Pasrah Saja

Pasrah Saja
Ditinggal nikah


__ADS_3

Lana berjalan dengan ceria di tengah-tengah lingkungan universitas yang baru baginya. Dia sudah mulai merasa betah dan nyaman di sini, hampir melupakan semua kenangan buruk tentang hubungannya dengan Kevin. Bersama teman-teman barunya, dia tersenyum dan tertawa dengan bahagia.


Namun, kebahagiaannya terputus ketika ponselnya berdering. Saat dia melihat panggilan itu dari ibunya, sedikit kekhawatiran menyelinap dalam hatinya. Dia menjauh sejenak dari teman-temannya dan menjawab telepon itu.


Lana mengangkat telepon." Halo, Ma?"


Mama Lana memanggil Lana dengan suara serak dan bergetar." Lana, nak, ada sesuatu yang harus Mama sampaikan padamu"


Lana mulai merasa cemas, saat ini Lana sedang berpikir apakah situasi di rumah sedang memburuk, apakah ada sesuatu yang terjadi dengan papanya.


"Apa itu, Ma? Apa yang terjadi?"


Mama Lana di seberang sana sedang berusaha menahan tangis." Kevin... dia... dia akan menikah.


Lana terdiam tidak percaya, apakah saat ini kupingnya sedang bermasalah.


" Menikah? Dengan siapa? Bagaimana bisa...


" Seorang gadis huf.. melaporkan bahwa dia sedang hamil, dan Kevin merasa bertanggung jawab atas itu. Dia mengatakan kepada kami bahwa dia ingin bertanggung jawab dan menikahi gadis itu"


" Tidak mungkin... Ini tidak bisa terjadi...


" Maafkan Mama, Nak, bahwa Mama harus memberitahumu tentang ini"kata Mama Lana dengan suara lirih.


Lana berusaha menenangkan ibunya dengan cepat,"Tidak apa-apa, Ma... Ini bukan salah Mama...


Mama Lana di seberang telepon jelas saja menangis tapi tidak histeris hanya sekali terdengar cegukannya yang sepertinya sedang direndam.


" mama tahu betapa beratnya hatimu saat ini, Nak. Mama sangat menyesal ini harus terjadi padamu"kata Mama Lana Bukankah mama dan papah dulu yang mendorong Lana agar bertunangan dulu dengan Kevin.


Oh untung saja itu baru tunangan kalau langsung nikah kemarin .Bukankah artinya Lana sudah harus menggendong anak tirinya di waktu.

__ADS_1


"Sialan, Ma... Sialan! dasar kampret,apa aku aja nggak cukup, mah ,hiks..hiks...mah aku... aku...


"Semoga kamu bisa segera pulih dari ini, Nak. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik"kata Mama lama yang juga tahu tidak sekarang sedang hancur. mereka sudah bertunangan sebelum anak pindah ke universitas baru ini tapi itu belum ada 3 bulan sekarang ada gadis yang mengatakan dirinya hamil anak Kevin.


Wanita mana yang tidak sedih dengan kejadian seperti itu.


Lana masih berusaha menahan tangis, dia hanya merasakan dadanya begitu sakit seperti sedang dihimpit batu dengan puluhan ton tapi dia berusaha tegar di depan mamanya."Terima kasih, Ma. Aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu waktu untuk menenangkan diri "


Kevin sudah merusak Lana sebagai gadis baik-baik, Lana tidak berharap jika Kevin akan melakukan hal yang lebih buruk daripada itu.


Sekarang dia malah menghamili gadis lain yang dipaksa menikah. Saat ini air mata Lana tidak lagi cukup untuk mengungkapkan kesedihannya.


" Mama akan selalu ada untukmu, Nak. Jangan ragu untuk menghubungi Mama jika kamu membutuhkan dukungan"suara mamanya di seberang sana jelas bergetar seperti menangis. Suara nya jelas menunjukkan seperti itu yang membuat Lana juga ingin meneteskan air mata.


" Aku tahu, Ma. Aku coba menghadapinya" kata Lana yang mengusap air matanya sendiri.


Sedih.. hancur, itulah Lana sekarang.


" Aku akan mencoba, Ma. jangan khawatir karena di sini baik-baik saja kok, Mama Lana ada banyak tugas mana pergi dulu ya mah, assalamualaikum"


"waalaikumsalam hati-hati ya jadi ingat pesan mama"kata Mama Lana di seberang sana.


Lana menutup teleponnya dengan perasaan campur aduk. Kesedihan dan kecewa mencampur baur dalam hatinya. Meskipun dia hampir melupakan Kevin, kabar ini mengingatkannya tentang apa yang telah terjadi di antara mereka. Dalam hati, dia merenung tentang masa depannya yang harus dia hadapi tanpa Kevin.


Lana yang duduk sendirian di taman kampus, sambil memegang telepon di tangannya. Saat mendengar kabar dari mamanya, ekspresi wajahnya berubah menjadi kaku, seolah-olah dunia di sekitarnya berhenti berputar. Air mata mengalir tanpa suara dari matanya, menggambarkan penderitaan yang mendalam di dalam hatinya.


"Kevin akan menikah karena ada gadis lainnya sedang hamil, ha..hamil.. Kevin menikah...


Dalam keheningan yang mencekam, Lana mencoba menyerap berita yang baru saja diterimanya. Hatinya terasa teriris-iris oleh kesedihan dan kekecewaan. Walaupun dia tidak begitu mencintai Kevin, tetapi pernikahan itu seharusnya menjadi milik mereka berdua. Tapi sekarang, semuanya berubah karena wanita lain yang sedang hamil anak Kevin.


"Jadi selama ini dianggap aku sebagai apa? Pelacur kah?hah.. Kevin.. Kevin tega nya kau...

__ADS_1


Lana merasakan pukulan berat ketika menyadari bahwa dirinya tidak lagi dianggap layak oleh Kevin karena keperawanannya telah hilang. Perasaan tidak berharga dan merasa kotor mulai menyergapnya. Dia merasa seperti dunia ini tidak ada tempat bagi dirinya yang sudah tidak murni lagi.


Untuk apa aku hidup? laki-laki mana yang ingin menikahi gadis yang tidak perawan lagi seperti aku?" gumam Lana sendirian.


Dalam keputusasaan dan bingung, Lana mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang rumit ini. Pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya dengan beban yang begitu berat ini?


Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuinya, membuatnya semakin tenggelam dalam kesedihan yang dalam.


Tidak apa-apa jika Kevin menikah dengan gadis lain. Tidak apa-apa , tapi Lana sudah kotor sekarang. Setiap jengkal tubuhnya sudah pernah dinikmati oleh Kevin.


Seharusnya Kevin berpikir untuk menjaga dirinya agar tidak tergoda wanita lain. Ataukah Kevin memang pria seperti itu yang suka gonta-ganti pasangan.


Aku kotor Mama... aku kotor papa...


Lana duduk di sana, tanpa kekuatan untuk bergerak atau berbicara. Air mata terus mengalir, menunjukkan betapa hancurnya hatinya. Dia merasakan kesedihan dan kehilangan yang begitu besar, tidak tahu bagaimana menghadapinya.


Dalam kebingungan dan keputusasaan, dia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya, mencari kekuatan untuk bangkit dari penderitaan yang menghantuinya.


Lana merasa perlu melarikan diri dari kepenatan dan kekecewaan yang melanda. Dia memutuskan untuk membolos hari itu dan mencari tempat yang tenang untuk merenung dan melepaskan emosinya. Dengan hati yang hancur dan mata yang masih berair, dia berjalan menuju sebuah taman tersembunyi di pinggiran kota.


Taman itu terletak di atas bukit kecil, di antara pepohonan rindang yang memberikan teduh dan ketenangan. Jalanan setapak yang terbentang membelah taman, memberikan akses bagi Lana untuk menemukan tempat yang ia cari. Di tengah taman, ada sebuah kolam kecil yang dikelilingi oleh bunga-bunga warna-warni yang indah.


Lana memilih sebuah bangku batu di tepi kolam, tempat yang nyaman untuknya duduk dan merenung. Suara gemercik air dari air mancur di kolam memberikan latar belakang yang menenangkan. Angin sepoi-sepoi berbisik di telinganya, membawa sedikit kelegaan bagi hati yang sedang remuk.


Di sela-sela bunga-bunga yang menghiasi taman, terdapat pepohonan besar yang memberikan naungan yang sempurna. Cahaya matahari menembus celah-celah daun, menciptakan bayangan yang menari-nari di tanah. Suasana tempat ini begitu damai, seakan mengundang Lana untuk meluapkan emosinya dengan bebas.


Lana duduk di bangku itu, membiarkan air mata jatuh dengan bebas. Dia tidak perlu menyembunyikan kesedihannya di tempat ini yang begitu sepi. Taman ini memberinya kesempatan untuk merenung, menghadapi keputusan sulit yang harus dia ambil. Di tengah ketenangan tempat ini, dia merasakan sedikit lega dan merasa terhubung dengan dirinya sendiri.


Sambil menangis, Lana berharap bahwa tempat ini bisa menyerap segala duka dan kesedihannya. Meskipun langkahnya terasa berat, tempat ini memberinya harapan bahwa dengan waktu, dia akan mampu bangkit dan menemukan jalan untuk melanjutkan hidupnya.


Bisakah Lana.

__ADS_1


__ADS_2