Pasrah Saja

Pasrah Saja
Patah tulang


__ADS_3

Lana tiba di depan rumah sakit dengan sepeda motor pinjaman dari Pak RT. Dia segera memarkirkan sepeda motornya dengan tergesa-gesa dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Saat memasuki pintu masuk, Lana merasakan suasana yang penuh dengan kekhawatiran dan kesibukan.


Rumah sakit umum Daerah ini terlihat sibuk dengan pasien dan keluarga yang datang dan pergi. Ruangan-ruangan terlihat bersih dan teratur, dengan berbagai papan informasi yang menunjukkan arah ke berbagai unit dan kamar. Pemandangan petugas medis yang sibuk dengan seragam putih mereka menambah suasana profesional dan perawatan di rumah sakit ini.


Lana berlari menuju meja informasi di dekat pintu masuk, di mana dia bertemu dengan teman satu rumahnya, Dea yang sedang menunggu di sana.


Lana berlari dengan napas yang terengah-engah." dea! Apa kabar Raihan? Di kamar mana dia berada?"


" Lana! Tenanglah dulu. Raihan berada di kamar 305, di lantai tiga. Tadi saya bertemu dengan dokternya dan mereka mengatakan bahwa kondisinya stabil. Aku yakin dia akan baik-baik saja"


Lana menghela nafas lega "Terima kasih, dea. Aku sangat khawatir. Ayo kita pergi ke kamar 305 sekarang"


Mia dan Lana berjalan cepat menuju lift dan naik ke lantai tiga. Di koridor rumah sakit yang tenang, mereka mengikuti petunjuk dan nomor kamar yang tertera di dinding. Akhirnya, mereka tiba di depan pintu kamar 305.


Lana menarik napas dalam-dalam sejenak, mencoba menenangkan diri sebelum memasuki kamar. Dia mengetuk pintu dengan lembut dan membuka pintunya perlahan.


Di dalam kamar, Raihan terbaring dengan wajahnya yang masih pucat. Perawat sedang melakukan pemeriksaan rutin untuk memeriksa tekanan darahnya. Lana dan Mia masuk ke dalam dengan hati-hati.


Lana berdiri di samping Dea menunggu dengan cemas dokter selesai memeriksa Raihan. Mereka berada di ruang tunggu yang tenang, suasana hening hanya dipecah oleh suara detak jam dinding. Lana diam-diam memperhatikan kondisi Raihan, yang terbaring di tempat tidur dengan wajah yang pucat. Luka di wajahnya diperban dengan hati-hati, dan lengannya yang kanan dipasangi gips.


Lana melihat dengan sedih pemandangan itu, melihat Raihan yang biasanya aktif dan energik sekarang sedang terbaring lemah. Matanya berkaca-kaca dan air mata mulai mengalir di pipinya, tanpa dia sadari.


Tepat pada saat itu, dokter keluar dari ruangan perawatan dan menghampiri Lana dan Dea.


"Dokter gimana kabarnya dokter?"tanya Lana buru buru.


"Pasien akan membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Lengan kanannya mengalami patah yang cukup serius dan membutuhkan waktu penyembuhan yang cukup lama. Kami sudah memberikan perawatan dan memasang gips untuk memperbaiki patahannya. Selain itu, ada beberapa luka ringan di wajahnya yang sedang dalam tahap penyembuhan"

__ADS_1


Lana menghela nafas lega mendengar kabar baik dari dokter. Meskipun sedih melihat kondisi Raihan, dia merasa sedikit lega bahwa kondisinya stabil dan ada harapan untuk pemulihan penuh.


Rayhan sekarang sedang tidur di bawah pengaruh obat bius.Lana dan Dea hanya bisa duduk memperhatikan Rayhan yang sedang tertidur itu.


"Dea gimana ceritanya sih sampai kejadian sampai seperti ini?"tanya Lana .


"Oh begini Lana...


Rayhan mengalami kecelakaan saat sedang mengendarai sepeda motor pulang tempat kkn.Kejadian tersebut terjadi di perempatan jalan yang cukup ramai, di mana ada kendaraan lain yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.


Kecelakaan itu dimulai ketika Rayhan berusaha menghindari mobil yang tiba-tiba berbelok tanpa memberikan lampu sein. Rayhan melakukan manuver mendadak untuk menghindari tabrakan, namun ia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari sepeda motornya. Dalam kejatuhan itu, tangannya terbentur keras di aspal dan mengalami patah tulang yang cukup serius.


Alasan mengapa Dea mengetahui kejadian itu lebih awal daripada yang lain adalah karena kebetulan Dea berada di lokasi kejadian pada saat itu. Dia sedang berjalan kaki di sekitar perempatan jalan tersebut dan secara kebetulan melihat kejadian tersebut terjadi. Dea segera mendekati Rayhan yang tergeletak di jalan dan memanggil bantuan serta memberikan pertolongan pertama sebelum tim medis tiba.


Dalam keadaan panik dan khawatir, Dea langsung menghubungi Lana untuk memberitahukan kejadian tersebut. Dea memiliki nomor telepon Lana dan menyadari pentingnya memberitahukan kondisi Rayhan secepat mungkin kepada teman-temannya yang lain. Oleh karena itu, Dea menjadi orang pertama yang memberi tahu Lana tentang kecelakaan yang menimpa Rayhan.


Mendengar itu Lana sedikit ragu dan tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja di dalam hatinya dia ingin membantu Raihan pada saat penting seperti sekarang. Tapi dia juga bingung karena semakin mereka dekat hatinya akan semakin sulit untuk lepas.


Tapi...


"Oke Dea, Hari ini aku akan mengurusi dia.hem tapi masalah biaya...


"Lana masalah biaya tidak khawatir ada yang mengcovernya, lagi pula kata dokter ini hanya untuk hari ini. tiga hari kemudian baru datang lagi ke rumah sakit untuk check up"kata Dea.


Saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi kecuali lengannya yang patah. Mungkin itu perlu waktu untuk sembuh namun begitu menurut dokter tidak ada masalah untuk melanjutkan KKN.


Toh yang terluka adalah lengan bukan kakinya.

__ADS_1


melihat Lana masih ragu Dea mendorongnya lagi dengan beberapa kata tambahan yang membuat Lana tidak bisa menolak.


Sampai saat ini Dea sendiri tidak tahu apa yang terjadi antara Lana dan Raihan Padahal di dalam pesawat kemarin mereka seperti akur.


Tentu saja ada yang menanyakan masalah ini langsung kepada Lana dan bertanya apa masalah di antara mereka. Sehingga sulit bagi Lana untuk menemani Raihan, padahal pria itu lagi butuh bantuan karena mereka sama-sama jauh dari rumah.


"sebenarnya kami tidak punya masalah apa-apa Dea, Raihan adalah pacar temanku dan dia nitip Rayhan sama aku agar selalu memantau apakah dia genit di sini" kata Lana yang langsung membuat dia terkejut.


Dea dan juga teman-teman yang lain berpikir mereka adalah pacar yang sedang bertengkar tapi rupanya ada cerita lain di balik itu.


Raihan dan lana hanya teman biasa.


"Oh jadi gitu toh, kamu itu dijadiin mata-mata sama pacarnya, hahaha. kupikir kalian ada sesuatu yang istimewa,maaf ya lana karena sempat curiga"kata Dea.


Lana juga tertawa tapi hanya dia yang mengetahui jika tawanya itu ada ketawa yang pahit.


Setelah berbicara bapak hal lagi pada akhirnya dia pergi meninggalkan Lana di rumah sakit ini yang harus menunggu Raihan.


Tanpa diketahui oleh Lana Dea melaporkan masalah Rehan yang kecelakaan pada ketua tim. Pada akhirnya ketua tim memindahkan posisi Rayhan dan kembali bergabung pada tim Lana.


Ini agar memudahkan Rayhan berinteraksi dengan orang satu rumah dan juga mendapatkan bantuan di saat yang sama.


Lana tidak tahu tentang hal itu yang jelas saat ini dia sedang menatap Rayhan dengan hatinya yang merasa sedih dan juga tidak nyaman.


Jika bisa dia ingin memeluk Rayhan sekarang dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


Tapi siapa dia untuk Raihan.

__ADS_1


Mereka hanyalah teman.


__ADS_2