Pasrah Saja

Pasrah Saja
Mia sahabat terbaik


__ADS_3

Di gedung universitas, Lana tiba dengan semangat yang tinggi. Dia berjalan dengan penuh percaya diri sambil tersenyum lebar. Saat melintasi koridor, Lana melihat beberapa mahasiswi lain yang dikenalnya.


"Hai Sarah! Hai Dian! Apa kabar? Sudah siap untuk kuliah hari ini?"


"Hai Lana! Iya nih, semangat banget hari ini. Kamu sendiri?"


"Aku juga semangat banget! Tadi malam aku melakukan sesuatu yang menyenangkan dan sekarang aku siap menghadapi hari ini dengan baik."


"Wah, itu terdengar seru. Ceritakan dong!"


"Nanti ya, saat kita punya waktu luang. Sekarang, mari kita fokus pada kuliah kita. Kita bisa menikmati cerita itu nanti."


Sementara itu, dari kejauhan, Kevin melihat Lana yang ceria dan bersosialisasi dengan mahasiswi lain. Dia merasa kesal karena Lana tidak menuruti ajakannya tadi malam. Dia memutuskan untuk menunggu Lana di tempat tersebut.


"Dia pikir dia bisa mengabaikan permintaanku begitu saja? Aku akan menunggu dan melihat apa yang dia rencanakan."


Lana tidak menyadari kehadiran Kevin di sekitar. Dia melanjutkan harinya dengan semangat, berusaha melupakan peristiwa kemarin malam dan fokus pada kegiatan universitasnya.


Kevin duduk di sebuah warung sarapan di pinggir jalan. Warung ini berada di dekat kampus, sehingga banyak mahasiswa yang datang ke sini untuk sarapan sebelum memulai aktivitas kuliah. Atap warung terbuat dari daun kelapa yang terjalin rapi, menciptakan suasana alami dan nyaman. Meja-meja kayu sederhana disusun rapi di sekitar warung, dihiasi dengan beberapa pot bunga warna-warni yang menambah kesegaran.


Pemilik warung, adalah seorang pria ramah berusia paruh baya, menyambut Kevin dengan hangat ketika dia duduk di salah satu meja. Kevin melihat menu yang terpampang di papan tulis besar di dinding. Menu-menu tersebut menggugah selera, terutama untuk sarapan pagi di Surabaya.


"Selamat pagi, Mas. Apa yang ingin dipesan?"


"Selamat pagi. Saya ingin pesan nasi goreng spesial dan teh tawar, Pak."


"Baik, Mas. Satu nasi goreng spesial dan teh tawar. Akan saya siapkan secepatnya."


Kevin mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan WhatsApp yang dikirimkan kepada Lana. "Aku menunggumu di warung sarapan dekat kampus. Sampai kuliah selesai ya." tulis pesan singkat dari Kevin.


"Aku harap dia datang dan mengerti betapa seriusnya aku tentang pertemuan ini." gumam Kevin


Kevin mencoba menenangkan diri sambil menunggu pesan balasan dari Lana. Dia berharap agar Lana bisa memahami situasi dan memberikan kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Sambil menunggu, Kevin menikmati suasana warung yang ramai dengan aktivitas mahasiswa yang datang dan pergi, sambil menikmati menu sarapan pagi khas Surabaya yang lezat.


Sementara itu di dalam ruang kelas, Lana duduk di antara beberapa teman sekelasnya, sedang berbincang-bincang tentang materi pembelajaran dan dosen yang mengajar hari ini.


"Lana, apakah kamu sudah siap dengan materi hari ini? Dikabarkan sih dosen yang mengajar kali ini cukup ketat."

__ADS_1


"Iya, aku sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Semoga bisa mengikuti dengan baik."


Sesaat setelah itu, ponsel Lana bergetar dan menampilkan pesan masuk dari Kevin. Matanya membelalak sejenak saat melihat namanya di layar, tapi dia segera mencoba menyembunyikan perasaannya.


"Ada apa, Lana? Nampak kaget sekali tadi."


Lana yang gugup tetap berusaha mencoba untuk tersenyum."Oh, tidak apa-apa. Cuma pesan dari teman di luar."


Lana membuka pesan dari Kevin, isinya cukup singkat namun cukup menyita perhatiannya.


"Kenapa kamu tidak datang kemarin malam? Aku sudah menunggu di warung sarapan itu. Jangan anggap enteng apa yang kukatakan!"


Lana mencoba menutup pesan itu dengan cepat, tetapi teman-temannya sudah mulai mencurigai ada sesuatu yang terjadi.


"Semuanya baik, Lana?" tanya Mia


"Ya, tidak masalah. Tadi hanya pesan biasa." kata Lana.


"Tapi kamu terlihat sedih, Lana. Kalau ada masalah, ceritakan saja." ujar Mia lagi.


"Benar-benar, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah."


Sejak itu hati Lana dipenuhi dengan pertimbangan yang rumit. Di benaknya, terjadi dialog batin yang penuh kebingungan.


" Apa yang sebaiknya aku lakukan? Apakah seharusnya aku pergi menemui Kevin? Tapi aku takut, takut dia akan bertindak tidak masuk akal lagi. Apa yang akan dikatakannya kepada teman-teman yang mengungkapkan masa lalu kita? Aku takut malu"


"Tapi di sisi lain, kenapa aku masih memikirkan Kevin? Dia akan menikah dengan wanita lain, bukan? Kita sudah tidak memiliki hubungan lagi"


"Apa yang terjadi dengan kita berdua seharusnya menjadi bagian masa lalu yang aku sudah harus menerimanya. Aku tidak boleh terjebak dalam masa lalu yang tak akan membawa kebahagiaan. Tapi mengapa rasanya begitu sulit untuk melupakan semuanya?".


Lana terus merenung, mencoba menemukan jawaban di dalam hatinya. Dia merasa terjebak dalam dilema antara bertemu Kevin dan membiarkan semuanya terjadi dengan risiko yang belum dapat diaukur, atau memilih untuk melepaskan diri dan fokus pada masa depan yang lebih baik.


"Aku tidak bisa memaksakan diri untuk bertemu Kevin. Aku harus menjaga diriku sendiri dan melanjutkan hidupku. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membiarkan semuanya pergi"pikir Lana.


Beberapa waktu kemudian,di dalam ruang kelas, saat dosen memulai pelajarannya. Lana terlihat agak terpaku, pikirannya masih melayang pada pertimbangannya tadi.


Dosen terus saja memperhatikan Lana yang tampak tidak fokus.

__ADS_1


"Lana, apa ada yang mengganggu perhatianmu? Kamu terlihat agak absen hari ini" tegur dosen.


Lana jelas saja terkejut sedikit dan mencoba tersenyum


" Oh, tidak, Pak. Maafkan saya. Saya hanya sedikit kurang tidur semalam"


" Baiklah, tapi pastikan untuk tetap fokus selama kuliah ya. Materi hari ini cukup penting"


" Tentu, Pak. Saya akan berusaha lebih fokus"


"Baiklah, bagus. Jangan ragu untuk bertanya jika ada yang kurang jelas. Mari kita lanjutkan pembelajarannya"Kata dosen lagi.


Lana mencoba untuk mengalihkan perhatiannya kembali pada kuliah, tapi masih sulit baginya untuk sepenuhnya berkonsentrasi. Dia berusaha memaksakan diri untuk memahami materi yang diajarkan, namun hatinya masih terasa berat.


Ketika kuliah telah selesai dan para mahasiswa berhamburan keluar dari ruang kelas. Mia dengan cepat mendekati Lana yang tampak agak murung.


"Lana, ada apa tadi? Kenapa tadi dosen menegurmu?"


Lana menatap Mia dengan ekspresi bingung, dia tidak tahu harus berbicara seperti apa sementara Lana juga tidak ingin rahasianya diketahui oleh mia.


Lana sudah merasa nyaman dari teman dengan Mia tapi dia tidak ingin karena masa lalunya dengan Kevin ,Mia akan menjauhinya.


"Oh, itu... Sebenarnya tidak apa-apa, Mia. Masalah pribadi saja"


" Kamu tidak terlihat seperti biasanya. Apa ada yang mengganggumu?"


Lana: (ragu-ragu sejenak) Baiklah, sebenarnya ada satu masalah kecil di rumah yang membuatku agak kurang fokus tadi"


"Ohh begitu, nggak apa apa Lana, semua orang da masalah sendiri sendiri, tapi jika kamu merasa tidak nyaman jangan cerita, tapi aku akan selalu menjadi teman kamu Lana hehehe " kata Mia dengan centil


"Terima kasih, Mia. Aku beruntung punya sahabat seperti kamu yang selalu peduli"


" Tentu saja, Lana. Itulah tugas sahabat, saling mendukung dan menguatkan. Jadi, jangan ragu untuk berbicara denganku jika ada masalah, ya?


" Aku akan, Mia. Kamu sahabat terbaik yang bisa kumiliki" kata Lana yang datang memeluk Mia.


Keduanya tersenyum satu sama lain, merasa lega karena sudah bisa berbagi perasaan. Mia berjanji untuk selalu ada mendukung Lana dalam setiap langkah.

__ADS_1


Mia memang sahabat yang baik.


__ADS_2