
"Tapak Api Limbo hanya bisa dilatih oleh orang yang memiliki Api Phoenix sebagai jiwanya. Di seluruh alam semesta hanya ada satu orang yang memilikinya. Dan orang itu adalah Dewa Api, Fire."
Amor terduduk lemas setelah membaca naskah kuno itu. Apa dugaannya benar? Apa mimpinya benar? Apakah Fire adalah orang yang sudah melukai ibunya hingga tiada. Dalam hitungan detik, air mata mengalir di pipi Amor.
Meski selama ini, Amor tidak pernah melihat Fire menggunakan jurus itu. Pria itu lebih suka menggunakan panah dan pedang Phoenix-nya. Dia sendiri ragu, apa Fire memiliki jurus mematikan itu.
"Sebenarnya kau ini kenapa sih? Kenapa ingin tahu jurus pamungkas dari Fire?" tanya Leon yang ternyata masih ada di sampingnya.
"Kau tahu dia memilikinya?" tanya Amor antusias.
"Aku hanya pernah melihatnya melatih jurus itu sekali. Tapi yang aku tahu, tanpa perlu dilatih pun. Jurus itu akan selalu melekat dengan dirinya. Karena itu bawaan jiwanya," jawab Leon.
"Jurus itu... apa benar sangat mematikan?" Amor semakin kepo dengan jurus itu.
"Sangat mematikan. Bahkan jurus itu bisa berimbang dengan Black Rune. Aku kata mungkin lo," balas Leon. "Memang kenapa sih?" cecar Leon.
"Tidak apa-apa," jawab Amor lesu.
*****
Fire mengerutkan dahi ketika Ice memberitahu kalau Amor tidak mau menemuinya. "Kalian bertengkar?" tanya Ice penuh selidik.
"Tidak. Aku pikir tidak ada masalah di antara kami. Apa dia sakit?" Fire balik bertanya.
"Dia memang sedikit aneh belakangan ini," jawab Ice. Pria itu lalu menceritakan bagaimana Amor sering berteriak saat tidur. Seolah mimpi buruk selalu menghantui. Juga beberapa pelayan yang terpaksa membangunkan tuan putrinya, karena selalu gelisah dalam tidurnya.
"Mimpi buruk?" Ice mengangguk mendengar pertanyaan Fire. "Mimpi kita dikendalikan oleh Seth, Dewa Mimpi. Tapi Seth sudah lama hengkang dari dunia langit. Dan bergabung dengan dunia Iblis," Fire berujar.
__ADS_1
"Apa menurutmu ini berhubungan dengan Seth? Masalahnya Amor seperti diteror melalui mimpinya," tambah Ice.
"Aku akan pergi menyelidikinya. Tapi sebelum itu aku ingin menemuinya. Boleh kan?" Fire meminta izin masuk ke kamar Amor.
"Temui saja dia. Toh bulan depan kalian menikah," Ice seolah memberi lampu hijau pada Fire untuk melakukan apa saja yang dia suka.
Pria itupun masuk ke kamar Amor. Di mana dilihatnya, Dewi Cinta itu tengah melamun di ranjangnya. Tapi bukan hal itu yang mengganggu pandangan Fire. Hal yang membuat Fire berulangkali menelan ludahnya adalah gaun tipis yang Amor pakai. Bagian terdalam dari hanfu, yang seharusnya masih ada lapisan luar yang mesti Amor dipakai.
Fire berdehem untuk memberitahukan kedatangannya. Sekaligus mengurangi kegugupannya. "Ehemmm." Amor yang tengah melamun sambil memandang belati miliknya, langsung menoleh ke sumber suara.
Mata cantik Amor langsung membulat melihat Fire yang berada di kamarnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Amor antara kesal dan malu. Wanita itu lalu melambaikan tangannya. Sebuah kain langsung melayang ke arah Amor. Cukup untuk menutupi gaun tipis yang tengah dipakainya.
"Kau bilang tidak mau menemuiku. Jadi aku minta izin pada Ice untuk melihatmu. Apa kau sakit?" Fire mendekat setelah dirasa penampilan Amor cukup aman untuk jantung dan hasratnya.
"Aku hanya sedang banyak pikiran," Amor langsung menyembunyikan belati bening itu di bawah bantalnya.
"Apa yang kau pikirkan? Soal pernikahan kita? Kau jangan terlalu memikirkan hal itu. Pikirkan saja soal malamnya," Fire mulai mencium aroma tubuh Amor dari bahunya.
"Kau terlalu menggoda untuk didiamkan, Amor," bisik Fire. Melihat gelagat tidak beres dari Fire. Amor semakin menjauhkan diri. Meski detik berikutnya pria itu menarik pinggang ramping Amor untuk mendekat ke arahnya.
"Fire.....mmmmpphhh...." perkataan Amor menghilang ketika Fire menyatukan bibir keduanya. Tanpa jeda, pria itu langsung ******* bibir ranum milik Amor. Satu tangan pria itu menahan tengkuk Amor, membuat wanita itu tidak mampu menolak ciuman Fire yang semakin intens dan dalam.
Kegundahan hati Amor membuat dewi cantik itu tidak bisa berpikir jernih. Hingga tak perlu lama, Amor mulai membalas pagutan Fire. Suasana kian memanas ketika Fire mulai merebahkan tubuh Amor di ranjang wanita itu. Tangan pria itu mulai membuka lapisan terluar hanfu milik Amor.
Fire mulai mengarahkan ciumannya menuruni leher jenjang Amor. Lantas turun ke bahu wanita itu. Di mana dia telah berhasil menarik turun kain di area bahu Amor.
"Ini benar-benar membuatku gila," batin Fire ketika ******* Amor terdengar kala dirinya mulai memainkan dada Amor. Wanita itu benar-benar terhanyut dengan cumbuan Fire. Ketika tiba-tiba satu teriakan melengking dalam telinga Anor.
__ADS_1
"Tolong Ibu!" Amor langsung mendorong jauh tubuh Fire yang sudah topless. Menampilkan dada bidang berotot dengan abs sempurna milik pria itu.
"Kita tidak boleh melakukannya sekarang," ucap Amor tegas. Fire seketika menghentikan aksinya. Pria itu perlahan dari turun dari atas tubuh Amor. Berusaha menahan gejolak tubuh bagian bawahnya yang sudah meronta minta dilepaskan.
"Maafkan aku. Aku tergoda dengan penampilanmu," sahut Fire penuh rasa bersalah. Pria itu sibuk merutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan diri, hanya karena melihat tubuh indah Amor yang samar terlukis di balik gaun tidurnya.
"Sebaiknya kita jangan bertemu sampai hari pernikahan kita. Untuk mencegah hal seperti tadi terjadi lagi. Aku akan menjadi milikmu jika harinya sudah tiba," ujar Amor sambil menatap mata biru Fire. Meski detik berikutnya, wanita itu langsung mengalihkan pandangannya dari mata pria itu.
Saat melihat mata Fire, Amor seolah bisa melihat wajah si penyerang Nuwa, sang ibu. "Aku akan sabar menunggu," Fire mengusap lembut bibir Amor. Lantas turun dari ranjang wanita itu. Merapikan pakaiannya.
"Tapi aku tidak bisa jauh darimu. Aku tidak bisa tidur jika tidak melihat wajahmu," tambah Fire. Amor hanya diam mendengar ucapan Fire.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Fire duduk di samping Amor. Setelah wanita itu membenahi hanfunya. Saat itulah Fire menerobos masuk alam bawah sadar Amor. Dia tahu pikiran wanita itu tengah kosong. Hal itu memudahkan Fire untuk masuk lebih dalam ke dalam pikiran Amor.
Beberapa waktu berlalu. Dan Fire langsung mengeratkan rahangnya. Melihat jejak Seth, dewa mimpi ada dalam alam bawah sadar Amor. "Apa yang kau lakukan dengan calon istriku?" batin Fire.
Dalam satu kelebatan dia melihat Seth yang tampak tersenyum penuh kemenangan ke arah Fire. Dewa mimpi itu begitu cepat bergerak hingga Fire tidak bisa menangkapnya menggunakan pikirannya.
"Kau tidak akan bisa menangkapku," ejek Seth melalui pikirannya.
"Apa yang kau lakukan pada Amor?" tanya Fire geram.
"Tidak ada. Hanya memberinya sedikit shock terapi. Kau tunggu saja bagianmu," kekeh Seth.
"Pergi kau dari sana. Keluar dari alam mimpi Amor!" perintah Fire.
"Aku akan segera pergi. Jangan khawatir. Sebab tugasku sudah selesai," Seth langsung menghilang dari pikiran Fire. Pria itu menatap Amor yang seperti melamun.
__ADS_1
Apa yang Seth lakukan di alam mimpi Amor. Mimpi apa yang tengah Seth kendalikan.
*****