Pasrah Saja

Pasrah Saja
Canggung


__ADS_3

Setiap kali Lana bertemu muka dengan Raihan setelah kejadian di taman Bungkul, ia merasakan kecanggungan dan sedikit gerah dalam dirinya. Ekspresinya sedikit tegang dan tatapannya seringkali menghindar dari mata Raihan. Terkadang, ia bahkan merasa sulit untuk menunjukkan senyuman yang biasa ia miliki saat bersama teman-temannya.


Gerakan tubuh Lana menjadi kaku dan tegang, seolah-olah dia sedang berusaha menyembunyikan perasaan yang ada di dalam dirinya. Ia seringkali memainkan jarinya atau menggigit bibirnya dengan gugup ketika Raihan berbicara padanya.


Walaupun Lana mencoba untuk mengatasi kecanggungan itu, terkadang ia merasa sedikit kehilangan arah dan tidak yakin bagaimana berinteraksi dengan Raihan. Setiap kali mereka berbicara, ada kekhawatiran yang muncul di dalam benaknya, khawatir bahwa kata-kata atau sikapnya akan menunjukkan ketidaknyamanan yang dirasakannya.


Meskipun Lana ingin menjaga hubungan baik dengan Raihan, tetapi dia merasa sedikit ragu dan khawatir akan kehilangan kenyamanan yang mereka miliki sebagai sahabat. Ada sedikit rasa takut bahwa momen di taman Bungkul akan mengubah dinamika hubungan mereka menjadi sesuatu yang rumit dan tidak nyaman.


Namun, di balik canggungnya, ada juga kerinduan dan harapan Lana untuk bisa kembali merasa nyaman dengan Raihan seperti sebelumnya. Ia berharap agar kecanggungan ini hanya sementara dan hubungan mereka bisa kembali seperti sediakala, tanpa beban dan kecemasan yang dirasakannya saat ini.


Saat ini Mia sedang duduk berseberangan dengan Lana yang sedang mengaduk-aduk secangkir kopi hangat.


Pandangan Mia terlihat penuh perhatian saat ia menyaksikan Lana yang terlihat terdiam dan terhanyut dalam pikirannya sendiri. Hatinya berbisik bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan sahabatnya ini.


Mia akhirnya tidak tahan dengan rasa penasarannya dan memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang mengganjal dalam benaknya. Dengan lembut, ia menarik napas dan bertanya, "Lana, apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini? Aku melihatmu sering terdiam dan tersenyum sendiri. Apakah ada seseorang yang membuatmu bahagia?"


Lana yang sedang menggenggam cangkir kopi dengan tangan gemetar, memandang Mia dengan wajah yang mencoba menyembunyikan kecemasan di balik senyumnya. "Oh, Mia, kamu tahu aku tidak memiliki pasangan saat ini. Aku hanya sedang memikirkan banyak hal terkait kuliah, terutama dengan skripsi yang sebentar lagi harus aku kerjakan. Jadi, jangan khawatir, tidak ada hal romantis yang sedang terjadi pada diriku," jawab Lana dengan sedikit ketegangan terdengar dalam suaranya.


Mia merasa agak ragu dengan jawaban Lana. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya Lana katakan padanya. Namun, ia memilih untuk menghormati privasi sahabatnya dan tidak mendorong lebih jauh. "Baiklah, Lana. Aku mengerti jika ada banyak hal yang kamu pikirkan terkait kuliah. Jangan ragu untuk menghubungiku jika kamu butuh bantuan atau sekadar ingin berbagi cerita, ya? Aku selalu di sini untukmu," ujar Mia dengan senyum penuh pengertian.

__ADS_1


Lana merasakan kegugupan yang menggelitik di perutnya saat Mia mengajukan pertanyaan tentang dirinya yang sedang jatuh cinta. Dia tidak ingin membuat Mia curiga atau cemburu dengan situasi yang sebenarnya tengah terjadi di antara dia dan Raihan. Sejenak, Lana mencoba mengatur kata-kata dalam benaknya sebelum menjawab.


"Dengar Mia, sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan, tapi bukan tentang diriku. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang hubunganmu dengan Raihan. Bagaimana kalian berdua?" Lana berusaha mengalihkan perhatian Mia ke topik yang lain dengan harapan mengurangi kecurigaan tentang dirinya sendiri.


Mia yang awalnya ingin mengetahui lebih banyak tentang Lana, sedikit terkejut dengan perubahan arah pembicaraan. Namun, dia juga merasa senang dan antusias untuk berbicara tentang hubungannya dengan Raihan.


"Oh, tentu! Aku senang kamu ingin mendengar lebih banyak tentang kami. Kami sudah berpacaran selama beberapa bulan sekarang dan semakin dekat. Raihan adalah sosok yang perhatian, sabar, dan sangat mengerti aku. Aku merasa sangat bahagia bersamanya," jawab Mia dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Lana berusaha untuk benar-benar terlibat dalam percakapan ini dan menunjukkan kebahagiaannya untuk sahabatnya. Dia mencoba melupakan sementara kecanggungannya dan fokus pada hubungan Mia dengan Raihan. "Wow, itu sangat bagus, Mia! Aku senang melihatmu bahagia dengan Raihan. Kalian berdua memang terlihat sangat cocok. Apakah ada rencana kalian untuk masa depan? Seperti mungkin, pernikahan?" tanya Lana dengan antusias.


Mia tersenyum lebar mendengar pertanyaan Lana. "Kami memang sudah membicarakan tentang masa depan, dan sejauh ini, kami berdua memiliki visi yang serupa. Tapi kami juga ingin memberikan waktu bagi hubungan kami untuk tumbuh dan berkembang. Aku percaya bahwa hal-hal yang terbaik akan datang pada waktunya," jawab Mia dengan nada berharap.


Lana mengambil kangen mia dan menggenggamnya dengan erat ,dia berkata,"Mia seharusnya kau memprioritaskan pernikahan kalian lebih awal kau tahu kan cara pacaran kalian itu sedikit berbahaya. Kita sekarang wanita yang akan dirugikan jika suatu hari Rayhan tidak mau bertanggung jawab"


Mia sedikit terkejut tapi juga mengganggu dengan serius.


"Ya Lana, terkadang aku juga memikirkan itu tapi entah bagaimana aku merasa yakin jika Raihan itu pria yang setia. lagi pula kebutuhan biologisnya sudah dipenuhi olehku. bagaimana mungkin dia mau berpaling hati, ya kan"Kata Mia pelan.


Dia tidak ingin berbicara keras-keras karena takut isi pembicaraan mereka didengar oleh orang lain. Tapi sebenarnya tidak perlu khawatir juga. Jarak antar meja satu dan meja lain memungkinkan mereka memiliki privasi dalam pembicaraan.

__ADS_1


"Mia laki-laki tidak boleh terlalu dipercaya Mia. Selagi dia masih mau bertanggung jawab ayo tarik dia ke penghulu, ngapain nunggu "kata Lana terkekeh-kekeh.


" Kamu sih kepikiran narik dia ke ranjang terus,ntar di tinggal baru nangis"kata Lana tersenyum.


"Lana jangan doain ya nggak bagus untuk teman sendiri dong. Rayhan itu Hem nggak tampan sih tapi ngangenin tahu. Orangnya juga setia dan nggak neko-neko.Aku suka rayhan Lana. aku cinta dia jika Raihan kepikiran sama gadis lain mungkin aku bakalan bunuh diri deh "


"Mia...kau.. kau jangan pernah pikir macam-macam ya Mia. jodoh itu udah ada yang ngatur, nggak bisa dipaksain juga.Kau..mia tolong jangan pikir yang aneh-aneh oke"Kata Lana.


Dia langsung memeluk mia karena merasa apa yang dirasakan oleh Mia saat ini pernah juga dia rasakan ketika berhadapan dengan Kevin.


di sini Mia langsung menangis dan memeluk Lana dengan erat. baginya Lana adalah sahabat terbaik dan paling tahu apa yang dia rasakan saat ini.


tentang bagaimana takutnya dia kehilangan Raihan. bersama Lana Dia tidak takut lagi dan suasana ceria kembali mengisi hatinya.


"Lana memilikimu sebagai sahabat itu adalah hal yang paling berharga bagiku. jika ada wanita lain yang mengambil Raihan .Mungkin aku bisa menahannya tapi jika wanita itu adalah kau maka aku tidak tahu apa jadinya diriku Lana"kata Mia yang setengah bercanda.


Deg...


Lana tidak nyaman mendengarnya tapi dia berusaha untuk tersenyum dan menyembunyikan reaksi aslinya.

__ADS_1


Panas..hati beb.


__ADS_2