
Pagi itu, Lana duduk di ruang makan sambil menatap keluar jendela. Ini adalah hari Minggu dan dia seharusnya bisa istirahat di rumah. Namun rasa kerinduannya kepada Rayhan begitu kuat sehingga dia merasa hampir kehilangan akal sehatnya.
Lana memutuskan untuk meminta izin kepada Mama untuk pergi keluar mencari sarapan dan bermain dengan teman-teman. Dia tahu alasan ini cukup masuk akal dan tidak akan membuat Mama khawatir. Namun di balik permintaan tersebut, sebenarnya ada satu tujuan utama, yaitu untuk bertemu dengan Rayhan.
"Mama, bolehkah aku pergi keluar pagi ini? Aku ingin mencari sarapan dan bermain dengan teman-teman."
Mama Lana tersenyum, Mama kurang enak badan pagi ini tapi dia memaksakan diri untuk membangun.
Berpikir lagi Putri nya ini jarang bermain setelah memiliki pekerjaan ,jadi apa salahnya sekali-sekali dia sedikit santai."Tentu, Nak. Tapi kamu jangan terlalu lama dan jangan lewat jam makan siang juga."
"Iya, Mama. Aku janji akan pulang sebelum siang." Lana bercingkrak kesenangan dan dia memeluk mamanya dan menciumnya dua kali sebelum masuk ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap.
Lana merasa sedikit bersalah karena telah berbohong pada Mama. Dia tahu bahwa alasan sebenarnya di balik permintaan ini adalah untuk melihat Rayhan. Tapi, sekaligus dengan perasaan bersalah itu, ada juga kegembiraan dan kekangenan yang begitu mendalam. Lana merasa seperti ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya untuk bertemu dengan Rayhan.
Namun, sembari menutupi perasaan bimbangnya dengan senyum palsu, Lana melanjutkan rencananya. Dia segera berangkat dari rumah, hati-hati agar tidak memperlihatkan betapa gelisahnya dia sebenarnya.
Lana melangkah masuk ke kafe dekat rumahnya dengan langkah bersemangat. Dia merasa begitu gugup, namun ada kebahagiaan yang menggelitik di dalam hatinya. Lana tahu persis apa yang dia mau dan dia pun segera mendekati kasir untuk memesan sarapan pagi.
"Selamat pagi! Apa yang bisa saya bantu?" kata kasir nya
"Selamat pagi! Saya ingin memesan dua nasi goreng dengan telur mata sapi dan sepiring roti bakar. Oh, dua cappuccino panas, tolong dibungkus semuanya ya."
Kasir segera mencatat pesanan Lana dan berkata. "Baik, Bu. Akan saya siapkan segera untuk Anda."
"Terima kasih."
Setelah memesan, Lana menunggu sebentar sambil menatap keluar jendela. Dia merasa semakin tegang namun juga semakin bersemangat. Setelah beberapa saat, pesanannya sudah siap dan dibungkus rapi. Lana mengambilnya dan membayar di kasir sebelum akhirnya berangkat menuju rumah singgah Rayhan.
Perjalanan dengan sepeda motornya terasa singkat. Lana merasa hatinya berdetak lebih cepat saat dia memarkirkan sepeda motor kesayangannya di halaman rumah singgah Rayhan. Dengan kunci yang dia miliki, Lana membuka pintu dengan hati-hati. Dia ingin memberikan surprise yang menyenangkan untuk Rayhan.
__ADS_1
Lana tidak tau jika, kedatangan nya kali ini sudah di rekam seseorang.
Begitu Lana masuk ke dalam rumah, orang tadi bergerak ke rumah pak RT.
Perlu di ketahui, jika orang ini memang sudah menargetkan keduanya ,dia hanya menunggu waktu yang tepat saja.
Pak RT juga sudah tahu, jadi ketika di kabarin,dia juga sudah siap dengan segala sesuatunya.
Di sisi lain,dengan hati yang berdebar, Lana membuka pintu rumah singgah Rayhan dengan hati-hati. Ia melangkah masuk perlahan, memastikan langkahnya tidak membuat suara yang terlalu bising. Ia meletakkan tas dan makanan yang ia bawa di atas meja di ruang tamu, lalu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar Rayhan.
Ketika Lana membuka pintu kamar Rayhan, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya meleleh. Rayhan masih tertidur dengan wajah yang tenang. Cahaya matahari yang lembut masuk dari jendela, menerangi wajahnya yang tampan. Lana merasakan senyum tak terbendung muncul di wajahnya sendiri. Ia perlahan-lahan mendekati tempat tidur Rayhan.
"Rayhan..."
"Ray..."
Rayhan sedikit menggeliat dalam tidurnya, namun tetap dalam keadaan yang nyenyak. Lana dengan lembut menepuk pundaknya, mencoba membangunkannya dengan lembut.
Rayhan mengerjapkan matanya perlahan, membuka mata dengan perlahan-lahan. Ia meraih bantal dan menaruhnya di belakang punggungnya, duduk dengan posisi setengah terlentang. Tatapannya masih penuh kantuk ketika ia melihat Lana berdiri di depannya.
"Lana...?"
"Selamat pagi Ray,Aku membawa sarapan untukmu." kata Lana dengan senyum.
Rayhan mengucek matanya, mencoba untuk bangkit dari tidurnya yang nyenyak. Lana menaruh nampan sarapan di pangkuan Rayhan, berisi nasi goreng dan secangkir kopi hangat.
Lana merasa lucu dan dia tertawa kecil "Hari sudah siang, sayang. Kenapa masih tidur?"
Rayhan segera menggosok mata dan menatap ke sekeliling area"Hari sudah siang?"
__ADS_1
"Iya, sudah siang. Ayo, makan dulu."
Tapi Rayhan mulai tersenyum nakal,dia pikir "sarapan" pagi ini memang enak kan.
Dengan cepat,Lana di tarik dan di tindih sehingga Lana menjerit dengan suara tertahan.
"Ray..."
"Aku mau sarapan tapi bukan itu, ini kamu,muah"
Segera mereka berciuman dengan mesra sampai lupa dengan sarapan pagi yang malang.
Sementara itu Pak RT telah berhasil memobilisasi beberapa warga untuk bergerak ke rumah singgah Rayhan. Beberapa dari mereka memang tampak ragu dan bimbang, tetapi dengan kepemimpinan yang cerdik, Pak RT berhasil meyakinkan mereka untuk ikut serta.
Di tengah kerumunan tersebut, Pak RT berdiri di pusatnya, seolah menjadi pusat perhatian semua orang. Ia memandang dengan pandangan yang tajam, seakan mengendalikan setiap gerakan yang terjadi di sekitarnya. Dalam tangannya, ia menggenggam erat ponsel pintarnya, siap merekam setiap momen yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu.
Tidak jauh dari Pak RT, sang provokator yang tersenyum licik telah menempatkan dirinya dengan bijak. Ia mencoba untuk merangkul warga dengan ucapannya yang penuh retorika, membuat mereka semakin termotivasi untuk melanjutkan tindakan ini. Senyumannya terlihat seperti tipu daya yang mempengaruhi banyak orang di sekitarnya.
Ketegangan terasa di udara, suasana yang tadinya ceria kini mulai terasa tegang dan tidak menentu. Warga-warga yang awalnya hanya penasaran, kini semakin tertarik dengan ajakan Pak RT dan sang provokator. Mereka berdiri di depan pintu masuk rumah singgah, siap untuk melakukan apa yang diinstruksikan oleh mereka.
"Diam dulu,jangan berisik, oke"Kata pak RT.
"Oke pak "
Seseorang segera pergi ke jendela kamar dan merekam adegan percintaan Lana dan Rayhan yang masih tidak sadar.
Lana tidak berencana untuk bercinta sepagi ini,dia hanya berciuman tanpa melakukan hal lain.Tapi pakaian atas sudah di singkap sehingga dia bola montoknya di kulum rayhan dengan geram.
Rayhan juga tidak sadar jika mereka sedang di rekam, dengan begitu dia tetap pada posisi enak nya di sini. Sampai lah , suara pintu di dobrak menggangu aktivitas mereka berdua.
__ADS_1
Brak...