Pasrah Saja

Pasrah Saja
Menolak untuk bertemu


__ADS_3

Lana keluar dari kafe dengan hati yang berat, berharap bisa menenangkan pikirannya setelah meninggalkan Mia dan Rayhan. Namun, tak lama setelah keluar, ponselnya bergetar dengan sebuah pesan masuk dari Kevin. Hatinya berdegup kencang saat melihat nama Kevin di layar ponselnya.


Dia membuka pesan tersebut dengan ragu, berharap agar pesan itu tidak terlalu mengganggu pikirannya. Namun, apa yang tertera di layar membuatnya semakin tidak nyaman. Pesan dari Kevin itu terus mendesaknya untuk datang lebih cepat. Isinya secara rinci menjelaskan tentang alasan mengapa Lana harus segera bertemu dengannya.


"Mau sampai kapan kau akan menghindariku, Lana? Kita harus membahas masalah ini secepatnya. Kau tahu betapa seriusnya situasinya. Aku sudah memberitahumu tentang kabar yang mengejutkan, dan kita perlu membicarakannya secara langsung. Jangan biarkan masalah ini terus berlarut-larut. Kau tahu betapa pentingnya untuk segera bertemu. Jangan membuatku menunggu lebih lama lagi," begitulah isi pesan yang diutus oleh Kevin.


Lana merasa tidak nyaman dengan kata-kata yang ditulis oleh Kevin. Selain mendesak, Kevin juga menyebutkan hal-hal buruk yang pernah mereka lakukan bersama di masa lalu. Merenung sejenak, Lana memilih untuk tidak menjawab pesan tersebut. Dia tidak ingin terjerat dalam drama masa lalu yang hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam.


Dalam hati, Lana memutuskan untuk menjaga jarak dengan Kevin. Dia merasa bahwa dirinya telah memberikan yang terbaik dalam hubungan mereka, dan saat ini fokusnya adalah untuk melanjutkan hidupnya. Lana menyadari bahwa tidak ada gunanya membalas pesan tersebut atau memperpanjang masalah yang sudah terjadi. Dia ingin menjaga dirinya sendiri dan tidak terjebak dalam lingkaran negativitas yang Kevin ciptakan.


Dengan mantap, Lana melihat pesan itu sekali lagi, lalu menggeser layar ponselnya untuk menutup pesan tersebut. Dia melangkah maju dengan tekad yang baru, memilih untuk tidak membiarkan masa lalu menghantui dirinya. Meski hatinya masih sedikit terluka, dia merasa lebih kuat dan yakin bahwa dia mampu melanjutkan hidupnya dengan baik, menjaga kesehatan mental dan emosionalnya.


Lana menutup pesan dari Kevin dengan mantap, memilih untuk tidak membiarkannya memengaruhi dirinya. Dia menganggap pesan itu tidak ada dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah kosnya.


Lana mengambil sepeda motor yang telah dibelinya sejak tiba di Surabaya, sebagai sarana transportasi yang praktis untuk keperluan sehari-harinya.


Sepeda motor yang dimiliki Lana memiliki model yang sederhana namun praktis. Itu adalah sepeda motor jenis matic dengan desain yang ramping dan ringan. Warna bodinya yang cerah dan modern, kombinasi hitam dan putih, mencerminkan kepribadian Lana yang energik dan bersemangat. Mesinnya yang efisien dan ramah lingkungan membuatnya cocok untuk digunakan dalam mobilitas sehari-hari sebagai mahasiswa.


Lana memasang helm dengan desain yang simpel dan elegan, melindungi kepalanya saat berkendara. Dia memakai jaket kulit ringan dengan warna yang serasi dengan sepeda motornya, memberikan kesan modis dan juga melindungi tubuhnya dari angin dan cuaca.

__ADS_1


Perjalanan Lana pulang ke rumah kosnya berjalan dengan lancar. Dia melintasi jalan-jalan yang ramai dan berbelok ke gang-gang kecil menuju rumah kosnya. Rumah kost Lana terletak di sebuah kompleks hunian yang cocok untuk mahasiswa dengan kelas menengah ke bawah. Rumah kost itu berbentuk rumah tinggal sederhana dengan beberapa kamar yang terpisah. Taman kecil di depan rumah memberikan kesan segar dan nyaman.


Lana memarkir sepeda motornya dengan hati-hati di depan rumah kosnya. Dia membuka pintu gerbang dan memasuki lingkungan yang tenang. Area tempat tinggalnya terawat dengan baik dan terlihat bersih. Ruang tamu dan dapur yang sederhana namun nyaman menyambutnya saat dia melangkah masuk ke dalam rumah. Di dalam kamarnya, terdapat tempat tidur yang sederhana namun nyaman, meja belajar, dan beberapa barang pribadi yang mencerminkan kepribadiannya.


Lana melepaskan helm dan jaketnya, meletakkannya dengan rapi di tempat yang disediakan. Dia merasa lega tiba di rumah kosnya, di tempat yang menjadi tempat istirahat dan tempat dia bisa merasa seperti dirinya sendiri. Meskipun rumah kosnya sederhana, Lana merasa nyaman dan bahagia di dalamnya.


Dia tahu bahwa di sini, dia bisa menemukan ketenangan dan kenyamanan setelah melewati berbagai perjuangan dan tantangan dalam hidupnya.


Lana duduk sendirian di kamarnya di rumah kos, menikmati kesendiriannya setelah perjalanan yang melelahkan. Dia merasakan kedamaian dan ketenangan dalam ruangan yang sederhana namun nyaman itu. Namun, tiba-tiba, ponselnya bergetar dan menampilkan panggilan masuk dari Kevin.


Lana melihat nama Kevin di layar ponselnya, namun dia memilih untuk tidak menjawab panggilan tersebut. Dia merasa risih dengan kehadiran Kevin dalam hidupnya saat ini, terutama setelah menerima pesan WhatsApp yang mengandung kata-kata merendahkan.


Akhirnya, Lana memutuskan untuk mengangkat panggilan itu, meskipun dengan hati yang berat. Dia menghela nafas dalam-dalam, menekan tombol "angkat panggilan" dan membawa ponselnya ke telinganya.


"Ya, ada apa?" kata Lana dengan suara yang sedikit tertekan.


Namun, begitu Kevin mulai berbicara, perkataan pertamanya langsung merendahkan Lana. Katanya dengan nada sinis dan meremehkan, "Hah, akhirnya kau angkat juga. Aku kira kau sudah lupa akan perintahku. Ternyata kau masih hidup di dunia impianmu sendiri."


Lana merasakan kekecewaan dan kesal mendalam dalam hatinya. Dia mencoba untuk tetap tenang meskipun dalam situasi yang sulit ini. Dalam benaknya, dia berusaha untuk tidak membiarkan kata-kata Kevin menghancurkan dirinya.

__ADS_1


"Dengar, Kevin," kata Lana dengan tegas. "Aku sudah berusaha memberikanmu kesempatan untuk berbicara, tapi tidak ada gunanya jika kau terus memperlakukanku dengan cara ini. Aku tidak akan membiarkanmu merendahkan diriku lagi."


Lana menutup panggilan dengan tegas, menempatkan ponselnya di atas meja. Dia merasa lega karena akhirnya memberikan batasan pada hubungan yang merugikan itu. Meskipun masih terasa perih, Lana berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan kata-kata buruk Kevin menghancurkan dirinya lagi.


Dalam keheningan kamarnya yang tenang, Lana merenung sejenak.


Lana tidak takut dengan Kevin yang dia takutkan adalah Kevin dengan arogan memberitahu kedua orang tuanya tentang permasalahan dia dan Kevin di masa lalu.


Bagaimana jika Kevin ...


Di sisi lain, Kevin duduk di kamar apartemennya dengan wajah yang memendam kemarahan. Dia menatap layar teleponnya dengan penuh kekecewaan dan amarah. Setelah Lana menutup panggilan, Kevin merasa sangat marah karena merasa diabaikan dan ditolak olehnya.


"Dia berani-beraninya menolak perintahku," geram Kevin dalam hati. "Apa yang membuatnya berpikir dia bisa melarikan diri dariku? Aku tidak akan membiarkan dia begitu saja!"


Kevin merasa amarahnya semakin memuncak saat menyadari bahwa Lana berani mengabaikan panggilannya. Dia merasa seakan-akan kekuasaannya digantungkan oleh seorang wanita yang dianggapnya remeh.


Dia memandang ponselnya dengan tatapan tajam, seolah-olah mencoba mengirimkan pesan ke Lana untuk menunjukkan ketidakpuasannya. Namun, sejenak dia berhenti. Dia menyadari bahwa tidak ada gunanya memaksakan kehendaknya kepada seseorang yang jelas tidak ingin berhubungan dengannya.


Kevin menyadari bahwa rasa marahnya tidak akan merubah apa pun. Dia merasa perlu untuk melupakan Lana dan fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidupnya.

__ADS_1


Menikah misal nya.


__ADS_2