
Ketika pintu terbuka dengan paksa, beberapa orang melangkah masuk dengan tegas dan penuh tekad. Mereka seakan memiliki hak untuk masuk tanpa izin, menunjukkan ekspresi yang keras dan tegas. Ruangan yang tadinya sunyi kini dipenuhi oleh keberisikan langkah kaki mereka yang datang dengan kegugupan dan penasaran.
Raihan dan Lana tercengang mendengar suara pintu di dobrak tapi mereka tidak sempat bereaksi apapun.
Karena orang-orang yang datang kebanyakan yang sudah berlari ke arah di mana sekarang mereka berada.
Di tengah kegemparan ini, ada sejumlah emak-emak yang ikut masuk dengan mata yang terbelalak dan mulut yang ternganga. Mereka terkejut melihat apa yang tengah terjadi di dalam rumah. Kebetulan saja mereka juga sedang berada di sekitar area tersebut dan tertarik untuk ikut menyaksikan.
"Ya Allah, apa yang sedang terjadi di sini?!"
"Wah, ada apa sih? Kenapa pada heboh begini?"
Kata-kata terkejut dan kebingungan meluncur dari bibir para emak-emak tersebut. Wajah-wajah mereka tampak campur aduk antara kaget, bingung, dan juga ingin tahu. Mereka mengamati dengan seksama situasi yang ada di dalam rumah sewa tersebut.
Namun, kehebohan ini semakin bertambah ketika mata mereka tertuju pada sosok Lana dan Rayhan yang ternyata sedang berduaan di dalam ruangan.
Ekspresi Lana dan rayhan tampak sedikit canggung dan terkejut ketika mereka menyadari bahwa banyak orang telah memasuki rumah mereka secara tiba-tiba.
"Ah, maaf ya, a..ada apa ini" kata salah Rayhan dengan raut wajah yang canggung dan tersipu-sipu.
Tetapi suasana sudah begitu kacau, dan suasana canggung pun merembes ke dalam ruangan tersebut. Para emak-emak terus memandang Lana dan Rayhan dengan pandangan yang campur aduk, antara kebingungan, curiga. Kejadian yang tak terduga ini semakin membuat suasana menjadi semakin memanas, dengan kata-kata kejut dan candaan yang terlontar dari mereka.
"Aduh, bisa-bisanya mereka ngumpul begini di dalam rumah sewa!"
"Iya, iya, bisa jadi ini adalah tempat rahasia mereka!"
"coba periksa apakah masih pakai daleman apa ngga"
Tidak diragukan lagi, adegan ini menciptakan kegemparan dan kehebohan di lingkungan sekitarnya. Para emak-emak yang tak sengaja menyaksikan situasi tersebut, tanpa disadari telah menciptakan sensasi yang tak terduga.
Lana merasakan dunianya hampir runtuh dulu juga dia pernah ketangkap basah seperti ini bersama Kevin tapi dia benar-benar tidak sedang melakukan apapun saat itu dan itu murni hanya sebuah kesalahpahaman.
Tapi saat ini bagaimana dia bisa mengatakan Ini adalah sebuah kesalahpahaman. untungnya tadi dia tidak sampai buka-bukaan segala.
__ADS_1
Tapi sebenarnya yang dikhawatirkan oleh Lana ini tidak ada gunanya lagi. seseorang sudah merekam kejadian sebelum pintu di dobrak dari sisi jendela.
Dan video itu langsung dikirim ke kantor Syahbandar dan masuk ke dalam nomor Pak Barat.
Pak Barat duduk di ruang kerjanya dengan serius, sibuk merapikan beberapa dokumen di atas mejanya. Namun, tiba-tiba telepon genggamnya bergetar dengan keras. Dia memandang layar dan melihat pesan masuk yang berisi video singkat. Dengan penasaran dan rasa cemas yang merayap, dia segera membuka pesan tersebut dan memutar video itu.
Tatapan mata Pak Barat menjadi serius ketika dia menyaksikan adegan di dalam video tersebut. Wajahnya berubah dari rasa penasaran menjadi ketidakpercayaan yang mendalam. Dia melihat Lana dan Rayhan yang sedang berdiri di tengah kerumunan warga, dihadapkan dengan kemarahan Pak RT dan beberapa orang lainnya. Ekspresi takut dan cemas terpancar jelas di wajah Lana dan Rayhan.
Tak berlama-lama, Pak Barat meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar ruangan. Dia tidak punya waktu untuk berpikir panjang, situasi ini harus segera diatasi. Dengan langkah cepat, dia berjalan menuju kendaraannya dan membuka pintu mobil. Beberapa anggota timnya yang melihat reaksinya segera mengikuti dan mendekatinya.
"Ada apa, Pak Barat?" tanya salah satu anggota tim dengan nada cemas.
Pak Barat memberikan telepon genggamnya pada salah satu anggota tim. "Tontonlah video ini. Kita harus segera ke TKP."
Anggota tim tersebut melihat video dengan ekspresi terkejut, dan mereka segera memahami urgensi situasi ini. Tanpa banyak kata, mereka segera masuk ke dalam mobil dan mengikuti langkah Pak Barat.
Tim yang dibawanya terdiri dari beberapa anggota keamanan kantor Syahbandar yang terlatih. Mereka adalah orang-orang yang dapat diandalkan dan siap bertindak dengan cepat. Di dalam mobil, suasana tegang terasa begitu kental. Mata semua orang terfokus pada layar telepon genggam yang menampilkan video yang memicu kejadian ini.
Mobil melaju dengan cepat menuju rumah sewa yang terletak di tempat kejadian. Setiap detik terasa begitu lama, dan ketegangan semakin terasa di udara. Begitu mereka tiba di TKP, mereka melihat kerumunan warga yang masih berkerumun di sekitar rumah sewa tersebut.
"Pak Barat!" seru Lana dengan suara yang hampir tidak terdengar karena kegugupannya. "Terima kasih ya Allah, Anda datang. Saya harus memberi tahu pak semua yang terjadi!"
Pak Barat memandang Lana dengan tatapan serius, menunggu penjelasan lebih lanjut. Sia hanya ingin mendengar apakah saat ini Lana masih bisa berkata jujur ataukah dia masih bisa berbohong.
Lana mencoba menenangkan dirinya sendiri, mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"Pak Barat, saya tahu semua ini terlihat buruk, tapi sebenarnya..." Lana berbicara dengan cepat, mencoba menjelaskan situasi dengan sejelas mungkin. "Saya hanya ingin memberi sarapan pagi untuk Rayhan. Saya khawatir dia tidak merasa baik. Ini benar-benar murni pertemanan, Pak Barat, saya jamin."
Pak Barat mengangkat alisnya, tetapi tampaknya Lana masih harus memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Kami tidak pernah melanggar batas apa pun, Pak. Ini hanya sebuah kejadian yang terjadi karena kesalahpahaman," kata Lana dengan tegas.
Lana mencoba untuk menjelaskan situasi dengan argumen-argumen yang masuk akal, namun beberapa penduduk tetap merasa tidak puas dan mempertanyakan argumen tersebut.
__ADS_1
"Saya mengerti bahwa situasi ini terlihat mencurigakan, tapi percayalah, ini adalah kesalahpahaman," kata Lana dengan penuh keyakinan. "Tentang pintu yang terkunci, itu hanya masalah teknis pada Grendel. Bukan sengaja kami yang menguncinya."
Namun, seorang penduduk berteriak balik, "Tapi mengapa hanya kalian berdua yang ada di dalam? Kenapa tidak ada orang lain?"
Lana tidak kalah dengan argumen tersebut. "Kami mungkin saja menjadi korban situasi. kebetulan sekali dalam bulan ini memang hanya Raihan yang menghuni rumah ini, teman lain hanya akan datang bulan depan. Rehan mengatakan tadi malam jika dirinya sedang tidak enak badan jadi aku sebagai teman itu khawatir. Sekarang aku datang untuk melihat kondisinya dan mengirimkan sarapan pagi .Jika tidak coba saja cek masih ada kok sarapan paginya di kamar yang masih belum dimakan oleh Raihan karena katanya tenggorokannya tidak nyaman"
Mungkin Lana bisa membohongi orang lain tapi berbeda dengan Pak barat dan tim keuangan yang lainnya.
Jelas video yang dikirimkan ke Pak barat adalah video yang baru saja dirilis dilihat dari pakaian yang mereka kenakan saat ini dan juga kondisi rumah.
Ahh Lana benar-benar sudah membohonginya mentah-mentah.
Memikirkan itu ekspresi pak barat berubah menjadi campuran antara kecewa dan kekhawatiran. "Lana, saya kecewa. Saya pikir saya bisa mempercayai Anda dan Rayhan."
Lana merasa dadanya terasa berat mendengar kata-kata itu. Dia benar-benar tidak ingin kepercayaan Pak Barat hancur karena situasi ini.
"Pak Barat, saya minta maaf. Kami benar-benar tidak bermaksud merugikan nama baik kantor. Ini semua adalah sebuah kesalahpahaman," Lana menjelaskan dengan suara lembut. "Saya bersedia mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi dan bersedia menerima konsekuensinya."
Pak Barat menatap Lana dengan tatapan yang mencerminkan rasa kecewa dan pertimbangan. "Lana, tolong jangan coba berbohong lagi dengan saya.Lihat ini dan mengaku lah"
Pak barat memberikan telepon genggamnya yang langsung memutar video itu, sekarang Vidio disaksikan oleh Lana sendiri.
Hal ini membuat kaki Lana lemah dan tiba-tiba saja dia tidak bisa berbicara lagi.
Tamat sudah.
" Apa yang Anda lakukan hari ini telah mencoreng nama baik kantor Syahbandar. Kami harus menjaga integritas dan reputasi perusahaan ini. Karena itu baik Anda maupun Rayhan akan dipecat dengan cara yang tidak terhormat."
Lana merasa seperti ditabrak oleh gelombang emosi yang mendalam saat Pak Barat mengumumkan pemecatan mereka secara tidak hormat. Matanya melebar dalam kebingungan dan kejutan. Wajahnya pucat, dan bibirnya mulai gemetar. Ia merasa seperti dunianya runtuh dalam sekejap. Betapa sulitnya baginya untuk menerima kenyataan bahwa semua yang telah mereka lakukan dan usahakan selama ini hancur begitu saja.
Sementara itu, Raihan tampak lebih tenang, meskipun ada ketegasan di ekspresi wajahnya. Dia sudah mengerti bahwa kesalahan mereka berdua telah mencoreng reputasi kantor. Meskipun begitu, dia tetap merasa berat karena Lana juga terlibat dalam masalah ini. Matanya menunjukkan sedikit penyesalan, tetapi juga ada ketenangan yang menandakan kesiapannya menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka.
Lana memandang Pak Barat dengan ekspresi campuran antara kebingungan, putus asa, dan rasa tidak percaya. Dia ingin berbicara, memberikan penjelasan atau memohon, tapi kata-kata terasa terjepit di tenggorokannya. Wajahnya memperlihatkan getaran emosi yang rumit, seolah-olah dia sedang mencoba untuk memproses semua yang terjadi dalam waktu yang singkat.
__ADS_1
Tidak,ini tidak mungkin.