
Mika melirik sebal pada Cedric yang duduk di sampingnya. Pria itu terlihat serius mendengarkan presentasi dari seorang klien mereka. Demi mengurangi hutang lima persen, Mika rela dikerjai habis-habisan oleh Cedric.
Bagaimana tidak kesal jika selama memakaikan baju Cedric, pria itu terus menatap intens padanya. Tatapan Cedric benar-benar membuat Mika salah tingkah dengan wajah memerah. Plus debar jantung tidak karuan yang turut membuat kondisinya semakin parah.
"Dia benar-benar pantas menjadi casanova," batin Mika menatap pada Cedric yang duduk sambil menopang dagu dengan tangannya. Terlihat begitu berkharisma dan berwibawa.
Citra Dewa Api yang selalu berwibawa memang ada pada Cedric. Sifat Cedric dan Dewa Api hampir sama. Hanya saja semua citra baik Dewa Api harus dinodai oleh sifat casanova yang melekat pada seorang Cedric Van Gough.
"Kau bisa mengatur scheduleku untuk bertemu perwakilan dari mereka minggu depan. Aku ingin merealisaikan proyek ini secepatnya," Cedric mulai memberi instruksi pada Mika. Yang langsung membuat catatan singkat ala sekretaris dengan teknik stenografi. Meski di zaman sekarang mungkin sudah jarang yang menggunakan stenografi.
"Mau makan dulu?" Cedric bertanya. Mika sejenak berpikir. Dia ada janji bertemu Elli saat jam makan siang.
"Aku ada janji dengan temanku. Jadi apa kau bisa makan sendiri?" Mika bertanya ragu.
"Di mana kalian janjian?" Cedric dan Mika sudah masuk ke dalam lift.
"Kafe depan kantor," jawab Mika lirih.
"Tidak masalah," jawab Cedric enteng. Mika menarik nafasnya lega. Dia pikir Cedric tipe bos yang egois. Yang kalau tidak dituruti perintahnya, akan marah.
Tapi lagi-lagi dugaan Mika meleset. Karena begitu Mika masuk ke dalam kafe. Cedric juga mengikutinya. Waktu itu, Mika pikir kalau Cedric ingin makan di situ juga. Jadi it's okay lah.
Namun Mika melongo ketika Cedric juga duduk satu meja dengannya. Membuat Elli, sang sahabat ikut melongo. Melihat pria tampan sekaliber Kriss Wu mengikuti Mika. Dan langsung duduk di samping temannya.
"Dia siapa?" bisik Elly. Kepo plus salting. Melihat Cedric yang nampak acuh sambil memainkan ponselnya. Terlihat sangat tampan.
"Bosku," balas Mika ikut berbisik. Elli membulatkan matanya. Atasan Mika? Memangnya Mika sekarang bekerja. Sebab Mika selama ini adalah tuan putri keluarga Hermawan.
"Kau bekerja?" Elli tidak percaya ketika Mika mengangguk mengiyakan. Lebih tidak percaya ketika melihat Cedric adalah atasan Mika.
"Kau masih waras kan?" Elli kembali memastikan.
"Justru karena aku masih waras. Jadi aku harus bekerja. Tuan Hermawan yang terhormat itu memblokir semua kartuku," Kesal Mika. Mendengar ucapan Mika, Cedric terkekeh.
__ADS_1
"Salah sendiri kabur. Disuruh ***-*** kok gak mau," celetuk Cedric tanpa filter. Mulut Elli langsung menganga lebar mendengar suara Cedric. Sangat seksi dan terdengar begitu sensual.
"Diam kau!" Raung Mika marah. Dan Cedric hanya mengangkat bahunya acuh. Mulai menyantap makan siangnya yang full protein.
"Ni orang pasti bodynya hot banget," bisik Elli lagi. Sahabat Mika itu semakin terpesona pada Cedric. Mika akui tubuh Cedric memang hot dengan deretan abs yang tertata rapi bak roti gembong seperti kata kak Hana. 🤣🤣
"Diam berarti iya," Elli mulai menyuapkan pasta ke mulutnya. Mereka terus berbisik-bisik saat bicara. Kedua gadis itu duduk sangat dekat. Meninggalkan Cedric sendiri di ujung meja.
"Sepuluh menit, aku tunggu di mobil. Nanti bawakan kartuku," Perintah Cedric singkat. Begitu Cedric berlalu, dua gadis itu menarik nafasnya lega.
"Busyet dah, kamu bekerja dengan Cedric Van Gough sekarang. Kamu tahu, dia itu buaya buntung?" Elli berucap cemas. Takut jika temannya itu akan jatuh pada pesona Cedric. Secara Cedric sangat pro dalam acara menarik perhatian lawan jenis. Apalagi gadis polos seperti Mika.
" Aku tahu..Tapi aku tidak punya pilihan selain bekerja. Dia yang membantuku kabur dari bodyguard Papa hari itu. Dan karena dia kaya, jadi ya sekalian saja aku minta pekerjaan padanya," terang Mika. Elli terdiam mendengar perkataan sang sahabatnya.
"Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Papamu, kalau dia tahu kau bekerja dengan Cedric Van Gough. Secara perusahaan mereka adalah rival," Elli kembali melahap pastanya.
"Aku tidak peduli soal hal itu. Yang penting aku tidak mau menuruti perintah Papa yang nyuruh aku kawin mulu. Soal perusahaan kan itu urusannya Kak Mike," Mika menghabiskan sisa pasta miliknya. Untuk pertama kali dia merasakan lapar yang teramat sangat. Bekerja dengan Cedric ternyata sangat menguras tenaga dan otak. Pria itu begitu perfeksionis soal pekerjaan. Cedric tidak mau ada kesalahan sekecil apapun dalam pekerjaannya.
Karena itu Re dan Ri berulangkali meminta Mika untuk selalu mengecek pekerjaannya sebelum diserahkan pada Cedric. Dan selama seminggu ini pekerjaan Mika selalu sempurna di mata Cedric.
"Apa dia juga membelikan ponsel itu untukmu," Elli bertanya curiga. Baginya ini terlalu berlebihan sekaligus mencurigakan. Pria casanova sekelas Cedric mau membiayai hidup Mika tanpa embel-embel apapun.
"Mika berhati-hatilah padanya," Elli berbisik sambil melirik Cedric yang duduk di dalam mobilnya.
"Tentu saja. Aku bisa menjaga diriku. Hanya saja aku merindukan Kak Daniel. Bisa kau kirimkan nomornya padaku?" Pinta Mika. Dan sebuah anggukan Mika dapat dari Elli.
Tak lama keduanya berpisah. Mika masuk ke mobil Cedric dan Elli berjalan menuju mobilnya.
"Lama sekali!" Gerutu Cedric. Pria itu jelas bukan tipe penunggu yang sabar. Ya iyalah, Cedric kan biasa ditunggu. Bukan menunggu.
"Sorry, biasa nggibah kalau sudah ketemu Elli," Cengir Mika tanpa rasa bersalah.
"Ini kartunya. Terima kasih atas traktirannya,"
__ADS_1
"Eiittss, siapa bilang itu traktiran. Itu masuk ke list hutangmu ya," Cedric berucap santai. Dan ucapan Cedric sukses membuat dua bola mata cantik milik Mika membulat.
"Kau ini kejam sekali padaku, semua kau masukkan dalam hutangku," protes Mika.
"Hei, bukankah kau sendiri yang memintaku. Memasukkan semua pengeluaran yang berhubungan denganmu ke dalam list hutangmu. Dia sendiri yang ngomong. Dia sendiri juga yang pura-pura amnesia. Dasar gadis aneh."
Mika seketika menelan ludahnya sendiri. Sebab apa yang dikatakan Cedric adalah benar. Dia sendiri yang meminta semua pengeluarannya dihitung sebagai hutang dulu. Baru setelah gajian bulan depan, dia akan mencicil membayarnya.
"Ini aku yang kelewat bego apa dia yang kelewat pinter," batin Mika.
(Elah, bukannya itu sama aja artinya, say 🤣🤣)
"Hutang akan membuatmu semakin tidak bisa lepas dariku," batin Cedric girang.
Hati Mika jadi kesal jadinya. Dia beberapa kali mengumpat pelan. Meski dia yakin kalau Cedric bisa mendengar umpatannya. Kekesalan Mika menghilang ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Raut wajahnya berubah sumringah dengan senyum yang terlihat melengkung indah di bibirnya.
"Ya...Kak..."
"Kamu kemana saja. Kamu tahu, kamu membuat Kakak khawatir," sebuah suara yang begitu lembut terdengar dari ujung sana. Hati Mika serasa melayang tinggi mendengar kekhawatiran pria di ujung sana itu.
"Jangan berlebihan. Kak Daniel tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja...."
"Daniel? Daniel siapa?" Batin Cedric. Pria itu berusaha membuat ekspresi wajah biasa saja. Meski hatinya kepo luar biasa.
"Apa gadis ini sudah punya kekasih? Kalau iya, berarti aku punya saingan," pikir Cedric. Hati Cedric sedikit panas melihat betapa bahagianya Mika saat berbincang dengan pria yan dia panggil Daniel itu.
"Aku punya saingan? Siapa takut?" batin Cedric lagi.
Toh selama ini Cedric tidak pernah kalah dalam urusan wanita. Boleh dikatakan wanita mana yang sanggup menolak pesonanya. Kalau ada, mungkin itu adalah Mika. Gadis cantik yang kini tertawa terbahak-bahak di sampingnya.
"Awas kau Mika. Sebentar lagi kubuat kau tidak bisa berpaling dariku,"
Mika benar-benar membuat Cedric merasa tertantang untuk mendapatkan hati gadis itu.
__ADS_1
***