
Setelah resepsi pernikahan selesai, Lana masuk ke dalam kamar pengantin dengan hati yang berat. Cahaya lembut dari lampu membuat suasana ruangan terasa hangat, tetapi dalam hatinya, Lana merasa dingin. Dia duduk di ujung ranjang besar yang dihiasi dengan hiasan bunga-bunga segar.
Lana merasa perasaannya bercampur aduk. Pernikahan seharusnya menjadi momen yang membawa kebahagiaan, tetapi bayang-bayang Mia dan perasaannya terhadap Rayhan masih menghantuinya. Dia merasa kecewa, merasa seperti dia telah kehilangan posisi utama dalam hati Rayhan begitu saja.
Dalam pandangannya, dia melihat dirinya dan Rayhan, berpegangan tangan dan tersenyum bahagia di panggung pernikahan. Tapi saat ini, senyum itu terasa semakin jauh. Rasa kecewa memenuhi hatinya karena dia merasa Rayhan lebih banyak berpihak pada Mia daripada pada dirinya yang baru saja menjadi istrinya.
Dia bisa melihat arti pandangan rayhan pada Mia ketika mia bernyanyi di pentas tadi.
Jelas masih ada Mia dalam hati rayhan.
Dengan hati yang hancur, Lana mulai menghapus makeup-nya dengan perlahan. Setiap goresan tangan lembutnya menghapus lapisan demi lapisan riasan wajahnya. Dia melihat dirinya di cermin, matanya yang dulunya berbinar-binar kini terlihat lelah dan terisi kekecewaan. Dia menghela nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Mia, sekarang aku adalah istri rayhan.Suka atau tidak kau harus menghormati itu.Jangan salah kan aku Jika aku pun menganggap kau sebagai musuh "gumam Lana.
Dia ingat dengan apa yang di katakan oleh Mia tadi.
Mau mengancam Lana? sayang nya Mia salah memilih musuh.
Setelah selesai menghapus makeup, Lana memutuskan untuk mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian rumahan yang lebih nyaman. Dia melepas gaun putih yang indah itu dan menggantinya dengan daster sederhana. Dalam setiap gerakan yang dilakukannya, terpancar keputusasaan dan kekecewaan yang dalam.
Lana duduk di tepi ranjang, memeluk bantal erat-erat. Air mata mulai menetes di pipinya, tapi dia berusaha menahannya. Dia merasa hancur, merasa seperti dunianya runtuh.
" Mia,aku tau aku salah tapi ini adalah takdir ku untuk menjadi istri Rayhan. Aku pasrah dengan takdir ini mia.Bukan kah kau juga harus mengerti itu Mia" kata Lana dalam tangis nya.
Dalam kesunyian kamar pengantin, Lana merasakan beban perasaannya yang begitu berat.
Rasa kecewa pada Rayhan yang tidak bisa dia sembunyikan lagi dan keputusasaan atas situasi yang rumit menghantuinya.
" Lana, boleh Papa masuk sebentar?"tiba-tiba saja ada ketukan di pintu dan suara papa yang meminta izin untuk masuk.
__ADS_1
Lana dengan cepat mengusap air matanya dan berteriak."Iya, Papa. Silakan masuk"
Pintu kamar pengantin Lana terbuka perlahan dan Papa masuk ke dalam kamar. Lana duduk di ujung ranjang dengan wajah yang masih terlihat kusut karena tangisnya tadi.
"Ada apa, Papa?
dari wajahnya jelas Papa sedang merasa tertekan dan merasa kecewa dengan putrinya ini tapi dia masih memaksakan diri untuk tersenyum.
" Kamu tahu, Lana,hidup tak selalu seperti yang kita rencanakan. Ada momen di mana kita harus menghadapi tantangan dan memutuskan jalur yang harus diambil. tapi apapun yang terjadi orang masih harus tetap bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. terkadang bertanggung jawab adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan"
" Aku tahu, Papa" Bisik Lana malu.
Dalam kejadian itu, Lana paling kecewa dengan dirinya sendiri yang sudah membuat papa dan namanya kecewa. dia adalah Putri mereka satu-satunya harapan mereka.
Tapi karena egois dan cinta yang tidak bisa dijelaskan pada akhirnya Lana menghancurkan harapan.
"Ayo, Papa tahu Putri Papa tidak akan mengecewakan Papa lagi.Sekarang pergi dan rangkul tanggung jawabmu sendiri.Tapi sayang apapun keputusan akhirmu Papa dan Mama tetap akan mendukungmu asalkan kau bahagia"kata papanya lagi.
Papa mengatakan jika keluarga Rayhan ingin berkata sepatah dua kata dengan Lana di ruang tamu.
Jadi Lana harus pergi menemukan mereka.
Dengan dukungan dan kata-kata bijak dari Papa, Lana mengusap air matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. Dia merapikan pakaian rumahannya dan berjalan keluar dari kamar pengantin menuju ruang tamu. Saat ia memasuki ruang tamu, suasana yang berbeda langsung terasa.
Di ruang tamu, keluarga Rayhan telah berkumpul bersama beberapa tamu yang tidak dikenalnya. Mama Lana duduk di sofa dengan kepala yang sedikit menunduk, mengusap pelan air matanya. Senyuman hangat dari Papa Rayhan menyambut Lana saat ia masuk.
Beberapa orang yang tidak dikenal, kemungkinan dari pihak keluarga Rayhan, juga ada di sana. Wajah mereka tampak keruh tetapi juga ada sedikit raut prihatin dalam ekspresi mereka. Suasana ruangan seolah dipenuhi dengan campuran antara haru dan kerinduan.
Saat Lana melangkah masuk, tatapan orang-orang tersebut tertuju padanya. Mama Lana mengangkat kepalanya dan memberikan senyuman lembut sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan.
__ADS_1
Papa Rayhan menyapa Lana begitu juga dengan mama rayhan.
" Lana sini duduk dekat mama nak"kata Mama rayhan pelan.
Pemandangan itu memang tidak seperti resepsi pernikahan yang semarak. Tetapi, ada rasa kehangatan dan kepedulian di udara, seakan-akan mereka semua tahu bahwa situasi ini bukanlah yang diinginkan siapapun. Mama rayhan memegang tangan Lana dengan lembut, mencoba menghibur di tengah-tengah situasi yang sulit.
"Ehem ehem, Lana Izinkan papa memperkenalkan.mereka Ini adalah keluarga Budiarto, orang tua dari Mia"
Saat Lana melihat wajah Tuan dan Nyonya Budiarto, sesuatu terasa familiar. Ada kemiripan tertentu antara mereka dan Mia. Lana merasa ada suatu hal yang tersembunyi di balik pertemuan ini, tetapi dia tidak tahu pasti apa itu.
Tapi segera Lana mendapatkan firasat buruk.
Di dalam hatinya, Lana merasa ada pertanyaan yang mengganjal. Mengapa orang tua Mia ada di sini? Apa hubungannya dengan situasi yang sedang terjadi? Lana mencoba untuk tetap tenang dan menjaga sikapnya, tetapi rasa penasaran dan kebingungannya semakin menguat.
Rayhan duduk di samping papanya dengan diam dan kepala tertunduk.
Lana tidak bisa melihat apa pun dari reaksinya itu.
Situasi yang tadinya cemerlang dan penuh kebahagiaan perlahan berubah menjadi misteri yang perlu dipecahkan. Lana merasa dirinya berada di tengah-tengah pusaran perasaan campur aduk yang sulit diungkapkan.
"Lana ,papa ingin tanya sama kamu, dan kamu harus Jawab dengan jujur. apakah kamu tahu hubungan antara Mia Dan Rayhan sebelum ini?" tanya papa rayhan.
Deg...
Pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang tidak ingin lah ungkit lagi seumur hidup. Pedih rasanya ketika dia mendengar pertanyaan itu keluar dari ayah mertuanya yang baru saja sah hari ini.
Harus kan dia menjawab ini.
Lalu apakah hubungan pertanyaan ini dengan tamu yang tidak diundang.
__ADS_1