
Amor terlihat gelisah dalam tidurnya. Padahal dewi cantik itu tidur dalam pelukan Fire. Pria itu jadi heran. Perlahan Dewa Api itu mencium kening Amor sekaligus mengeratkan pelukannya.
"Apa yang tengah kau pikirkan, ha?" gumam Fire lirih.
Keduanya sedang berada di dimensi Fire, sebuah dunia dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Keduanya duduk ditengah danau beku dengan bulan tepat berada di atas mereka. Langit berwarna biru, tampak cantik menaungi kedua insan itu.
Kredit Pinterest.com
Pemandangan cantik itu berbanding terbalik dengan alam mimpi Amor. Dalam mimpi, dewi itu berteriak histeris ketika melihat sang ibu kembali ambruk bersimbah darah. Kembali, mimpi itu menghantui lagi. Tapi kali ini ada yang berbeda. Setelah tubuh Nuwa berubah menjadi butiran es dan menguar ke angkasa. Amor melihat si penyerang mengangkat wajahnya. Wajah tirus, surai rambutnya jelas berwarna putih. Yang membuat Amor seketika menutup mulutnya karena terkejut adalah mata biru dan tanda api milik penyerang itu adalah milik....Fire.
Amor memundurkan langkahnya. Dalam alam mimpi itu dia begitu shock mendapati pria penyerang sang ibu sangat mirip dengan Fire. Ditambah Amor melihat bekas serangan pria itu adalah Tapak Api Limbo. Dia pernah melihat simbol serangan itu di sebuah naskah kuno yang ada di paviliun Liong milik Leon, Dewa Matahari.
"Tidak....tidak mungkin jika yang menyerang Ibu adalah Fire," batin Amor terkejut.
Dewi itu bangun dengan nafas memburu. Peluh tampak bercucuran di dahi wanita cantik itu. Amor semakin terkejut, ketika dia membuka matanya. Mata biru Fire-lah yang menyambutnya.
"Kau kenapa? Mimpi buruk?" tanya Fire lembut. Amor terdiam. Sebagian dirinya masih mencerna mimpinya. Tidak mungkin Fire yang melenyapkan ibunya. Itu tidak mungkin! Berulang kali Amor meyakinkan diri kalau itu hanyalah mimpi. Tapi mimpi Amor terasa begitu nyata. Seolah dirinya tengah menyaksikan kejadian itu persis di depan matanya.
"Amor....." suara lembut Fire membuyarkan lamunan Amor.
"Aku hanya sedikit lelah," Amor menjawab terbata.
"Jangan terlalu memikirkan persiapan pernikahan kita. Sudah ada yang mengurusnya bukan?" Fire berkata sambil mengusap peluh yang keluar di dahi Amor.
"Aku tidak mau kau terlalu lelah. Aku ingin kau menikmati semuanya. Sampai hari pernikahan kita tiba. Jangan terlalu memaksa diri untuk mengurus semuanya," ucapan Fire justru membuat Amor ragu dengan pernikahan ini.
"Mimpiku itu nyata atau bukan?" batin Amor kembali.
"Amor....Amor kau melamun?" Wanita itu terkesiap mendengar pertanyaan Fire. Amor bukannya menjawab, tapi malah mengeratkan pelukannya pada Fire. Dia sangat takut kalau mimpi itu adalah petunjuk dari sang Ibu untuk dirinya.
__ADS_1
"Jika mimpiku adalah benar. Lalu apa yang harus aku lakukan?" batin Amor lagi. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Fire. Tanpa pria itu tahu, Amor menitikkan air matanya.
*****
Amor berjalan mondar mandir dengan gelisah dalam kamarnya. Dewi itu benar-benar tidak bisa tenang setelah mimpi terakhir yang dia lihat.
"Balaskan dendam Ibu," ucap Nuwa pada Amor. Perempuan itu seolah benar-benar wujud di depan Amor. Apalagi ketika Amor meraih sebuah benda yang bentuknya menyerupai belati bening. Belati itu terbuat dari es murni yang tidak akan patah. Meski dihunjamkan ke sebuah batu sekalipun.
Benar-benar seperti nyata, ketika Amor membuka matanya. Belati itu sudah berada di sampingnya. Diamatinya benda dengan ujung melengkung, sangat runcing. "Apa yang harus aku lakukan?" bisik wanita itu. Tubuhnya perlahan jatuh terduduk. Dengan air mata mulai mengalir dari matanya. Amor menggenggam belati itu erat.
****
Demon tertawa terbahak-bahak melihat tangis Amor. Pria itu sangat puas dengan hasil kerja pria berwajah seram yang kini bersujud di hadapannya.
"Aku sangat suka melihat keputusasaannya, kerjamu bagus Seth," puji Demon.
Seth, dewa mimpi. Tapi juga berjuluk Dewa Kegelapan. Karena dia yang sebenarnya kalangan dewa dunia langit. Lebih memilih dunia iblis sebagai pilihan hidupnya. Seth tersenyum, mendengar pujian Demon. Tidak tahu apa sebabnya, tapi Seth lebih memilih dunia iblis untuk dibelanya.
"Selanjutnya, yakinkan dia kalau semua itu nyata. Bukan ilusi atau mimpi biasa. Lalu kita lihat, apa yang bisa dilakukan oleh pengantinku itu," ucap Demon.
"Aku sangat membencimu Amor!" desis Ling Er. Wanita itu pikir, apa dia harus melenyapkan Dewi Cinta itu agar tidak lagi menganggu hubungannya dengan Demon.
*****
Amor menerobos masuk ke paviliun Liong tanpa permisi. Untung saat itu Leon ada di sana. Pria bermata ruby itu mengerutkan dahinya, melihat wajah kusut dan berantakan Amor.
"Kau ini kenapa? Calon pengantin itu wajahnya harusnya bahagia. Berbinar cerah. Ini tidak. Ada apa denganmu?" tanya Leon cemas sekaligus bingung.
"Jangan banyak tanya!" sarkas Amor. Wanita itu langsung menyusuri rak-rak besar menjulang yang ada di paviliun Liong.
"Aku tidak bertanya. Hanya kepo," ucap Leon santai. Pria itu terus mengekor langkah Amor. Sebenarnya mulut pria itu gatal ingin bertanya. Apa yang sedang adik Ice itu cari.
__ADS_1
"Tidak usah kepo! Urusi saja Rain sana," ketus Amor.
"Tentu saja aku akan mengurus Rain dengan baik. Ngomong-ngomong terima kasih atas bantuannya," ucap Leon sambil tersenyum cerah.
Flashback on,
Leon jelas merasa bahagia. Rencananya untuk menjebak Rain, Dewi Hujan sukses besar. Meski pria itu harus menerima pecutan kilat dari Dewa Air, ayah Rain, karena berani meniduri Rain. Tapi Leon tidak masalah. Yang penting Rain sekarang miliknya.
Dalam penjebakan itu, peran Amor sangat penting. Karena Amorlah yang berhasil membawa keluar Rain dari istana Dewa Air. Lalu membawanya ke paviliun Luna, Dewa Bulan. Paviliun yang dijadikan tempat untuk menjebak Rain. Sebenarnya Leon tidak meniduri Dewi Hujan. Pria itu hanya sekedar tidur bersama tanpa memakai baju.
Tapi itu saja sudah cukup membuat salah paham dan gempar satu dunia langit. The Sky yang mendengar hal itu akhirnya memutuskan keduanya harus menikah sesuai dengan peraturan dunia langit. Meski setelah memutuskan hal itu, The Sky langsung memanggil Leon dan yang lainnya. Dan ceramah tujuh hari, tujuh malam alias panjang lebar plus tinggi, harus diterima oleh Leon and friends termasuk Fire dan Yue. Juga Amor
Meski Fire dan Yue menyangkal keterlibatan mereka dalam acara Leon itu. Tapi tetap saja, The Sky memasukkan mereka ke dalam sebuah hukuman istimewa. Leon dengan senyum mengembang langsung menerima hukuman The Sky. Yang penting aku sama Rain nikah, lain pikir nanti. Begitu ucapan Leon menanggapi wajah kesal teman dewanya.
"Karena kau yang paling diuntungkan dalam hal ini. Maka kau yang bagian hukumannya paling banyak!" sarkas Yue kesal bukan kepalang. Dewa bermata hazel itu cukup menyesali keputusannya, meminjamkan paviliun Luna miliknya.
"Tahu begini, aku ogah minjamin Luna sama kamu," gerutu Yue. Dewa yang biasanya kalem itu berubah menjadi emak-emak yang terus mengomel pada Leon.
"Kau pikir aku tidak menderita apa. Dewa Air memecutku sepuluh ribu kali. Belum lagi Rain yang mengguyurku dengan Eternal Rain-nya (Hujan Abadi). Aku ini Dewa Matahari...jiwaku adalah singa api. Kalau terus-terusan diguyur ayah dan anak itu bisa padam singa apiku," balas Leon tidak mau kalah.
"Salahmu sendiri!" sahut Yue, Fire dan yang lainnya kompak. Leon melongo ketika mendengar sekutunya balik menyerangnya.
Flashback off
Leon yang melihat Amor sejak tadi sibuk mengobrak abrik tempat kesayangannya itu, akhirnya merasa gerah juga.
"Apa yang kau cari sebenarnya?" tanya Leon akhirnya.
"Tapak Api Limbo. Berikan aku naskah yang berkaitan dengan jurus itu," jawab Amor sambil menatap tajam pada Leon. Pria itu balas memandang adik Ice dengan sederet tanya di kepalanya.
"Kenapa kau ingin mencari tahu soal Tapak Api Limbo?" tanya Leon semakin penasaran.
__ADS_1
"Aku ingin memastikan sesuatu sebelum aku mengambil keputusan," jawab Amor yakin. Tangan kirinya menggenggam belati es erat. Meyakinkan diri kalau tindakannya ini tidaklah salah.
*****