Pasrah Saja

Pasrah Saja
pengakuan Mia


__ADS_3

Persiapan pernikahan Raihan dan Lana telah menghadirkan kesibukan yang luar biasa bagi keluarga Rayhan. Semua anggota keluarga, termasuk mama dan papa Rayhan, adik-adiknya, serta saudara-saudaranya yang lain, bekerja keras untuk memastikan bahwa acara pernikahan ini berjalan lancar dan indah.


Setiap sudut rumah dipenuhi dengan bunga-bunga segar, dekorasi yang indah, serta peralatan yang diperlukan untuk acara tersebut. Papa Rayhan mengatur berbagai aspek teknis, mama Rayhan bersama para saudara perempuannya merancang dekorasi sedangkan adik-adiknya membantu dengan tugas-tugas ringan seperti mengatur tempat duduk atau menyusun menu catering.


Mia juga terlihat lebih sering datang ke rumah Rayhan, membawa senyum dan semangat yang segar. Dia membantu dalam berbagai hal, mulai dari mengatur dekorasi hingga membantu mama Rayhan dengan masakan. Semua orang terlihat terkejut oleh sikap Mia yang begitu ramah dan cekatan, mengingat bagaimana hubungan mereka dulu.


Setelah Mia pergi, suasana di ruang keluarga keluarga Rayhan terasa berbeda. Papa Rayhan melihat mama Rehan dan adik-adiknya dengan pandangan yang penuh arti. "Kamu lihat, betapa baiknya Mia pada kita.Rayhan Mama tidak akan menyalahkan mia yang tidak menjadi jodohmu tapi mama merasa tidak enak saja dengan Mia"


"Mama aku juga merasa seperti itu Mama aku yang salah di sini bukan mia. Jadi sudah seharusnya aku memperlakukannya dengan lebih baik, apalagi mengingat apa yang telah terjadi."


Mama Rayhan mengangguk setuju. "Ya, kamu benar. Dia seharusnya tidak merasakan perlakuan buruk dari kamu yang nggak bisa nahan nafsu. Dia adalah gadis baik-baik,dulu mama pikir,Mia adalah menantu masa depan mama tapi ternyata....."


Sore hari, Mia datang lagi untuk membantu.Pada saat itu Aladik-adik Raihan sedang bercerita tentang kejadian-kejadian lucu di sekolah, sementara mama dan papa Raihan memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang.


Tiba-tiba, salah seorang adik Raihan berkata dengan nada sedikit sindiran, "Kakak, untunglah kamu nggak pacaran sama teman sekolah itu ya. Abis teman nya cantik dari pada pacar nya.mana tahan kalau setiap hari digoda sama teman pacar sendiri."


Semua tertawa, tapi suasana itu agak kaku karena Mia ada di antara mereka. Mia sedang duduk di meja, tetapi sibuk dengan beberapa pekerjaan, mencoba untuk tidak terlalu terlibat dalam percakapan itu.


Papa Raihan mengangkat alisnya, "Siapa yang kamu maksud dengan teman sekolah,apa kalian udah berani pacaran sekarang ,hah?"


Adik Raihan yang tadi bicara dengan cepat menjawab, "Eh, nggak ada, Papa. Hanya bercanda kok."

__ADS_1


Mama Raihan mengamati wajah Mia yang sedang sibuk dengan mata terasa basah. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi dia tidak ingin membuat suasana semakin kaku. Dia mengalihkan perhatian, "Rayhan, bagaimana dengan rencana pekerjaanmu minggu depan?"


Rayhan merasa perhatian langsung berpindah padanya. Dia menyadari mama dan papa sedang mencoba mengalihkan topik. "Oh, tentang pekerjaan, saya masih menunggu keputusan dari pak Barat.Dia bilang kinerja aku di sana cukup baik jadi mereka akan mempertimbangkan dulu"


Sementara itu, Mia berusaha menjaga air matanya agar tidak tumpah. Dia merasakan mata mama Raihan menatapnya, dan saat mereka bertatap mata, mama Raihan mengedipkan mata dengan lembut. Mia tersenyum kecil dan mencoba untuk tidak menunjukkan perasaannya.


Setelah makan selesai, Mia mengambil beberapa piring dan membawa mereka ke dapur. Mama Raihan mendekatinya dan berbisik dengan lembut, "Jika kamu ingin berbicara atau membagikan perasaanmu, aku di sini, Nak."


Tanpa di duga, Mia langsung memeluk mama rayhan.


Di sana Mia menangis dalam pelukan mama Rayhan dan dalam keheningan momen itu, dia mengungkapkan perasaannya dengan suara tersedu-sedu, "Mama, saya masih sangat menyayangi Rayhan. Meskipun dia memilih untuk menikah dengan Lana, saya ikhlas menjadi istri kedua jika dia mau. Saya tahu ini tidaklah mudah, tapi saya ingin dia bahagia."


Dari dulu , Mia memang menyebut Mama dan papa Rayhan sebagai mama dan papa ,bukan om dan tante. Begitulah dekatnya hubungan mereka saat itu.


Namun, Mia menggelengkan kepalanya dengan lembut, air matanya masih mengalir. "Maaf, Mama, saya mungkin tidak bisa berpikir seperti itu. Saya rela menjadi istri kedua jika itu membuat Rayhan bahagia. Saya ingin dia melihat ketulusan hatiku dan mungkin dia bisa membuka hatinya untukku meskipun sebagai istri kedua."


"Mia jangan gila nak, Kamu adalah gadis yang baik. Rayhan keren terbaik untuk kamu kamu lihat kan apa yang dia lakukan di belakang mu, dia menghianati cinta kalian dengan melakukan perkara tidak baik itu dengan sahabatmu sendiri.Mia..ahh Mia sayang "


Mama Rayhan tidak ikhlas jika gadis sebaiknya harus menjadi istri kedua. Mia pantas mendapatkan status yang lebih terhormat daripada itu.


"Mama huhuhu mama sebenarnya aku juga sudah terlanjur dengan Raihan dia sudah menghancurkan aku Mama laki-laki mana yang bisa menerima aku yang sudah kotor..hiks."

__ADS_1


Mama Rayhan yang mendengar itu sontak mundur ke belakang dan dia merasa jantungnya hampir copot."Apa?apa Kau bilang? Rayhan juga..akhh Mia..apa yang sudah kalian lakukan hah!"


Mia tidak tahu harus bicara apa lagi tapi dia tidak ikhlas jika Mia tertawa di atas luka yang dia derita sekarang.


Rayhan adalah miliknya dan sampai kapanpun harus menjadi miliknya.


"Mama, kupikir aku akan menjadi istrinya jadi.. jadi..huhuhu... katakan padaku mama, bagaimana mungkin aku melepaskan Raihan setelah semuanya? Mama aku hancur luar dalam jika tidak menikah dengan Raihan"


Sungguh pengakuan yang mencengangkan yang tidak pernah diduga oleh siapapun.


Kali ini Mia bertindak di luar imajinasi semua orang.


Dalam ruang tengah, papa dan keluarga Rayhan yang lainnya juga mendengar percakapan ini. Mereka menggumamkan kata-kata penuh kekecewaan pada Rayhan karena menyakiti Mia, gadis yang begitu baik dan tulus.


"Kakak, kau menebarkan benihmu di mana-mana huh, keren"kata adik laki-lakinya dengan nada menghina.


"Hancur kakak Ray, aku juga perempuan, mari berharap jika aku tidak bertemu dengan pria sekeji kakak"


Rayhan terdiam di tempatnya, merasa hancur oleh perasaan bersalah. Dia merasa seperti beban yang besar mendarat di pundaknya. Memandang ke luar jendela, dia merenungkan konsekuensi dari keputusannya. Segala tindakannya telah melukai hati Mia dan mengoyak hati keluarganya sendiri.


Bahkan papanya pun tidak ingin memandang nya lagi.

__ADS_1


Putra mereka bejad.


__ADS_2