Pasrah Saja

Pasrah Saja
Pesan dari Kevin


__ADS_3

Lana duduk sendirian di sudut kafe yang ceria dan modern di Surabaya. Kafe ini dipenuhi dengan dekorasi yang stylish dan kontemporer, dengan dinding berwarna terang dan furnitur yang nyaman. Musik yang sedang diputar mengalun dengan irama yang menyenangkan, menciptakan suasana yang santai dan menyegarkan.


Kafe ini terkenal dengan kopi dan minuman segar yang kreatif, serta hidangan ringan yang lezat. Lana duduk di meja yang terletak di dekat jendela, memandang ke luar sambil memegang secangkir latte hangat. Wajahnya tampak sedikit muram, dipenuhi dengan perasaan sedih dan kebingungan tentang masa depannya yang ditinggalkan oleh Kevin.


Tiba-tiba, Mia dan Raihan muncul dan berjalan mendekati meja Lana. Mia tersenyum cerah sambil membawa beberapa bungkusan kecil dari toko di seberang jalan, sedangkan Raihan membawa dua cangkir kopi.


Mia mengenakan atasan berwarna putih dengan detail kerut di bagian depan, dipadukan dengan rok midi berwarna pastel yang bergaya feminin. Dia melengkapi penampilannya dengan sepatu hak rendah berwarna senada dengan roknya. Rambutnya diatur rapi dengan aksesori kecil yang memberikan sentuhan manis pada tatanan rambutnya.


Sementara itu, Rayhan memakai kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang dipadukan dengan celana panjang hitam dan sepatu kulit berwarna cokelat. Dia menambahkan sentuhan kasual dengan memakai kaus putih di bawah kemejanya dan memadukannya dengan jaket denim yang tergantung di bahunya. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan rapi, menunjukkan gaya yang santai namun tetap stylish.


Keduanya tampil rapi dan sesuai dengan suasana kafe yang nyaman. Penampilan mereka mencerminkan gaya mereka masing-masing, Mia dengan penampilan yang feminin dan Rayhan dengan gaya kasual yang tetap trendi.


"Lana akhh kau di sini!"sapa Mia dengan hangat.


Mia langsung berdiri di depan Lana yang bengong melihat kedatangan mereka berdua.


Dia berencana ingin menghabiskan waktu sendirian sementara hatinya masih belum membaik.Tapi entah nasib apa sekarang dia bisa bertemu dengan pasangan yang membuat dia iri ini.


"Mia, Rayhan?"sapa Lana.


"Hai, Lana! Ternyata kita berada di tempat yang sama. Bolehkah kami duduk?" kata Rayhan sopan.


Lana tersenyum tipis , mendengar pertanyaan itu, dia berkata ,"Tentu saja, silakan duduk. Apa yang kalian bawa?"

__ADS_1


Raihan menempatkan cangkir kopi di meja "Ini adalah kopi favorit Mia, dia kalau ke cafe memang seperti ini, hanya minum kopi favoritnya saja tidak minum yang lain hahahaha "


Mia merasa tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh pacarnya ini, tapi dia justru mengeluarkan sebuah bungkusan dan tersenyum lebar."Dan aku membawa beberapa kue kesukaanmu. Kami pikir ini akan membantu menghilangkan rasa muram dari wajahmu."


"Ahh bercanda Kamu Mia , siapa sih yang murah Aku baik-baik saja kok"kilah nya.


Mia mengamatinya dengan penuh perhatian,Mia memang perhatian banget orang nya."Tapi, Lana, beberapa hari ini aku melihat wajahmu agak muram. Apakah ada yang terjadi? Apa yang bisa kami bantu?"


Lana sedikit tidak nyaman ketika ditanyai seperti itu tapi dia segera melambaikan tangannya dan berkata. "Ah, jangan khawatir. Aku hanya sedang merasa sedikit tidak enak badan akhir-akhir ini. Tidak ada yang serius."


Raihan mengangguk cepat , dia tidak bodoh tapi tidak juga sepolos Mia.Rayhan tau ada sesuatu yang membuat gadis ini merasa tidak nyaman seperti sekarang."Baiklah, kalau begitu semoga cepat pulih. Tapi jika ada sesuatu yang bisa kami lakukan, katakan saja."


"Terima kasih, Raihan,Mia . Kalian sudah cukup berbaik hati. Tapi sekarang, bagaimana kabar kalian? Ada cerita menarik?"


"Iya, kafe ini memang cocok untuk kawula muda seperti kita. Kami ingin mencoba beberapa hidangan baru yang mereka tawarkan."kata Reyhan menambahkan.


"Itu terdengar seru! Aku senang kalian berdua masih bisa menikmati momen-momen indah seperti ini."


Saat Lana menyaksikan Mia dan Raihan dengan bahagia menikmati kencan mereka, dia merasa terhibur dan sedikit teralihkan dari kesedihannya.


Tiba-tiba saja Lana merasakan getaran di telepon genggamnya, menandakan pesan masuk dari WhatsApp. Dia membuka aplikasi dan melihat pesan dari Kevin. Pesan itu terdiri dari beberapa kalimat singkat yang ditulis dengan cepat.


Pesan WhatsApp dari Kevin:

__ADS_1


" Lana! Aku sudah tiba di Surabaya. Bisakah kita bertemu sekarang di Hotel Sentosa? Itu hotel di seberang kampus. Aku ingin bicara denganmu. Segera, ya!"


Hotel Sentosa adalah hotel yang terletak tidak jauh dari kampus mereka. Meskipun tergolong murah, hotel ini memiliki tampilan yang cukup menarik. Bangunannya terdiri dari beberapa lantai dengan fasad yang dilengkapi dengan jendela-jendela besar dan balkon-balkon kecil. Pintu masuk hotel terbuat dari kayu berwarna cokelat tua, memberikan kesan hangat dan nyaman. Di sekitar hotel terdapat beberapa pohon dan taman kecil, menciptakan suasana yang asri.


"Hotel?cis sudah mau nikah dengan orang lain masih berpikir untuk mengajak aku ke hotel? apa dia pikir aku ini pelacur atau wanita simpanannya?"pikir Lana dalam hati.


Setelah membaca pesan dari Kevin, Lana merasa enggan untuk bertemu dengannya. Meskipun dia berusaha menyembunyikan perasaannya, Raihan yang duduk di sebelahnya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia memperhatikan ekspresi Lana yang berubah dan gelagatnya yang canggung.


Raihan bertanya dengan nada prihatin, "Lana, apakah semuanya baik-baik saja? Aku bisa melihat ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Apakah ada yang salah?"


Lana mencoba tersenyum, tetapi matanya masih penuh dengan ketidakpastian. Dia merasa sulit untuk mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan pada saat itu.


Namun begitu pesan dari WhatsApp Kevin telah mengganggu pikirannya dan dia merasa tidak nyaman berada di kafe tersebut. Dia tidak ingin mengganggu suasana bahagia Mia dan Rayhan yang sedang berkencan. Hatinya bergejolak, dan dia tahu dia perlu mengatasi urusannya dengan Kevin secepat mungkin.


Lana mencoba tersenyum pada Mia dan Rayhan, mencari alasan untuk pergi tanpa terlihat terlalu mencurigakan. "Maaf, teman-teman, aku ada urusan mendadak di luar. Aku harus pergi sekarang," ucap Lana dengan canggung.


Mia langsung melihat ke mata Lana, memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan penuh perhatian, Mia berkata, "Baik, Lana. Jika ada apa-apa, kamu tahu kamu selalu bisa mengandalkan kami. Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal buruk. Ingatlah bahwa kami selalu di sini untukmu."


Rayhan menambahkan, "Iya, Lana. Jangan biarkan masalah mengganggu kebahagiaanmu. Jangan ragu untuk berbicara jika kamu butuh teman untuk mendengarkan."


Lana merasa tersentuh dengan dukungan dan perhatian dari Mia dan Rayhan. Meskipun dia tidak ingin memberi tahu mereka tentang masalahnya dengan Kevin, namun kehadiran mereka membuatnya merasa didukung dan dihargai. "Terima kasih, Mia, Rayhan. Kalian benar-benar sahabat yang hebat," ucapnya dengan tulus.


Mia tersenyum dan meraih tangan Lana, "Kami selalu ada untukmu, Lana. Jangan ragu untuk berbagi jika kamu merasa perlu."

__ADS_1


Dengan perasaan yang hangat dari kata-kata Mia dan Rayhan, Lana merasa sedikit lebih baik meskipun masalahnya dengan Kevin belum terselesaikan. Dia tahu bahwa dia memiliki sahabat sejati yang selalu ada untuknya, dan itu memberinya kekuatan untuk menghadapi masalahnya dengan kepala tegak.


__ADS_2