Pasrah Saja

Pasrah Saja
universitas baru dan teman baru


__ADS_3

Lana duduk sendirian di sebuah bangku di tengah taman yang luas dan hijau di universitas baru tempatnya belajar. Wajahnya penuh dengan ekspresi renungan, matanya terfokus ke kejauhan, seolah-olah merenungkan sesuatu yang mendalam. Dalam tatapannya yang dalam, terpancar keinginan untuk memahami dan merangkul perjalanan barunya di universitas.


Taman universitas ini memancarkan kedamaian dan ketenangan. Pohon-pohon rindang dan bunga-bunga yang mekar menambah keindahan alam di sekitarnya. Burung-burung terdengar bersahut-sahutan dengan nyanyian mereka yang indah, menciptakan simfoni alami yang menenangkan hati.


Bangku-bangku kayu yang terletak di sekitar taman menawarkan tempat yang nyaman untuk duduk dan bersantai. Beberapa mahasiswa lain terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, sementara yang lain menghabiskan waktu mereka dengan membaca, belajar, atau berdiskusi dalam kelompok.


Suasana di taman ini terasa hidup dan penuh semangat. Terdengar tawa riang dari mahasiswa yang sedang bersenang-senang atau berbincang dengan teman-teman mereka. Ada kehangatan dan kebersamaan yang terasa di udara, menciptakan ikatan sosial yang kuat di antara mereka.


Sinar matahari yang lembut menyinari taman, menciptakan bayangan indah di atas rerumputan hijau yang lembut. Angin sepoi-sepoi melintas, membawa aroma bunga dan mengusap lembut wajah Lana, memberikan sensasi kesejukan yang menyegarkan.


Taman ini adalah tempat di mana Lana merasakan kehadiran yang tak terucapkan dari sesama mahasiswa. Di antara pepohonan dan dedaunan yang berguguran, dia merenungkan arti penting pendidikan dan perjalanan hidupnya di universitas ini.


Dalam suasana taman universitas yang penuh kehidupan ini, Lana duduk sendirian, mengambil napas dalam-dalam, dan membiarkan pikirannya melayang jauh. Dia merenungkan mimpi-mimpinya, ambisi-ambisinya, dan tujuan-tujuannya yang menghiasi perjalanan hidupnya di universitas baru ini.


Wajahnya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Dia memegang erat buku kuliahnya, sambil memandang keluar taman ke arah jalan yang sunyi.


Sesunyi itulah hidup Lana sekarang.


"Apa yang terjadi pada hubungan kita, Kevin? Aku merasa seperti kita sudah terjebak dalam lingkaran yang tak terelakkan. Aku tidak lagi melihat masa depan yang bahagia bersamamu, tapi mengapa aku masih harus menikah denganmu? Apa yang bisa aku harapkan dari hubungan ini?"


Air mata mengalir deras di pipi Lana, mencerminkan rasa kecewanya yang mendalam.


"Aku tahu bahwa apa yang terjadi antara kita adalah kesalahan besar. Kehidupan yang penuh dengan maksiat dan pengkhianatan telah merusak hubungan kita. Aku tidak bisa lagi mengabaikan perasaan-perasaan negatif yang tumbuh dalam hatiku setiap kali aku melihatmu. Aku membenci perbuatanmu, tetapi mengapa aku masih harus mempertahankan pernikahan ini?"

__ADS_1


Dia memandang buku kuliahnya, melihat masa depannya yang seharusnya penuh dengan harapan dan kesuksesan akademik.


"Kuliahku adalah jalan untuk mencapai impian-impianku, kehidupan yang lebih baik. Aku tidak bisa membiarkan keputusanku yang salah dalam hubungan pribadi merusak kesempatan ini. Aku harus memfokuskan diri pada pendidikanku dan memperbaiki diriku sendiri, tanpa kehadiranmu yang merusak.


Namun, air mata Lana semakin deras dan tangisannya menjadi semakin keras. Dia merasakan kehilangan yang mendalam dan perasaan putus asa.


" Betapa sulitnya menghadapi kenyataan bahwa aku harus menikahi seseorang yang telah mengecewakanku. Aku merasakan rasa benci dan rasa sakit yang tumbuh dalam diriku, tetapi aku terjebak dalam perjanjian ini. Aku merasa seperti aku tidak memiliki pilihan lain. Bagaimana aku bisa menikah dengan seseorang yang tidak lagi aku cintai?"


Dia menutup buku kuliahnya dengan tegas, menghela nafas dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Aku tidak boleh membiarkan perasaan negatif menguasai diriku. Aku harus mencari kekuatan untuk menghadapi pernikahan ini dengan kepala tegak. Aku mungkin tidak mencintaimu lagi, Kevin, tapi aku akan menjalani pernikahan ini"


Saat Lana duduk sendirian di taman universitas, sebuah keceriaan tiba-tiba melintas di hadapannya. Seorang gadis dengan usia yang sama dengan Lana mendekatinya dengan wajah yang bersinar ceria. Gadis itu adalah Mia, teman baru yang Lana temui begitu dia memulai perjalanan di universitas yang baru.


Mia memiliki rambut pirang yang panjang, dibiarkan tergerai dengan lembut di sekeliling bahunya. Warna mata cokelatnya yang hangat memberikan pesona tersendiri pada wajahnya yang berseri-seri. Dia mengenakan pakaian yang mencerminkan kepribadiannya yang ceria, sebuah dress berwarna kuning cerah dengan pola bunga-bunga yang cerah dan menyenangkan. Dress tersebut dipadukan dengan sepatu kanvas putih yang nyaman.


Meskipun baru mengenal Mia dalam hitungan hari, Lana merasa ada ikatan khusus yang terjalin di antara mereka. Mereka saling berbagi cerita, tertawa bersama, dan menjelajahi kampus bersama-sama. Kehadiran Mia membawa semangat baru bagi Lana, membantu mengatasi rasa kesepian dan kebingungan yang pernah dia rasakan.


Dalam waktu singkat, Lana dan Mia menjadi teman yang tak terpisahkan, menghadapi tantangan dan menemukan kebahagiaan bersama. Mereka saling mendukung, menginspirasi, dan menjaga satu sama lain dalam perjalanan baru mereka di universitas.


Lana tidak akan pernah melupakan hari di mana dia dan Mia bertemu.


Saat itu Lana sedang duduk sendirian di bangku taman kampus, terlihat agak canggung dan sedikit gelisah. Di sebelahnya, Mia yang merupakan mahasiswi senior duduk dengan santai sambil membaca buku.

__ADS_1


" Hai, maaf mengganggu. Aku Lana, mahasiswi baru di sini. Bolehkah aku duduk bersamamu?"


" Tentu saja! Silakan duduk. Aku Mia, senang bertemu denganmu, Lana. Kamu terlihat agak cemas, apakah ada yang bisa aku bantu?"


" Terima kasih, Mia. Ya, sebenarnya aku baru saja pindahan ke universitas ini, jadi masih sedikit kikuk dan belum terbiasa dengan lingkungan baru"Kata Lana beralasan.


"Mengerti. Jangan khawatir, aku mengalami hal yang sama ketika pertama kali masuk universitas ini. Kamu akan cepat beradaptasi, percayalah"


"Aku berharap begitu. Bagaimana pengalamanmu di sini, Mia? Sudah lama menjadi mahasiswi di universitas ini, kan?" tanya Lana.


" Iya, sudah hampir dua tahun sejak aku masuk. Pengalaman kuliahku lumayan seru dan menantang. Ada banyak kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan kampus dan menjalin persahabatan dengan orang-orang hebat di sini"


Dalam sekejap mata Lana segera melupakan permasalahannya ketika berbicara dengan Mia. Mia memang gadis yang mampu mengubah suasana hati Lana menjadi ceria lagi.


" Tenang saja, Lana. Universitas ini memiliki banyak klub dan organisasi yang bisa kamu ikuti. Itu akan menjadi cara yang baik untuk terlibat dalam kehidupan kampus dan bertemu dengan orang-orang baru.


"Terima kasih atas saranmu, Mia. Aku sangat menghargainya. Semoga aku bisa menemukan jalan di sini dan menjalani perjalanan kuliah yang menyenangkan.


"Kamu pasti bisa, Lana. Jangan ragu untuk mencari bantuan jika ada yang perlu ditanyakan. Aku di sini untukmu sebagai teman baru. Kita bisa menjelajahi kampus ini bersama-sama"


" Terima kasih, Mia. Aku merasa lebih baik setelah berbicara denganmu. Aku berharap bisa menjadi bagian dari komunitas ini dan mencapai tujuanku di sini"


"Kita akan melakukannya bersama, Lana. Selamat datang di universitas ini, semoga perjalanan kuliahmu penuh kebahagiaan dan prestasi"Kata Mia dengan ramah.

__ADS_1


Sekarang Lana melihat lagi ke arah mia. Dia segera membandingkan mia dengan dirinya yang dulu.


Ceria dan keras kepala, tapi sekarang....


__ADS_2