
Di dalam kamar karaoke yang sepi, Lana dan Rayhan duduk di samping satu sama lain dengan perasaan yang campur aduk. Alunan musik romantis dari lagu yang di pesan oleh Dea sebelumnya,masih terdengar di latar belakang.Alunan musik ini malah semakin menciptakan suasana yang semakin canggung di antara keduanya.
Lana menatap ke lantai dengan wajah sedikit merona, mencoba mencari kata-kata untuk mengisi keheningan yang muncul di antara mereka. Rayhan, di sisi lain menunduk dan memain-mainkan jari-jarinya di atas meja karaoke, juga tak tahu harus mengatakan apa.
Saat pandangan mereka bertemu, mereka saling tersenyum dengan canggung, seolah mencoba menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba terbangun di antara mereka. Sisa lagu yang bermain memperkuat suasana romantis di dalam kamar itu, meningkatkan ketegangan yang dirasakan Lana dan Rayhan.
"Mungkin kita harus bergabung dengan yang lain di luar," ujar Lana dengan suara pelan mencoba untuk melonggarkan ketegangan.
Rayhan mengangguk setuju, "Iya, mungkin lebih baik begitu. Mereka pasti menunggu kita."
Mereka berdua beranjak dari kursi dan meninggalkan kamar karaoke.
Mungkin karena buru-buru untuk bangkit Lana tiba-tiba tidak sengaja menyenggol kursi yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.
Hasil nya Lana jatuh dengan lutut di lantai.
"Is..
Rayhan yang melihat itu sedikit terkejut dan buru-buru menghampiri anak dia memeriksa lutut Lana, untungnya hanya ada luka lecet.
"Lana sini ku bantu...
Rayhan dengan paksa menarik Lana untuk duduk lagi.Dia mengambil tisu dan menjawabnya ke minuman beralkohol. Meski tidak wajar tapi lumayanlah untuk membersihkan luka tadi.
Rayan begitu asik membersihkan luka lecet lama dengan tisu basah tapi di sini Lana mulai melihat Rayhan dengan tatapan nanar.
Semakin dilihat entah kenapa Rayhan jadi semakin tampan di matanya. Seperti ada magnet yang menarik kelana untuk terus-menerus dekat dengan Rayhan.
Suasana musik yang mendayu dayu tadi tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dia dengar lagi. Pada saat ini yang didengar oleh Lana hanyalah hembusan nafas dan juga detak jantungnya sendiri.
Hatinya seperti menjerit tidak ingin membiarkan waktu ini berlalu.
"bisakah Tuhan menghentikan waktu untuk sesaat?"begitu pikir Lana.
Rayhan masih sibuk membersihkan kulit lana yang lecet tapi tiba-tiba dia merasakan situasinya tidak benar. Lana sejak tadi tidak bersuara sedikitpun bahkan terkesan kaku.
Begitu Rayhan mengangkat kepalanya mata mereka langsung bertemu.
__ADS_1
Segera saja rayhan juga diam sejenak.
Mungkin akibat dorongan minuman beralkohol yang tadi sempat dia telan.Rayhan sekarang sedang terpesona dengan kecantikan Lana malam itu, terutama matanya yang begitu memikat.
Cahaya lampu di ruangan membuat mata Lana terlihat lebih berkilauan, seperti dua permata yang bersinar indah di tengah kegelapan.
Rayhan terpana oleh kedalaman dan keindahan mata Lana. Dia merasa seolah-olah mata itu bisa membaca setiap perasaannya, seolah-olah mata itu bisa menyentuh hatinya dengan lembut.
Kecantikan mata Lana menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan oleh Rayhan malam itu. Dia merasa seolah-olah ada sihir di balik mata indah itu, yang membuatnya merasa tenang dan damai.
Tapi itu hanya untuk beberapa detik saja, kemudian keduanya segera sadar dengan situasi.
"Ray maaf ya"kata Lana sedih.
Rayhan ingin membujuk lana dengan kata-katanya tapi tidak ada kata yang cocok untuk situasi mereka sekarang.
"Lana , sebaiknya kamu kembali duluan ke hotel.Aku..aku akan menunggu Tommy di sini"kata rayhan dengan suara dalamnya.
Tidak apa-apa jika ada orang lain tapi di sini hanya ada mereka berdua.Suara itu penuh dengan hormon bagi Lana.Ini menarik Lana dan juga mengejek nya pada saat yang sama.
Lana melirik sebotol minuman keras di meja. sejak awal Lana tidak menyentuh minuman beralkohol sama sekali. Dia mungkin adalah gadis yang nakal tapi menyentuh alkohol bukanlah Lana.
Lana merasa seakan-akan dunia berputar cepat di sekitarnya. Kegembiraan dan keceriaan yang tadinya terasa begitu menyenangkan. Kini berubah menjadi kehampaan yang tak terlukiskan. Dia merasa terombang-ambing dalam gelombang emosi yang tak terkendali.
Tanpa berpikir panjang, tangannya meraih botol minuman keras yang tergeletak di atas meja. Terasa berat dan dingin di genggamannya. Dalam hati yang bergejolak, Lana merasa seolah-olah minuman itu adalah jawaban atas segala kekacauan yang ada dalam dirinya. Dia ingin melupakan perasaan canggung kegalauan dan segala sesuatu yang menyebabkannya merasa tidak nyaman.
Tanpa menggunakan gelas, Lana meneguk langsung dari botol minuman keras itu. Cahaya lampu di ruangan karaoke memantulkan kilauan warna-warni di permukaan cairan dalam botol. Dia merasakan getaran hangat ketika minuman itu masuk ke dalam tenggorokannya, mencoba mengobati kekosongan yang terasa dalam.
Raihan yang berada di dekatnya, langsung terkejut melihat aksi Lana. Tanpa ragu dia segera meraih botol dari tangan Lana, berusaha menghentikan langkah temannya itu. Tatapannya penuh kekhawatiran dan ketegasan, mencerminkan kekhawatiran atas kesehatan dan keselamatan Lana.
"Lana jangan lakukan ini," kata Raihan dengan suara rendah namun tegas. "Minuman keras bukan jalan keluar. Itu hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk."
Lana menatap Raihan dengan mata yang sayu, mencoba menahan air mata yang hampir menetes. Perasaannya campur aduk, bagai badai di dalam hatinya. Dia merasa bingung, terombang-ambing antara ingin meluapkan emosi dengan minuman keras atau mencari jalan keluar yang lebih sehat.
Raihan meletakkan botol minuman keras itu dengan lembut di atas meja, sambil menggenggam tangan Lana dengan penuh kelembutan. "Kita bisa menghadapinya bersama-sama, Lana. Kamu tidak sendiri. Aku ada di sini untukmu."
Tatapan Raihan begitu penuh perhatian dan kasih sayang, seolah-olah dia bisa membaca setiap perasaan yang ada dalam diri Lana.
__ADS_1
Tapi rayhan salah, tatapan penuh perhatian itu malah membuat Lana semakin sedih saja.
"Ray...
Mata Lana segera menatap rayhan lagi.Dia menarik tangan rayhan dan menggenggam nya erat-erat.
"Ray aku .. aku sudah berusaha untuk menjauh darimu Rayhan .Aku sudah berusaha untuk membuang rasa ini.tapi..tapi aku tidak berdaya Ray"
Melihat rayhan diam, Lana segera menertawakan dirinya sendiri. Tapi entah kenapa tiba-tiba lah nama rasa memiliki sebuah dorongan di dalam hatinya. Sebuah hal yang tidak pernah bisa dia pikirkan sebelum ini.
"Ray, sebagai sahabat mu, bisakah aku meminta bantuanmu sedikit. Mungkin permintaanku agak berat tapi ini adalah permintaanku yang terakhir, Ray bisakah?"Bisik Lana.
Rayhan tidak tahu apa yang diinginkan oleh Lana tapi sepertinya Lana semakin terpuruk saja. ditambah lagi Rayhan juga adalah orang yang membuat Lana seperti itu.
Jadi mau tidak mau Rayhan menganggukkan kepalanya sedikit.
"katakan saja Lana jika aku bisa kenapa tidak, kita kan sahabat Hem?"
Kata sahabat menusuk ke hati Lana yang paling dalam.
Diala tidak ingin bersahabat tapi Lana ingin lebih dari sahabat.Tapi jika hanya sahabat yang diinginkan oleh Rehan, Lana juga bisa.Tapi tidak dengan malam ini.
Lana menatap mata rayhan dengan penuh keyakinan dan tidak ada keraguan sama sekali.
Dia tanpa bicara langsung memeluk rayhan dan berbisik."Kiss me please!"
Rayhan terkejut, search dengan gerak refleks dia mendorong Lana namun lana malah memeluknya lagi lebih dalam.
Jika rayhan tidak mau,maka Lana bisa mencuri nya.
Segera Lana mencium rayhan , Pria itu tidak terima tapi laki laki adalah orang yang seperti itu.
Awalnya tidak mau tapi lama-kelamaan Rayhan juga hanyut dalam kelembutan bibir Lana.Dia yang tadinya Pasif sekarang menjadi aktif.Dengan kesadaran penuh,kata kiss me jadi samar .
Terganti kan dengan kata, i am yours Ray, please.
Di bawah lagu sahdu dan romantis,Lana menikmati kebersamaan nya dengan rayhan.
__ADS_1
Seorang pria yang dia suka.
Segera saja mereka lupa dengan Mia.