
Lana POV
Sorot matahari pagi menerobos melalui jendela kamar Lana saat ia bersiap untuk hari pertamanya di universitas. Dengan hati berdebar, dia mengenakan pakaian yang dipilih dengan hati-hati dan menyisir rambutnya dengan rapi. Dia merasa gugup, tapi juga penuh antusiasme untuk menjalani pengalaman baru ini.
Setelah tiba di kampus, Lana berjalan melalui lorong-lorong yang ramai dengan mahasiswa lain yang sedang bergegas ke kelas. Tiba-tiba, beberapa mata terpaku pada dirinya saat dia berjalan melewati mereka. Sebuah rasa percaya diri tumbuh dalam dirinya, meski dia tidak terbiasa dengan perhatian semacam itu.
Beberapa teman sekelas berhenti untuk mengajaknya bergabung, dan mereka dengan hangat menyambut Lana. Mereka bertukar cerita, tertawa bersama, dan menawarkan bantuan pada Lana untuk memahami dinamika kampus yang baru. Di dalam kelas, profesor pun mengakui kecerdasan dan dedikasinya, membuatnya semakin termotivasi.
Pandangan pengagum dari teman-teman sekelas dan mahasiswa lainnya membangkitkan kebanggaan dalam diri Lana. Ia merasa senang bisa diterima dengan hangat dan dihargai bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena kemampuan akademiknya.
Selama hari-hari berikutnya, Lana menjalani kehidupan kampus yang penuh semangat. Dia terlibat dalam berbagai kegiatan, bergabung dengan klub dan organisasi, serta menjalin persahabatan dengan orang-orang yang berbagi minat dan tujuan yang sama.
Pengalaman pertama Lana di universitas membentuk bagian penting dari memori indahnya. Itu adalah saat-saat di mana dia merasakan kekuatan dan potensi dirinya yang sebenarnya, bukan hanya sebagai wanita yang cantik, tetapi juga sebagai individu yang cerdas, bersemangat, dan berbakat.
Setelah kejadian yang memalukan ketika Lana tertangkap basah di universitas, pandangan mahasiswa terhadapnya berubah drastis. Dulu, mereka mengagumi kecantikannya dan menghormatinya karena kemampuan akademiknya. Namun, sekarang pandangan mereka penuh dengan penilaian, kekecewaan, dan bahkan celaan.
Saat Lana berjalan di koridor-koridor kampus, matanya tak bisa menghindari tatapan sinis dan tuduhan yang terarah kepadanya. Sebelumnya, mata mereka penuh pengaguman, tetapi sekarang menjadi tajam dan penuh kebencian. Para mahasiswa yang dulu ingin berbincang dan berinteraksi dengannya, kini menjauhinya dan mengobrol dengan suara rendah, mengolok-olok di belakangnya.
Lana tidak bisa menghapus memori indah saat dulu ia dikelilingi oleh teman-teman yang mendukungnya. Dia membandingkan pandangan penuh persahabatan dan kehangatan di masa lalu dengan pandangan penuh kekecewaan dan penolakan yang ia alami sekarang. Perubahan drastis ini merobek hatinya dan menumbuhkan rasa sedih serta keraguan diri.
Tidak ada yang memahami betapa beratnya beban emosional yang Lana tanggung. Dia merasa terjebak dalam lingkaran penilaian dan celaan tanpa bisa melarikan diri. Kenangan manis saat orang-orang memperlakukannya dengan hormat dan menghargai kecerdasannya semakin jauh terasa, digantikan oleh pandangan tajam dan cacian yang merusak harga dirinya.
__ADS_1
Meskipun terasa menyakitkan, Lana tahu bahwa dia harus bangkit dan mempertahankan integritasnya. Dia tidak boleh membiarkan pandangan negatif orang lain merusak kepercayaan dirinya yang telah dia bangun seiring waktu. Dalam hatinya, dia masih menyimpan memori dulu yang penuh dengan kebaikan, dan dia bertekad untuk melawan pandangan buruk tersebut dan membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar kesalahan yang terjadi.
"ini semua gara-gara Kevin, dia yang sudah menghancurkan hidupku. Sekarang aku diminta untuk menikahi dengan Kevin. Kevin kau jahat Kevin, jahat"
"Mengapa aku begitu mudah terpesona oleh pesonanya? Mengapa aku tidak mampu melihat kebenaran yang tersembunyi di balik senyum manisnya? Aku terperangkap dalam jaring-jaringnya yang berbahaya, dan kini harus merasakan akibatnya. Rasa sakit dan kehancuran ini menguasai diriku, dan kesalahan yang dilakukannya merusak hidupku"
Lana menyalahkan Kevin karena telah membuat dia tergoda dan melupakan nilai-nilai yang kumiliki. Kevin sangat mampu memainkan hati Lana seolah Lana hanyalah mainan di tangannya
"Seandainya aku tidak terlibat dengannya, mungkin aku tidak akan merasakan penderitaan seperti ini"
Namun, saat merenung lebih dalam lana juga menyadari bahwa dia tidak bisa hanya menyalahkan Kevin sepenuhnya.
Kesalahan yang telah terjadi tidak bisa Di remehkan.
Di dalam kamarnya yang gelap, Lana merenungkan semua yang telah terjadi. Amarah membara dalam dirinya ketika memikirkan kata-kata orang tuanya. Rasanya seperti sebilah pisau yang menusuk hatinya. Bagaimana mungkin mereka tidak mengerti? Bagaimana bisa mereka begitu memaksa untuk melanjutkan pertunangan dengan Kevin, hanya berdasarkan kesalahan yang telah terjadi?
Lana merasa marah dan terhina. Dia merasa diabaikan dan dianggap tidak memiliki hak atas keputusannya sendiri. Mengapa mereka tidak melihat bahwa dia masih terlalu muda untuk menikah? Mengapa mereka tidak memahami betapa pentingnya masa depan akademiknya?
Air mata mulai mengalir dari mata Lana, mencerminkan kesedihannya yang mendalam. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Rasanya seperti hidupnya sedang diliputi oleh bayang-bayang keputusan orang lain, tanpa memperdulikan keinginannya sendiri.
Lana menginginkan cinta sejati, bukan pertunangan yang dipaksakan. Dia ingin merasakan kebebasan untuk mengejar impian dan mencapai potensi penuhnya. Merenungkan masa depan yang belum terwujud, hatinya terasa berat dan penuh penyesalan.
__ADS_1
Tapi di tengah kesedihannya, Lana juga menyadari bahwa dia harus mengambil kendali atas hidupnya sendiri. Dia tidak boleh terus mencekik dirinya dengan amarah dan penyesalan. Ada kekuatan di dalam dirinya yang perlu dia temukan dan perjuangkan.
Dengan tekad yang teguh, Lana menghapus air matanya. Dia tahu bahwa dia harus berani dan memilih jalan yang benar bagi dirinya sendiri. Dia akan berbicara dengan orang tuanya, mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan tegas, namun dengan penuh rasa hormat. Dia akan menjelaskan bahwa dia perlu mengejar impian dan belajar dari kesalahannya sendiri.
Lana siap untuk menemukan kebahagiaan dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik. Dia akan membuktikan kepada orang tuanya dan dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang wanita kuat yang mampu menentukan jalannya sendiri.
Dalam keheningan kamarnya, Lana duduk sendiri di tepi tempat tidur. Dia merenungkan hubungannya dengan Kevin yang semakin hancur dan tidak sehat. Kekecewaan, ketidakbahagiaan, dan ketidakpuasan telah mengisi hari-harinya. Perasaan ini tidak bisa lagi diabaikan atau dihindari.
Lana menggenggam erat-erat tangannya sendiri, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Dia memutuskan bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri hubungan ini. Kata "putus" terlintas dalam benaknya, membawa harapan akan pembebasan dari siksaan emosional yang sedang dia alami.
Dalam batinnya, Lana memikirkan alasan-alasan kuat untuk mengakhiri hubungan mereka. Dia merasa tidak dihargai, tidak dimengerti, dan tidak bahagia bersama Kevin. Mereka tidak lagi memiliki ikatan yang kuat, dan kehadiran Kevin telah menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggungnya.
"Dia tidak lagi memberikan cinta sejati yang aku butuhkan," pikir Lana dengan sedih. "Aku pantas mendapatkan hubungan yang membuatku bahagia, yang saling mendukung dan memahami. Aku tidak bisa terus berada dalam hubungan yang hanya membuang waktu dan energi."
Dalam keputusannya, Lana merasa teguh. Dia memahami bahwa perpisahan tidak akan mudah, tapi dia harus mengambil langkah ini demi dirinya sendiri. Dia ingin menemukan kembali kebahagiaan, kebebasan, dan kedamaian yang telah lama hilang dalam hubungan mereka.
Lana memandang cermin di depannya, bertemu dengan pandangan matanya sendiri. Dia melihat kekuatan dan keberanian di dalam dirinya yang harus dia tunjukkan. Meskipun hatinya terluka dan ada rasa sakit yang mendalam, dia tahu bahwa dia pantas mendapatkan yang terbaik.
"Dari saat ini, aku akan membebaskan diriku dari belenggu ini," batin Lana dengan tekad. "Aku akan berani menghadapi keputusan ini dan memilih untuk bahagia. Aku pantas untuk mencari cinta sejati yang sesuai dengan hatiku, yang membuatku tumbuh dan berkembang."
Dengan perasaan lega dan sedikit ketakutan, Lana mengambil keputusan yang sulit namun penting. Dia bertekad untuk menemui Kevin dan mengakhiri hubungan mereka dengan keberanian dan ketegasan. Dia ingin melangkah maju tanpa beban yang telah lama dia emban.
__ADS_1
Putus. Kata itu bergema di benak Lana dengan kepastian yang tak terbantahkan. Dia merasakan beban yang sebelumnya membebani pundaknya mulai terangkat. Ini adalah langkah pertama menuju pemulihan dan kembali menemukan dirinya yang sejati.
Putus... putus.. putus..