
Kevin duduk di warung sarapan yang dipenuhi aroma kopi dan makanan lezat. Dia menatap keluar dari jendela, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di depan kampus. Matanya tajam mencari-cari keberadaan Lana, dan akhirnya, dia melihat sosok familiar dari kejauhan.
Lana keluar dari pintu kampus bersama Mia. Wajahnya tampak berbeda dari sebelumnya, dia tertawa dan bercanda dengan temannya dengan riang. Lana tampak lebih ceria dan bahagia dari sebelumnya, tidak terlihat terbebani oleh apapun.
Kevin merasa campur aduk saat melihat Lana begitu bahagia tanpa kehadirannya. Rasa kesalnya semakin memuncak, karena dia merasa ditolak dan diabaikan. Namun, dia berusaha mengendalikan emosinya dan memutuskan untuk menunggu Lana di sini.
Sambil menatap Lana dari kejauhan, Kevin berusaha menyembunyikan perasaannya yang terluka. Hatinya bergejolak karena merasa diabaikan dan marah pada Lana. Dia merenung tentang bagaimana dia bisa membalas dendam atas penolakan Lana. Pikirannya berputar-putar mencari cara untuk membuatnya merasa sesakit mungkin.
Namun, saat melihat Lana tertawa dan bahagia dengan Mia, ada juga rasa kehilangan di hati Kevin. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia merindukan kebersamaan mereka meskipun hubungan mereka telah berakhir.
Lana berjalan dengan langkah ringan, menampilkan kecantikan alaminya. Rambutnya yang hitam mengalir panjang, dibiarkan tergerai bebas menari di angin. Mata cokelatnya berbinar penuh semangat dan keceriaan, memancarkan kehangatan kepada siapa pun yang bertemu dengannya.
Pakaian Lana menggambarkan kepribadiannya yang ceria dan gaya kasualnya sebagai mahasiswi. Dia mengenakan celana jeans yang pas di tubuhnya, mengikuti kontur tubuhnya yang proporsional. Di atasnya, Lana mengenakan kaus berwarna cerah yang menyampaikan semangat muda dan energiknya.
Wajahnya yang lembut dan bercahaya ditambah senyumannya yang khas membuatnya terlihat begitu memikat. Lana memiliki kulit yang halus dan berseri, memberikan kesan kecantikan alami yang tak terlalu dibuat-buat.
Kepribadiannya yang hangat dan ramah membuatnya disukai oleh banyak orang di sekitarnya. Kevin pun pernah terpesona oleh kecantikan dan pesona alami Lana yang selalu membuatnya ingin berada di dekatnya.
Tapi Kevin lebih merindukan tubuhnya dibanding dengan sosoknya.
Kevin melihat Lana keluar dari kampus dan dengan langkah mantap mendekatinya. Lana merasa tegang, merasakan kehadiran Mia yang berada di sampingnya, yang dengan rasa ingin tahu memperhatikan situasi tersebut.
"Lana, bisakah kita bicara sebentar? Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting."
__ADS_1
Lana merasa sedikit panik, karena dia tidak ingin membahas masalah pribadinya dengan Kevin di depan Mia. Dia mencoba mencari cara untuk menolak, tapi Kevin dengan tegas melanjutkan.
"Ini tentang masa lalu kita, Lana. Aku ingin menyelesaikan beberapa hal penting".
Lana merasa terjepit di antara Kevin yang meminta untuk berbicara dan Mia yang dengan rasa ingin tahu mengamati mereka. Dalam keadaan tersebut, Lana merasa malu dan ingin segera menyelesaikan masalah ini.
Lana mau tidak mau setuju , jadi dengan suara rendah,dia berkata ."Baiklah, Kevin. Kita bisa bicara sebentar."
Lana membalikkan pandangan ke arah Mia, berusaha mencari pengertian dalam matanya. Setelah itu, dia dengan cepat meminta maaf pada Mia.
"Maaf, Mia. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan dengan Kevin. Aku akan segera kembali, ya?"
Mia meskipun sedikit bingung, menurut penglihatannya pria di depan ini pastilah pacarnya Lana tapi kenapa Lana sedikit enggan berbicara dengannya. namun begitu jika Lana tidak ingin bicara maka sudahlah.
Mia meninggalkan Lana dan Kevin dengan perasaan bingung, memilih untuk menjaga jarak dari mereka. Lana mengikuti langkah Kevin dengan hati yang berdebar dan segera naik ke sepeda motor Kevin yang terparkir di depan warung. Mereka memacu sepeda motor ke arah hotel yang tidak terlalu jauh dari kampus.
Mereka tiba di sebuah hotel murah yang terletak di pinggir jalan. Hotel ini terlihat sederhana dengan bangunan dua lantai, dinding berwarna pudar, dan beberapa logo hotel yang telah terkelupas. Lampu neon di depan hotel menyala dengan redup, memberikan nuansa sedikit suram pada tempat tersebut.
Saat Lana dan Kevin memasuki lobby hotel, mereka disambut oleh tata letak yang sederhana. Di tengah ruangan terdapat meja resepsionis dengan petugas yang terlihat lelah. Di sekitar lobby, terdapat beberapa kursi yang sudah agak rusak dan penuh dengan noda.
Mereka menuju ke tangga dan naik ke lantai atas. Lana mengikutinya dengan langkah ragu-ragu, merasa tegang dengan situasi yang semakin tidak nyaman. Kevin membuka pintu kamar dengan nomor 207, mengungkapkan sebuah kamar hotel yang sederhana dan minim perabotan.
Kamar tersebut terlihat kecil dengan tempat tidur ukuran tunggal yang sudah agak lusuh. Di samping tempat tidur, terdapat meja kecil dengan cermin yang agak kabur dan beberapa meja sampingan yang tidak terawat dengan baik. Di seberang tempat tidur, terdapat televisi kecil yang sudah ketinggalan zaman.
__ADS_1
Seluruh suasana hotel terasa redup dan sedikit suram, mencerminkan keadaan yang memang sederhana dan murah. Lana merasa campur aduk antara kegelisahan dan penyesalan saat melangkah masuk ke dalam kamar tersebut, menyadari bahwa dia telah memasuki wilayah yang tidak nyaman.
Lana memasuki kamar dengan hati-hati dan melihat seorang wanita duduk di depan jendela. Wanita itu memiliki rambut panjang yang terurai, terlihat cantik dengan wajah yang tampak lembut. Matanya yang cokelat jernih terlihat sedikit sayu, memberikan kesan melankolis pada penampilannya.
Wanita tersebut mengenakan pakaian yang sederhana namun masih terlihat anggun dengan gaun berwarna pastel yang memudarkan kecerahan warnanya. Tangannya menopang dagu dengan lembut, seolah-olah sedang dalam lamunan yang dalam.
Saat Lana melihatnya, wanita itu menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang penuh kerentanan. Bibirnya yang tipis tersenyum samar, menciptakan pesona yang memikat namun juga menunjukkan ketidakpastian.
Lana merasa ada kehalusan dan kelembutan dalam sikap wanita itu, seolah-olah dia membawa beban yang besar namun tetap berusaha menjaga sikap yang tenang dan terkendali.
Wanita itu menatap Lana dengan sorot mata yang penuh rasa bersalah. Pandangannya mencerminkan kekacauan dalam hatinya, seolah-olah ada perang batin yang tak terbendung di dalam dirinya. Raut wajahnya yang lembut dan anggun kini tampak terbebani dengan beban besar yang harus ia pikul.
Rambut panjangnya yang terurai dan senyum samarnya menjadi kontras dengan perasaan cemas yang terpancar dari matanya. Dia mencoba menyembunyikan kegelisahannya, tetapi pandangan matanya yang lembut dan kerut tipis di dahi memberikan petunjuk tentang perasaan yang terpendam.
Melihat pandangan wanita itu, Lana bisa merasakan konflik yang terjadi dalam dirinya. Ia tahu bahwa wanita itu juga berjuang dengan pilihan-pilihan sulit yang harus diambilnya. Lana merasa simpati dan empati terhadap wanita itu, karena dia juga mengerti bahwa seorang anak membutuhkan ayah dan wanita itu mungkin sedang berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak yang akan dilahirkannya.
Pandangan wanita itu seolah-olah memohon pengertian dan pengampunan. Lana dapat merasakan perjuangan yang dialami oleh wanita itu dan menyadari bahwa kehidupan mereka sekarang saling terkait dan terpaut.
Pertanyaan dan keraguan di dalam hati Lana semakin bertambah, seolah-olah ia harus memilih antara perasaan pribadinya dan tanggung jawab sosial yang lebih besar.
Yang jadi pertanyaan Lana sekarang adalah kenapa Kevin mempertemukan dia dan calon istrinya.
Apa maksud Kevin.
__ADS_1