
Kabar Lana dan Rehan yang dipecat dengan tidak hormat segera menyebar seperti api yang menjalar di tengah tetangga-tetangga dekat mereka. Seperti ledakan bom gosip, berita ini menjadi bahan perbincangan hangat di setiap sudut kompleks perumahan. Berbagai versi cerita bermunculan, mengalir dari mulut ke mulut dengan cepat dan tanpa ampun.
Pagi itu, ibu-ibu yang sedang berbincang di depan rumah dengan canggung merendah suara begitu mereka melihat Lana keluar.
"Ehh lihat tuh,ih nggak tahu malu ya ckckck"
"Hus jangan keras-keras, nanti kedengeran!"
Pandangan singkat yang dipertukarkan di antara mereka mengandung nuansa kebingungan dan penasaran yang tidak terucapkan. Beberapa dari mereka mencoba untuk tidak terlalu terlibat, sementara yang lain tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut terlibat dalam perbincangan.
Di warung kopi lokal, para lelaki yang sedang duduk bersama memperdebatkan cerita yang mereka dengar dari berbagai sumber. Beberapa dari mereka berbicara dengan nada yang meragukan kebenaran berita, sementara yang lain mengangguk tahu seolah mereka memiliki pengetahuan tersembunyi tentang hal itu.
Di sekitar area rumah lana,para tetangga yang biasanya saling berjabat tangan dan bertegur sapa dengan hangat kini berbicara dengan bisik-bisik dan pandangan tertahan. Mereka mencoba untuk bersikap wajar di depan Lana , tetapi tidak dapat menyembunyikan keingintahuan mereka yang merayap.
Rumah Lana sendiri seakan menjadi pusat sorotan. Tetangga-tetangga yang lewat melambatkan langkah mereka, mencuri pandang ke dalam rumah ketika mereka berpura-pura tidak melihat. Pintu-pintu terbuka lebar, seperti memberi tahu dunia bahwa ada sesuatu yang terjadi di sana. Tidak sedikit pula yang menghubungi teman-teman mereka, berbicara tentang berita ini melalui pesan teks atau panggilan telepon.
Gosip ini tumbuh seperti gelombang yang tak terkendali, membawa cerita-cerita tambahan, perkiraan, dan komentar dari setiap sudut. Setiap kali para tetangga berkumpul, percakapan selalu berakhir pada dua nama,Lana dan Rayhan. Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi semua orang merasa memiliki hak untuk berbicara tentangnya.
Di antara semua ini, Lana dan Rayhan merasa seperti menjadi bahan eksperimen di atas panggung besar yang disebut kompleks perumahan. Mereka merasakan sorotan dan tekanan dari setiap mata yang memandang, sementara cerita mereka sendiri terputus-putus dan berubah-ubah oleh angin gosip. Dalam keheningan rumah mereka, mereka hanya bisa berharap bahwa waktunya akan membawa kejelasan dan memadamkan api gosip yang berkobar.
Di dalam ruang keluarga yang hangat, Lana duduk di antara mama dan papa yang tampak penuh perhatian. Meskipun dalam hatinya masih bergejolak karena situasi yang baru saja terjadi, dia berusaha tetap tersenyum untuk mengatasi rasa cemasnya.
" Sayang, kita ingin mendengar pendapatmu tentang resepsi pernikahanmu nanti. Bagaimana kamu ingin menyelenggarakannya?" tanya Mama Lana pelan.
__ADS_1
" Ma, Pa, aku rasa yang sederhana saja sudah cukup. Aku ingin fokus pada momen ijab kabul di kantor KUA dan resepsi yang sederhana"
" Jadi, kamu ingin menghindari yang terlalu ribet dan mewah ya?"
" Iya, Pa. Aku merasa, saat ini yang terpenting adalah momen itu sendiri, bukan pernak-perniknya"
Wajah Mama Lana tampak sedih dan penuh kerinduan saat dia mengutarakan perasaannya. Dulu, dia pasti membayangkan pernikahan putrinya sebagai sebuah pesta yang megah dan meriah, di mana Lana akan tampil cantik dan berbahagia di depan semua orang. Tapi sekarang, situasi yang tidak terduga membuatnya harus menghadapi kenyataan.
Ketika Lana mendengar kata-kata tersebut, air mata mengisi mata dan wajahnya tampak penuh rasa bersalah. Dia memeluk erat mama dengan tangisan yang tertahan, merasakan beban perasaan dan penyesalannya. "Maafin aku, Ma," ujarnya berkali-kali di antara isakan.
Papa Lana menepuk lembut pundak Lana, berusaha memberikan dukungan dan hikmat dalam momen sulit ini. Meskipun dia berusaha menahan tekanan kuat yang dia rasakan di dalam hatinya. "Ini adalah sebuah takdir yang ditulis oleh Allah subhanahu wa ta'ala, Nak," katanya dengan suara lembut. "Kita tidak bisa melawan takdir-Nya, tapi kita bisa menjalani setiap fase dalam hidup dengan keberanian dan tanggung jawab."
Mama Lana melepaskan pelukan dan menatap mata Lana dengan penuh kasih sayang. Dia mengelus lembut pipi putrinya yang basah oleh air mata. "Sayang, Mama uh... Mama hanya huhuhu"
Lana mencoba tersenyum di tengah-tengah kepedihan yang dirasakannya. Dia merasakan kekuatan dari dukungan dan cinta orang tua yang tulus. Meskipun situasinya tidak seperti yang diharapkan oleh semua orang.
Sementara Lana dan orang tua nya sedang menguat kan perasaan,di taman kota yang sunyi, suasana terasa berat saat Rayhan duduk di samping Mia yang memeluk lengan nya.Mata rayhan penuh dengan kegelisahan dan penyesalan, karena dia tahu bahwa apa yang akan dia katakan akan merusak hati Mia.
Mia yang duduk di depannya tampak tidak curiga, dan dia belum tahu bahwa janji-janji cinta yang telah dia rasakan selama ini akan berakhir dalam kehancuran.
"Ray aku kangen banget ya, Hem kamu kangen aku kan Ray?"kata Mia yang sudah terbiasa manja dengan Rayhan.
Rayhan menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang sulit, "Mia, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu... Rencana pernikahan kita, aku tidak bisa memenuhinya." Suaranya penuh dengan rasa penyesalan.
__ADS_1
Mia terkejut, dia melepaskan pelukannya dan menatap Raihan dengan mata melebar tidak percaya, dia merasa seperti dunianya runtuh dalam sekejap. Dia menatap Rayhan dengan tatapan yang penuh dengan kebingungan dan kehancuran. "Apa yang kamu katakan, Rayhan? Apa maksudmu?"
Dengan suara lirih dan hati yang hancur, Rayhan melanjutkan, "Aku... aku memutuskan untuk menikahi Lana." Dia mengatakan hal ini dengan berat hati, menyadari betapa menyakitkan kata-kata itu bagi Mia.
"A..apa?mi.mia? apakah ini Mia sahabat ku?"
Mia begitu terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia merasa seperti pukulan keras yang membuatnya kehilangan kendali atas emosinya. Tangis histeris mulai memenuhi udara ketika rasa sakit dan pengkhianatan merayap ke dalam hatinya. "Tidak mungkin, Rayhan! Tidak mungkin kamu melakukannya padaku!"
Rayhan hanya bisa menunduk, merasa bersalah dan seakan tidak punya kekuatan untuk menghadapi ekspresi kesedihan Mia. Dia mencoba untuk mendekati Mia, tapi Mia sudah tidak bisa menahan lagi. Dia meratapi kehilangan yang mendalam, terasa seperti dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Seketika itu juga, Mia jatuh berlutut di depan Rayhan, tangannya meraih celananya dengan penuh kesedihan. Dia memohon dengan suara lirih, "Tolong, Rayhan, jangan tinggalkan aku. Jangan biarkan aku sendiri..."
Rayhan hanya bisa melihat dengan mata berkaca-kaca, tak tahu harus berbuat apa. Dia mencoba mengangkat Mia dan merangkulnya, tetapi semuanya terasa seperti kacau balau. Dia mengulurkan tangan gemetar, ingin menghapus air mata Mia, sementara hatinya terasa hancur karena tidak bisa menghapus luka yang dia sebabkan.
"Mia, maaf kan aku Mia...!"
"Rayhan, kenapa dia Ray? kenapa dia? Dia ...dia sahabat ku sendiri dan kami...kami akhh... rayhan Huhuhu...!!"
Suara tangis histeris Mia yang mencapai puncaknya. Semua harapannya hancur, cintanya dirampas oleh sahabatnya sendiri, dan perasaannya dihantui oleh pengkhianatan yang mendalam
Rayhan hanya bisa memandang, penuh dengan penyesalan, mengetahui bahwa dia telah merobek hati Mia dengan keputusannya yang tidak bisa dia kembalikan.
Mua maafkan aku.
__ADS_1