
Re dan Ri menatap penuh kekhawatiran pada Mika. Gadis itu masih memakai selang oksigen. Juga infus, meski Mika hanya mengeluh sesak nafas. Tapi petugas medis memaksa memberinya infus. Jadi Cedric terpaksa menurut saja.
Sementara Cedric tidak ada, karena harus bertemu managemen apartemen, yang tidak lain adalah stafnya sendiri. Re dan Ri yang bertugas menjaga Mika. Meski hanya beberapa jam saja. Cedric menempatkan Mika di ruang VIP.
Sebuah kilatan samar terlihat. Re dan Ri langsung menunduk memberi hormat pada Ice dan Wind yang muncul di hadapan mereka. Kedua dewa itu langsung meluncur turun ke dunia manusia. Begitu mendapat kabar dari Re.
"Apa itu benar dia?" Wind bertanya. Sedang Ice langsung meletakkan telapak tangannya di atas dahi Mika. Pria itu lalu memejamkan matanya. Hening sesaat.
"Bagaimana?" Re bertanya dengan tidak sabar.
"Kau benar melihat tanda lily di dahinya?" Ice bertanya dengan ekspresi tidak percaya. Mendengar pertanyaan Ice, Re dan Ri saling pandang.
"Aku benar melihatnya bersinar,"
"Apa?" Wind bertanya dingin.
"Dahinya bersinar," Ri menjawab lirih. Mendengar jawaban tidak yakin dari Ri, Ice seketika menarik nafasnya pelan.
"Aku belum bisa memastikan dia Amor atau bukan. Atau mungkin saja segel yang dibuat ibuku sangatlah kuat. Hingga belum ada yang bisa membuka segelnya," jelas Ice.
"Lalu bagaimana?" Re bertanya.
"Yang penting dia sudah berada di dekat kalian. Kalian bisa mengawasinya. Ingat, hanya mengawasi tidak boleh ikut campur," Wind memperingatkan.
"Tapi kalau Mika habis di kasur Cedric bagaimana?" Ri memberi pertimbangan.
"Lah memang tujuan kita kan itu. Hanya saja kalau bisa, mereka harus melewati garis pernikahan dulu,"
"Tapi kan Dewa Api yang sekarang suka begituan, sampai-sampai kami harus bergantian menjaganya sampai ke kasur," keluh Ri.
"Salah sendiri, kalian tidak berhati-hati. Sekarang intinya begini. Cedric hanya boleh bercinta dengan Mika. Sebab pendekatan terdekat kita hanyalah Mika,"
"Kalau kita salah orang?" tanya Re.
"Ya kalian yang terima hukumannya," tegas Ice. "Mampus aku!" Batin Re dan Ri bersamaan, saling pandang. Apes bener hidup mereka. Hidup abadi sekali saja, susahnya minta ampun. Turun ke dunia manusia untuk mengawasi Dewa Api. Melihat milik Dewa Api tiap saat. Dan sekarang mereka harus mempertaruhkan hidup mereka dalam perjudian antara Mika itu Amor atau bukan. Seketika Re dan Ri ingin masuk ke gerbang reinkarnasi. Jadi manusia sekalian. Dari pada sekarang hidup dalam ketakutan akan kembali berbuat salah.
__ADS_1
"Kalian bicara dengan siapa?" Cedric tiba-tiba sudah berada di ruang itu. Bersama seorang dokter dan perawat.
"Tidak ada. Kami hanya mengobrol berdua. Kenapa?" Re dan Ri saling pandang. Mereka pikir, mereka tidak membicarakan hal yang rahasia. Sejenak Cedric memicingkan matanya. Pria itu sekilas mendengar duo R itu menyebut Dewa Api...tapi tidak terlalu jelas. Hingga akhirnya Cedric memutuskan untuk tidak terlalu menggubrisnya.
"Permisi kami akan memeriksa Nona Mika dulu," Dokter itu menyeruak di antara Re dan Ri. Yang reflek langsung menepi, memberi jalan.
"Bagaimana?" Cedric memperhatikan wajah Mika yang tidak sepucat tadi.
"Kadar oksigennya sudah cukup. Jadi kami akan melepas selang oksigennya. Juga infusnya sudah habis. Keadaan Nona Mika juga sudah membaik. Cukup stabil. Jadi tidak masalah jika Tuan ingin membawanya pulang," si dokter menjelaskan.
Sedang si perawat langsung sigap melepas selang oksigen dan infus di tangan Mika.
"Karena Nona Mika masih dalam pengaruh obat penenang. Jadi dia mungkin masih akan tidur dalam satu atau dua jam ke depan." Tambah Dokter itu lagi.
Setelah dokter dan perawat itu pergi. Cedric langsung menatap ke arah Mika. Kembali Cedric mengakui kalau Mika sangatlah cantik. Semua yang ada dalam diri Mika, seolah dibuat pas, sesuai dengan tubuh Mika.
Bahkan aset depan dan belakang Mika, cukup membuat Cedric penasaran. Pria itu tidak sengaja bersentuhan dengan benda itu kala menggendong Mika tadi. Tadi dia tidak begitu memikirkan soal hal itu. Tapi sekarang, setelah semua kecemasan berlalu, Cedric malah teringat kembali.
"Bisa-bisanya kepalaku malah ingat dengan hal begituan, dasar otak mesum," maki Cedric pada dirinya sendiri.
***
"Jaga dia. Aku mau keluar. Awas jangan macam-macam," Cedric memberikan ancamannya. Yang bukannya membuat takut duo R, tapi membuat dua pria itu mengulum senyumnya. Lalu saling pandang.
"Jangan macam-macam itu kalau kau yang ada di sini," Sahut Re yang langsung mendapat jempol dari Ri.
Kedua pria itu jelas tidak berani macam-macam. Sebab ada kemungkinan kalau Mika adalah Amor, si Dewi Cinta. Gila saja, jika mereka berani berbuat sesuatu, bukan hanya Fire yang bakal marah saat kembali ke dunia langit nanti. Tapi Ice pasti juga akan langsung membekukan mereka saat ini juga.
"Ikuti tidak?" Re memejamkan matanya sejenak. Lalu berkata," dia hanya pulang ke apartemennya. Masuk ke ruang kerja. Dan sekarang mulai bekerja," Re membuka matanya. Mengakhiri pandangannya.
"Kalau begitu, kita istirahat saja dulu. Kelamaan di dunia manusia. Membuatku mulai merasakan apa itu capek," gumam Ri pelan. Mendudukkan diri di sebuah sofa di ruang tengah. Diikuti oleh Re.
"Lapar pula," Re yang berucap tiba-tiba.
"Mau mencoba menu rekomendasi baru?" Ri menaikkan satu alisnya. Tak lama dua buah tupperware muncul di depan mereka. Ketika mereka membukanya, mata duo R itu membulat.
__ADS_1
"Ayam saos mentai," teriak keduanya sumringah. Makanan yang beberapa waktu lalu sempat hybe.
"Kau tidak mencurinya kan?" tanya Ri curiga.
"Tentu saja tidak. Aku membayarkan tiga kali lipat. Sekalian dengan harga tupperware-nya. Kau tahu sendiri kan emak-emak kalau kehilangan tupperware kayak apa," jawab Re.
"Beeuuuhh bisa ngomel tujuh hari, tujuh malam tu," timpal Ri cepat. Tak lama keduanya mulai menikmati makanan mereka. Meski status mereka dewa. Tapi Re dan Ri tetap membutuhkan asupan makanan untuk menambah tenaga mereka.
***
Hari berganti, karena hari libur, jadi semua orang bisa sedikit santai. Mika juga sudah hampir pulih. Hanya tinggal rasa lemas sedikit. Pagi itu Cedric sudah berada di unit Mika. Membawakan sarapan untuk si sekretaris.
Hal yang membuat Re dan Ri saling memberi kode. "Apa yang sedang terjadi?" Kira-kira begitulah arti kode duo R itu. Cedric yang berubah perhatian pada Mika tentu menarik perhatian Re dan Ri. Sebab sebelumnya, Cedric tidak pernah seperti itu pada wanita manapun. Bahkan pada Selia, wanita yang dijodohkan oleh Mama Cedric.
"Apa itu?" tanya Mika heran. Melihat Cedric membawa beberapa paper bag di tangannya.
"Sarapan," jawab Cedric singkat. Mika terdiam seketika.
"Kenapa memangnya?" Cedric bertanya melihat perubahan raut wajah Mika.
"Eeee sebenarnya, aku meminta Elli datang sambil membawakan sarapan," cengir Mika. Bersamaan dengan itu bel pintu berbunyi.
"Siapa?" tanya Cedric. Sementara Re yang membuka pintu. Langsung mematung di tempat. Melihat siapa yang datang. Bukan Elli yang membuat Re begitu. Tapi seorang pria yang ikut datang bersama Elli. Meski Re tidak bisa menerka itu siapa. Tapi aura gelap dalam diri pria itu cukup membuat Re bergidik takut.
"Kak Daniel," teriakan Mika membuat rasa terkejut Re menghilang. Berganti rasa penasaran. "Bagaimana mungkin Mika mengenal pria dengan aura gelap ini?" Batin Re memandang ke arah Ri, yang juga berpikiran sama.
Sementara Daniel langsung tersenyum samar. Ketika Mika langsung memeluk tubuhnya.
"Senang bertemu denganmu lagi, Amor. Sang Dewi Cinta," batin Daniel.
Diujung sana, sebuah tatapan penuh rasa tidak suka langsung terpancar dari mata Cedric. Saat melihat Mika memeluk pria yang dia panggil Kak Daniel itu.
"Siapa Daniel sebenarnya? Kenapa aku langsung merasa tidak suka padanya. Padahal aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya," batin Cedric. Heran pada dirinya sendiri.
"Aaaaa....Dewa Api ternyata juga ada di sini," Kali ini sebuah seringai menakutkan terbit di sudut bibir Daniel.
__ADS_1
***