
Niat Lana ingin menjauh dari Rayhan benar-benar tidak bisa dilakukan untuk saat ini.
Di rumah sakit contohnya,Lana dengan tekun membantu Rayhan dalam berbagai hal. Dia tampak penuh perhatian dan kesediaan untuk membantu Rayhan dengan segala kebutuhannya.
Lana bergerak dengan lincah di sekitar ruangan rumah sakit, menjalankan tugas-tugasnya dengan sigap. Dia memastikan bahwa segala keperluan Rayhan terpenuhi, mulai dari makanan dan minuman. Lana juga mengatur jadwal kunjungan dokter dengan jadwal nya sendiri.Dia juga kerap merapikan bantal dan selimut, serta memastikan ruangan tetap bersih dan nyaman bagi Rayhan.
Tidak ada yang menyadari jika perhatian itu mulai membuat hati Raihan bergerak.
Saat ini Raihan sedang duduk di tempat tidur dengan tangan kanannya yang tergipsum. Kondisi kamarnya terlihat steril dengan dinding putih yang bersih dan beberapa peralatan medis yang terletak di sekitar.
Lana memasuki kamar dengan penuh kehati-hatian, membawa segelas air dan menghampiri Raihan. Mereka saling bertatapan sejenak sebelum percakapan dimulai.
"Terima kasih, Lana. Aku benar-benar berterima kasih atas segala bantuannya selama di sini"
"Sama-sama, Raihan. Aku melakukan ini karena permintaan Mia. Dia sangat peduli padamu"bisik Lana pelan. beberapa saat yang lalu itu kita menelponnya dan mengatakan kabar tentang Raihan. di sini Mia terkejut dan menangis karena tidak bisa menjenguk Raihan.
Wajah cantiknya di dalam telepon itu benar-benar basah yang membuat karena Lana juga merasa bersalah karena.
Ketika Mia meminta bantuan Lana untuk mewakili dirinya merawat Raihan mau tidak mau Lana menggangguk setuju .
Di sisi lain Rehan yang mendengarlah namanya menyebut nama Mia tiba-tiba merasa ada beban yang menekan di dalam hatinya. Entah perasaan apa itu yang jelas Rayhan yang tersenyum dan berkata."Ya, Mia selalu memikirkan hal-hal baik untukku. Aku benar-benar beruntung memiliki pacar seperti dia"
" Iya, Mia adalah teman yang luar biasa. Dia meminta aku untuk menjaga dan merawatmu selama di rumah sakit ini. Jadi, aku dengan senang hati melakukannya"
Raihan melihat tangan kanannya yang tergipsum dan merasa sedikit tidak nyaman dengan keadaannya. Dia merasa Lana sengaja mengatakan hal itu untuk menekankan lagi hubungan antara mereka berdua.
Tapi Rayhan tidak menyalahkan Lana karena Lana benar-benar mencoba untuk menjadi seorang teman yang baik.
" Terima kasih, Lana. Aku sungguh berterima kasih atas dukunganmu. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu semua"
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Raihan. Kita adalah teman-teman, dan teman selalu saling mendukung di saat-saat sulit seperti ini"
Entah kapan sebutan nama teman itu benar-benar membuat merasa pedih tapi kepedihan ini tidak diketahui tapi dirasakan juga oleh Raihan.
Teman.. bisakah mereka.
Raihan mengalihkan pandangannya sejenak, dia terdiam setelah mendengar Lana menyebut nama Mia.
"Hehe, ya... Mia. Dia benar-benar prihatin padaku, bukan?"
"Ya, dia sangat peduli padamu. Dia selalu ingin yang terbaik untukmu. Mungkin jika dia punya sayap dia akan terbang ke sini hari ini juga tapi sayangnya tidak bisa seperti itu"
Raihan merasa tidak nyaman setiap kali Lana menyebut nama Mia. Dia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya ke hal-hal lain dan berfokus pada pemulihannya.
" Baiklah, mari kita berpikir tentang pemulihan ini. Aku ingin segera sembuh dan kembali ke kehidupan normalku"
Meskipun Raihan merasa tidak nyaman dengan setiap kali menyebut nama Mia, dia berusaha untuk menjaga suasana positif dan fokus pada pemulihannya.
Ada momen ketika Rayhan merasakan kenyamanan di layanan Lana, ditunjukkan oleh senyuman hangatnya dan mata yang bersinar saat dia berinteraksi dengan Lana.
Di sekitar mereka, teman-teman Lana memberikan alasan tentang kesibukan mereka sendiri dan meminta Lana untuk tetap berada di samping Rayhan. Mereka melihat ketekunan Lana dalam membantu Rayhan dan menyadari bahwa Rayhan sangat menghargai kehadiran dan perhatiannya.
"Oh Ray aku sudah mengurus prosedur pemulanganmu dan kita bisa kembali ke rumah. ini lagi nunggu jemputan, kamu siapkan untuk pulang?"tanya Lana yang diangguki oleh Rayhan.
Dia benar-benar bisa mati kebosanan juga lama tinggal di rumah sakit jadi lebih baik pulang dan akan datang lagi untuk kontrol rutin.
Lana tidak begitu nyaman berbicara seperti ini dengan Raihan, jadi dia memilih untuk keluar dengan alasan mencari angin.
Lana segera duduk di bangku di depan area tunggu rumah sakit, tapi dia terus memperhatikan kondisi Raihan yang sedang berbicara dengan seorang perawat. Pintu kamar tempat Raihan dirawat tidak ditutup jadi dia bisa leluasa memandang Rayhan dengan jarak seperti itu. Tiba-tiba seorang pria misterius mendekatinya.
" Permisi, apakah ini dengan Nona Lana?" kata orang itu yang langsung menyapa Lana.
__ADS_1
" Ya, saya Lana. Ada yang bisa saya bantu?"
" Saya sopir dari layanan antar jemput , apakah Nona memesan mobil online tadi? Mobil sudah menunggu di luar" kata pria itu yang rupanya adalah mobil online yang dipesan oleh Lana sebelumnya. Segera saja Lana bangkit dan mengucapkan terima kasih.
"Oh, baiklah. Terima kasih atas informasinya. Saya akan memberitahukan teman saya dan segera kita siap pergi"
Lana berjalan ke ruang perawatan di mana Raihan berada. Dia melihat Raihan duduk di kursi roda, menatap jendela dengan wajahnya yang lelah.
"Raihan mobil sudah di luar. Kita harus segera pergi. Biarkan aku membantu mengumpulkan barang-barangmu"
Raihan tersenyum dengan lemah, tubuhnya tidak begitu sakit sekarang tapi rasa sakit dan nyesek itu datang ketika dia melihat wajah Lana yang cantik." Terima kasih, Lana. Aku merasa sangat lelah. Tolong bantu aku dengan barang-barangku"
Lana membantu Raihan mengumpulkan barang-barangnya, mengambil tas dan barang pribadinya yang tersebar di sekitar ruangan. Setelah semua barang terkumpul, mereka berjalan bersama menuju pintu keluar rumah sakit.
Sopir mobil membuka pintu mobil dengan ramah saat mereka mendekat.
"Mari, biarkan saya membantu Anda masuk ke dalam mobil"kata sopir itu.
Lana membantu Raihan masuk ke kursi penumpang mobil dengan lembut, memastikan posisinya nyaman. Sopir dengan cekatan menutup pintu dan kembali ke kursi pengemudi.
"Apakah semuanya sudah siap? Kami akan segera berangkat.
"Ya, kami siap. Terima kasih atas bantuannya"Ujar Lana.
Lana dan Raihan yang duduk di dalam mobil, tampaknya sedikit canggung dan terdiam. Suasana dalam mobil terasa hening, hanya terdengar suara mesin mobil yang bergetar. Sopir mobil sesekali mematahkan keheningan dengan bertanya tentang kecelakaan yang dialami oleh Raihan.
"Jadi, apakah kecelakaan itu cukup serius? Semoga Anda merasa lebih baik sekarang"
"Ya, terima kasih. Saya sedang dalam proses pemulihan. Semoga semakin membaik setelah ini"
Sementara itu Lana memandang keluar jendela, melihat pemandangan lalu lintas dan pepohonan yang berlalu begitu saja. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dari keheningan di dalam mobil.
Perjalanan mereka dilanjutkan dengan suasana yang canggung dan hening. Lana dan Raihan saling memandang sesekali, tetapi tidak ada kata-kata yang terlontar di antara mereka. Setiap kali mereka hampir membuka mulut untuk berbicara, mereka menghela nafas dan memilih untuk tetap diam.
"Kami sudah sampai di tempat tujuan" kata supir itu lagi. Lana segera membayar ongkos dari mobil itu dan mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum mobil online itu benar-benar meninggalkan lokasi.
Mereka melihat rumah yang terletak di depan mereka, dengan spanduk KKN yang mencolok. Matahari terik memancarkan sinarnya, menerangi perjalanan mereka yang baru saja selesai.
"Maaf, Rayhan. Sepertinya teman-teman kita tidak ada di rumah. Aku harus pergi mencari pemilik rumah untuk mendapatkan kunci cadangan. Apakah kamu bisa menunggu di sini?"kata Lana.
Tadi dia lupa minta kunci pada Dea, sementara saat ini tidak ada teman lain di rumah mereka disibukkan dengan tugas harian masing-masing.
" Tentu saja, tidak apa-apa. Aku akan menunggu di sini. Tidak terburu-buru kok"kata Rayhan yang memilih untuk duduk di teras.
Tidak mungkin kan dia merengek seperti bayi yang ditinggal ibunya.
"Baiklah, aku akan kembali secepat mungkin. Jangan khawatir , aku tidak akan membuat kau terlalu lama menunggu"kata Lana lagi.
"Tenang saja, aku bisa menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan rumah ini. Tapi tolong jangan lama-lama aku sudah rindu sama kasurku"
Lana tersenyum melihat Raihan yang sudah mulai sedikit berani bercanda. Dia melihat ke lengan Raihan yang dibalut perban dan memberikan sedikit senyum.
"Oh, jadi sakitnya hanya di lengan ya, bukan di kaki? Kau pasti merasa lebih ringan sekarang"
Raihan tersenyum dan berkata"Ya, untungnya hanya lengan. Kaki masih dalam kondisi baik-baik saja"
Lana melihat Raihan dengan pandangan penuh perhatian dan simpati.
Lana: Baiklah, aku pergi sekarang. Aku akan segera kembali dengan kunci cadangan.
Lana pergi meninggalkan Raihan di depan rumah singgah. Raihan duduk di kursi dan mengamati sekitarnya sambil menggerak-gerakkan lengan yang tidak terluka. Dia merasa sedikit lega karena bisa berada di luar rumah sakit dan menikmati kebebasan sejenak.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Lana kembali dengan kunci cadangan dalam tangannya.
"Akhirnya, aku mendapatkan kunci cadangan ini. Kita bisa masuk ke dalam rumah singgah sekarang"
Mereka berjalan menuju pintu depan dan Lana membuka pintu dengan menggunakan kunci cadangan.
Begitu mereka masuk,Rayhan memutuskan untuk langsung ke kamarnya untuk istirahat setelah perjalanan yang melelahkan. Lana yang masih berada di ruang tamu melihat Rayhan berjalan menuju kamarnya.
"Rayhan, apakah kamu ingin makan sesuatu? Aku bisa memasak untukmu jika kau lapar"
Rayhan mengernyitkan keningnya dan berbalik menatap ke arah lana."Apa? Kau bisa masak? Maaf Lana, tapi aku pikir, aku terlalu muda untuk mati"
Lana sedikit geram mendengar nya,dia tidak bisa masak tapi untuk sekedar masak air dan masak Mie instan ,dia jago kan.
"Oh, benarkah? Nah, kali ini aku ingin membuktikan padamu bahwa aku bisa memasak. Aku tidak seburuk yang kamu kira"
"hahaha Baiklah, Lana. Aku penasaran. Tapi jangan terlalu banyak bereksperimen ya"pesan rayhan tertawa.
"Tentu saja, aku tidak akan membuatmu kecewa. Aku akan memasak sesuatu yang sederhana tapi enak. Bagaimana dengan mie instan? Aku bisa memasak mie instan yang enak lho "kata Lana bangga.
"Mie instan? Haha, baiklah. Pilih saja rasa mie instan yang kamu suka. Aku siap untuk membuktikan apakah kamu benar-benar bisa memasak atau tidak" rayhan mencibir Lana dan pergi ke arah kamarnya sendiri.
"Tunggu sebentar, aku akan segera menyiapkan mie instan untukmu.
Lana berjalan ke dapur dengan langkah ringan. Dia membuka lemari dapur dan mengambil sebungkus mie instan favorit Rayhan. Tangan lincahnya mulai mengisi panci dengan air dan menyalakan kompor dengan hati-hati.
Setelah air mendidih, Lana memasukkan mie instan ke dalam panci dan membiarkannya mendidih selama beberapa menit. Dia memutar sendok di dalam panci, memastikan mie terendam dengan baik. Sementara itu, aroma harum dari mie instan mulai menyebar di dapur.
Setelah beberapa menit, Lana mematikan kompor dan menuangkan mie instan yang telah matang ke dalam mangkuk. Dia mengambil bumbu-bumbu yang terdapat dalam kemasan mie instan dan menaburkannya secukupnya ke atas mie. Lana juga menambahkan irisan daun bawang dan potongan daging ayam yang telah dimasak sebelumnya.
Letakkan juga telur ceplok di atasnya dan kerupuk yang memang sudah ada di atas meja makan.
Setelah selesai, Lana membawa mangkuk mie instan itu ke kamar Rayhan. Dia mengetuk pintu kamar dan masuk dengan hati-hati.
"Rayhan, mie instan sudah siap. Aku harap kamu suka"
Saat itu rayhan sedang berbaring di atas ranjang nya.Dia bangun begitu Lana masuk.
"hahaha Mie instan ya? Hen Aku tak sabar untuk mencicipinya. Aku tidak akan berharap terlalu banyak, tapi aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan kemampuan memasakmu"
Lana meletakkan mangkuk mie instan di meja di dekat tempat tidur Rayhan. Dia melihat ekspresi wajah Rayhan yang penuh harap.
" Aku menghargai usahamu kawan. Mari kita lihat apakah mie instan ini bisa mengalahkan ekspektasiku"
"Jangan khawatir, aku telah menambahkan bumbu dan tambahan lainnya agar rasanya lebih lezat. Ayo, cicipi sekarang"
Rayhan mengambil sendok dan mencicipi mie instan yang disajikan oleh Lana. Setelah mencicipinya, ekspresi wajahnya berubah menjadi terkejut.
Tentu saja terkejut ini adalah reaksi yang dibuat-buat oleh Raihan. jika dipikir ,untuk memasak mie instan anak SD juga bisa kok.
Tapi dia harus menghargai upaya lana kan.
"Wah, rasanya benar-benar enak! Siapa sangka kamu bisa membuat mie instan seistimewa ini"
" Terima kasih atas pujianmu, Rayhan. Aku senang kamu suka dengan hasil masakanku. Jadi, apakah kamu ingin mencicipi mie instan lainnya di lain waktu?" tawar Lana yang merasa dia sedang di puji.
Tapi jika dia mendengar apa yang dipikirkan oleh Raihan ,mungkin dirinya akan buru-buru kabur karena malu.
"Tentu saja! Aku tidak akan meragukan kemampuan masakmu lagi. Terima kasih, Lana"
Mereka berdua tertawa dan melanjutkan makan mie instan sambil berbincang-bincang di kamar Rayhan. Tanpa disadari oleh keduanya, hubungan yang awalnya sedikit canggung benar-benar mencair karena semangkuk mie instan.
__ADS_1
Ya karena mie instan rasa kari ayam.