Pasrah Saja

Pasrah Saja
benarkah ini gara gara berjodoh


__ADS_3

Ponsel Rayhan berdering dan dengan perasaan cemas, dia menjawab panggilan tersebut. Suara tegas dan serius dari Papa Rayhan terdengar di seberang garis.


"Pak Barat baru saja memberi tahu saya tentang apa yang terjadi," Papa Rayhan berkata tanpa basa-basi. "Bisakah kamu jelaskan semuanya?"


Papa Rayhan adalah sosok pria yang penuh kasih sayang dan baik hati karena itu dia jarang marah dengan putranya. Tapi mendengar dari nada suaranya dia jelas marah dan sedikit kecewa dengan rayhan.


Kau tau, Mia tinggal di kota yang sama dan dia sudah sedikit akrab dengan keluarga mereka. Setelah tamat kuliah Mia memiliki pekerjaan sampingan


Tapi masih menyempatkan diri untuk datang ke rumah Rayhan di akhir minggu ,meskipun sadar jika Raihan tidak ada di rumah.


Bahkan Mama Rayhan juga beranggapan jika Mia satu hari akan menjadi menantunya .Tapi siapa yang sangka jika kenyataan harus berkata lain.


Mama Rehan juga sempat menangis ketika mendapatkan kabar ini dari Pak Barat. Tapi sebagai seorang laki-laki, rayhan harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.


Rayhan merasa degup jantungnya semakin cepat, dia berbicara dengan suara yang terbata-bata, "Papa... ya, itu... itu benar. "


Papa Rayhan menghela nafas panjang, dan suaranya berubah menjadi lebih rendah, "Aku sudah mendengar dari Pak Barat sendiri, Rehan. Dan dia memberikan detail yang cukup jelas tentang kejadian itu."


Maksud nya adalah vidio itu juga dikirim ke orang tua rayhan kan.


Rayhan merasa malu dan tidak tahu harus berkata apa. "Aku sangat menyesal, Papa. Itu adalah kesalahan besar."


Papa Rayhan berbicara dengan nada yang penuh dengan kekecewaan, "Kamu mengerti betapa seriusnya ini, bukan? Ini sangat memalukan, Rayhan. Aku mendapatkan laporan langsung dari Pak Barat,ini sangat memalukan bagi keluarga dan juga bagi kantor Syahbandar.Wajar jika kau di pecat "


Rayhan merasa tubuhnya lemas dan dia bisa merasakan beban berat atas tindakannya. " aku tahu, Papa. aku..aku benar-benar menyesal."


Papa Rayhan mengeluarkan suara napas berat. " tapi nak, kau harus bertanggung jawab atas tindakanmu, Tidak ada jalan keluar selain menghadapi konsekuensinya.Mengerti Ray?."


Rayhan merasa hatinya semakin teriris. " Aku tahu, Papa. aku mengerti."


Papa Rayhan berbicara dengan suara yang lebih lembut, "Ini bukan hanya tentangmu, tapi juga tentang nama baik keluarga , jadi nikahin dia .Papa akan langsung ke sana sekarang juga, berikan alamat nya"


Rayhan menganggukkan kepala, meskipun Papa nya tidak bisa melihatnya. " baik Papa."

__ADS_1


Papa Rayhan membisu sejenak, dan kemudian dia berkata dengan tegas, "Ingatlah, Rehan, kamu harus benar-benar bertanggung jawab atas tindakanmu. Tidak ada jalan pintas dalam menghadapi ini."


Sebelum menutup telepon, Rayhan dengan hati-hati berkata, " aku mengerti apa yang harus saya lakukan sekarang.Papa,maafin Rayhan karena udah mengecewakan kalian."


Percakapan itu berakhir dan Rayhan merasa jantungnya berat. Dia duduk sendirian dalam keheningan, merenung tentang konsekuensi dari tindakannya. Tidak ada jalan lain selain dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, meskipun itu akan menjadi tugas yang berat dan membingungkan.


Tapi Mia bagaimana?


Pasti Mia juga hancur jika tau ini.


"Mia maafkan aku mia"


Rayhan berada dalam keadaan bingung dan penuh penyesalan. Dia merasa seperti sedang terjebak dalam mimpi buruk, di mana segala sesuatunya berantakan. Matanya tertuju pada Lana yang menangis dan menjerit memohon maaf di samping mamanya yang pingsan . Rasanya seolah-olah semua ini terjadi begitu cepat dan tidak terduga.


Papa Lana dengan hati-hati mendekati mamanya yang pingsan, mencoba menstabilkan detak jantungnya sendiri.Dia tampak khawatir, berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keadaan tetap terkendali tanpa harus pergi ke ke rumah sakit. Keringat dingin bercucuran di wajahnya karena perasaan cemas yang tak terbendung.


Di tengah kekacauan tersebut, Rayhan bergerak dengan hati-hati menuju papa Lana. Dengan wajah penuh penyesalan, dia duduk bersimpuh di kaki papa Lana, merasa sangat rendah hati. Dia merasa beban tanggung jawab atas situasi ini begitu berat, dan dia ingin mengungkapkan penyesalannya.


"Pak, saya sungguh menyesal," ucap Rayhan dengan suara gemetar, matanya penuh dengan air mata yang belum tumpah. "Saya tahu apa yang saya lakukan salah dan saya merusak semuanya."


Ah dia bahkan tidak mengetahui nama pemuda yang sedang bersimpuh di kakinya ini.


Ah Rayhan,kan.


"Rayhan, ini bukanlah hal yang bisa diatasi dengan penyesalan," ucap papa Lana dengan suara serius. "Kamu telah mencoreng nama baik keluarga kami dan kantor Syahbandar. Tindakanmu sangat serius."


Rayhan mengangguk, mata masih terpejam dan cairan mata terjatuh di pipinya. "Saya tahu, Pak. Saya benar-benar minta maaf atas semua yang telah saya lakukan."


Lana masih menangis di sampingnya, tangannya meremas kain baju dengan erat. Dia merasa bersalah dan penuh penyesalan atas semua kejadian ini, tetapi dia juga merasa sedih dan bingung atas apa yang akan terjadi selanjutnya.


Rayhan kemudian melanjutkan dengan penuh tekad, "Pak, saya tahu ini mungkin terlalu cepat untuk dikatakan, tetapi saya .... Saya siap untuk memperbaiki segala kesalahan saya dan menikahi Lana, jika Anda memberi kami kesempatan."


Papa Lana terdiam sejenak, matanya masih menatap tajam ke arah Rayhan.

__ADS_1


Tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Mereka tetap seperti itu sampai sebuah mobil masuk di pekarangan rumah Lana.


Papa Rayhan mengenal sepeda motor di satu sudut adalah milik rayhan, putra nya .


Segera satu per satu anggota keluarga Raihan turun dari mobil, mereka masing masing mengenakan pakaian yang sopan . Papa Rayhan segera mendekati pintu masuk dan menyebut salam.


"Assalamualaikum," sapa Papa rayhan


"Waalaikumsalam."


Keluarga Raihan membawa beberapa barang yang nampaknya tidak terlalu mencolok, tetapi penuh makna. Mereka dengan cermat meletakkan barang-barang itu satu per satu di atas meja, membuat tumpukan yang semakin besar dan semakin mengundang rasa ingin tahu.


Papa Rayhan mengambil langkah maju, tangannya sedikit gemetar karena rasa gugup. Dia menatap langsung ke mata Papa Lana, ekspresinya penuh dengan rasa penyesalan dan pengharapan.


"Pak, kami datang dengan niat yang tulus dan rendah hati. Kami ingin meminta maaf atas kejadian yang terjadi hari ini."


Papa Lana menatap Papa Rayhan , lega rasanya mengetahui jika bukan mereka saja yang tertekan.


Percakapan pun dimulai, dengan keluarga Raihan mengungkapkan niat mereka untuk memperbaiki situasi ini. Semakin lama percakapan berlangsung, semakin banyak barang-barang yang diambil dari tumpukan dan diperlihatkan kepada keluarga Lana.


Cincin tunangan yang indah, kain pakaian yang cantik, alat kosmetik yang halus, sepatu, tas dan berbagai barang lainnya. Setiap barang memiliki makna dan arti tersendiri, sebuah upaya dari keluarga Raihan untuk membuktikan niat baik mereka.


Lana dan Rayhan terdiam, mata mereka saling bertemu dalam keadaan campur aduk antara keterkejutan dan perasaan yang tercengang.


Apakah mereka berdua benar-benar akan menikah secepat ini dan dengan cara ini?


Benarkah?


Tapi Mia, bagaimana dengan Mia?apa yang harus dijawab oleh Lana jika Mia menangis nanti?


"Mia , maaf ya teman,pacar mu akan menikah dengan ku.Jodoh ada di tangan Allah jadi ini mengatakan jika aku tidak salah Mia, rayhan adalah jodohku walaupun cara nya yang agaknya salah"pikir Lana.

__ADS_1


Tidak ada kata lain yang osa di jadikan alasan oleh Lana kecuali satu kata saja.


Jodoh.


__ADS_2