahabat mereka yang baru saja melewati masa pemulihan.
Di antara tawa dan obrolan ringan, terdengar kisah-kisah lucu dan kenangan-kenangan manis dari masa-masa mereka bersama.
Ketika tiba giliran Raihan, mereka semua dengan antusias masuk ke dalam ruang periksa.
"Hem rayhan,siap untuk pisah sama gips nya?"Kata dokter setengah bercanda.
"Hahaha dokter, kita tidak pisah Dok,ini bercerai abis hahaha "
Hahaha.
Proses dimulai dengan Raihan yang duduk tegak di kursi rumah sakit dengan tangan kanannya yang masih terbungkus gips. Dokter yang di depannya, siap untuk melepas gips tersebut. Raihan tampak sedikit tegang namun juga penuh antusiasme karena ia tahu bahwa ini adalah momen penting dalam proses pemulihannya.
Dokter dengan hati-hati membuka perban yang mengikat gips, dan dengan lembut melepaskannya dari lengan kanan Raihan. Sedikit bunyi renyah terdengar ketika gips itu terlepas, membuat Raihan merasa sedikit kaget. Namun, rasa kagetnya segera tergantikan dengan perasaan lega.
Ketika gips akhirnya terlepas, Raihan memandangi lengannya yang sebelumnya terbungkus rapat. Ia bisa merasakan udara segar menyentuh kulit lengan yang telah lama tertutup gips. Senyum bahagia menghiasi wajahnya karena ia merasa lega bahwa proses pemulihannya telah berjalan dengan baik.
Dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada lengan kanan Raihan. Ia memastikan bahwa lengan tersebut sudah sembuh dengan baik dan tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Raihan mengikuti instruksi dokter dengan cermat, menggerakkan lengan kanannya ke berbagai arah untuk memastikan bahwa ia bisa menggunakannya dengan normal.
Ketika dokter memberikan kabar baik bahwa lengan kanannya sudah sepenuhnya sembuh dan tidak perlu dipasangi gips lagi, Raihan merasa senang dan bersyukur.
"Alhamdulillah....
Setelah dokter memberikan kabar baik tentang kesembuhan Raihan, semua teman-temannya memberikan ucapan selamat dan memberikan dukungan penuh.
"Ray Gimana jika kita pergi untuk merayakan ini Hem?"
"Boleh,sebut saja lah"
"Oke jangan menolak ya, Gimana.jika bla bla bla..
__ADS_1
Raihan dan teman-temannya keluar dari ruang perawatan dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Udara segar di luar terasa menyegarkan setelah beberapa hari mereka berada di dalam rumah sakit. Di luar, taksi telah menunggu untuk membawa mereka pulang ke rumah singgah.
Saat di dalam taksi, suasana penuh keceriaan dan kegembiraan terasa. Raihan merasa bahagia karena telah pulih sepenuhnya, sementara teman-temannya merasa lega karena teman mereka kembali sehat.
Perjalanan pulang berlangsung dengan lancar. Ketika mereka tiba di rumah singgah, para teman langsung berencana untuk merayakan kesembuhan Raihan.
Tidak lama kemudian di teras rumah singgah, Lana dan Dea sedang duduk di kursi santai. Dari kejauhan mereka bisa melihat kelompok itu mendekat ke rumah singgah.
" Dea, lihat! Mereka sudah kembali"Kita Lana senang.
Dea segera mengikuti pandangan Lana. "Oh, iya benar. Raihan sudah tidak mengenakan gips lagi. Senang melihatnya kembali sehat ya?" kata Dea yang tidak tahu jika Rehan dan yang lain pergi ke rumah sakit.
" Iya, sangat senang. Tapi, aku merasa agak canggung bertemu dengannya sekarang"jawablah namun dia hanya berbicara seperti itu di dalam hatinya.
Jia mungkin dia ingin pindah ke rumah singgah yang lain tapi jadwal KKN mereka akan berakhir minggu depan. Dia hanya harus bertahan satu minggu lagi.
Untuk menutupi rasa bersalahnya, Lana langsung memvideo kan kepulangan Rayhan yang tanpa gips dan mengirimnya kepada Mia.
" Rayhan,kau sudah baikan sekarang?"sapa Dea pada Rayhan.
"Hehehe iya, gerah juga lama-lama pakai gips"kata rayhan tersenyum.
"Ray aku lagi video call sama Mia Ayo say hai"kata Lana.
Jelas saja wajah Mia terlihat pada layar HP Lana.Dia senang melihat perkembangan Raihan tapi sebenarnya sedikit malu jika berbicara di depan begitu banyak orang.
"Sayang ku,uhh kamu udah baik-baik saja eh Lana udah matiin dulu nanti aku mau bicara pribadi sama Ray"kata Mia di seberang sana.
"Oke lah " kata Lana.
"Hei, tunggu dulu Mia kami minjam ray malam ini, jadi sorry ya hehehe " kata Tomi yang buru-buru berteriak takut Mia menutup teleponnya.
"Oh tidak apa-apa, nanti juga bisa kok"kata Mia dengan senyum nya yang khas.
Dengan begitu dipastikan jika Rayhan benar-benar tidak bisa menghubungi Mia malam ini.
"Mia sorry ya Mia?"
"nggak apa-apa lah na pokoknya kamu jaga aja dia jangan kebablasan ya?"pesan Mia pada lama.
Lana tersenyum canggung mendengarnya tapi dia berusaha untuk mengangguk seceria mungkin di depan sahabatnya itu.
Tapi sebenarnya hanya Raihan yang mengetahui jika sebenarnya dia juga sedikit canggung untuk nimbung bersama di dalam pembicaraan itu.
"jadi nggak kalau kita ngerayain kebebasan kamu dengan gips Ray?"kata Tomi yang menepuk pundak Rayhan.
"Jadi.. emang mau kamu mau pergi ke mana pergi ke klub ke restoran di kota atau ke mana aja tinggal bilang"kata Rayhan yang menepuk dadanya.
"Ray kalau ke klub itu di Surabaya juga gimana kalau kita pergi piknik? kita akan mengakhiri masa KKN kita kurang dari 6 hari jadi kenapa kita tidak menghayati keindahan pedesaan. lagi pula tidak ada kegiatan untuk besok kan?" kata Dea .
"Benar itu,jadi gimana jika kita menghabiskan seharian besok untuk piknik di lapangan?"
"Piknik?"
"Ya piknik lah,kan ada makanan dan anak anak yang main bola di sana,kan seru tuh "kata Tomi lagi.
"Oke.. setuju"
"ya jangan setuju setuju aja ,dananya bos?"
"aman ,atur aja "kata rayhan tertawa.
Segera saja perbincangan di teralihkan dengan rencana untuk mengadakan piknik.Kebetulan mereka tidak ada kegiatan seharian penuh besok.
Dea,mis dan Lana adalah para gadis di sana jadi mereka diatur sebagai konsumsi.
Ibu Siti segera ditarik untuk memesan beberapa makanan kecil.Ahh semuanya hanya masalah uang, ada uang ada barang.
Untuk sesaat Lana melupakan kegelisahan hatinya. Dia segera larut dalam rencana untuk piknik.
Keesokan harinya,di bawah pepohonan rindang, Lana dan teman-teman KKN lainnya menyiapkan meja piknik yang dipenuhi dengan berbagai hidangan yang menggugah selera. Mereka memiliki makanan ringan seperti sandwich, keripik, dan kue-kue yang mereka bawa dari rumah. Selain itu, mereka juga membawa hidangan utama berupa nasi goreng, ayam bakar, dan sayur-sayuran segar.
Hei tentunya hal-hal itu dibuat oleh ibu Siti.
Sejak pagi semua orang disibukkan dengan kegiatan di lapangan.
Lana membawa wadah nasi goreng dan berkata "Siapa yang mau nasi goreng? Ayo, ambil sebanyak yang kalian mau!
__ADS_1
" Aku mau, dong! Kamu yang bikin, Lana?"
"Hahaha Lana kalau masak itu tandanya hari mau kiamat Bu, Hahaha"
"Dea...
"Sorry hehehe sengaja"
" Iya, ini hasil dari keahlianku memasak, hehe.Masak nya pake uang nggak pake api " kata Lana yang membuat semuanya tertawa.
Hahaha
Mereka semua duduk di sekitar meja piknik, menikmati hidangan dengan penuh kemeriahan. Pepohonan yang rindang memberikan keteduhan dan suasana yang nyaman bagi mereka. Sementara itu, burung-burung berkicau riang di atas pohon, menambah suasana kebahagiaan.
"Eh, ayo ke sungai! Kita bisa bermain air di sana!" kata Dea.
Memang ada sungai di sini dengan alirannya yang begitu jernih. Beberapa anak-anak dan juga ibu-ibu ada yang mandi di sana.
Bukannya tidak ada air PDAM tapi kemeriahan di sungai itu berbeda. berhubung saat ini mereka sedang berada di pedesaan .Mereka benar-benar ingin menikmatinya.
Segera semuanya setuju dengan ide tersebut.
"Bagus ide! Ayo, kita main air!"
Mereka semua berjalan menuju sungai yang tidak jauh dari tempat piknik mereka. Beberapa anak desa sudah menunggu di sana dengan gembira. Mereka bermain air, mengejar satu sama lain, dan saling menyiram dengan air.
" Seru banget, ya?"
Di tepi sungai yang jernih Lana dan teman-temannya bermain air dengan riang gembira. Mereka saling menyiram dan tertawa sambil berlarian di sekitar sungai. Suasana penuh canda tawa membuat suasana semakin ceria.
Lana yang sambil menyiram air ke teman-temannya." Hahaha, kalian tidak bisa menangkapku!"
Dea yang basah kuyup segera mengejar Lana"Ayo, jangan larikan diri! Tangkap dia!"
Anak anak Desa yang ada di sana juga bergabung dalam permainan." Haha, aku juga ikutan!"
"Woi aku juga ikut Haha"
Tawa mereka bergema di sekitar sungai. Air yang bersemilir di udara membuat momen ini semakin ajaib. Sementara itu, Raihan sedikit terpisah dari mereka.Dia memandangi Lana dengan tatapan yang kagum.
"Dia begitu indah. Tatapannya yang penuh sukacita dan senyumnya yang mempesona, seperti lukisan hidup yang tak terlukiskan"pikir rayhan yang segera terpana dengan Lana yang sepertinya sudah menyatu dengan alam.
Cantik.
Lana kemudian terlihat berhenti sejenak,dia memandangi matahari yang mulai tenggelam di cakrawala. Wajahnya terpancar kebahagiaan dan ketenangan.
" Lihatlah matahari terbenam. Indah sekali, ya?"kata Lana
" Iya, benar-benar memukau.
"Cantik sekali, seperti lukisan!"Tommy dan yang lain buru-buru mengambil telepon genggam mereka dan mengabadikan kejadian hari ini.
di mana para gadis dan beberapa penduduk desa sedang berdiri memandang langit dalam balutan tubuh yang basah kuyup.
benar-benar cantik.
Raihan yang sedang mendekati mereka, tatapannya tertuju pada Lana yang sedang menatap matahari terbenam dengan wajah yang begitu damai. Senyumannya semakin mempesona dalam sinar senja.
" Dia benar-benar seperti lukisan hidup. Cantik dan menawan. Kegembiraannya, senyumannya, semuanya begitu indah."
Perlahan Raihan tersenyum sendiri. Melihat Lana bahagia membuat hatinya ikut senang. Momen ini sepertinya tercipta untuk menggambarkan betapa istimewanya Lana dalam matanya.
Sementara itu, anak-anak desa yang lain juga bergabung dan menatap matahari terbenam dengan kagum. Piknik di tepi sungai yang indah ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Sayangnya jadwal KKN sudah akan berlalu.
Saat senja mulai menyapa, mereka kembali ke tempat piknik dan duduk bersama, menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah di cakrawala. Mereka bercerita, tertawa, dan mengenang momen-momen berharga yang telah mereka lewati selama KKN.
" Terima kasih, semua, sudah merayakan hari ini bersama. Aku merasa beruntung punya teman-teman seperti kalian"Kata Dea.
"Ya jika KKN berakhir kita jangan pernah melupakan ini Oke "
"Yap, don't forget this moment"
Hahaha
Mereka bersulang dan saling berpelukan dengan penuh kebahagiaan. Tapi ada dua hati yang sebenarnya masih tidak bisa bergeming dalam satu ayat.
__ADS_1
Don't forget this moment.