
"Jangan melihatku seperti itu," Desis Mika judes. Cedric tertawa mendengar larangan Mika.
"Katakan sekali lagi," goda Cedric.
"Apaan sih?" Mika semakin kesal saja, sebab Cedric sejak tadi terus menggodanya. Gara-gara dia yang tanpa sengaja mengatakan rindu pada Cedric.
"Ya sudah, aku pergi lagi saja kalau begitu. Tidak ada yang yang mengharapkanku pulang," sendu Cedric.
"Pasti adalah yang mengharapkanmu pulang. Mamamu...."
Wajah Cedric yang awalnya senang seketika berubah muram. Dia sama sekali tidak mengharapkan nama itu terdengar di telinganya. Apalagi sekarang, merusak mood saja.
"Kenapa wajahmu begitu? Iya, aku mengharapkanmu pulang. Aku juga rindu padamu...aku akui..." Senyum Cedric mengembang seketika.
"Tapi dia jauh merindukanmu dibanding aku," lagi-lagi ucapan Mika menghilangkan senyum Cedric yang baru lima detik dirilis.
Mika berkata seperti itu sebab dia pernah mendengar dari mamanya. Tidak ada seorang ibu yang akan membenci anaknya. Jika ada yang seperti itu, itu pasti karena paksaan keadaan. Semua ibu sejatinya sangat menyayangi anaknya.
Terlebih Mika pernah melihat Catharina, yang menangis di lobi kantor VR Group. Saat melihat Cedric keluar dari sana bersama Re. Wanita itu pasti tidak punya keberanian untuk sekedar menyapa Cedric. Mengingat betapa marahnya sang putra padanya.
"Kau disogok apa olehnya untuk mengatakan ini padaku," Cedric menyandarkan tubuhnya di sofa. Dengan kepala menghadap ke arah Mika yang acuh padanya. Gadis itu masih bisa bekerja meski Cedric mengganggunya dari tadi.
"Dia tidak menyogokku. Bertemupun belum. Lagipula aku akan kabur kalau ketemu dia. Ogah aku, ditampar lagi. Padahal apa salahku. Aku ini sudah ikut merawat bayi besarnya yang menyebalkan ini. Bukannya berterima kasih. Malah dia gampar aku," omel Mika.
"Haiiii, dia malah ngomel kayak emak-emak komplek. Gitu nyebut papamu tukang nggibah. Padahal enggak tu. Kamu tu tukang ngomel. Sudah tahu kesal ditampar dia, masih saja kamu belain," Cedric membalas tidak kalah panjangnya.
"Aku tidak membelanya. Hanya memberitahumu apa yang aku lihat..lagian kau ini kenapa? Kau kan tinggal punya dia. Masih juga kau musuhin, baikan sana" kesal Mika.
Cedric terdiam. Memang benar sih dia hanya punya Mamanya sekarang. Tapi pria itu masih terlalu kesal dengan tingkah sang Mama. Jadi biarkanlah seperti ini dulu. Lain pikir nanti.
"Kenapa kita jadi bahas dia sih?" Cedric yang gantian kesal.
"Lalu?"
"Aku ingin membahas soal kita," jawab Cedric cepat. Mika menghentikan pekerjaannya. Melihat ke arah Cedric.
"Memangnya kita kenapa?"
__ADS_1
"Aku ingin memperjelas hubungan kita," tegas Cedric. Selama seminggu ini, pria itu banyak berpikir. Tentang hidupnya. Tentang dirinya. Tentang apa yang dia inginkan. Dan satu nama yang selalu memenuhi kepalanya. Mika...hanya nama itu yang selalu hadir di pikiran dan hatinya.
Dia sudah memutuskan akan memulai hidupnya dengan langkah baru. Pria itu ingin berhenti dari semua kebiasaan buruknya. Termasuk main perempuan dan making out. Dan semua itu ingin dia mulai dengan nama Mika. Dia merasa mulai jatuh cinta pada sekretarisnya itu.
"Bukannya kita ini atasan dan bawahan. CEO dan sekretarisnya. Bos dengan stafnya. Kurang jelas apalagi coba," balas Mika cepat.
"Aku tidak mau hanya jadi bosmu, atasanmu...atau apalah itu kau menyebutnya. Aku ingin lebih dari itu," Cedric seketika merubah modenya menjadi serius. Melihat wajah Mika yang juga sedang memandangnya.
"Maksudmu apa?" tanya Mika.
"Aku ingin kau menjadi milikku. Aku mungkin...jatuh cinta padamu," tiba-tiba perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir Cedric. Mika tentu terkejut dibuatnya, untuk sesaat gadis itu terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.
"Jawablah...kenapa kau hanya diam?" desak Cedric.
"Aku harus menjawab apa?" Mika bingung di buatnya.
"Malah balik nanya. Katakan apa yang kau rasakan padaku?" pria itu mendekatkan tubuhnya ke arah Mika.
"Yang kurasakan padamu," gumam Mika lirih.
"Aku.....jatuh cinta pada Cedric." Ucap Mika tanpa sadar. Dia sebenarnya hanya mengulangi perkataan Elli. Tapi Cedric yang terlanjur mendengarnya jelas senang bukan kepalang. Perlahan Cedric mendekatkan wajahnya ke arah Mika.
"Ehh...kau mau apa?" Mika reflek menutup bibirnya sendiri.
"Menciummu....apalagi. Kau bilang kau juga jatuh cinta padaku."
"Ehh... tunggu dulu. Main nyosor aja," gerutu Mika. Mendorong jauh dada Cedric.
"Apalagi sih?" Cedric bertanya tidak sabaran.
" Aku tidak mau berhubungan dengan casanova akut, tukang making out!" tegas Mika.
"Aku akan berhenti dengan itu semua...asal kau mau menikah denganku?" Cedric berkata to the poin.
"Menikah?" Mika melongo dengan perkataan bosnya itu.
"Iyalah menikah. Kalau aku tidak menikah ya aku masih akan making out terus. Kan aku tidak punya pelampiasan." Mika mendelik mendengar pengakuan Cedric.
__ADS_1
"Kok begitu. Kau mau menggunakan aku sebagai pelampiasanmu? Masak iya, kita harus menikah supaya kau berhenti dari kebiasaan mengerikanmu itu," protes Mika.
"Bukan begitu, aku ingin menikahimu tentu saja karena aku mencintaimu. Lagipula itu menyenangkan Nona, bukan mengerikan," Cedric membenarkan ucapan Mika.
"Kata mereka, lebih menyenangkan jika bisa making love...bukan making out,"
"Siapa yang bilang?" posisi Cedric semakin dekat ke arah Mika.
"Kata video itu,"
"Di mana kau melihatnya?" pancing Cedric. Mika sesaat terdiam. Seolah mengingat sesuatu. Tanpa Mika sadari, Cedric sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Tidak usah membayangkan. Kita buktikan saja itu benar menyenangkan atau tidak," detik berikutnya, Cedric sudah memangkas habis jarak antara keduanya. Bibir pria itu telah berlabuh sempurna di bibir Mika. Tubuh Mika menegang seketika. Terkejut dengan tindakan Cedric. Mata Mika membulat sempurna kala bibir Cedric mulai menari di atas bibirnya.
Seiring rasa yang mulai membakar keduanya. Mata Mika dan Cedric mulai terpejam. Menikmati pertukaran saliva mereka, untuk kesekian kalinya. Meski yang ini terasa berbeda. Ada rasa yang kini turut andil dalam permainan bibir Cedric. Rasa cinta yang kini pria itu sadari adalah milik Mika.
Ciuman mereka kian panas. Namun begitu, anehnya Cedric tidak merasakan gairahnya naik sama sekali. Dia benar-benar mencium Mika karena rasa cinta yang dia miliki pada gadis itu.
Tanpa mereka ketahui, retakan-retakan semakin parah terjadi. Sebuah segel dalam diri Mika semakin menunjukkan retakan di seluruh bagiannya. Hingga saat Cedric berada dalam batas paling intim dalam ciumannya, seiring suara hati pria itu berucap, "aku mencintaimu, Mikayla, Dewiku," Mika seketika menggeram tertahan dalam ciumannya. "Pyaaaarrrrr" segel dalam diri Mika hancur berkeping-keping. Menyebabkan tanda lily di dahi Mika bersinar. Berbarengan dengan itu, butiran giok dari gelang Mika jatuh berhamburan ke lantai. Sesaat kemudian benda itu menghilang tanpa bekas.
"Kenapa lama sekali?" tanya Mika yang kini sudah berwujud jiwa Amor.
"Kenapa kau selalu menanyakan hal yang sama. Tiap kali kita bertemu untuk pertama kalinya," kekeh Fire. Pria itu tersenyum melihat Amor, wanita yang paling dia cintai sealam semesta. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Amor di hati Fire.
"Berarti ini pertanyaanku yang kesepuluh, yang terakhir?" balas Amor ikut terkekeh.
"Tentu saja, setelah ini kita akan benar-benar memulai kehidupan baru. Aku akan menikahimu," bisik Fire mesra.
"Sepuluh kali menikah, tidak bosan?"
"Baru sembilan, tentu saja tidak. Itu sangat menyenangkan," Fire berkedip genit pada Amor.
"Aku pikir kau jadi semakin genit sejak turun ke dunia manusia,"
"Benarkah?" Dua jiwa itu akhirnya berbincang hingga malam menjelang. Merayakan pertemuan mereka kembali setelah entah berapa lama mereka berpisah. Meski itu tidak lama. Karena begitu mereka kembali ke wujud manusia, keduanya tidak akan mengingat tentang masa lalu mereka. Ingatan sebagai Amor, Dewi Cinta dan Fire, Dewa Api akan terhapus begitu mereka menjadi manusia.
***
__ADS_1