
Pak Barat merasa tidak nyaman dengan keputusannya yang tiba-tiba dalam mengumumkan pemecatan Lana. Ia menyadari bahwa kejadian ini juga akan berdampak pada orang tua Lana. Oleh karena itu, Pak Barat memutuskan untuk tidak langsung kembali ke kantor, melainkan mengubah arah mobilnya menuju rumah Lana.
Sementara itu, Lana dan Raihan segera mengikuti mobil Pak Barat dengan sepeda motor mereka. Mereka merasa gelisah dan cemas tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, terutama setelah mendengar bahwa Pak Barat menuju ke rumah Lana.
Di rumah Lana, Pak Barat mengucapkan salam ketika tiba di depan pintu.
"Assalamualaikum"
Tidak ada senyum lebar yang menghiasi wajahnya, karena dia datang dengan bukan dengan niat baik untuk bertemu dengan keluarga Lana.
"Waalaikumsalam,eh Pak Barat,mari..mari masuk lah"
Papa Lana menyambutnya dengan hangat dan mengundangnya masuk. Mereka berdua duduk di ruang tamu sambil berbincang santai tentang hal-hal umum.
Satu persatu semua orang yang ada di mobil masuk sudah duduk di dalam rumah.
Mama Lana tidak lupa membuat kna seteko teh untuk semua orang dan membuka biscuit untuk menemani minum teh.
"Ayo di minum teh nya pak"kata Mama Lana.
Keluarga Lana bukan orang kaya jadi mereka tidak memiliki pembantu. Ada sih pembantu tapi mereka pulang ke rumah masing-masing setelah menyelesaikan pekerjaan.
Jadi untuk tamu dadakan seperti sekarang mama Lana harus melayaninya sendiri.
Kemudian Lana dan Raihan tiba di rumah dengan sepeda motor mereka. Lana memiliki perasaan campuran antara kecemasan dan harapan ketika ia melihat Pak Barat berbicara dengan Papa Lana. Wajahnya menunjukkan sedikit keringat dingin, namun dia juga terlihat berusaha mempertahankan keyakinan diri.
"sayang Kamu udah pulang, duduk gih, itu ada Pak Barat"Kata Mama nya dengan lugas.
"Eh wajahmu kenapa pucat ini sih sayang ,kamu sakit?"kata Mama Lana ketika melihat wajah Lana yang memucat tanpa sebab. Matanya juga sembab seperti dia baru saja selesai menangis.
"Nggak ada mah"jawablah singkat dan dia langsung duduk di posisi yang paling jauh dari semua orang.
Mama ingin menarik lana untuk bertanya situasinya tapi segera pak Barat bersuara.
"bapak dan ibu Lana,sebenarnya kedatangan kami ingin membicarakan masalah lama di kantor"
__ADS_1
Ketika Pak Barat mengatakan bahwa dia ingin membicarakan masalah terkait Lana, senyum Papa Lana tetap ada, tetapi wajahnya menunjukkan rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran. Dia tidak tahu persis apa yang akan dibicarakan, tapi dia tetap memiliki firasat buruk.
Pak Barat duduk di ruang tamu Lana dengan wajah serius dan berbicara dengan tegas, "Pak,Bu , saya datang ke sini untuk memberikan penjelasan mengenai kejadian beberapa waktu yang lalu, terutama terkait dengan Lana dan Rayhan."
Mama dan Papa Lana duduk tegang di depannya, wajah mereka tampak penuh perhatian dan penasaran atas apa yang akan dijelaskan oleh Pak Barat.
"Dalam beberapa minggu terakhir, saya mendapatkan beberapa laporan dari warga sekitar dan juga beberapa karyawan di kantor tentang perilaku yang mencurigakan antara Lana dan Rehan," lanjut Pak Barat dengan tegas.
"Beberapa waktu lalu, ada laporan bahwa mereka kedapatan berada di dalam rumah sewa yang disewa atas nama kantor Syahbandar. Kehadiran mereka di sana memicu kontroversi dan pertanyaan di antara tetangga"
"Jadi mereka berdua sudah dikasih surat peringatan, saya pikir keduanya akan mempertimbangkan surat peringatan itu tapi siapa tahu malah kejadian lagi "
Lalu menjelaskan lagi jika hari ini mereka masih melakukannya dan digerebek oleh RT setempat.
Wajah mama Lana sehat memburuk dia sebenarnya sedang tidak enak badan tapi segera ingin pingsan di tempat.
Putri kesayangan nya di tangkap tangan,ohh tidak.. tidak mungkin.
Dia tidak akan pernah menyangka jika putrinya yang lembut dan baik sebenarnya tega melakukan itu. Tidak akan pernah menyangka sama sekali.
Pak Barat melanjutkan penjelasannya, "tenang dulu Bu, tenang.Kemudian, kami mendapatkan rekaman video yang menunjukkan saat Lana dan Rehan masuk ke dalam rumah tersebut. Video ini menunjukkan aktivitas mereka di dalam rumah, termasuk saat Lana membawa makanan dan minuman. Meskipun Anda berdua mengklaim bahwa ini adalah pertemanan biasa, namun fakta-fakta yang ada membuat kita harus berhati-hati."
Mama dan Papa Lana terlihat semakin tegang mendengarkan penjelasan Pak Barat. Wajah mereka menunjukkan campuran antara kebingungan dan kekhawatiran.
"Untuk memastikan informasi ini lebih lanjut, kami juga melakukan pemeriksaan lanjutan dan menemukan rekaman video tersembunyi di dalam kantor," kata Pak Barat dengan tegas.
Pak Barat mengambil ponselnya dan menunjukkan rekaman video kepada Mama dan Papa Lana. Wajah mereka semakin tegang saat mereka melihat video tersebut. Mama Lana menutup mulutnya dengan tangan, sementara Papa Lana meremas erat pinggiran kursi.
"Rekaman ini menunjukkan kejadian yang sama, di mana Lana dan Rayhan tampak memasuki wisma Surya. Kami memutuskan untuk mengambil langkah tegas berdasarkan bukti-bukti ini."
Pak Barat menyampaikan berita yang tidak menyenangkan, "Sayangnya, situasi ini telah mencoreng nama baik kantor Syahbandar. Kami tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut. Oleh karena itu, kami harus mengambil tindakan yang sesuai."
Mama dan Papa Lana terlihat terkejut dan bingung mendengar penjelasan Pak Barat. Mata mereka berdua saling bertemu, mencerminkan perasaan kebingungan dan ketidakpercayaan atas apa yang mereka dengar.
"Dalam situasi ini," kata Pak Barat dengan nada berat, "saya terpaksa harus mengambil keputusan untuk memberhentikan Lana dan Rayhan dari pekerjaan di kantor Syahbandar. Ini bukanlah keputusan yang saya ambil dengan senang hati, tapi saya harus memikirkan reputasi perusahaan dan menjaga integritasnya."
__ADS_1
Wajah Lana terlihat memerah dan tangannya gemetar. Dia merasa seperti dunianya runtuh di depan mata. Papa Lana menggenggam tangan istrinya dengan erat, mencoba memberikan dukungan.
Pak Barat mengakhiri penjelasannya dengan penuh penegasan, "Saya harap Anda berdua dapat memahami situasi ini. Kami telah berusaha mengumpulkan bukti seakurat mungkin sebelum mengambil keputusan. Saya berharap ini menjadi pembelajaran bagi kita semua."
Mama dan Papa Lana terdiam, merenungkan kata-kata yang telah disampaikan oleh Pak Barat. Mereka merasa terkejut, sedih dan kecewa dengan situasi yang tak terduga ini.
Setelah mengatakan maaf sekali lagi sekali lagi, Pak barat dan rombongannya meninggalkan rumah Lana dengan langkah cepat.
Dengan begitu karir Lana Dan Rayhan di kantor Syahbandar benar-benar sudah tamat.
Tapi Itu bukan lagi menjadikan permasalahannya, masalahnya sekarang mama Lana tiba-tiba saja pingsan dengan wajah memerah.
Lana merasa dunianya hancur. Dia merangkul tubuh Mama yang terkulai lemas di pelukan, sementara tangisnya pecah dan menghancurkan keheningan ruangan. Jeritan keputusasaan memenuhi udara, memecah ketenangan yang sudah tidak ada lagi. Wajah Lana dipenuhi oleh air mata, mata yang penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Mama... Mama..." Lana merintih sambil menangis, tubuhnya gemetar karena emosi yang meluap. Dia memegangi bahu Mama dengan erat, mencoba merangkulnya dengan penuh kasih sayang.
Lana merasa seperti tubuhnya bergetar dan bergetar, seolah-olah dia ingin menyerap semua rasa sakit Mama dan memindahkannya ke dalam dirinya sendiri. Dia merasakan kelemahan dalam setiap helaan nafas Mama, dan itu membuatnya semakin hancur.
" Mama... Maafkan Lana ,Mama," Lana berkata sambil terisak, kata-kata itu keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Mama, aku tidak bermaksud untuk menyakiti atau memalukan kita," Lana terus berbicara dengan suara penuh kepedihan, mencoba meraih kehadiran Mama yang tidak sadarkan diri. "Aku... Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan. Aku benar-benar tidak ingin Mama merasakan kecewa atau malu karena aku. Maafkan Lana Mama... Maafkan lana...."
Namun, Mama tetap tidak merespons. Lana merasa putus asa dan lemas. Dia ingin Mama bangun, memeluknya, dan memberinya kata-kata pengampunan. Dia ingin menghapus semua rasa sakit yang dia sebabkan, menghapus jejak kesalahannya.
"Maafkan aku, Mama... Tolong bangun," Lana berbisik dengan suara lirih, tangannya masih memegang pipi Mama dengan lembut. "Lana janji, Lana akan membuat semuanya menjadi baik... Lana akan memperbaiki segalanya..."
Lana tetap merangkul Mama dalam keputusasaannya, menunggu dengan harapan yang hampir hilang.
Sementara itu rayhan hanya diam dan duduk melihat dengan kepala tertunduk.
Sementara Papa Lana memegang dadanya dengan lemah. Tidak tahu apa yang terjadi tapi yang jelas Papa Lana sekarang merasa sesak nafas.
Akhh ...
"Papa...!"
__ADS_1