
Lana dan Rayhan berdiri di depan meja resepsionis Wisma Surya, sebuah penginapan nyaman di tengah kota. Mereka telah tiba di sana sekitar pukul satu siang, waktunya yang tepat untuk memesan kamar setelah berbagai urusan di kantor. Suasana di dalam wisma terasa tenang, dengan hembusan angin yang sejuk masuk melalui pintu-pintu terbuka.
Resepsionis yang ramah menyambut mereka dengan senyuman. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
Lana melirik Rayhan dengan senyuman kecil sebelum berbicara kepada resepsionis, "Kami ingin memesan kamar seperti biasa,tolong."
"Baik, tentu saja. Boleh saya minta kartu nama Anda?"
"Lana," jawabnya sambil memberikan identitasnya kepada resepsionis.
Rayhan juga memberikan identitasnya, dan proses pemesanan kamar pun berjalan dengan lancar. Mereka memilih kamar dengan pemandangan kota yang indah. Setelah pendaftaran selesai, resepsionis memberikan kartu akses ke kamar mereka.
Lana dan Rayhan menuju kamar mereka dengan langkah ringan. Begitu pintu kamar terbuka, mereka masuk ke dalam ruangan yang nyaman dan bersih. Matahari yang masuk melalui jendela besar membuat kamar terasa hangat dan cerah.
"Mari kita santai sejenak," kata Rayhan sambil meletakkan tasnya di atas tempat tidur. Dia menoleh pada Lana, senyumnya yang khas membuat hati Lana berdegup lebih cepat.
Lana mengangguk setuju. Mereka duduk di kursi di samping jendela, menikmati pemandangan kota yang ramai di bawah. Namun, mereka tidak menyadari bahwa pergerakan mereka terekam oleh seseorang yang tanpa disadari telah mengambil video singkat dari mereka.
Di luar jendela, seseorang berada di balik pohon, berusaha untuk tidak terlalu mencolok. Mereka merasa tertarik dengan kedekatan keduanya, dan memutuskan untuk merekam momen tersebut. Setelah beberapa saat, orang tersebut menyimpan ponselnya dan pergi dengan hati-hati.
Sementara itu, Lana dan Rayhan masih asyik dengan pemandangan di depan mereka, tanpa sadar bahwa mereka telah menjadi bahan perhatian.
Mereka masih menghabiskan penghujung hari dengan melepaskan rasa rindu di kamar wisma.
Keesokan harinya Lana memasuki kantor dengan senyum di wajahnya, seperti biasanya. Dia tidak menyadari bahwa beberapa rekan kerjanya sedang asyik berbincang-bincang di sudut ruangan. Begitu dia melewati mereka, suara percakapan tersebut semakin jelas terdengar.
"Aku dengar mereka lagi ketemuan di wisma, lho."
"Tuh kan, aku bilang kan kalau mereka ada hubungan lebih dari sekadar teman."
"Kamu lihat aja bentuk tubuh Lana, pasti bisa menebak-ngira kalau dia nggak perawan lagi."
__ADS_1
"Aku baca di internet, bisa dilihat dari gaya jalan juga, loh."
"Kalau memang beneran, kok nggak ada tanda-tanda hamil ya? Mungkin mereka pakai perlindungan."
Lana tidak terlalu memperdulikan isi percakapan tersebut. Dia tidak tahu bahwa gosip dan spekulasi, sebenarnya mengarah pada dirinya
Dia melanjutkan perjalanannya menuju meja kerjanya dengan tetap tersenyum. Meskipun hatinya sedikit ragu oleh percakapan yang ia dengar, Lana berusaha untuk tetap tenang dan fokus pada pekerjaannya.
"Siapa yang hamil dan siapa yang perawan ? aneh "pikir nya.
Teman-temannya mungkin suka menyelipkan diri dalam urusan pribadi orang lain.Tapi Lana biasa nya ikut nimbrung juga kan.
Tapi sekarang Lana merasa masam di hati dan dia tidak nyaman untuk bergosip dengan mereka semua.
Sementara itu, percakapan tersebut masih berlanjut di sudut ruangan, dengan beberapa rekan kerja yang semakin serius dalam menjelaskan teori mereka tentang spekulasi tersebut.
Lana yang tidak tahu, masih fokus dengan pekerjaannya di balik layar komputer.
Suasana kantor Syahbandar pada hari itu terasa agak berbeda. Ada rasa tegang yang terasa di udara, seperti ada sesuatu yang ingin diungkapkan.
Salah satu staf keuangan, Rini, merasa bahwa sudah waktunya untuk berbicara kepada Pak Barat, kepala departemen keuangan, tentang isu yang beredar mengenai Lana dan Rayhan.
Dengan hati yang berdebar, Rini menghampiri meja Pak Barat ketika saatnya istirahat makan siang. Dia merasa bahwa dia harus memberitahu Pak Barat tentang situasi yang sedang terjadi, meskipun tidak memiliki bukti konkret.
"Pak Barat, saya ingin berbicara dengan Anda secara pribadi," ucap Rini dengan sedikit gemetar.
Pak Barat mengangkat alisnya dan mengalihkan perhatiannya dari komputernya. "Tentu, Rini. Ada apa?"
Rini pun duduk di depan meja Pak Barat, dan dia berusaha mengungkapkan dengan hati-hati apa yang telah dia dengar dari percakapan dan gosip-gosip di kantor.
"Pak, saya hanya ingin memberitahu bahwa ada beberapa percakapan yang beredar di antara staf tentang Lana dan Rayhan," kata Rini pelan.
__ADS_1
Pak Barat mengernyitkan keningnya. "Apa yang sedang kamu bicarakan, Rini?"
Rini menelan ludahnya, merasa semakin gugup. "Beberapa orang berbicara tentang hubungan di antara mereka, Pak. Mereka bilang kalau Lana dan Rayhan punya hubungan yang lebih dari sekadar teman."
Pak Barat mendengarkan dengan serius, tapi tampak agak skeptis. "Dan apa buktinya?"
Rini menggelengkan kepala. "Saya tidak punya bukti fisik, Pak. Tapi mereka kerap terlihat keluar bersama, dan orang-orang telah melihat mereka berdua di wisma."
Pak Barat merenung sejenak, kemudian dia meletakkan pena di atas meja dan menatap tajam pada Rini. "Rini, apa kamu yakin dengan ini? Kita tidak bisa hanya berspekulasi berdasarkan dugaan semata."
Rini mengangguk. "Saya mengerti, Pak. Tapi saya pikir Anda harus tahu."
Pak Barat mendesah dan meraih gelas airnya. Dia meneguk sedikit air, lalu menatap Rini dengan serius. "Baik, saya akan berbicara dengan mereka berdua. Tapi ingat, kita harus memiliki bukti yang kuat sebelum membuat kesimpulan."
Setelah percakapan dengan Rini, Pak Barat tidak lantas memanggil Lana dan Rayhan ke ruangannya.
Dia lebih suka mempercayai percakapan landak dan Raihan kemarin. jika keduanya benar-benar pacaran itu lebih baik mengakuinya bukan jadi apa untungnya untuk mereka berdua menyembunyikan masalah itu
Pak barat menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar dan membiarkan masalah ini terbang dan berlalu begitu saja.
Tapi bisakah gosip di luar sana diredam dengan cara itu.
Banyak sekali jawabannya adalah tidak. Ketika pak barat mengatakan mereka berbicara tanpa bukti .Seseorang yang merekam kejadian itu sebenarnya tidak tega mengirimkan rekaman video.
Tapi dia berpikir ingin menunjukkan secara langsung ke hadapan Pak Barat.
Kau tau, dia bekerja lebih dari 2 tahun di kantor Syahbandar tapi kenapa Rayhan yang lebih dipertimbangkan dalam hal-hal baik.
Memang sih kalau dipikirkan lagi Raihan itu lebih cepat mengerjakan pekerjaan komputer. Bahkan catatan yang biasanya dia selesaikan dalam satu bulan, bisa dikerjakan oleh Raihan hanya dalam satu minggu.
Tapi itu bukan alasan untuk membuat raihan seperti anak emasnya Pak Barat.
__ADS_1
Hehehe jadi jangan salahkan dia jika rahasia perselingkuhan ini dibuka ke khalayak umum.