
Jika ada satu kata yang cocok dengan kejadian ini, bisakah ini di sebut dengan pasrah.
Lana merasa frustasi dengan dirinya sendiri. Setiap kali dia memikirkan betapa rumitnya situasinya, rasa marah dan kekecewaan menggebu-gebu di dalam hatinya. Dia tidak pernah berniat untuk menjadi penyebab kerusakan hubungan, apalagi merampas kebahagiaan sahabatnya. Namun, entah mengapa takdir tampaknya sudah memintanya untuk menjadi bagian dari skenario pahit ini.
Duduk sendiri di kamarnya, Lana merenung dengan mata kosong. Hatinya terbelah antara perasaan cinta dan rasa bersalah. Dia tidak ingin menjadi pelakor, tetapi hatinya tidak bisa memungkiri bahwa Rayhan telah menjadi pelabuhan terakhir baginya. Pasrah, kata itu terus menggema dalam benaknya. Meskipun disebut sebagai pelakor, pasrah adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini.
Pasrah.
Dia memahami bahwa dia harus menerima kenyataan ini, meskipun itu menandakan dia telah melangkah melewati batas sahabatnya. Pasrah, dia membiarkan dirinya terhanyut dalam perasaan campur aduk ini.
Namun, dia juga tahu bahwa pasrah bukan berarti menyerah begitu saja. Dia harus mencari cara untuk memperbaiki segala kerusakan yang sudah terjadi, meskipun itu terasa sangat sulit. Pasrah, kata itu seperti mantra yang mengingatkannya bahwa hidup penuh dengan ujian dan takdir yang sulit diprediksi.
Lana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan pikiran dan emosinya. Meskipun hatinya terasa hancur dan tersiksa, dia akan berusaha menghadapi segala konsekuensi dari pilihan-pilihannya. Pasrah, dia akan menjalani setiap langkah dengan kesadaran dan tanggung jawab, meskipun itu berarti dia harus membawa beban berat di pundaknya.
Dalam keheningan kamarnya, Lana memandang keluar jendela. Dia memutuskan untuk menerima takdirnya dengan pasrah, sambil berharap bahwa suatu hari nanti, keadaan akan menjadi lebih baik. Pasrah, kata itu menjadi sumber kekuatan bagi Lana untuk tetap tegar dalam menghadapi cobaan yang begitu berat ini.
Suasana di rumah Lana telah berubah drastis semenjak kejadian Mia di kamar Lana . Mama Lana yang sebelumnya penuh perhatian dan kelembutan, sekarang terlihat marah dan kecewa. Tatapan tajamnya terkadang melintas pada Lana, tetapi dia dengan sengaja mengacuhkan putrinya dalam segala hal. Setiap kali Lana berbicara atau mencoba untuk berinteraksi, Mama Lana seakan mengabaikannya dengan sengaja.
Hanya saja Papa Lana tidak mengetahui perang dingin yang terjadi antara anak dan istrinya ini.
"Mama gimana masalah undangan dan pakaian pengantin apa semuanya sudah selesai?"" kata Papa Lana dengan nada santai, dia sibuk untuk menyuapi bulunya sendiri dengan makanan sehingga tidak melihat reaksi dari istrinya.
"Sudah semua nya, hanya nunggu hari h saja"
Awalnya Mama Lana ingin melakukannya dengan tangannya sendiri ,seperti mencari pakaian pengantin dan mencoba yang terbaik untuk putrinya itu meskipun menikah hanya dengan cara sederhana .Tapi setelah dia mengetahui sebab dan akibatnya .Dia menjadi emosi dan merasa tidak perlu melakukan hal-hal yang mewah.
Mama Lana secara sepihak menganggap pernikahan ini adalah hukuman untuk putrinya karena sudah melanggar norma-norma keagamaan dengan **** bebas.Bahkan tidak memiliki hati nurani dengan merampas kekasih sahabatnya sendiri.
"Ya sayang,tapi tidak apa-apa mengeluarkan dana yang sedikit lebih lakukan saja yang terbaik Hem"Kata papa Lana.
"tidak perlu bermewah-mewah pah lagi pula jangan sampai kita menghambur-hamburkan uang simpanan hanya untuk pernikahan ini. Ingatlah untuk hari tua "kata mama dengan ketus.
Lana menatap kosong piringnya, merasa berat hati. Dia tahu bahwa Mama-nya sangat marah padanya dan hal itu membuatnya merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Papa Lana mencoba lagi, "Apa kamu sudah berpikir tentang bagaimana kamu ingin merayakan pernikahanmu, Lana? Apa rencanamu?"
Lana menelan ludah, merasa tegang. Dia tahu Mama-nya tidak akan menjawab, tetapi dia berusaha menjawab pertanyaan Papa Lana.
"Aku... Aku pikir, kita bisa melakukan sesuatu yang sederhana saja, Papa," kata Lana dengan suara lemah.
Papa Lana mengangguk, "Sederhana adalah pilihan yang baik. Tapi, bagaimana dengan sahabat-sahabatmu? Apa mereka akan datang?"
Lana menggigit bibirnya, merasa semakin takut akan reaksi Mama-nya. Dia merasa seperti berjalan di atas kawat tipis, takut setiap kata yang keluar dari mulutnya akan memicu kemarahan lebih lanjut.
"Kamu bisa menjemput mereka atau aku bisa membantu dengan itu," tambah Papa Lana.
Mama Lana akhirnya berbicara dengan nada dingin, "Tidak perlu, biarkan Lana saja yang menangani semuanya."
Teman macam apa yang bisa diundang oleh Lana. Teman satu pekerjaan di kantor syahbanda tidak mungkin dia undang. Pergi mengundang teman-teman mantan sefakultas juga akan sangat memalukan .Karena mereka semua tahu tentang Mia yang pacaran dengan Raihan.
Jadi tidak mungkin mengundang orang.
Lana mencoba tersenyum, tetapi senyum itu terasa pahit dan lemah.
Beberapa hari kemudian, Mama masih tetap saja seperti itu. terkadang Mama disibukkan dengan beberapa pekerjaan dengan alasan pernikahan lama.
Memang sih mengurus pernikahan itu tidak mudah tapi perlakuan Mama yang seperti ini benar-benar membuat Lana jadi tidak percaya diri.
Jadi dua minggu sebelum pernikahan Alana mengintip papa. Setelah Papa pergi biasanya Mama juga akan berangkat pergi dengan kesibukan yang tidak diketahui.
Lana segera menarik tangan mamanya dan memohon ampun dengan tulus.
"Mama , ampuni lana mama.lana tau salah mah"katanya dengan mata yang berlinang.
Mama juga sedih dengan putri satu-satunya ini yang sedang menangis tapi hatinya lebih sedih lagi mengingat apa yang dilakukan oleh putrinya di belakang.
Dia benar-benar menjadi wanita murahan yang mengumbar tubuhnya ke mana-mana. suami tidak tahu tapi juga tahu mungkin dia akan merasa malu juga.
__ADS_1
Mama sudah menahannya berhari-hari dan sekarang ketika Lana duduk bersimpuh dia tidak merasakan sedih tapi merasa emosi yang meledak-ledak dalam sekejap.
"Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mama nggak pandai mengajar anak. pengajaran tentang agama itu kurang sampai kamu berani membuka aurat dan menyerahkan tubuhmu pada laki-laki yang bukan muhrim"kata Mama yang kecewa berat.
" Hanya untuk mendapatkan kekasih dan sahabat sendiri ,kamu rela menyerahkan tubuhmu padanya? Ah Lana, mama adalah ibu kandungmu orang yang sudah melahirkanmu. Tapi mama mau berkata ,Jika saja mama bukan ibu kandungmu maka kau sudah mama usir dari rumah. mama malu mengakui kau sebagai Putri, mama malu putri ku seorang pelakor" sambung nya
Lana tidak tahu harus menjawab apa dia tercakap, tapi apa yang dikatakan oleh mamanya Ini adalah sebuah kebenaran.
Demi Rayhan dia rela menyerahkan diri, demi Rayhan Dia sudah menjadi seorang pelakor.
"Mama, Lana tahu Mama itu kecewa sama lana. tapi mama apakah mama tahu Lana juga tidak ingin berakhir seperti ini. Lana hanya jatuh cinta mama dan hanya ingin merasakan sesaat kesenangan bersamanya karena tahu itu salah tapi Lana tidak berdaya mama. Lana hanya pasrah dengan takdir yang dikasih diberi oleh Allah. mungkin ini adalah jalan mana untuk bisa menikah dengan Raihan maka Lana pasrah mama, Lana pasrah dengan takdir ilahi"kata Lana yang menjelaskan lagi.
Kata pak ustad, tidak akan ada sehelai daun pun berguguran di bumi tanpa ada izin dari Allah. Jadi apapun alasannya kejadian hari ini dan pernikahannya antara dia dan Rehan adalah kehendak Allah jua.
Karena hanya pasrah kan, dia hanya sedang mengikuti jalan yang digariskan oleh Allah.
Plak...
"dasar gila, kau hanya sedang mencari pembenaran atas dosa yang sudah kau buat. Allah selalu memberikan manusia itu pilihan. Dan pilihan apa yang sudah kau buat hah? Setelah semuanya kau menyalahkan Allah dengan mengatakan ini takdir?? Hah pemikiran apa itu Hem!!"
Mama marah besar dan mulai mengatakan beberapa hal yang membuat Lana pusing.
Mama juga menampar Lana berkali-kali dan berharap putrinya itu sadar diri.
Di sini mama mulai menangis dan menyalahkan diri sendiri karena tidak pernah mengajarkan ilmu agama lebih dalam pada putrinya.
Tapi di sisi lain Lana sedang bingung tentang apa yang sedang dikatakan oleh Mama.
Menurut Lana, apa yang terjadi adalah takdir dari Allah dan dia adalah manusia yang pasrah untuk menerima takdir.
Jadi apa yang salah dengan Lana yang sedang pasrah.
Tolong lah,Lana tidak mengerti.
__ADS_1